Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Pertama
Bu Arumi dan Lesi sedang membereskan Baju baju yang akan di kenakan Saat lebaran nanti.
meski pun tidak baru , tapi Baju itu sudah lama mendekap di dalam lemari, tidak pernah sekali pun di pakai, jadi Bisa di katakan Baru, Toh kata bu Arumi " Jika orang lain belom liat kita pake baju ini, Ini Masih baru namanya " .
Lesi tidak pernah menuntut kepada orang tuanya, dia mencoba pahami kondisi keluarga nya saat ini, sudah syukur dalam makan setiap harinya, meski dengan tempe dan tahu sebagai lauknya.
" Maaf ya, kali ini gak beli baju dulu " Ucap Bu Arumi yang sedang menyetrika Baju koko Pak Warto.
Lesi yang sedang membantu memilih baju Bu Arumi hanya tersenyum, " Ga apa apa bu, Ini kan banyak Baju ibu yang gak ke pake, Aku pinjam ya bu " Timbalnya.
" Aku suka nih tunik warna marun, motif nya kupu kupu , kayaknya aku baju ini gak kelihatan begitu gemuk deh bu ?" Ucapnya Sambil mencocokan Baju pilihan nya ke badan yang lumayan gemuk itu.
" Cantik gak ya pake baju ini ?" Tanya nya Kepada dirinya sendiri.
Bu Arumi paham jika Anaknya sedang tidak percaya diri karena badan nya.
" Bagus, badan kamu tuh cocok pake baju apa aja, pake aja " ujar Bu Arumi.
Lesi kembali duduk dan memandang semua hamparan baju baju didepan nya, Banyak baju baju gamis yang ibu di simpan di lemari nya, Tapi Lesi terlihat binggung.
" Bu, Kok bisa ibu banyak baju, Perasaan aku gak pernah lihat ibu beli baju baju gamis gini deh, palingan Kreditan juga baju baju tidur gitu " Tanya Lesi penasaran.
Bu Arumi hanya tersenyum dan sedikit tertawa, " Ibu emang gak pernah beli baju, Ini baju baju bekas Nenek kamu, Dan ada juga pemberian orang sewaktu ibu masih ke kota, Gak ada ibu beli " jelasnya, dan Lesi mengangguk.
" Iya ya, Lesi juga gak pernah beli baju, kebanyakan hasil lungsuran sepupu, Hehehe " Ucapnya dengan tawa yang sedikit hambar.
Lesi tidak seperti anak anak seusia nya, yang sedang trend baju apa langsung beli, Bisa di bilang Lesi ini ketinggalan Zaman, Mangkanya ia selalu merasa kurang percaya diri ketika keluar rumah, itu alasan Lesi jarang keluar rumah, bahkan Ketika ada kurir Paket menanyakan alamat di sekitaran sana Pasti Lesi akan menjawab " Saya tamu mas, gak tau " karena memang Lesi tidak tau semua orang orang disana, Tau soal Nama tapi tidak dengan rumah nya.
Dari pada kurir binggung, mending dia jawab seperti itu saja.
"Semoga nanti kalo Aku udah bersuami, Aku bisa beli baju tiap hari ya bu , gak Setahun sekali, makan tiap hari yang enak enak juga " Serunya dengan mata yang sedikit berkaca kaca tapi ia mencoba menenangkan hatinya agar tidak sedih atas Kehidupan nya sekarang.
" Aminn, Cukup pahit ketika sama ibu dan bapak aja ya, Sama suami mu nanti kamu akan bahagia " Bu Arumi tersenyum dan terus memandang Ke arah Lesi.
Pak Warto yang sedari tadi duduk di Depan rumah masuk ke dalam dan ikut bergabung dengan anak dan istrinya.
" Kata kakek , Si Badrun besok mau peletakan batu pertama " Ucap Pak Warto tiba tiba.
Lesi dan bu Arumi saling Pandang.
" Bikin Rumah ?" Tanya Bu Arumi.
Pak Warto mengangguk Dengan wajah yang datar, Lesi tahu Jika Bapaknya pasti sedih, bukan karena iri, tapi Memang Semenjak Kejadian itu Pak Warto dan Om Badrun tidak Akrab selayak nya adik dan kakak.
" Terus kita bakalan kesana ?" Tanya Lesi memecah keheningan.
" Kalian aja, bapak mah gak mau, males liat muka sombong si Badrun " Putus Pak Warto Dengan Nada sedikit Membentak, Membuat Lesi terkejut.
Bu Arumi memandang tajam pak Warto, Tidak menyangka jika suaminya akan menyimpan Kecewa nya cukup lama.
" Sudahlah pak, Ikhlaskan saja, mungkin ini takdir kita" Ucap Bu Arumi mencoba membujuk Pak Warto.
" Kita kesana sama sama besok yaa, toh itu di suruh Kakek Erwin kan ?" Lanjut bu Arumi, Pak Warto yang sedang menunduk, seketika mendongakan Kepalanya menatap Ke arah Istrinya yang tersenyum simpul.
" Kita coba kesana ya pak, Setidaknya mengahargain Bapak mu " Tuturnya.
Pak Warto dengan ragu dan berat hati pun mengangguk Menyetujui nya, Lesi dan Bu Arumi saling pandang dan melemparkan senyuman.
***
" Akhirnya kamu kesini juga ya, Dikirain gak bakalan datang " Sapa Bi Keni kepada Pak Warto
" Di Paksa bi, dia nya mah gak mau " Jawab Bu Arumi dengan nada meledek.
semua keluarga tahu jika hubungan persodaraan antara Badrun dan Pak Warto tidak baik baik saja, tapi Kek Erwin sebagai sang bapak mencoba menyatukan keduanya lagi.
Badrun memang Aslinya baik, Bahkan dulu sebelum ini semua terjadi, Badrun selalu mengirimi Bu Arumi dan Lesi uang padahal Pak Warto sedang ada di rumah, Tapi jika Ada rezeki lebih Badrun selalu memberikan nya ke Lesi sebagai uang jajan, Bahkan Jika Ia Pulang dari Mancing, separuh ikan nya akan di antarkan ke rumah Lesi , Karena tahu jika Lesi suka sekali makan ikan Nila.
Badrun akan berkata " Nih Nila, Di goreng ya Mbak buat Lesi makan, Biar dia mau makan kalo ada Nila gede gede begini " Pasti Badrun akan berkata seperti itu ketika ia mengantarkan ikan Nila, Karena dulu Lesi tidak akan mau makan jika tidak ada lauk, Entah itu Ayam goreng, atau pun Ikan , Tapi sekarang Om Badrun seperti berubah dratis, Mungkin karena tekanan dari Sang istri yang gila Harta.