Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaelion Blackwood.
Kantor Grup Blackwood
Gedung tertinggi di distrik finansial berdiri seperti taring besi menusuk awan. Markas Blackwood Group, kerajaan bisnis yang menguasai setengah perputaran uang dunia bawah dan dunia terang sekaligus.
Di lantai paling atas, ruang rapat eksekutif terbentang luas, dindingnya terbuat dari kaca hitam antipeluru. Dari sana, kota tampak seperti papan catur raksasa. Mobil-mobil hanyalah bidak, dan manusia adalah angka-angka yang bisa digeser, dihapus, atau dikorbankan.
Di tengah ruangan itu, seorang pria muda duduk santai di kursi direktur utama.
Kaelion Blackwood.
Putra tunggal konglomerat paling berbahaya di Asia Timur. Pewaris yang namanya cukup untuk membuat para petinggi politik, bos mafia, dan CEO multinasional menunduk bersamaan.
Namun, saat ini, Kaelion justru sedang… bermain game di ponselnya.
Jari-jarinya bergerak cepat dan presisi, menghabisi musuh virtual satu demi satu, sementara di sekelilingnya para direktur dan manajer senior Blackwood Group sedang mempresentasikan laporan bernilai miliaran dolar.
“Divisi farmasi mengalami kenaikan delapan persen—”
“Unit keamanan berhasil menyingkirkan dua kelompok pesaing—”
“Investasi di pelabuhan selatan—”
Kaelion tidak menoleh. Matanya yang dingin hanya memantulkan cahaya layar ponsel.
Seakan semua itu tak lebih penting dari skor yang sedang ia kejar.
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka dengan bunyi desis halus.
Seorang pria muda bersetelan hitam masuk tergesa-gesa. Wajahnya pucat, napasnya sedikit terengah. Dia adalah Jayen, asisten pribadi Kaelion.
Jayen melangkah cepat, lalu berhenti tepat di sisi kursi Kaelion.
“T-Tuan Kael…” bisiknya, menunduk sambil mengangkat ponsel. “Ada laporan darurat.”
Kaelion masih menatap layar gamenya.
“Baca.”
“Tunangan Anda… Nona dari keluarga Rothwell… dia pingsan setelah dijadikan sandera dalam insiden hari ini. Sekarang masih dirawat di rumah sakit.”
Beberapa direktur menahan napas.
Sandera. Rumah sakit. Tunangan Blackwood.
Itu bukan berita kecil.
Namun reaksi Kaelion… sangat sederhana.
“Lalu?” tanyanya datar.
Jayen menelan ludah.
“Perjodohan memang belum diumumkan secara publik, dan keluarga Rothwell juga belum tahu detailnya… tapi sebagai tunangannya, Anda seharusnya menunjukkan sedikit perhatian. Ini akan menguntungkan citra Blackwood.”
Perlahan, Kaelion menghentikan gamenya.
Layar ponsel menjadi gelap.
Udara di ruangan itu seakan langsung turun beberapa derajat.
Kaelion mengangkat kepala dan menatap Jayen.
Tatapannya bukan marah. Bukan kesal.
Itu jauh lebih berbahaya. dingin, tenang, dan penuh tekanan tak terlihat.
“Jayen,” katanya pelan. “Kau ingat etika saat masuk ke ruangan inikan?”
Tubuh Jayen gemetar. Dalam satu gerakan refleks, dia langsung berlutut.
“Maaf, Tuan Kael. Saya lancang.”
Para direktur menunduk lebih dalam. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara.
Kaelion berdiri perlahan, mengambil ponsel Jayen dari tangannya tanpa emosi. Ia membuka foto yang terlampir di laporan itu.
Di layar, tampak Seorang gadis yang tampak… rapuh terbaring di ranjang rumah sakit.
Seorang gadis yang tampak… rapuh.
“Ah,” gumam Kaelion. “Merepotkan.”
Ia memperbesar foto itu dengan jarinya.
“Tipe cewekku adalah cewek yang dingin, kuat, bisa menantangku dan bermain denganku habis-habisan.”
Sudut bibirnya melengkung tipis. “Bukan yang lemah lembut dan penurut seperti ini.”
Namun entah kenapa, ia tidak menutup fotonya.
Ia menatap wajah gadis itu lebih lama dari yang ia sadari.
“Hm.”
Sebuah suara tawa ringan terdengar dari pintu.
“Astaga,” kata seorang pria berambut cokelat dan berwajah santai. “Ada orang mesum dan masokis di sini rupanya.”
Itu Farel Alander, sahabat sekaligus partner gelap Kaelion.
Kaelion memasukkan ponsel Jayen ke sakunya lalu berdiri.
“Farel. Ayo.”
Farel mengangkat alis. “Ke mana?”
“Dia di rumah sakit, bukan?” Kaelion membuka laci mejanya dan mengambil sebuah map hitam. “Sebagai tunangannya… aku harus menjenguknya, kan?”
Nada suaranya sinis.
“Menunjukkan sedikit perhatian.”
Ia menepuk bahu Jayen yang masih berlutut. “Berdiri.”
Lalu Kaelion melangkah keluar dari ruang rapat, langkahnya mantap seperti predator yang baru memutuskan untuk berburu.
Di belakangnya, semua orang berdiri serempak.
“Selamat jalan, Tuan Kaelion.”
................
Di rumah sakit.
Ruangan itu sunyi, hanya terdengar dengung mesin infus dan detak jarum jam di dinding putih yang dingin.
Mirea terbaring di kasur rumah sakit, selimut menutupi sebagian tubuhnya. Di sampingnya, Tina, memeluknya sambil meneteskan air mata.
“Anakku… menyedihkan sekali,” suara Tina pecah oleh isak. “Baru pulang… sudah kena masalah seperti ini.”
Di luar ranjang, Aren, yang sekarang adalah kakak pertama Mirea, berdiri tegap, matanya menatap sang adik dengan campuran rasa cemas.
“Lebih baik kita keluar dulu, biar adik bisa beristirahat,” ujarnya seraya menepuk punggung sang ibu.
Davito, Yang sekatang adalah ayah mirea, membantu Tina berdiri. “Iya, benar. Ayo, Ma.” Mereka keluar, menutup pintu di belakang mereka.
Begitu suara pintu itu menghilang, Mirea perlahan membuka matanya. Sekejap cahaya lampu ruang rumah sakit menyinari wajahnya, menyingkap mata yang tajam dan penuh perhitungan.
“Hah…” ia menghela napas panjang, tubuhnya yang kaku menyesuaikan diri. “Akhirnya pergi juga,” gumamnya, meregangkan tangan dan kaki yang kebas karena terlalu lama berbaring.
Dari balik jepit rambutnya, sebuah batang rokok muncul, ia selalu sembunyikannya di sana. Ia mengambil korek dari saku jas rumah sakit, bersiap menyalakan.
Namun, langkah hati-hatinya terhenti saat terdengar suara di pintu. Gagang pintu bergetar, seperti ada yang ingin masuk.
“Siapa itu…?” lirihnya, tubuh menegang, mata menelusuri arah pintu dengan waspada.
Di sisi lain, Kaelion Blackwood berdiri di koridor rumah sakit, Farel menghalangi langkahnya dengan satu tangan.
“Jadi ini yang kau maksud dengan menengok, Kael?” Farel menatap dokumen yang dibawa Kael. “Mumpung dia lagi pingsan, kamu mau diam-diam ambil cap jarinya untuk menyetujui pembatalan pernikahan?”
Kaelion mengernyit. “Kalau kau yang lakukan, bagaimana?”
Farel menggeleng. “Aku tidak mampu melakukan hal sekeji itu. Masuk sendiri saja!”
Kaelion tersenyum tipis, setengah mengejek, setengah serius. Dengan satu tarikan napas panjang, ia membuka pintu kamar. Sekali langkah, ia menutup pintu kembali, menatap ruangan kosong.
“Eh… di mana orangnya?” gumamnya, bingung.
Tiba-tiba, dari balik tirai, tangan kecil muncul. Sebuah dasi hitam yang bertengger di leher kael di tenggorokan lalu ditarik ke atas, kemudian ditarik kembali dikencangkan, mata Kaelion tertutup.
“Siapa…?” teriak Kaelion, mencoba melepaskan diri.
Sebelum ia sempat melakukan apapun, kaki Mirea menendang lututnya, membuat Kaelion kehilangan keseimbangan.
Gerakan berikutnya secepat kilat, Mirea memutar tubuh Kaelion, menendangnya lagi sehingga pria itu tersungkur di kasur.
Kaelion berusaha bangkit, namun Mirea sudah duduk di punggungnya, menekannya. Kedua tangannya tak bisa bergerak sedangkan matanya tak dapat melihat tertutup oleh dasi.
“Kamu dari geng mana?” suaranya tenang, dingin, tapi setiap kata seperti pisau menembus udara.
Kaelion ronta, mencoba lepas. “Dari… cara bicaramu, kamulah… anggota geng…”
Sekali tekanan Lagi, Mirea menekan kepala Kaelion dengan tangannya. “Katakan dengan jujur!” perintahnya, tegas, tanpa sedikit pun keraguan.
Dari luar, Farel memanggil panik. “Tuan Kael! Kau baik-baik saja?”
Mirea menoleh, mata cepat menangkap sekeliling ruangan, sebuah perban tergeletak di meja samping. Rencana berikutnya sudah terlintas.
Farel memanggil lagi, kali ini membuka pintu kamar, dan…
Matanya hampir keluar dari soket. Di hadapannya, Kaelion terikat di sudut ranjang rumah sakit, mata tertutup, kedua tangan dibelenggu perban, posisi yang sama sekali tak ia bayangkan akan terjadi.
“Astaga,” tawa Farel pecah, menahan rasa heran dan geli. “Tuan Kael… memang hebat. baru juga datang, sudah punya cara bermainan seru dengan tunanganmu ya!”
Di balik tirai, Mirea mendengarkan percakapan itu menata heran. "Tunangan…” batinnya, hati berdegup kencang. Tangannya menggenggam dokumen kontrak pernikahan yang berhasil ia ambil diam-diam dari Kaelion sebelumnya.
Mata Mirea melebar. “Apa…?” pikirnya. “Ternyata dia tunanganku?”
“Jadi? aku… mengikat tunanganku sendiri,” batinnya gelisah.