NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:175.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Kegemparan sekolah

“Maaf, Pak, bisa tolong buka gerbangnya. Saya ada urusan dengan Bapak Kepala Sekolah,” ujar Rama sopan kepada satpam.

​Satpam itu, Pak Asep, memandangi pemuda di depannya. Ia merasa wajah itu tidak asing, tetapi sekeras apa pun ia mengingat, ia tak kunjung bisa menempatkannya.

​“Mohon maaf, Nak. Apa kamu sudah membuat janji sebelumnya dengan Bapak Kepala Sekolah?” tanya Pak Asep.

​'Sepertinya Pak Asep tidak mengenaliku,' pikir Rama. “Maaf, Pak Asep. Ini saya, Rama, murid sekolah ini. Apakah Bapak masih mengingat saya?” ucap Rama tanpa basa-basi.

​Pak Asep langsung mengerutkan kening, mengamati Rama dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Rama? Rama yang mana? Setahu saya, murid bernama Rama di sekolah ini hanya satu, dan dia sudah beberapa bulan ini tidak masuk sekolah,” ujar Pak Asep. Meskipun ia tidak terlalu akrab dengan Rama, tidak sulit baginya untuk mengingat semua wajah murid yang berlalu-lalang di sana.

​“Nah, itu saya, Pak. Rama yang Bapak maksud itu adalah saya,” balas Rama.

​Pak Asep kembali memperhatikan Rama beberapa saat, kerutan di dahinya semakin dalam. “Rama… kamu Rama murid kelas dua belas itu?” tanyanya memastikan. Ada keterkejutan yang jelas di wajahnya ketika akhirnya ia menyadari bahwa pemuda di hadapannya memang murid di SMA Bakti.

​Rama tersenyum. “Iya, Pak. Jadi… apakah saya bisa masuk sekarang?”

​“Baik, tunggu sebentar, Nak Rama.” Pak Asep segera membuka gerbang, kebetulan bel istirahat baru saja berbunyi.

​Setelah gerbang terbuka, Pak Asep mempersilakan Rama masuk. Rama merogoh saku celananya dan menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah berwarna merah kepada Pak Asep.

​“Terima kasih, Pak! Ini untuk Bapak, bisa buat beli rokok dan kopi,” ujar Rama.

​“Ini… ti-tidak perlu, Rama,” tolak Pak Asep sungkan.

​“Tidak perlu menolak, Pak. Lagipula jarang-jarang, kan, ada murid yang memberi uang rokok untuk Bapak,” Rama meyakinkan.

​Pak Asep terdiam sesaat, memandangi Rama.

Penampilannya—dan wajahnya—memang tampak sangat berbeda dari Rama yang beberapa bulan lalu sering ia lihat. “Itu… terima kasih banyak, Nak Rama,” ucapnya akhirnya.

​Rama mengangguk kecil. “Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya menemui Bapak Kepala Sekolah dulu.”

​“Iya, silakan.”

​Rama pun langsung berjalan menyusuri halaman sekolah, tempat para murid baru saja keluar dari kelas mereka masing-masing.

Koridor yang Riuh

​Rama berjalan santai menuju ruang kepala sekolah, membuat para murid yang tengah beristirahat di koridor dan ambang pintu kelas langsung menoleh kepadanya.

​“Ya Tuhan… tampan sekali,” seru seorang siswi tepat ketika Rama melewatinya.

​“Astaga…” Siswi lain menutup mulut mereka, mata terbelalak menatap sosok asing yang mengenakan kaus oblong dan celana olahraga itu.

​“Si-siapa dia? Apakah dia murid baru di sekolah kita? Tapi, kenapa dia tidak menggunakan seragam sekolah?”

​Satu per satu murid, terutama para siswi, berseru histeris ketika Rama melewati mereka. Jelas, tidak ada satu pun dari mereka yang mengenali Rama, padahal ia adalah salah satu murid di sana.

​Rama berjalan tenang, tidak menghiraukan tatapan atau bisikan demi bisikan dari siswa dan siswi yang perhatiannya tertuju padanya. Meskipun dalam hati ia sedikit bingung atas reaksi berlebihan ini, Rama, yang sejatinya tidak suka mencari perhatian, hanya fokus pada tujuannya.

​Setiap Rama melewati lorong kelas, kegemparan dari para gadis membuat murid yang masih berada di dalam kelas terusik.

​“Ada apa di luar? Kenapa berisik sekali, seperti kedatangan artis saja,” gerutu Ani, murid kelas sebelas yang tengah bersiap pergi ke kantin.

​Di samping Ani, duduk seorang gadis cantik yang tak lain adalah Bela, teman sebangkunya.

​“Iya, berisik sekali. Mengganggu orang lagi istirahat saja,” timpal Yesi, yang duduk di belakang Ani dan Bela.

​“Bagaimana kalau kita lihat saja? Sekalian kita kan mau ke kantin,” sahut gadis lainnya yang sebangku dengan Yesi.

​“Ya sudah, ayo! Aku juga jadi penasaran, siapa tahu memang sekolah kita kedatangan oppa-oppa Korea,” ujar Ani antusias.

​“Huh, kamu, yang ada di kepala kamu itu oppa-oppa terus. Mana ada oppa-oppa Korea datang ke sekolah kita? Kalau kakek-kakek baru masuk akal,” balas Yesi, maklum dengan temannya yang penggemar drama Korea itu.

​“Ya sudah, yuk ke kantin. Cacing di perutku juga berisik dari tadi,” ujar Ayu, sembari memegangi perutnya. Ia langsung bangkit mengajak ketiga temannya, termasuk Bela.

​“Hei, Bel, aku perhatikan kamu kenapa diam saja dari tadi?” tanya Ani.

​“Iya, nih. Dari tadi aku juga perhatikan kamu seperti tidak fokus belajar. Kamu ada masalah, Bel? Kalau ada masalah, cerita, dong, sama kami. Kita berempat, kan, teman dekat kamu di sekolah ini, masa untuk sekadar cerita saja kamu tidak bisa,” Yesi ikut bicara, dan Ayu mengangguk setuju.

​“Ya ampun… tampan sekali! Ap-apakah dia akan sekolah di sini?” Tiba-tiba, seorang gadis berkacamata yang satu kelas dengan mereka berseru di ambang pintu keluar, membuat Bela dan yang lainnya langsung menoleh.

​“Hei, Siti! Ada apa? Siapa yang kamu bilang tampan? Segitunya banget,” ucap Ani, merasa heran dengan tingkah gadis itu.

​“I-itu… dia, dia…” jawab gadis berkacamata itu, gugup.

​Ani dan yang lainnya saling pandang sekilas.

​“Ayo kita keluar. Aku jadi makin penasaran,” ajak Ayu, yang mulai penasaran. Dari tadi mereka mendengar keributan samar dari luar yang menyebut kata ‘tampan’ keluar dari mulut para siswi.

​“Nah, itu dia. Ayo kita lihat!” timpal Yesi.

​“Ayo, Bel. Kamu juga ikut, daripada melamun diam tidak jelas di sini,” ajak Ani, langsung menarik tangan Bela, meskipun gadis itu agak malas mengikuti.

​Efek Pil Ketampanan

​Di koridor sekolah, tepatnya menjelang ruang Kepala Sekolah, Rama merasa reaksi para siswa dan siswi itu terhadapnya terlalu berlebihan. Ia bertanya-tanya sendiri.

​'Ada apa sebenarnya dengan mereka? Apa mereka tidak mengenalku?' pikirnya bingung.

​[DING! Itu semua karena efek Pil Ketampanan Tingkat Rendah yang Tuan konsumsi tadi pagi, Tuan.]

​“Eh, tapi kan hanya meningkatkan 30% saja, Sistem. Bukankah reaksi mereka terlalu berlebihan?”

​[DING! 30% sudah cukup untuk membuat para wanita di alam Tuan memiliki kekaguman yang tak biasa terhadap Tuan.]

​'Ap-apakah setampan itu? Aku bahkan belum melihat wajahku sejak memakan pil itu,' pikir Rama. Ia memang lupa berkaca setelah membersihkan tubuhnya dan langsung berganti pakaian, memasak, dan ke meja makan.

​“Kak… bolehkah kita berkenalan?” Seorang siswi dari kelas dua belas datang mendekati Rama.

​“Kak… apakah Kakak murid baru di sekolah ini?”

​“Kak… bisakah aku meminta nomor ponselmu?”

​“Kak… aku juga mau bertukar kontak denganmu!”

​Dalam waktu singkat, beberapa siswi langsung mengerumuni Rama tanpa rasa malu.

​“Kak Rama! Kenapa kamu baru datang…?”

​Tepat pada saat itu, suara Bela terdengar, membuat Rama langsung menoleh. Tanpa diduga, Bela menerobos kerumunan para gadis dan menghamburkan dirinya, memeluk Rama erat.

​Deg!

​Suasana ribut seketika menjadi hening. Semua pasang mata yang sudah terfokus pada Rama kini membulatkan kedua bola mata mereka, terutama para gadis yang berdiri mengelilingi Rama.

1
Maz Shell
lanjutkan Thor 2 minimal
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!