Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-26
Malam ini di sisi timur mansion Mahendra yang biasanya sunyi, hanya diisi oleh suara-suara jangkrik dan gesekan daun bambu hias yang tertiup angin. Namun, malam ini, sunyi itu terasa sedikit berisik. Di balik kegelapan ruang monitor, Gery dan Bimo duduk berdampingan dengan kotak martabak manis di antara mereka.
"Lihat tuh, itu mobil butut datang lagi," bisik Gery sambil menunjuk layar CCTV yang menampilkan siluet mobil pick-up yang sudah akrab di mata mereka.
"Mereka beneran berpikir bahwa tembok di sisi timur itu titik lemah karena lampunya sengaja kita bikin redup," sahut Bimo sambil mengunyah martabak keju. "Padahal di balik semak itu, gue juga udah pasang sensor tekanan yang kalau diinjek sama mereka bakal langsung terkunci pagar itu secara otomatis."
Gery nyengir lebar. "Hehe…Gue malah nambahin sedikit sentuhan seni. Gue taruh patung manekin yang pake baju putih di balkon lantai dua yang menghadap ke sana. Biar kalau mereka manjat, jantung mereka copot duluan disangka ketemu hantu penunggu mansion."
Kalandra masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak jauh lebih rileks, meski tangannya masih memegang botol air dingin sisa perjuangan melawan rasa pedas seblak tadi.
"Sudah ada pergerakan?" tanya Kalandra.
"Dua orang sudah turun dari mobil, Lan. Mereka bawa alat pemotong kawat. Kayaknya mereka mau coba masuk lewat gerbang servis," lapor Bimo.
"Jangan bertindak dulu. Biar mereka masuk sampai halaman tengah. Gue mau mereka tertangkap basah oleh kamera dengan wajah yang jelas supaya Danu nggak bisa mengelak lagi di pengadilan nanti," perintah Kalandra dingin.
Tepat saat itu, di layar terlihat dua pria bertato meloncat pagar. Begitu kaki mereka menyentuh rumput, lampu sorot otomatis yang super terang langsung menyala, membuat kedua pria itu matanya silau dan menjadi panik. Tak butuh waktu lama, tim keamanan Mahendra yang sudah bersiaga langsung mengepung mereka.
"Yah, kok cepet banget sih? Padahal gue mau liat mereka kaget dulu waktu liat manekin gue," keluh Gery kecewa.
"Udah, Ger. Kita butuh mereka hidup-hidup buat nanyain soal Danu," ujar Kalandra. Ia menepuk bahu Bimo. "Urus mereka. Pastikan laporannya lengkap ke polisi malam ini juga. Gue mau istirahat, besok jadwal USG 4D. Itu jauh lebih penting dari dua preman ini."
...----------------...
Pagi harinya, suasana di dalam mansion jauh lebih tegang daripada kejadian penyergapan semalam. Bukan karena takut pada Danu, tapi karena hari ini adalah hari penentuan taruhan besar.
Tuan Baskoro sudah duduk di meja makan sejak jam enam pagi, lengkap dengan dasi warna merah muda yang sengaja ia pakai sebagai kode kemenangannya.
"Sudah siap kalah, Landra?" tanya Baskoro saat putranya turun bersama Elisa.
Kalandra hanya mengangkat bahu dengan percaya diri. "Statistik tidak pernah bohong, Pa. Landra mimpi mereka main bola di halaman belakang semalam. Jadi Landra yang akan menang, mereka Laki-laki semua."
Elisa tertawa kecil melihat tingkah dua pria itu. "Sudah, ayo kita berangkat. Nanti bayinya keburu ngambek di dalem karena kakek dan ayahnya ribut terus."
Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih lambat dari biasanya bagi Kalandra. Di sampingnya, Elisa terlihat tampak tenang, meski tangannya sesekali mengelus perutnya yang kini sudah terlihat bulat sempurna di balik baju hamilnya.
"Mas, kalau beneran ada ceweknya, Mas beneran udah siap mau pake baju pink?" tanya Elisa menggoda.
Kalandra berdehem, ia pura-pura fokus pada jalanan. "Seorang Mahendra tidak pernah menarik kata-katanya. Tapi tenang saja, itu nggak akan terjadi."
Di ruang praktik Dokter Stella, ketegangan memuncak. Bahkan Dokter Stella pun sudah mendengar soal taruhan legendaris keluarga Mahendra itu karena Bimo yang merupakan sahabat kalandra punya sepupu salah satu perawat di sana jadi sudah membocorkannya.
"Oke, semuanya sudah siap?" tanya Dokter Stella sambil tersenyum penuh rahasia.
Kalandra, Elisa, Tuan Baskoro, dan Nyonya Siska berkumpul mengelilingi monitor yang besar. Dokter Stella mulai mengoleskan gel ke perut Elisa. Layar mulai menampilkan citra 4D yang jauh lebih jelas. Kita bisa melihat lekukan wajah, tangan kecil, dan gerakan kaki para bayi.
"Kita mulai dari janin yang pertama, yang posisinya paling bawah," Dokter Stella mengarahkan kursornya. "Ini... kakinya terbuka. Dan... selamat, Pak Kalandra, janin pertama adalah laki-laki!"
"Yesss!" Kalandra mengepalkan tangan ke udara. "Satu-nol, Pa!"
Baskoro hanya mendengus. "Masih ada dua lagi. Tenang saja."
Dokter Stella menggeser alatnya ke bagian tengah. "Janin kedua... posisinya agak membelakangi, tapi... sebentar. Nah, ini dia. Garisnya sangat jelas. Selamat, janin kedua adalah perempuan!"
"Hah?!" Kalandra melongo.
Tuan Baskoro langsung berdiri dan melakukan gerakan selebrasi kecil. "Satu-satu! Baju Pink sudah mulai mendekat ke lemarimu, Landra!"
"Dok, cek lagi! Mungkin itu tali pusatnya!" seru Kalandra panik.
Dokter Stella tertawa. "Tidak, Pak Kalandra. Ini sangat jelas. Janin kedua adalah nona kecil."
Suasana ruangan menjadi sangat riuh. Nyonya Siska sudah menangis bahagia sambil memeluk Elisa. "Aduh, bidadari kecil Mama... bakal ada yang bisa Mama dandanin!"
"Sekarang, penentuannya. Janin ketiga yang di pojok atas," Dokter Stella menggerakkan alatnya dengan perlahan, seolah sengaja menambah ketegangan.
Janin ketiga ini tampak sedang asyik menghisap jempolnya. Begitu posisinya berputar...
"Selamat! Janin ketiga juga perempuan!" seru Dokter Stella. "Jadi hasilnya adalah dua perempuan dan satu laki-laki. Bayi Triplets yang cantik-cantik dan ganteng!"
Kalandra mendadak lemas di kursinya. Pandangannya kosong menatap layar. Dua perempuan. Satu laki-laki. Artinya, ia kalah telak dalam taruhan.
Tuan Baskoro tertawa sangat keras hingga wajahnya memerah. "Dua cewek, Landra! Dua bidadari! Kamu kalah! Siapkan dirimu untuk warna merah muda paling terang di acara tujuh bulanan nanti!"
Elisa mengusap lengan Kalandra, mencoba menahan tawa. "Mas, nggak apa-apa. Nanti Mas bakal jadi ayah paling ganteng di antara dua anak perempuan. Pasti Mas bakal jadi protektif banget nanti."
Kalandra menatap layar USG lagi. Melihat dua wajah bayi perempuan yang tampak sangat mungil dan satu jagoan kecilnya, hatinya yang tadinya kaku karena kalah taruhan mendadak mencair. Rasa haru yang luar biasa menyerbu dadanya.
"Dua cewek ya, Dok?" tanya Kalandra pelan, suaranya bergetar.
"Iya, Pak. Dan satu abang yang bakal jagain adik-adiknya," jawab Dokter Stella lembut.
Kalandra mencium tangan Elisa dengan sangat lama. "Terima kasih, Elisa. Terima kasih banyak. Mau cewek atau cowok, saya bener-bener bersyukur."
"Tapi janji tetep janji ya, Lan!" Baskoro menyela sambil nyengir lebar. "Besok Papa panggil penjahit buat bikin jas warna pink fanta buat kamu!"
Sore harinya, saat kembali ke mansion, berita kemenangan Tuan Baskoro sudah menyebar luas. Gery dan Bimo bahkan sudah menyiapkan penyambutan konyol. Mereka berdiri di lobi sambil memegang balon warna merah muda dan biru.
"Selamat atas kekalahannya, Bos!" seru Gery sambil memberikan sebuah pita warna pink besar pada Kalandra.
"Gue udah pesen kue rasa stroberi buat ngerayain kemenangan Papa Baskoro," tambah Bimo sambil menahan tawa melihat wajah pasrah Kalandra.
"Kalian berdua... kalau bukan karena kalian yang jagain Elisa semalam, udah gue pindahin ke cabang Papua hari ini juga," ancam Kalandra, meski ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Aris berlari menghampiri Elisa. "Kak! Jadi adeknya cewek atau cowok?"
"Ada abang satu, ada adek cewek dua juga sayang," jawab Elisa sambil mengacak rambut adiknya.
Aris langsung melonjak kegirangan. "Asik! Berarti Aris bisa jadi pangeran buat dua putri!"
Malam itu, meja makan mansion Mahendra dipenuhi dengan tawa yang tidak pernah berhenti. Tuan Baskoro tidak henti-hentinya membahas soal desain kamar bayi yang harus ada unsur princessnya, sementara Kalandra mulai sibuk mencari tahu soal cara menjaga anak perempuan dari cowok-cowok nakal di internet.
"Lan, mereka saja belum lahir," tegur Bimo yang ikut makan malam. "Lo udah nyari alat pelacak buat pacar mereka nanti?"
"Lebih baik sedia payung sebelum hujan, Bim," sahut Kalandra serius. "Dua anak perempuan...gue harus belajar caranya pasang muka lebih galak lagi."
Elisa menatap keramaian itu dengan hati yang penuh. Dulu, ia adalah gadis yang merasa dunia ini tidak adil untuknya. Tapi sekarang, ia memiliki suami yang walaupun kaku dan sering kalah taruhan bersama sayang mertua tapi terlihat sangat peduli kepadanya. Cinta? Elisa berharap akan ada cinta dianatara mereka, terlebih selama ini perlakuan manis dari Kalandra selalu membuatnya merasa menjadi orang yang paling dicintai tapi Elisa masih ragu menarik kesimpulan itu bahwa kalandra sudah mencintainya, karena dari lisan saja kalandra belum pernah mengakatannya. Tapi itu sudah lebih dari cukup apalagi ia memiliki mertua yang memperlakukannya seperti anak kandung. Dan ia memiliki tiga nyawa di rahimnya yang sudah mulai menunjukkan kepribadian mereka.
Tiba-tiba, Elisa merasakan tendangan di perutnya. "Aduh."
"Kenapa? Sakit?" Kalandra langsung siaga, menaruh sendoknya.
"Nggak, kayaknya mereka lagi ngetawain ayahnya yang bakal pake baju pink," goda Elisa.
Kalandra menghela napas, lalu tersenyum pasrah. "Biarkan saja. Demi kalian, jangankan baju pink, pake kostum badut pun Papa jabani."
Di luar sana, Danu mungkin sedang merencanakan kejahatan terakhirnya. Tapi di dalam mansion ini, kekuatan sebuah keluarga baru saja dikukuhkan oleh kehadiran dua bidadari dan satu jagoan kecil. Keseharian mereka mungkin akan semakin sibuk, namun setiap detik menuju kelahiran si kembar tiga adalah sebuah kemenangan yang jauh lebih besar dari taruhan mana pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca guysssss☺️🥰❤️...
...Semoga suka sama ceritanya ya manteman...
Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya guys🙏🏻🙌🏾❤️
Dukungan kalian itu semangatnya Author🥳🥳🥳