Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Dansa di Atas Darah Como
Danau Como di malam hari adalah perwujudan dari kemewahan yang tenang. Airnya yang gelap memantulkan cahaya lampu dari vila-vila megah yang bertengger di tebingnya seperti permata yang berserakan. Di antara semua bangunan itu, Villa d'Oro milik Julian Thorne berdiri paling angkuh. Malam ini, vila itu menjadi tuan rumah bagi sebuah pesta topeng eksklusif yang dihadiri oleh para bankir bayangan, politisi korup, dan oligarki yang tangannya berlumuran tinta darah Proyek Icarus.
Di sebuah dermaga kecil yang tersembunyi satu kilometer dari vila, Aruna berdiri menatap bayangannya di air. Ia tidak lagi mengenakan pakaian taktis yang penuh debu. Ia mengenakan gaun sutra hitam dengan potongan punggung terbuka yang sangat rendah, memperlihatkan otot punggungnya yang kini lebih kencang akibat latihan keras selama pelarian. Di balik paha kanannya, sebuah belati tipis terikat kencang, dan di balik rambutnya yang disanggul modern, tersembunyi sebuah alat komunikasi sekecil kuku.
"Dante, kau bisa mendengarku?" bisik Aruna.
Di dalam kabin kapal motor yang terombang-ambing pelan, Dante duduk bersandar pada tumpukan kantong medis. Wajahnya masih pucat, namun matanya sudah kembali tajam. Ia mengenakan headset, memantau pergerakan Aruna melalui sensor panas yang dipasang Enzo pada pakaian Aruna.
"Aku mendengarmu, Aruna. Detak jantungmu sedikit cepat. Tenangkan dirimu. Kau bukan penjahit malam ini. Kau adalah maut yang terbungkus sutra," suara Dante terdengar berat di telinga Aruna.
"Aku tahu," jawab Aruna. Ia menoleh ke arah Elena yang berdiri di sampingnya, mengenakan gaun serupa namun berwarna merah darah. Elena mengenakan topeng porselen yang hanya menutupi setengah wajahnya, menyembunyikan bekas luka tipis di sudut matanya.
"Ingat rencananya, Aruna," Elena berbisik sambil menyesuaikan posisi antingnya yang sebenarnya adalah pemancar pengacau sinyal. "Aku akan memancing perhatian pengawal di balkon barat. Kau masuk ke ruang kerja pribadi Julian. Ambil sidik jari biologisnya yang asli melalui alat pemindai yang kuberikan. Kita butuh itu untuk menghapus semua data cadangan Icarus secara permanen dari server awan miliknya."
Aruna mengangguk. "Dan Julian?"
"Biarkan dia menjadi bagianku," Elena tersenyum dingin. "Aku punya urusan sepuluh tahun yang harus diselesaikan."
Mereka masuk ke pesta itu sebagai tamu misterius. Berkat koneksi lama Elena di dunia bawah tanah Italia, mereka memiliki undangan fisik yang asli. Saat mereka melangkah masuk ke aula utama yang penuh dengan aroma parfum mahal dan denting gelas sampanye, semua mata tertuju pada mereka. Dua wanita cantik dengan postur yang begitu identik namun memiliki aura yang sangat berbeda.
Aruna bergerak dengan anggun, menyesuaikan diri dengan kerumunan. Ia menerima segelas sampanye dari seorang pelayan, matanya terus bergerak mencari posisi Julian. Ia menemukannya di balkon tengah, sedang tertawa bersama seorang menteri dari Eropa Timur. Julian tampak sangat tenang, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotere, bukan sedang memburu sebuah keluarga di pegunungan Alpen.
"Aruna, posisi jam dua dari tempatmu berdiri. Itu Branko," suara Dante memperingatkan.
Aruna sedikit membeku. Benar saja, di sudut ruangan, pria raksasa yang dulu sangat ia percayai sedang berdiri dengan setelan jas yang tampak terlalu sempit untuk tubuhnya. Branko adalah mata-mata Julian yang sebenarnya. Pria itu menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.
Aruna segera memutar tubuhnya, bersembunyi di balik pilar marmer yang besar. Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat bagaimana Branko dulu sering menggendong Bumi saat mereka baru sampai di rumah aman. Pengkhianatan itu terasa sangat personal.
"Aku melihat Branko. Aku akan menghindarinya," lapor Aruna.
Ia menggunakan kerumunan dansa sebagai tabir. Saat musik waltz berganti menjadi tempo yang lebih cepat, Elena mulai melakukan aksinya. Ia sengaja menumpahkan minuman ke arah salah satu kepala pengawal Julian, memicu keributan kecil yang menarik perhatian tim keamanan ke sisi barat.
Inilah kesempatannya.
Aruna menyelinap menuju tangga belakang yang menuju ke lantai tiga. Ia bergerak seperti bayangan, tanpa suara. Di lantai atas, penjagaan jauh lebih ketat, namun berkat instruksi Dante yang hafal arsitektur vila-vila serupa, Aruna berhasil melewati sensor laser dengan merayap di bawah celah udara.
Ia sampai di depan pintu ruang kerja Julian yang dijaga oleh pemindai retina. Aruna mengeluarkan alat kecil dari tasnya—sebuah proyektor laser yang sudah diisi dengan data biometrik Julian yang mereka curi dari arsip bank di Zurich.
Klek.
Pintu terbuka. Aruna masuk dan segera mengunci pintu dari dalam. Ruangan itu dipenuhi oleh artefak kuno dan rak buku dari kayu mahoni. Di tengah ruangan, terdapat sebuah komputer canggih yang terhubung dengan jaringan satelit Julian.
Aruna mulai menyambungkan perangkat peretas milik Enzo. "Aku sudah masuk. Proses pengunduhan dimulai."
"Bagus. Tetap di sana. Enzo butuh empat menit untuk meruntuhkan firewall miliknya," kata Dante.
Namun, baru dua menit berjalan, sebuah suara terdengar dari arah pintu rahasia di balik rak buku.
"Kau tahu, Aruna... sutra hitam memang sangat cocok untukmu. Terlihat seperti pakaian berkabung yang sangat indah."
Aruna berputar cepat, tangannya sudah menggenggam belati tipis. Julian Thorne keluar dari kegelapan, memegang sebuah gelas kristal berisi wiski. Ia tidak tampak terkejut. Ia tampak... senang.
"Julian," desis Aruna.
"Kau pikir aku tidak tahu kau akan datang? Elena selalu bisa diprediksi. Dia pikir dia bisa mengalahkanku dengan taktik lama," Julian berjalan mendekat, tidak takut pada belati di tangan Aruna. "Tapi kau, Aruna... kau adalah variabel yang menarik. Kau menjahit luka Dante, kau melarikan diri dari Swiss, kau bahkan menyusup ke biara istriku. Kau jauh lebih berharga daripada Dana Abadi itu sendiri."
"Hentikan omong kosongmu, Julian. Semua datamu sedang dihancurkan sekarang juga," Aruna menunjuk ke arah layar komputer.
Julian tertawa kecil. "Dihancurkan? Tidak, Sayang. Kau sedang mengunggahnya ke peladenku yang lain. Enzo adalah peretas yang hebat, tapi dia bekerja dengan peralatan yang sudah aku beri 'pintu belakang'. Kau baru saja membantu aku mengamankan aset Icarus selamanya."
Darah Aruna seolah berhenti mengalir. "Dante! Apa kau dengar itu?!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara statis di telinganya.
"Dante tidak bisa mendengarmu lagi, Aruna. Jammer-ku sudah aktif sejak kau masuk ke ruangan ini," Julian meletakkan gelasnya dan mencabut sebuah pistol kecil dari balik jasnya. "Sekarang, berikan flashdisk biometrik yang kau bawa, atau aku akan memastikan Elena mati di aula bawah dalam lima menit ke depan."
Aruna merasa terjebak. Ia menatap layar komputer yang menunjukkan progres 90%. Ia harus membuat keputusan dalam hitungan detik. Namun, di tengah keputusasaan itu, ia teringat satu pelajaran dari Dante: Di duniaku, jika kau tidak bisa memenangkan permainan, hancurkan papan caturnya.
Aruna tidak menyerahkan flashdisk-nya. Sebaliknya, ia melompat ke arah meja dan menghantamkan belatinya tepat ke arah unit prosesor utama komputer tersebut, memicu korsleting listrik yang besar. Ledakan kecil terjadi, mengirimkan bunga api ke seluruh ruangan.
"TIDAK!" teriak Julian.
Aruna tidak berhenti di situ. Ia menerjang Julian, menggunakan kecepatan yang ia peroleh dari latihan bersama Enzo. Mereka bergulat di lantai. Aruna berhasil menendang pistol dari tangan Julian, namun Julian jauh lebih kuat secara fisik. Pria itu mencekik leher Aruna, menekannya ke lantai.
"Kau menghancurkannya! Kau menghancurkan sejarah dunia!" geram Julian dengan wajah merah padam.
Aruna terengah-engah, tangannya meraba-raba lantai, mencari belatinya yang terjatuh. Saat pandangannya mulai kabur, pintu ruang kerja meledak.
Bukan Dante yang masuk. Melainkan Elena, dengan gaun merah yang kini bersimbah darah orang lain. Di tangannya, ia memegang kepala Branko yang sudah tak bernyawa—sebuah pemandangan mengerikan yang membuat Julian melepaskan cengkeramannya karena terkejut.
"Pelayanmu sudah mati, Julian," ucap Elena dingin.
Di belakang Elena, Dante muncul dengan langkah tertatih namun senjata di tangan. "Dan permainanmu berakhir di sini."
Julian berdiri, mencoba mencari jalan keluar, namun ia sudah terkepung. Aruna bangkit sambil terbatuk, menatap Julian dengan kebencian yang murni.
"Icarus sudah jatuh, Julian," ucap Aruna. "Dan kau akan jatuh bersamanya."