NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Tiga bulan berlalu sejak keberangkatan paksa Arsen ke Surabaya, dan bagi Araluna, Jakarta kini tak lebih dari sebuah kota mati yang pengap. Setiap pagi, suasana di meja makan terasa hambar. Luna duduk di kursi biasanya, namun matanya hanya menatap datar ke arah nasi goreng atau roti lapis yang disiapkan Bunda. Tidak ada lagi aksi goda-menggoda, tidak ada lagi senggolan kaki di bawah meja, dan tidak ada lagi aroma maskulin yang biasa menenangkan paginya.

"Aku berangkat Bun, Pa," ucap Luna dengan nada suara yang monoton, nyaris tanpa emosi. Ia mencium tangan kedua orang tuanya secara formal, lalu melangkah keluar rumah menuju mobil yang sudah menunggu.

Papa Arga benar-benar menjalankan ancamannya. Luna kini seperti tawanan kelas atas. Seorang supir pribadi ditugaskan khusus untuk mengawasinya 24 jam. Namun, sifat "cegil" Araluna tidak pernah benar-benar mati; ia hanya sedang berhibernasi sambil menyusun rencana.

Begitu mobil sampai di depan gerbang kampus, Luna menatap supirnya dengan tatapan tajam yang mematikan. "Lo berhenti di sini. Jangan berani masuk ke area fakultas atau turun dari mobil. Kalau lo berani ngikutin gue sampai ke kelas, gue bakal bilang ke Papa kalau lo berbuat kurang ajar sama gue di jalan. Pilih mana: dipecat atau diem di sini?"

Supir itu gemetar dan hanya bisa mengangguk pasrah. Luna pun melenggang masuk ke area Fakultas Seni Budaya dengan langkah yang sengaja dibuat tenang, meskipun jantungnya berdegup kencang karena sebuah rencana nekat.

Luna tidak langsung menuju kelas. Ia berjalan menuju pojok kantin, tempat di mana Galaksi—sahabat Arsen sekaligus informan rahasianya—biasanya nongkrong. Galaksi sudah tahu segalanya, dan meskipun ia merasa tindakan Arsen dan Luna gila, ia tetap setia membantu karena ia tahu betapa hancurnya Arsen di Surabaya.

Luna menghampiri meja Galaksi dan duduk di depannya tanpa basa-basi. "Kak Galaksi, boleh pinjem hp nggak?" bisik Luna sambil melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada mata-mata suruhan Papanya.

Galaksi menghela napas, lalu menyodorkan ponselnya yang sudah dalam mode panggilan WhatsApp yang aktif. "Gue kasih waktu sepuluh menit. Jangan lebih, atau supir lo curiga."

Luna menyambar ponsel itu dan lari ke balik pilar yang lebih sepi. Di layar, tertera nama 'Arsen Sergio'. Begitu panggilan tersambung, suara berat dan kaku yang sangat ia rindukan terdengar.

"Gal? Ada kabar baru?" suara Arsen terdengar sangat serak, seolah ia baru saja bangun atau memang sudah lama tidak tidur.

"Ini gue, Kak..." suara Luna pecah. Air mata yang selama tiga bulan ini ia tahan sekuat tenaga akhirnya tumpah juga. "Ini Luna..."

Hening sejenak di seberang sana. Luna bisa mendengar helaan napas Arsen yang berat. "Luna... lo apa kabar? Lo makan teratur? Papa masih ketat jagain lo?"

"Gue nggak peduli soal Papa, Kak! Gue kangen... gue bener-bener mau gila di sini," isak Luna. "Setiap sudut rumah itu pengingat soal lo. Kamar lo dikunci, garasi lo sepi... gue nggak kuat."

"Sabar, Lun. Sedikit lagi," bisik Arsen, suaranya kini terdengar lebih lembut namun penuh penekanan gairah yang terpendam. "Gue di sini juga nggak diem aja. Kakek mulai percaya sama gue buat pegang salah satu bengkelnya di sini. Kalau tabungan gue cukup, gue bakal jemput lo. Kita lari yang jauh kalau perlu."

Sepulang kuliah, Luna kembali ke rutinitas membosankannya. Namun, saat ia masuk ke kamar, ia menemukan sebuah kotak paket kecil yang diletakkan Bunda di atas kasurnya. "Ada paket dari Surabaya, katanya dari kakek," ucap Bunda dari balik pintu sebelum berlalu.

Luna segera mengunci pintu kamar. Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu. Isinya bukan makanan atau oleh-oleh khas, melainkan sebuah jaket flanel milik Arsen yang aromanya masih sangat kuat—aroma yang selalu membuat Luna mabuk kepayang. Di dalam kantong jaket itu, terselip sebuah tiket pesawat sekali jalan ke Surabaya untuk keberangkatan lusa pukul 05.00 pagi, dan sebuah kunci apartemen dengan gantungan bertuliskan sebuah alamat di daerah rungkut.

Malam itu, kerinduan Luna meledak. Ia memakai jaket itu, meringkuk di bawah selimut, dan membayangkan Arsen ada di sana. Karena emosi yang meluap, Luna nekat melakukan panggilan video menggunakan ponsel rahasia yang ia sembunyikan di balik pigura foto.

Malam itu, adegan terlarang terjadi lagi, meski hanya lewat layar digital. Tensi yang terbangun selama tiga bulan perpisahan membuat segalanya terasa lebih panas. Arsen, di apartemen barunya yang sepi, menatap Luna dengan gairah yang tak tertahankan. Sifat kakunya hancur total saat melihat Luna mengenakan jaketnya tanpa pakaian dalam di balik layar.

"Lo bener-bener mau bikin gue gila dari jauh ya, Araluna?" desis Arsen sambil melepaskan kancing kemejanya satu per satu.

"Jemput gue, Kak... atau gue yang bakal dateng lusa pagi," balas Luna dengan suara yang sangat provokatif, jemarinya menjelajahi tubuhnya sendiri seolah-olah itu adalah tangan Arsen.

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dalam keintiman virtual yang penuh gairah, melampiaskan seluruh rasa sakit akibat perpisahan paksa ini. Setiap kata, setiap tatapan, dan setiap gerakan menjadi janji bahwa jarak Jakarta-Surabaya hanyalah angka. Luna sudah membulatkan tekad; lusa pagi, ia akan meninggalkan segalanya demi menyusul satu-satunya pria yang bisa membuatnya merasa hidup, tak peduli jika ia harus dibuang oleh keluarganya selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!