Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Kondisi Almaira
Seketika bahu Lucas mendadak kaku seolah ia yang telah melakukan kejahatan karena Liora kepergok meminum alkohol, padahal Liora sendiri yang merebut gelas itu dari tangannya.
"Bun! Sumpah aku nggak ajak adek macem-macem, dia sendiri yang merebut minuman itu." bela Lucas di saat bundanya menyudutkan dirinya.
"Sudah Bunda katakan, jangan pernah ajak Adek kamu ke lantai atas." ucap Kiara Anjani— Bunda dari si kembar Lucas dan Liora, dengan nada lembut namun tatapannya tegas.
"Iya Bun, nggak-nggak lagi deh!" balas Lucas, dengan suara pelan agar tidak mengusik Liora yang kini masih berada dalam gendongnya. Lucas melanjutkan langkahnya kembali.
Kiara mengagguk pelan lalu mengikuti langkah Lucas menuju kamar Liora. Setibanya di kamar pribadi milik Liora perlahan Lucas membaringkan Liora dengan lembut dan hati-hati lalu Kiara membantu melepaskan sepatu yang Liora kenakan.
Setelahnya Kiara menutupi tubuh Liora dengan selimut sampai batas dada dengan penuh kasih sayang, lalu ia mencium kening Liora sebelum keluar dari kamarnya. "Selamat istirahat, Sayang." bisik Kiara dengan lembut, mengusap pelan pucuk kepala Liora sebelum keluar dari kamar putrinya.
Sama hal nya dengan Lucas yang perlahan memberikan usapan kecil di kening Liora. "Selamat istirahat Lio, tetaplah seperti ini dan tetap berbagi apapun yang kamu rasakan." bisik Lucas.
Setelah itu Lucas dan Kiara keluar dari kamar Liora, dengan langkah pelan Kiara menutup pintu itu agar tidak mengusik Liora.
Setibanya di depan pintu, Kiara berbalik arah dan menatap Lucas. "Ke ruang kerja Ayah setelah ini, ada hal yang akan Ayah katakan." perintah Kiara, yang kini masih berada di depan pintu kamar Liora, dengan sorot mata lembut ia menatap Lucas.
"Baik, Bun! Abang mau bersih-bersih dulu, setelah itu langsung ke sana."
"Ya sudah kalau gitu, Bunda dan Ayah menunggu." ucap Kiara singkat, setelah mengatakan itu ia bergegas meninggalkan Lucas yang masih mematung di sana.
Setelah kepergian Kiara, Lucas melangkah menuju kamar pribadinya. di sepanjang koridor mansion, pikirannya tidak berhenti memikirkan kembarannya.
Di sisi lain Kiara melangkah menuju di mana suaminya berada, hingga tepat ia berada di depan pintu ruang kerja suaminya.
Ia memegang knop pintu itu dan membukanya pelan Ceklek! Suara pintu terbuka. pandangannya langsung tertuju pada satu arah— yaitu laki-laki paruh baya yang masih gagah dan tampan, meski usianya sudah terbilang tidak lagi muda. Ia sedang sibuk menatap layar komputer di hadapannya.
Perlahan Kiara melangkah mendekat ke arah Laki-laki tersebut— Ia adalah Prayudha ayah dari si kembar Lucas dan Liora.
"Mas!" panggil Kiara, yang kini sudah berada di samping suaminya.
Seketika tatapan Prayudha beralih dari layar komputer dan menatap istrinya. "Iya, Sayang, bagaimana? Apakah kamu sudah menemui mereka?" tanya Prayudha lembut dengan menatap kedua mata Kiara, dan menariknya agar duduk di sampingnya.
Kiara perlahan duduk di dekat suaminya dan menjatuhkan kepalanya tepat di bahu Prayudha. Dengan lembut Prayudha mengelus pucuk kepala Kiara. "Sudah, Mas, tapi sepertinya putrimu sedang sangat terluka." bisik Kiara, sambil memejamkan matanya meresapi usapan dari suaminya.
"Tidak apa-apa, Sayang, Lio anak yang kuat dia pasti bisa mengatasi dan melewatinya." kata Prayudha dengan suara menenangkan, ia mengangkat wajah Kiara agar menatapnya. ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Setelah kejadian ini kita harus bertemu dengan keluarga laki-laki itu, untuk memutuskan pertunangan ini." lanjut Prayudha.
Kiara mengagguk pelan. Ia menatap kedalam kedua mata suaminya yang memancarkan kilatan sulit diartikan.
Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba suara pintu mengalihkan perhatian mereka.
"Bunda! Ayah! Ini Abang." ucap Lucas, yang kini berada di depan pintu ruangan Prayudha. "Abang masuk, ya." lanjut Lucas, lalu ia membuka pintu itu, setelah pintu terbuka Lucas melangkah menghampiri Kiara dan Prayudha yang sedang duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Ayah sudah melihat semua kejadian hari ini, semua media sudah mempublikasikan apa yang kedua orang itu lakukan." kata Prayudha dingin dan datar.
"Temui keluarga laki-laki itu dan putuskan segala hubungan dengan mereka." perintah Prayudha, dengan nada tegas dan tidak menerima bantahan.
Lucas yang menerima perintah itu mengangguk mantap dan mengerti apa yang harus ia lakukan.
Sementara di sisi lain, di sebuah rumah sakit kini Kevandra sedang berada di samping Almaira yang masih belum sadarkan diri. Kevandra memegang tangan Almaira dan sesekali mengecupnya dengan pelan.
"Ma! semuanya sudah berakhir." adu Kevandra terhadap Almaira yang masih memejamkan matanya. "Dia mengkhianatiku Ma." lanjut Kevandra dengan nada dingin.
Tiba-tiba jari-jari tangan Almaira bergerak dengan pelan, Ia perlahan membuka kedua matanya. Cahaya lampu bersinar menyilaukan penglihatannya.
"Euunghhh!" erangan lirih Almaira, yang berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk dan membuat matanya sedikit menyipit.
Tiba-tiba Kevandra tersentak mendengar erangan Almaira dan merasakan jemarinya bergerak.
"Ma! akhirnya Mama sudah sadar." ucap Kevandra dengan senyum mengembang, ia langsung menekan tombol nurse call.
Hingga tiba seorang Dokter dan Suster masuk ke dalam ruangan Almaira.
"Dok! Tolong, Mama saya sudah sadar."
"Baik, Tuan! izinkan saya memeriksa kondisi pasien terlebih dulu." jawab dokter, lalu Kevandra memberi ruang untuk Dokter itu mendekat ke arah Almaira.
"Permisi, Nyonya, saya akan periksa keadaan anda terlebih dulu." izin Dokter dengan nada ramah, Almaira hanya mengangguk lemah sebagai tanda persetujuan.
Dokter mulai memeriksa keadaan Almaira. "Keadaan, Nyonya, sudah membaik tidak ada yang perlu dikhawatirkan." kata Dokter itu, sementara Almaira hanya diam berusaha mengingat apa yang terjadi dengannya. Ia meremas sisi berangker dengan kuat berusaha mengingat-ingat kejadian yang menimpanya, namun hanya rasa sakit yang ia dapatkan.
"Tapi Dok! Sebenarnya apa yang terjadi dengan saya? kenapa saya hanya merasakan sedikit sakit di bagian belakang kepala." lirih Almaira.
Kevandra yang mendengar perkataan ibunya bergegas menghampiri Almaira, ia beralih ke sisi lain dan mendekat. "Mama tidak mengingat apa yang terjadi dengan Mama? tanya Kevandra dengan nada khawatir.
Almaira menggeleng lemah."Mama tidak mengingatnya Nak! hanya saja ada beberapa ingatan yang samar-samar."
Kevandra beralih menatap sang Dokter. "Dok! apa yang terjadi dengan Mama saya."
Dokter mengernyitkan dahi sejenak setelah mendengar keluhan Almaira, lalu ia menatap Kevandra dengan tenang.
"Wajar jika Nyonya Almaira merasa bingung." ucap Dokter itu. "Pukulan di bagian tengkuk yang ia alami cukup keras hingga menyebabkan trauma tumpul. Dalam medis, ini disebut amnesia sementara pasca kejadian."
Kevandra tampak terpaku untuk sesaat setelah mendengar perkataan Dokter itu. "Maksud Dokter... Mama, saya kehilangan ingatannya?"
"Hanya ingatan sementara tepat sebelum kejadian, Tuan. Otaknya tidak sempat merekam memori saat peristiwa itu terjadi karena guncangan yang tiba-tiba. Biasanya, ingatan itu akan kembali perlahan, atau bahkan hilang permanen untuk detail kejadian tersebut." jelas Dokter itu dengan nada ramah.
Almaira hanya terdiam, ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, namun yang ia dapati hanyalah samar-samar, ia memegang kepalanya yang membuat rasa sakit itu muncul.
Hingga tiba-tiba ia mengingat satu nama. "Salsa!" gumamnya dengan nada lirih.