NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Janji di Bawah Hujan

# BAB 4: JANJI DI BAWAH HUJAN

Hujan turun sejak tengah malam. Arjuna tidak tidur. Ia duduk di tikar, menatap kosong ke langit-langit yang bocor di beberapa titik. Suara tetesan air ke ember plastik jadi irama monoton yang biasanya bikin orang ngantuk, tapi buat Arjuna malam ini, suara itu cuma bikin kepalanya lebih bising.

Sari juga tidak tidur. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya, tatapan kosong ke foto di dinding kamarnya yang bisa terlihat dari celah pintu setengah terbuka. Foto ayah Arjuna. Foto guru yang ia anggap pahlawan.

Bu Lastri mendengkur pelan di kamar sebelah. Setidaknya ada satu orang di rumah ini yang bisa tidur nyenyak.

"Aku harusnya tahu," suara Sari memecah kesunyian. Serak. Seperti orang yang habis menangis berjam-jam. "Harusnya aku sadar saat kau bilang nama kau Arjuna Wibowo. Pak Hendrawan pernah cerita tentang anaknya. Tentang kau. Berkali-kali dia cerita."

Arjuna menoleh. "Ayah cerita tentang aku?"

"Setiap kali dia datang ke panti." Sari tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip ringisan. "Dia bilang punya anak laki-laki yang pintar. Yang suka baca buku. Yang pengen jadi orang baik meski dunia ini jahat. Dia bangga sekali sama kau."

Dada Arjuna sesak lagi. Setiap kali ia pikir ia sudah tidak bisa lebih sakit, sesuatu selalu datang menusuknya lebih dalam.

"Aku... aku tidak tahu dia ngajari anak-anak di panti," bisiknya. "Dia tidak pernah bilang."

"Dia orang yang rendah hati. Tidak suka pamer." Sari berdiri, jalan ke jendela, tatap hujan yang turun deras. "Dia bilang kalau dia melakukan itu karena... karena dia ingin menebus kesalahannya. Aku tidak mengerti waktu itu. Kesalahan apa? Orang sebaik dia bisa punya kesalahan apa?"

Arjuna ingat surat ayahnya. Ingat tulisan yang bilang ayahnya dulunya partner Adrian. Dulunya ikut membangun kerajaan gelap itu.

"Dia punya kesalahan," kata Arjuna pelan. "Kesalahan yang... yang besar."

Sari menoleh. "Apa maksud kau?"

Arjuna ragu sebentar. Tapi Sari berhak tahu. Gadis ini juga korban. Gadis ini juga kehilangan.

"Ayahku dulu bekerja untuk orang yang membantai desa kami," katanya, suaranya gemetar. "Dia partner bisnis orang itu. Ikut membangun kerajaan gelap. Sampai sepuluh tahun lalu, dia sadar dan kabur. Bawa bukti-bukti kejahatan. Dan orang itu... orang itu akhirnya menemukannya. Bunuh dia. Bunuh semua orang di desa."

Sari terdiam lama. Wajahnya tidak terbaca.

"Siapa?" tanyanya akhirnya. "Siapa orang yang membunuh Pak Hendrawan?"

"Namanya... namanya Kaisar Kelam. Itu julukan. Nama aslinya Adrian Mahendra."

Sari tersentak. Mata gadis itu membulat. "Adrian Mahendra? Pemilik Axion Corporation?"

"Kau tahu dia?"

"Semua orang tahu dia!" Sari berbalik, tatap Arjuna dengan mata penuh ketidakpercayaan. "Dia salah satu orang terkaya di negeri ini. Dermawan. Sering kasih sumbangan untuk anak-anak miskin, beasiswa, bangun sekolah. Dia... dia bahkan pernah datang ke daerah sini, bagi-bagi sembako. Orang-orang menganggapnya pahlawan!"

"Itu topeng." Arjuna berdiri, tangannya terkepal. "Semua itu topeng. Di balik wajah dermawan itu, dia monster. Dia jalankan perdagangan manusia. Senjata ilegal. Narkoba. Dan mungkin lebih banyak lagi yang aku tidak tahu."

"Kau punya bukti?"

"Ayahku bilang ada. Di flashdisk yang dia tinggalkan untukku." Arjuna keluarkan flashdisk merah dari sakunya. Benda kecil itu terasa berat di tangannya. "Tapi aku belum buka. Aku... aku tidak punya komputer. Tidak punya cara untuk buka."

Sari menatap flashdisk itu lama. Lalu ia melangkah ke kamarnya, kembali dengan tas lusuh. Dari dalam tas, ia keluarkan laptop tua yang covernya penuh stiker pudar.

"Ini laptop yang Pak Hendrawan kasih dulu. Dia bilang guru harus bisa pakai teknologi." Sari taruh laptop itu di meja kecil, nyalakan. Layarnya retak di sudut tapi masih nyala. "Ayo. Kita lihat apa isi flashdisk itu."

Mereka duduk berdampingan. Arjuna colok flashdisk itu, tangannya gemetar. Layar laptop muncul jendela folder. Di dalamnya cuma satu file. Namanya: "UNTUK ARJUNA".

Arjuna klik dua kali. File terbuka. Tapi bukan dokumen biasa. Muncul layar hitam dengan tulisan putih:

"MASUKKAN KATA SANDI"

"Sandi?" Arjuna menatap layar itu bingung. "Ayah tidak bilang ada sandi."

"Coba tanggal lahir kau," usul Sari.

Arjuna ketik tanggal lahirnya. Salah.

"Tanggal lahir ayah kau?"

Salah lagi.

"Nama desa kau?"

Salah.

Mereka coba puluhan kombinasi. Nama ayah, nama ibu Arjuna yang sudah meninggal saat melahirkan, nama-nama yang Arjuna ingat dari masa kecilnya. Semua salah.

"Sial!" Arjuna pukul meja, frustrasi. "Kenapa dia bikin sandi kalau dia mau aku buka?"

"Mungkin... mungkin dia tidak mau orang lain bisa buka kalau flashdisk ini jatuh ke tangan yang salah," kata Sari pelan. "Coba pikir. Ada sesuatu yang cuma kau dan dia yang tahu? Sesuatu yang spesial?"

Arjuna berpikir keras. Kepalanya berdenyut. Ada apa? Apa yang spesial antara dia dan ayahnya yang tidak orang lain tahu?

Lalu ia ingat. Ingat saat dia kecil, saat ayahnya selalu bacakan dongeng sebelum tidur. Ada satu dongeng favorit. Dongeng tentang seorang ksatria bernama...

"Anoman," bisiknya. Ia ketik nama itu. A-N-O-M-A-N.

Layar berkedip. Lalu muncul tulisan: "KATA SANDI BENAR. FILE TERBUKA."

Arjuna dan Sari menatap layar dengan napas tertahan. File terbuka. Di dalamnya ada ratusan dokumen. Foto. Video. Spreadsheet dengan angka-angka dan nama-nama.

Arjuna klik file pertama. Sebuah foto. Foto pria berjas berdiri di depan gudang besar. Di sampingnya ada kontainer-kontainer logam. Di foto berikutnya, kontainer itu terbuka. Di dalamnya...

Di dalamnya ada orang. Puluhan orang. Wanita dan anak-anak. Mata mereka kosong, tubuh mereka kurus, beberapa punya luka lebam.

Sari menutup mulutnya. "Ya Tuhan..."

Arjuna klik foto berikutnya. Dan berikutnya. Semakin banyak ia lihat, semakin ia merasa mau muntah. Ini bukan cuma perdagangan manusia biasa. Ini sistematis. Terorganisir. Ada dokumen manifest. Ada daftar harga. Ada nama pembeli.

Dan di setiap dokumen, ada logo. Logo Axion Corporation.

"Ini... ini nyata?" suara Sari gemetar. "Ini benar-benar terjadi?"

"Ini nyata." Arjuna scroll ke bawah. Ada lebih banyak. Transaksi senjata. Foto gudang penuh senapan dan peluru. Ada juga dokumen keuangan. Transfer uang dalam jumlah miliaran rupiah. Dan nama-nama.

Begitu banyak nama.

Arjuna klik file bernama "DAFTAR ORANG DALAM". File terbuka. Sebuah spreadsheet panjang. Kolom pertama: nama. Kolom kedua: jabatan. Kolom ketiga: jumlah suap.

"Menteri Dalam Negeri. Tiga miliar," baca Sari pelan, suaranya tidak percaya. "Kepala Kepolisian Daerah Metro. Dua miliar. Hakim Agung. Lima miliar. Direktur Utama Bank Sentral. Sepuluh miliar."

Daftar itu panjang. Puluhan nama. Orang-orang yang seharusnya melindungi rakyat. Orang-orang yang seharusnya penegak hukum. Tapi mereka semua... mereka semua dibeli Adrian.

"Tidak heran dia tidak pernah ditangkap," gumam Arjuna, tangannya gemetar memegang mouse. "Dia sudah beli semua orang yang punya kekuasaan."

Di bagian bawah spreadsheet, ada catatan kaki. Ditulis dengan huruf merah:

"INI HANYA SEBAGIAN KECIL. FILE LENGKAP ADA DI SAFE DEPOSIT BOX BANK MANDIRI CABANG SUDIRMAN. NOMOR KOTAK: 4782. KUNCI ADA DI BAWAH PAPAN LANTAI KAMAR ARJUNA, DEKAT JENDELA. KALAU AKU MATI SEBELUM BISA BONGKAR SEMUA INI, TOLONG LANJUTKAN PERJUANGANKU. JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS. MEREKA SUDAH MENGHANCURKAN TERLALU BANYAK NYAWA."

Arjuna menatap tulisan itu sampai matanya perih. Ayahnya. Ayahnya meninggalkan ini semua untuknya. Meninggalkan beban ini di pundaknya.

"Ayah..." bisiknya. "Kenapa kau tidak lari lebih jauh? Kenapa kau tidak bawa aku ikut kabur? Kenapa kau..."

Kenapa kau tinggalkan aku sendirian dengan beban seberat ini?

Tapi ia tahu kenapa. Ayahnya tidak bisa lari selamanya. Ayahnya tidak bisa hidup dengan guilt itu tanpa mencoba menebus. Jadi ayahnya kembali. Kembali dan mencoba mengumpulkan bukti. Mencoba menyelamatkan orang-orang yang masih bisa diselamatkan.

Dan ayahnya mati karenanya.

"Arjuna." Suara Sari pelan. Ia pegang tangan Arjuna, genggamannya hangat. "Apa yang mau kau lakukan sekarang?"

"Aku tidak tahu." Suaranya serak. "Aku... aku cuma pemuda desa yang tidak punya apa-apa. Bagaimana aku bisa lawan orang sekuat Adrian? Orang yang punya uang, kekuasaan, dan semua orang penting di kantongnya?"

"Tapi kau punya bukti."

"Bukti yang tidak bisa aku kasih ke polisi karena polisinya juga dibeli. Bukti yang tidak bisa aku kasih ke pengadilan karena hakimnya juga dibeli. Lalu untuk apa bukti ini?"

Sari diam sebentar. Lalu ia tutup laptop itu, putar kursinya sampai berhadapan dengan Arjuna.

"Dengar," katanya, suaranya keras sekarang. Keras dan penuh tekad. "Kau benar. Kita tidak bisa lawan dia sendiri. Tapi kita bisa cari orang yang bisa bantu. Ada wartawan investigasi. Ada aktivis. Ada orang-orang baik yang masih percaya keadilan."

"Dan kalau mereka juga dibeli?"

"Maka kita cari yang lain. Kita coba terus sampai kita nemuin seseorang yang tidak bisa dibeli. Seseorang yang masih punya hati nurani." Sari genggam tangan Arjuna lebih kuat. "Pak Hendrawan tidak mati untuk tidak ada apa-apa. Dia mati sambil percaya kalau kau... kalau kita bisa lanjutkan perjuangannya."

"Kita?" Arjuna menatap mata gadis itu. "Kenapa kau bilang kita?"

"Karena ini juga perjuanganku sekarang." Mata Sari berkaca-kaca tapi tidak ada air mata yang jatuh. "Pak Hendrawan guru yang kasih aku harapan. Kasih aku alasan untuk percaya kalau aku bisa jadi sesuatu meski aku anak buangan. Dan sekarang dia mati. Mati dibunuh monster yang berpura-pura jadi dermawan. Aku... aku tidak bisa diam saja."

"Tapi ini berbahaya. Kau bisa mati."

"Aku tahu." Sari tersenyum. Senyum yang sedih tapi juga... juga berani. "Tapi setidaknya aku mati untuk sesuatu yang bermakna. Bukan mati pelan-pelan di kota ini, mengajari anak-anak yang pada akhirnya juga bakal berakhir jadi budak sistem yang sama."

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar, kilatan cahaya sesaat menerangi ruangan gelap mereka.

"Kau yakin?" tanya Arjuna. "Kalau kau ikut aku, tidak ada jalan balik. Kau bakal jadi buronan. Bakal dikejar. Mungkin dibunuh."

"Aku yakin." Sari hulurkan tangannya. "Ayo kita bersumpah. Di bawah hujan ini. Di depan foto Pak Hendrawan. Kita bersumpah tidak akan berhenti sampai Adrian Mahendra dan semua orang brengsek itu membayar untuk apa yang mereka lakukan."

Arjuna menatap tangan gadis itu. Tangan kecil yang gemetar sedikit, tapi tetap terulur dengan mantap.

Ia raih tangan itu. Genggam kuat.

"Aku bersumpah," katanya, suaranya bergetar tapi penuh tekad. "Aku, Arjuna Wibowo, bersumpah akan membongkar semua kejahatan Adrian Mahendra. Akan buat dia dan semua pengikutnya membayar untuk semua nyawa yang mereka hancurkan. Untuk ayahku. Untuk desaku. Untuk semua korban yang tidak bisa bersuara lagi."

"Aku, Sari Amanda, bersumpah akan membantu Arjuna sampai akhir," lanjut Sari, suaranya tidak kalah kuat. "Sampai keadilan ditegakkan. Atau sampai aku mati mencoba. Untuk Pak Hendrawan. Untuk semua anak-anak yang dijual seperti barang. Untuk semua orang yang tidak punya suara."

Mereka berdiri, tangan tetap bergenggaman, menatap foto di dinding. Foto Hendrawan Surya yang tersenyum, tidak tahu kalau dua orang yang ia sayangi sekarang membuat sumpah berbahaya di bawah hujan.

Petir menyambar lagi. Suara gemuruh menggelegar.

Dan di kejauhan, di gedung pencakar langit yang megah di pusat kota, seorang pria berdiri di jendela kantornya, menatap hujan dengan segelas wine di tangan.

Adrian Mahendra tersenyum tipis.

"Anak Hendrawan masih hidup," gumamnya. "Menarik. Sangat menarik."

Ia meneguk wine-nya pelan, mata gelapnya memantulkan kilatan petir.

"Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan, Arjuna. Mari kita lihat apakah kau lebih pintar dari ayahmu."

Ia berbalik dari jendela, kembali ke mejanya yang penuh dokumen. Di salah satu dokumen itu, ada foto. Foto Desa Harapan Baru yang terbakar.

Dan di bawah foto itu, tulisan tangan dengan tinta merah:

"MISI SELESAI. TIDAK ADA YANG SELAMAT."

Adrian tertawa pelan. Suara yang dingin. Suara yang tidak punya kehangatan.

Suara monster yang berpura-pura jadi manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!