Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Antagonis sesungguhnya
Tanpa memedulikan ringisan Salsa Kini Bisma menarik Salsa menuju tempat mobilnya terparkir. Bisma mendorong Salsa dengan kasar memasukan Salsa ke kursi penumpang.
Brak! suara pintu mobil ditutup dengan kasar. Lalu ia melangkah ke arah kursi kemudi. Kini Bisma menginjak pedal gas mobil itu, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalan kota yang sepi di larut malam.
Suasana di dalam mobil terasa mencekam, Salsa tidak berani menatap ayahnya ia hanya menunduk takut.
Tiba-tiba suara dingin Bisma memecah suasana yang mencekam di antara mereka.
"Ingat Salsa, Ayah tidak mau tau, kamu harus bisa kembali lagi dengan Kevandra." perintah Bisma dingin dan tegas.
"Aa-yah, Kevandra sudah menceraikanku." cicit Salsa sambil menunduk takut.
Bugh! seketika Bisma memukul setirnya. "Bodoh! apa kamu tidak berpikir apa akibat dari semua ini, Hah!" teriak Bisma. "Jika sampai Kevandra memutuskan hubungan bisnis dengan perusahaan kita, maka kamu harus siap untuk hidup di jalanan Salsa." lanjutnya dengan penuh penekanan.
Salsa terdiam mendengar kata-kata Ayahnya ia tidak memikirkan semua itu, tapi apa yang harus ia lakukan semuanya sudah berantakan? pikir Salsa.
"Kali ini hukuman kamu akan lebih berat dari biasanya." ujar Bisma, lalu ia menoleh ke arah Salsa dengan sorot matanya yang tajam.
Diam-diam tubuh Salsa gemetar setelah mendengar perkataan Ayahnya.
Setelah dua puluh menit kini mobil itu terparkir di kawasan perumahan elit.
"Turun." suara dingin Bisma lagi-lagi membuat Salsa semakin tersudut.
Kini Bisma turun dari mobilnya dengan langkah tegas, ia langsung menghampiri Salsa. Perlahan Salsa ikut turun dari mobil dengan langkah pelan.
Sret! Bisma menarik tangan Salsa dan mencengkramnya dengan erat sampai membuat Salsa meringis, Bisma langsung menyeretnya ke dalam rumah.
"Ayah, aku minta maaf." lirih Salsa, yang terus berusaha berontak dari ancaman Bisma.
"Maaf!" ulang Bisma. "Kata maafmu tidak akan mengembalikan keadaan! kamu sama saja dengan Ibumu." lanjut Bisma dengan nada tajam dan menusuk.
Kini Bisma menarik Salsa dengan kasar dan memasukan Salsa ke dalam kamar yang gelap dan lembab.
Bruk! Ia didorong dengan kasar debu-debu di ruangan itu dan aroma yang menyengat menyambut kedatang Salsa, seketika tubuhnya bergetar hebat ingatan-ingatan mulai masuk bagaikan kaset rusak memenuhi pikirannya, kini ia terduduk di pojok ruangan sambil terisak.
"Ibu... Aku benci hidup ini, Aku benci di sini kenapa kamu tidak mengajakku ikut bersamamu." lirih Salsa. "Aku benci kehidupan sahabatku yang bahagia, aku ingin memiliki kehidupan sepertinya." lanjut Salsa, ia memeluk lututnya sendiri di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba Ceklek! suara pintu mengalihkan perhatiannya.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki mendekat hingga tiba-tiba cahaya remang-remang muncul dari celah pintu.
"Ck! ck! sudah aku bilang kalian sama saja murahan, gara-gara perbuatanmu aku harus mendapatkan tamparan dari Ayahmu." bisik Siska. yang membuat Salsa semakin beringsut ke pojok ruangan.
Tiba-tiba Siska mendekat ke arah Salsa tanpa aba-aba dan tanpa peringatan, Plak! suara tamparan menggema di ruangan yang minim pencahayaan.
Siska menampar Salsa hingga membuat sudut bibirnya semakin robek akibat mendapatkan tamparan kedua kalinya. Salsa hanya bisa meringis.
"Ini untuk balasan karena kamu sudah membuat Bisma marah dan menamparku." ucap Siska penuh penekanan. "Bagaimana berjalan dengan baik bukan rencana yang aku susun untukmu, dasar bodoh! semua ini adalah bagian dari permainanku untuk menghancurkan sahabatmu. Aku tidak perlu repot-repot mengotori tanganku untuk membalas keluarga Prayudha cukup menghasut orang terdekat dari putrinya, dan aku sudah berhasil Salsa." lanjut Siska sambil tertawa renyah namun terdengar mengerikan di telinga Salsa, ia memegang dagu Salsa dan menghempaskannya dengan kasar.
Salsa berusaha bangkit meski tubuhnya gemetar ia melawan rasa traumanya. "Apa salahku, kau sudah membuat hidupku hancur, membuat persahabatanku berantakan." teriak Salsa.
"Hei! hei! apa aku tidak salah dengar, kamu sendiri yang terjebak dalam permainan itu, aku hanya membuatmu cukup masuk ke dalam rencana yang sudah aku susun, lebih bodohnya kamu memilih laki-laki tidak berguna seperti Raka dan meninggalkan Kevandra yang jauh di atas segalanya." Cibir Siska.
Salsa terdiam ia tidak bisa melawan, semuanya memang benar ia yang terlalu larut dalam hubungannya dengan Raka sehingga membuat persahabatannya hancur dan membuat Kevandra kecewa.
"Huh! baiklah, kamu nikmati saja hukuman Ayahmu, dan tetap menjadi pionku agar kamu tetap bisa tinggal aman dengan kemewahan ini, ingat tugasmu belum selesai Salsa." ancam Siska dengan penuh penekanan yang membuat Salsa semakin terpojok.
Setelah itu Siska meninggalkan Salsa sendirian.
"Aku lelah Ibu! tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa." lirih Salsa di tengah isak tangisnya.
Siska melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan Salsa yang kembali dengan trauma-traumanya. Ia melangkah dengan anggun mendekat ke arah Bisma.
Sementara Bisma yang kini di ruang keluarga masih dengan napas yang memburu akibat amarah yang masih memuncak atas apa yang tengah terjadi dengan Salsa.
"Sayang!" panggil Siska dengan suara manjanya. Seketika membuat laki-laki paruh baya itu menoleh.
Siska mendekat dan duduk di samping Bisma. "Jangan khawatir, bukankan perusahaanku masih ada untuk berinvestasi dan menutup kerugian yang di akibatkan anakmu." lanjut Siska dengan nada mencibir.
Seketika wajah Bisma kembali bersinar setelah mendengar apa yang istrinya katakan. "Kamu benar untuk apa aku takut." ucap Bisma. Ia menghirup napas lega setelah mendengar perkataan Siska. "Anak itu susah sekali di atur, sudah bagus mendapatkan laki-laki seperti Kevandra atas wasiat dari ibunya malah memilih laki-laki tidak berguna itu." lanjut Bisma dengan nada tajam ketika mengingat Raka saat bersama Salsa di hotel tadi.
"Ya sudah bukankah Salsa sudah mendapatkan hukumannya, sebaiknya kita lanjutkan istirahat, ini masih larut malam." ajak Siska dengan nada manja. Bisma hanya mengangguk lalu melangkah ke arah kamar pribadinya bersama Siska.
"Prayudha, tunggu saja kejutan yang akan aku berikan untuk putrimu, ini salahmu yang sudah memilih wanita itu di bandingkan aku." batin Siska.
Jika di kediaman Salsa penuh dendam dan konspirasi.
Sementara di tempat lain kini di sebuah mansion mewah.
Lucas menggendong Liora ala bridal style, dengan hati-hati Lucas mengangkat Liora agar tidak membangunkan adiknya.
perlahan Lucas melangkah menuju kamar pribadi milik Liora. Namun langkahnya terhenti saat Lucas mendengar suara lembut perempuan yang memanggilnya.
"Abang, kenapa dengan Adek?" tanya perempuan tersebut dengan nada ramah dan lemah lembut. Seketika Lucas menegang untuk sesaat, perlahan ia menoleh dan mendapati wanita paruh baya yang cantik dan modis meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
"Aa-dek, ketiduran Bun!" kilah Lucas dengan gugup.
Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya. Ia tidak percaya mendengar perkataan dari anak laki-lakinya, kini ia melangkah semakin dekat ke arah Lucas dan Liora. Tiba-tiba indra penciumannya mencium bau yang tidak biasa.
"Abang... kenapa ajakin adeknya minum-minuman lagi." teriak wanita paruh baya itu menggema di seluruh mansion.
kentang banget ini 😭
cepet banget dia bersimpati dan ada tanda peduli lebih
kalau posisinya dibalik dia pun berpotensi selingkuh juga kaya Raka hadehhh...
ku tak jadi kibarkan bendera hijau
padahal sempet simpati sama dia ni 😏
bahaya ga jadi green flag