NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 5

Sasya menatap layar ponselnya sampai matanya perih. Pesan dari Pak Alkan semalam—tentang "data baru" dan "rencana masa depan"—benar-benar menjadi background process yang memakan seluruh memori otaknya. Ia tidak bisa fokus. Bahkan saat sedang menggoreng telur di kosan, ia hampir saja menuangkan sabun cuci piring karena melamunkan senyum tipis Pak Alkan di masjid kemarin.

"Sya, lo kalau senyum-senyum sendiri sambil pegang spatula gitu, gue laporin ke dinas sosial ya," celetuk Putri yang baru bangun tidur.

"Put, lo tau nggak apa yang lebih horor dari blue screen of death?" tanya Sasya tanpa menoleh.

"Apa?"

"Dikasih harapan sama dosen pembimbing sendiri, tapi status lo masih mahasiswa aktif yang belum yudisium."

Putri langsung duduk tegak, nyawanya terkumpul seketika. "Wait. Jadi Pak Alkan beneran kasih kode? Bukannya dia tipe yang kalau ngomong harus ada dasar teorinya dulu?"

"Itulah masalahnya!" Sasya mematikan kompor. "Dia bilang Ayah gue kasih dia 'data valid' buat rencana masa depannya. Data apa? Emang Ayah gue bawa sertifikat tanah ke masjid? Enggak kan?"

"Sya, dengerin gue," Putri memasang wajah serius. "Pak Alkan itu green flag yang sangat taat aturan. Secara etika kampus, dosen nggak boleh ada hubungan spesial sama mahasiswa bimbingannya. Itu bisa jadi gratifikasi rasa. Lo mau Pak Alkan kena sanksi kode etik gara-gara lo?"

Kalimat Putri barusan seperti air es yang disiramkan ke kepala Sasya. Logika Sasya kembali online.

Kabar buruk benar-benar datang lebih cepat dari perkiraan. Pagi itu, di mading fakultas, tertempel sebuah surat edaran baru dari Dekanat. Isinya singkat, padat, dan menyakitkan: "Larangan Hubungan Romantis antara Dosen dan Mahasiswa dalam Lingkup Akademik guna Menjaga Objektivitas."

Sasya lemas. "Ini mah bukan firewall lagi, ini namanya total lockdown," bisiknya pilu.

Saat ia sedang membaca pengumuman itu, sebuah bayangan tinggi berdiri di sampingnya. Aroma kayu cendana yang familiar itu kembali menyentuh indranya. Sasya menoleh dan mendapati Alkan juga sedang membaca pengumuman yang sama.

Wajah Alkan tetap datar, sedatar garis deadline skripsi. Namun, Sasya bisa melihat rahang dosen itu mengeras.

"Sudah baca?" tanya Alkan tanpa menoleh ke Sasya.

"Sudah, Pak," jawab Sasya pelan, nyaris berbisik. "Sepertinya peraturan ini dibuat buat... ya, buat orang-orang seperti saya yang suka berhalusinasi."

Alkan menoleh, menatap Sasya tepat di matanya. "Peraturan dibuat untuk menjaga sistem agar tidak kacau. Tapi peraturan juga punya batasan ruang dan waktu."

"Maksud Bapak?"

"Artinya," Alkan mendekat satu langkah, suaranya dipelankan agar tidak terdengar mahasiswa lain yang lewat, "selama kamu masih mahasiswa saya, saya akan tetap menjadi dosen yang paling tegas dan paling banyak kasih revisi buat kamu. Saya tidak akan membiarkan peraturan ini menjatuhkan profesionalisme saya."

Sasya menunduk. "Iya, Pak. Saya paham. Saya cuma mahasiswa bimbingan Bapak."

"Tapi," lanjut Alkan, dan Sasya bisa mendengar nada suaranya berubah sedikit lebih lembut, "peraturan ini hanya berlaku di dalam kampus. Dan peraturan ini akan kadaluwarsa saat kamu sudah memakai toga."

Sasya mendongak cepat. Jantungnya berdisko lagi. "Bapak... baru saja bilang kalau saya harus cepat lulus?"

"Bukan cuma cepat, Sasya. Tapi juga harus dengan nilai terbaik. Saya ingin saat saya mendatangi Pak Baskoro nanti, saya membawa bukti bahwa putri beliau bukan hanya wanita yang tulus, tapi juga sarjana yang cerdas."

Alkan kemudian berbalik dan berjalan pergi menuju ruangannya, meninggalkan Sasya yang masih mematung di depan mading.

Sesi bimbingan siang itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Alkan benar-benar menepati janjinya. Dia menjadi sangat teliti, bahkan sampai ke titik koma dan format sitasi.

"Bagian ini salah. Metodenya tidak efisien. Ulangi," ujar Alkan tegas sambil mencoret draf Sasya dengan tinta merah.

Sasya menggigit bibir bawahnya. "Tapi Pak, semalam Bapak bilang bagian ini sudah oke."

"Semalam adalah semalam. Hari ini saya melihat ada celah logika di sini. Kamu ingin lulus dengan nilai 'kasihan' atau nilai 'kehormatan'?"

Sasya menarik napas panjang. Ia teringat kata-kata Alkan tadi pagi. "Kehormatan, Pak."

"Bagus. Perbaiki sekarang di sini. Saya tunggu sampai jam empat sore."

Selama tiga jam, Sasya berkutat dengan laptopnya di pojok ruangan Alkan. Suasana hening, hanya terdengar suara detak jam dinding dan ketikan keyboard. Sesekali, Alkan melirik ke arah Sasya yang tampak sangat serius sampai keningnya berkerut.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk. Bu Sarah masuk dengan wajah cemas.

"Alkan! Kamu dengar kabar? Anak-anak di forum anonim kampus lagi bahas soal dosen yang 'main mata' sama mahasiswa. Namamu dibawa-bawa karena kamu kasih kotak bekal saya ke mahasiswa lab," ujar Bu Sarah panik.

Sasya langsung membeku. Aduh, ini gara-gara gue ya?

Alkan berdiri dengan tenang. "Biarkan saja, Sarah. Saya punya bukti bahwa kotak itu saya berikan secara terbuka di depan publik untuk dikonsumsi bersama. Tidak ada yang disembunyikan."

"Tapi Alkan, posisi kamu bisa terancam kalau ada yang lapor ke komite etik!"

Alkan menatap Bu Sarah, lalu beralih menatap Sasya yang wajahnya sudah pucat pasi. "Saya tidak takut pada komite etik selama saya tidak melanggar syariat dan hukum. Dan saya rasa, memberi makan mahasiswa yang lapar bukan sebuah kejahatan."

Alkan kembali duduk. "Sasya, lanjutkan pekerjaanmu. Jangan terganggu oleh noise yang tidak penting. Fokus pada signal kamu."

Sasya mengangguk, tapi tangannya gemetar. Ia merasa bersalah. Ternyata, mencintai dalam diam pun bisa membawa risiko besar bagi orang yang ia cintai.

Malam itu, Sasya tidak melakukan "manifestasi" seperti biasanya. Ia bersujud dengan air mata yang menetes ke sajadah.

"Ya Allah... jika kehadiranku di dekatnya hanya akan merusak reputasinya, tolong jauhkan aku. Tapi jika Engkau mengizinkan kami bersama, tolong beri aku kekuatan untuk menyelesaikan skripsi ini secepat mungkin. Aku nggak mau jadi beban buat dia. Aku mau jadi kebanggaannya."

Di tempat lain, Alkan sedang menghapus semua foto di galeri HP-nya yang berhubungan dengan pekerjaan, menyisakan satu folder tersembunyi yang isinya hanya satu foto: Foto candid Sasya saat sedang serius belajar di perpustakaan yang ia ambil diam-diam bulan lalu.

Alkan bergumam pelan, "Tahan sebentar lagi, Sasya. Setelah ini, tidak akan ada mading atau aturan kampus yang bisa menghalangi saya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!