Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa gadis kecil itu malah jadi gila begini?
Zilan tersenyum hangat, sehangat mentari pagi. “Aku menyukainya,” ucapnya pelan. “Apa kamu mencarinya khusus untukku?”
Zoran menggeleng ringan. “Tidak,” katanya jujur sambil menunjuk ke arah pohon di dekatnya. “Aku juga membawanya untuk kutanam di sini, supaya bisa kunikmati.”
Di balik pohon itu, terbentang taman kecil, sederhana, namun tertata.
Bunga-bunga ungu serupa tumbuh di sana, kelopaknya memantulkan cahaya lembut. Selain berguna sebagai penerangan di malam hari, taman itu membuat tempat tinggal Zoran terasa… hidup.
Zilan terdiam.
Senyum di wajahnya membeku perlahan.
Ia tadi mengira, bahwa bunga di tangannya adalah sesuatu yang istimewa, bahwa Zoran mencarinya dengan sengaja, hanya untuk dirinya. Namun ternyata… bunga itu hanyalah satu tangkai dari banyak tangkai lain.
Boom!
Tamparan keras mendarat di wajah Zoran.
Tubuhnya terhempas dan jatuh ke salju.
Zilan mendengus kesal. “Dasar pria bajingan. Padahal aku sudah merasa istimewa… sampai hatiku benar-benar berbunga-bunga.”
Tanpa menoleh lagi, Zilan berbalik dan pergi.
Zoran masih terbaring di tanah bersalju.
Ia mengelus pipinya yang memerah, wajahnya penuh kebingungan.
“Sialan…” gumamnya. “Kenapa gadis kecil itu malah jadi gila begini?”
\*\*\*
Beberapa hari berlalu.
Zoran kembali tenggelam dalam buku-buku pemberian Zilan.
Buku-buku itu berisi catatan tentang sejarah dunia, artefak dan harta spiritual, serta jimat-jimat khusus, benda yang dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan, meningkatkan serangan, melarikan diri, atau bahkan menyelamatkan nyawa dalam situasi genting.
Bagi para pendekar, benda-benda seperti itu sering kali lebih berharga daripada teknik.
Dan bagi Zoran… pengetahuan inilah yang bisa menjadi jalan pintas untuk mengejar ketertinggalannya.
Beberapa hari kemudian, Zoran kembali berburu binatang spiritual.
Tubuhnya telah pulih sepenuhnya, auranya kembali stabil. Tidak ada lagi alasan untuk bermalas-malasan.
Setiap binatang spiritual yang ia kalahkan langsung ia serap tanpa ragu, lalu ia bergerak lagi, mencari mangsa berikutnya. Namun hampir semua binatang spiritual yang ia temui hanya berada di tingkat raga spiritual tingkat tiga atau empat, dan yang paling tinggi pun hanya tingkat lima.
Binatang spiritual tingkat enam, yang benar-benar ia butuhkan, tidak satu pun muncul. Entah karena mereka bersembunyi, atau memang wilayah yang ia jelajahi masih terlalu dangkal. Padahal, jika ia bisa membunuh satu saja binatang tingkat enam, hasilnya pasti akan jauh lebih berguna daripada membunuh sepuluh binatang tingkat rendah.
Zoran mendengus kesal. Semakin lama, hasil perburuan itu semakin terasa hambar. Energi yang ia dapatkan nyaris tidak memberi perubahan berarti.
Zoran berhenti sejenak, berdiri di tengah salju, lalu menghela napas panjang. “Mungkin inilah batas terbaikku untuk saat ini.”
Pikirannya sempat melayang pada satu kemungkinan. Masuk ke hutan yang lebih dalam. Namun hampir seketika, ia menggeleng.
Ia tahu betul, di hutan bagian dalam, binatang spiritual tingkat jiwa bahkan tingkat bumi bisa muncul kapan saja. Dengan kekuatannya sekarang, jika nekat masuk ke sana, ia bukan pemburu… melainkan mangsa.
“Setidaknya aku harus mencapai tingkat jiwa spiritual dulu,” gumamnya pelan.
Tanpa pilihan lain, Zoran kembali berburu beberapa binatang spiritual di sekitar wilayah itu. Ia melakukannya dengan tenang, tanpa terburu-buru, sampai langit semakin gelap dan malam hampir mencapai tengahnya.
Akhirnya, Zoran berhenti. Ia menatap sekeliling sejenak, lalu berbalik arah. Malam ini, ia memilih untuk beristirahat.
Dua hari kemudian, Zoran akhirnya masuk ke hutan yang lebih dalam.
Di wilayah sebelumnya, binatang spiritual paling kuat hanya berada di tingkat raga spiritual tingkat enam. Itu sudah tidak lagi cukup baginya. Kali ini, tujuannya jelas, mencari binatang spiritual tingkat raga tingkat tinggi, lalu menghindari binatang spiritual tingkat jiwa sebisa mungkin.
Bukan karena ia pengecut.
Zoran hanya masih cukup waras untuk tahu batas dirinya. Ia tidak berniat melakukan kebodohan dengan menantang makhluk yang kekuatannya jauh melampaui dirinya. Nyawanya masih terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.
Lagipula, menurut Zoran… Mati dimakan binatang spiritual yang kecerdasannya rendah, tidak ada gagah-gagahnya sama sekali.
Jika memang harus mati, Zoran lebih memilih mati dengan pedang di tangan, bertarung melawan pendekar manusia, bukan menjadi santapan makhluk buas.
Itulah prinsipnya.
Namun baru beberapa langkah memasuki wilayah yang lebih dalam,
Boom!
Zoran merasa seperti kepalanya disambar petir. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan. Binatang spiritual di depannya membuat darahnya seakan membeku.
Beruang Lumut Tulang Hijau.
Makhluk itu berdiri menjulang, tubuhnya dua kali tinggi Zoran, besar dan berat seperti bukit kecil. Seluruh tubuhnya tertutup lumut hijau tebal, akar-akar kecil menjalar di antara bulu dan kulitnya. Kulit cokelat gelapnya tampak keras dan kasar, menyerupai kayu tua yang telah membatu oleh waktu.
Ia tidak perlu bergerak.
Hanya berdiri di sana saja sudah cukup untuk menekan udara di sekitarnya.
“Sialan…” Zoran mengumpat dalam hati, wajahnya menghitam. “Baru masuk langsung bertemu makhluk begini… Apa aku benar-benar tidak punya keberuntungan sama sekali?”
Beruang Lumut Tulang Hijau adalah binatang spiritual tingkat jiwa spiritual tingkat atas. Dengan kekuatan Zoran saat ini, bahkan melawan pun bukan pilihan.
Itu bukan pertarungan.
Itu bunuh diri.
Zoran menelan ludah perlahan, seluruh otot tubuhnya menegang. Dalam benaknya, hanya ada satu pertanyaan yang berputar tanpa henti,
Bagaimana caranya keluar dari situasi ini… tanpa mati?
“Tapi… bagaimana caranya aku pergi dari sini dengan damai?” Zoran berpikir cepat, jantungnya berdetak keras di dada.
Rasanya hampir mustahil, tidak, jelas mustahil, untuk kabur dengan tenang setelah berhadapan langsung seperti ini. Mereka berdiri saling berhadapan, saling menatap, tanpa penghalang apa pun di antara mereka.
Zoran menarik napas dalam-dalam, memaksa pikirannya tetap jernih.
Tenang… tenang…
Aku tidak mengganggunya.
Aku tidak menyerang.
Kalau aku pergi perlahan, dia pasti tidak akan mengejarku.
Dengan tubuh yang kaku dan otot menegang, Zoran mulai mundur perlahan. Pandangannya ia palingkan ke arah lain, berpura-pura tidak menyadari keberadaan Beruang Lumut Tulang Hijau, seolah makhluk itu hanyalah batu besar yang kebetulan berdiri di sana.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tidak ada reaksi.
Lima langkah.
Sepuluh langkah.
Zoran menahan napas.
Beruang itu masih berdiri di tempatnya, hanya menatap, tidak bergerak, tidak mengejar.
Rasa lega perlahan merambat di dada Zoran.
Lima belas langkah.
Dua puluh langkah…
Ia hampir yakin dirinya selamat,
Rawr!!
Raungan mengerikan mengguncang udara.
Suara itu begitu keras hingga menggema di seluruh hutan, membuat tanah seolah bergetar. Zoran tersentak ketika menyadari satu hal, ia baru saja melenceng dari jalur sebelumnya.
Dalam sekejap, aura Beruang Lumut Tulang Hijau berubah.
Dengan tubuh sebesar bukit kecil, makhluk itu menghentakkan kaki ke tanah dan langsung mengejar, setiap langkahnya berat dan menggetarkan. Salju terhambur, tanah berderak, burung-burung beterbangan panik, dan hewan-hewan kecil lari tunggang-langgang.
“Sialan!” Zoran mengumpat panik. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga, tanpa berani menoleh ke belakang. Ia tidak tahu apa yang memicu beruang itu, apakah karena arah langkahnya berubah?
Atau karena wilayah terlarang yang tanpa sadar ia injak?
Yang jelas, satu hal sangat pasti,
Ini bukan lagi soal pergi dengan damai.
Ini adalah soal bertahan hidup.