Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Dibalik Layar
Di dunia nyata, Max membenci sentuhan wanita. Dia membenci tatapan penuh harap, bisikan genit, atau bahkan sentuhan tak sengaja di lorong. Sentuhan itu terasa seperti api yang membakar kulitnya, membangkitkan ingatan akan ibunya yang pergi, meninggalkan luka menganga dan janji-janji kosong. Ayahnya yang dingin telah memupuk kebencian itu, memperingatkan Max bahwa wanita hanya akan membawa kehancuran. Dan Max percaya. Sepenuhnya.
Tapi Lia... Lia berbeda.
Max tidak tahu warna kulit Lia, bentuk matanya, atau bagaimana suaranya. Namun, Lia adalah segalanya baginya. Lia adalah pelabuhan aman di tengah badai kebencian yang ia rasakan. Lia adalah satu-satunya wanita yang tidak ia benci, wanita yang ia dambakan.
V: Lia, aku... aku merindukanmu. Aku tahu itu terdengar konyol, kita tidak pernah bertemu. Tapi aku sungguh, sungguh merindukanmu. Aku membayangkan duduk bersamamu di kafe kecil, berbagi cerita, dan tidak perlu takut akan tatapan menghakimi siapapun. Aku ingin melihat bagaimana ekspresimu saat tertawa, mendengar suaramu yang menenangkan. Aku ingin melihatmu. Sangat ingin.
Guzzel, di sisi lain layar, merasakan jantungnya berdebar kencang. Kata-kata Max menohok tepat ke ulu hatinya. Ia melihat Max di kampus, berjalan dengan bahu kaku, aura dingin membeku di sekelilingnya. Ia melihat bagaimana Max memalingkan wajah saat seorang gadis tak sengaja menyentuh lengannya. Dan sekarang, Max, pria itu, pria yang gemetar saat disentuh wanita, mendambakan kehadirannya. Kehadiran Lia.
Guzzel memejamkan mata. Rasa bersalah menghimpitnya. Ia adalah Lia. Ia adalah gadis yang didambakan Max. Ia bisa saja ada di kafe itu bersamanya, melihat ekspresi Max saat tertawa, mendengar suaranya yang menenangkan. Tapi ia tidak bisa. Ketakutan akan kehilangan Max selamanya jika ia mengaku terlalu besar.
Lia: Aku juga merindukanmu, V. Lebih dari yang bisa kau bayangkan. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya bisa berbagi momen kecil bersamamu. Mungkin suatu hari nanti, V. Suatu hari nanti.
Max mendesah. "Suatu hari nanti." Kata-kata itu terasa begitu jauh, begitu mustahil. Tapi harapan tetap ada, berkat Lia.
V: Aku membayangkan hari itu, Lia. Aku membayangkan kau duduk di seberangku, menyesap cokelat panas. Aku akan menatap matamu dan akhirnya merasa... damai. Aku ingin memegang tanganmu, Lia. Aku tahu aku terdengar gila, tapi aku ingin memegang tanganmu dan tidak merasa takut. Hanya denganmu.
Air mata menggenang di pelupuk mata Guzzel. Ia tahu Max tidak gila. Max hanya terluka. Dan Guzzel adalah satu-satunya yang bisa menyembuhkan luka itu, namun ia juga yang memperparahnya dengan kebohongannya.
Max terus bercerita, panjang lebar tentang hari-harinya, tentang buku yang sedang ia baca, tentang musik yang ia dengarkan. Ia tidak peduli jika Lia hanya membalas dengan emoji atau sekadar "Aku mendengarkan, V." Keberadaan Lia, meskipun hanya melalui teks, sudah cukup untuk Max. Lia adalah satu-satunya jendela baginya ke dunia yang lebih lembut, lebih hangat. Dunia di mana ia tidak perlu menjadi Maximilien Vance yang kejam dan ditakuti.
"Aku akan mencarimu, Lia," bisik Max pada layar ponselnya yang memancarkan cahaya redup. "Aku akan menemukanmu. Dan saat itu tiba, aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Kata-kata itu terucap dari lubuk hatinya, sebuah janji yang tulus. Max tidak tahu bahwa gadis yang dicarinya, gadis yang ia dambakan, sudah sangat dekat dengannya. Lebih dekat dari yang bisa ia bayangkan.
Pagi harinya, suasana kampus terasa lebih dingin dari biasanya. Max berjalan menuju perpustakaan, buku-buku tebal fisika kuantum tergenggam erat di tangannya. Matanya menyapu sekeliling, mencari meja kosong di sudut paling terpencil. Ia benci keramaian, benci tatapan.
Di salah satu lorong rak buku, Guzzel sedang sibuk mencari referensi untuk tugas sejarah seninya. Sebuah buku tua yang tebal terselip di rak paling atas. Guzzel berjinjit, tangannya berusaha meraihnya, tapi gagal.
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari belakangnya, mengambil buku itu dengan mudah. Jantung Guzzel berdegup kencang. Ia tahu siapa pemilik tangan itu bahkan sebelum ia berbalik.
Dia Max.
Pria itu menatapnya dengan tatapan kosong, menyerahkan buku itu tanpa ekspresi. Jemari mereka bersentuhan sesaat. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik bagi Guzzel, namun Max segera menarik tangannya, seolah kulitnya terbakar.
Raut wajahnya mengeras, sedikit kemarahan terpancar di matanya.
"Terima kasih," bisik Guzzel, suaranya nyaris tak terdengar.
Max tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kaku, lalu berbalik dan berjalan pergi, langkahnya cepat dan tegang. Ia seolah ingin menjauhkan dirinya secepat mungkin dari sentuhan Guzzel.
Guzzel menatap punggung Max yang menjauh. Ia merasakan nyeri di dadanya. Pria itu, yang semalam mendambakan sentuhan tangannya, kini melarikan diri dari sentuhan yang sama. Ironi itu menusuk.
Max duduk di meja favoritnya, napasnya sedikit terengah. Sentuhan tadi, betapapun singkatnya, telah memicu kembali alarm dalam dirinya. Aroma parfum Guzzel yang lembut, kehangatan kulitnya, semuanya terasa asing dan mengancam. "Jangan biarkan mereka mendekat, Max," suara ayahnya bergaung di kepalanya. "Wanita hanya akan menghancurkanmu."
Max menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran-pikiran itu. Ia membuka ponselnya, membuka chatroom Veloce. Ia perlu berbicara dengan Lia. Ia perlu menenangkan dirinya.
V: Ada yang menyentuhku di perpustakaan tadi. Aku merasa sangat... kotor. Aku benci disentuh, Lia. Aku benci mereka semua. Kecuali kau. Hanya kau yang boleh menyentuhku. Aku hanya ingin sentuhanmu, Lia.
Guzzel membaca pesan itu di mejanya, beberapa rak buku dari tempat Max duduk. Air mata menetes di pipinya. Ia merasa seperti seorang penjahat. Max begitu tulus, begitu jujur, sementara ia... ia bersembunyi di balik nama samaran.
"Max, aku minta maaf," bisik Guzzel, seolah Max bisa mendengarnya. "Aku sangat minta maaf."
Malam itu, percakapan mereka berlangsung hingga dini hari. Max menceritakan detail traumanya pada Lia, sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun. Tentang bagaimana ibunya pergi dengan pria lain, meninggalkan Max kecil yang menangis di pelukan ayahnya yang penuh kebencian. Tentang bagaimana ayahnya terus-menerus mengatakan bahwa semua wanita adalah pengkhianat.
V: Aku tidak pernah bisa memercayai siapapun setelah itu, Lia. Setiap kali ada wanita yang mencoba mendekat, aku melihat wajah ibuku. Aku melihat pengkhianatan di mata mereka. Tapi kau... kau berbeda. Aku tidak melihat ibuku saat aku bicara denganmu. Aku melihat... dirimu.
Guzzel menahan isaknya. Ia merasa hatinya terkoyak. Ia ingin memeluk Max, menghibur pria itu, mengatakan padanya bahwa tidak semua wanita sama. Ia ingin memberitahu Max bahwa ia ada di sini, untuknya.
Lia: V, aku sangat sedih mendengar semua itu. Tidak ada anak kecil yang pantas mengalami hal seperti itu. Itu bukan salahmu, V. Sama sekali bukan. Dan aku berjanji, aku akan selalu ada di sini untukmu. Aku tidak akan pergi.
Janji itu, "Aku tidak akan pergi," adalah mantra bagi Max. Lia adalah jangkar di tengah lautan badai hidupnya. Max merasa nyaman, begitu nyaman hingga ia mulai bercerita tentang fantasinya. Fantasi tentang Lia.
V: Aku membayangkan kencan kita, Lia. Kau akan memakai gaun sederhana yang membuatmu terlihat sangat cantik. Kita akan berjalan di Central Park saat senja, tangan kita bersentuhan sesekali. Aku akan membelikanmu kopi panas, dan kita akan duduk di bangku taman, hanya kita berdua. Aku akan menatap matamu, Lia, dan aku akan bilang betapa aku mencintaimu. Aku akan bilang betapa berartinya dirimu bagiku. Aku akan bilang bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang pernah aku cintai. Dan aku akan menciummu, Lia. Aku akan menciummu dan tidak pernah melepaskanmu.
Max mengetik kalimat itu, hatinya berdebar kencang. Ia begitu mendambakan momen itu, mendambakan keberadaan Lia di sisinya. Setiap detail dalam fantasinya begitu nyata, begitu mendesak.
Guzzel membaca pesan itu, air matanya membasahi pipi. Ciuman Max, sentuhan Max, tatapan cinta Max. Semua itu adalah impian yang begitu dekat, namun terhalang oleh kebohongannya sendiri. Max mencintainya, tetapi tidak sebagai Guzzel, melainkan sebagai Lia. Dan itu adalah perbedaan yang sangat besar.
Lia: Itu adalah kencan yang indah, V. Aku bisa membayangkannya dengan jelas. Dan aku juga ingin mengatakan betapa aku mencintaimu. Betapa berartinya dirimu bagiku.
Mereka terus bertukar pesan romantis, menganyam fantasi tentang kehidupan mereka bersama. Max yang kaku dan dingin di siang hari, berubah menjadi kekasih yang romantis dan penuh gairah di malam hari, semua berkat Lia. Ia tidak sadar, bahwa setiap kata yang ia ucapkan, setiap impian yang ia bagikan, didengar oleh Guzzel, gadis yang ia jauhi di dunia nyata, gadis yang ia tatap dengan kebencian.
Kerinduan Max pada Lia semakin membara setiap hari. Ia tahu ia harus menemukan Lia. Ia harus mewujudkan fantasi kencan mereka. Tapi bagaimana? Ia tidak tahu nama asli Lia, tempat tinggalnya, atau bahkan wajahnya. Satu-satunya petunjuk adalah obrolan mereka, bisikan rahasia di balik layar.
Dan Guzzel, di sisi lain, mulai merasa sesak. Kebohongan ini semakin lama semakin besar, semakin berat. Ia mencintai Max, dan ia tahu Max mencintainya. Tapi kebenaran bisa menghancurkan segalanya. Atau, mungkin, kebenaran adalah satu-satunya jalan menuju penyembuhan bagi mereka berdua. Pertanyaan itu terus menghantuinya setiap malam.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰