Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Gila
"Apa kau bilang? Coba ulangi sekali lagi!" Monic mencondongkan tubuhnya, menatap Bi Ijah dengan pandangan yang mengintimidasi. Ia ingin memastikan bahwa apa yang didengarnya bukanlah sekadar salah paham.
Bi Ijah menelan ludah, namun ia tidak menarik ucapannya. "Benar, Nyah. Saya lihat sendiri dari arah dapur saat hendak naik ke lantai atas. Non Cyntia berteriak sangat keras, dia bilang Nyonya Vira harus ke neraka, lalu dia mendorong Nyonya sekuat tenaga."
Monic dan Inneke saling melempar pandang. Keheningan yang berat menyelimuti ruang keluarga itu selama beberapa saat. Informasi ini bagaikan bom waktu yang siap menghancurkan reputasi keluarga mereka jika sampai ke telinga William.
Inneke meremas jemarinya. Hubungan keluarnya dan keluarga Cyntia tak boleh putus. Ayah Cyntia adalah orang yang paling berjasa menyelamatkan pabrik mereka saat nyaris bangkrut di Aussie beberapa tahun silam. Baginya, Cyntia bukan sekadar tamu, tapi simbol hutang budi yang tak terbayar.
"Ijah, kau pasti salah lihat. Suasana tadi remang-remang, bukan?" Inneke mencoba menyanggah dengan nada bicara yang dipaksakan tenang.
"Tapi Nyah, lampu koridor menyala terang—"
"Cukup!" potong Monic tajam. Ia berdiri dan mendekati Bi Ijah, memberikan tekanan psikologis. "Dengar Ijah, kau sudah tua. Mungkin matamu sudah kabur. Jangan menyebarkan fitnah yang bisa menghancurkan hidup orang lain. Jika kau bicara macam-macam pada adikku, kau tahu sendiri konsekuensinya, kan? Kau mau kehilangan pekerjaanmu?"
Bi Ijah tertunduk dalam, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak menyangka kejujurannya justru dibalas dengan ancaman.
"Lagipula majikan kesayanganmu itu belum ke neraka, dia masih terbaring di rumah sakit. Paham!" Monic semakin menekan.
Setelah berhasil membungkam Bi Ijah dan menyuruhnya kembali ke dapur, Monic kembali duduk di samping ibunya. Wajahnya menegang. "Mom, kita tidak mungkin membiarkan William tahu tentang ini. Tahu sendiri adikku itu bukan orang yang akan tinggal diam. Jika dia tahu Cyntia pelakunya, dia tidak akan segan-segan menjebloskan Cyntia ke penjara atau bahkan melakukan hal yang lebih buruk."
Inneke mengangguk setuju. "Benar. Kita harus melindungi Cyntia. Dia adalah anak dari orang yang paling berjasa pada keluarga kita. Lagipula, Vira memang selalu memancing keributan. Ini pasti kecelakaan yang tidak disengaja dalam perkelahian mereka."
Keduanya pun sepakat untuk tetap memegang teguh skenario bahwa Vira jatuh karena terpeleset saat mencoba menyerang Cyntia.
.
.
Sementara itu, di Rumah Sakit.
Setelah menerima salinan rekaman CCTV dari rumahnya dan tidak menemukan titik terang atas insiden tersebut, William segera meminta David untuk menyusulnya ke rumah sakit.
William menyadari bahwa membiarkan putrinya bermalam di lingkungan medis bukanlah pilihan yang tepat. Selain itu, ia telah menyusun strategi pribadi agar Cyntia mengakui perbuatannya. Meskipun sosok wanita tersebut tidak terekam dalam detik-detik tragedi berdarah yang menimpa istrinya, William bertekad untuk menyingkirkan Cyntia dengan tangannya sendiri.
Di tempat lain, Davin yang tengah memantau gerak-gerik Cyntia akhirnya berhasil melacak lokasi apartemen wanita itu. Ia segera mengirimkan koordinat tersebut kepada William. Setelah memastikan pesan terkirim, Davin memacu SUV hitamnya meninggalkan area apartemen guna memenuhi perintah William untuk menjemput Chika di rumah sakit.
.
.
"Chika, Papa ada urusan mendesak sebentar. Om David akan menjemputmu," ucap William seraya memeluk putri sulungnya dengan erat sebelum mereka berpisah.
"Papa mau ke mana? Mama nanti sendirian di sini," tanya Chika cemas. Ia khawatir jika Vira tersadar nanti, tidak ada satu pun anggota keluarga yang mendampinginya.
"Ada dokter dan perawat yang berjaga," tukas William singkat. Ia kemudian melepas jasnya, lalu menyampirkannya ke bahu Chika untuk menghalau dingin.
"Setelah sampai di rumah, segera mandi, bersihkan dirimu, lalu tidur. Mengerti?"
Gadis belia itu mengangguk patuh, meski gurat kekhawatiran masih membekas jelas di wajahnya karena harus meninggalkan ibunya dalam kondisi kritis.
Tak berselang lama, David tiba di lobi rumah sakit. William segera menghampirinya dengan langkah tak sabar.
"Pastikan Chika sampai di rumah dengan selamat. Kau kembalilah naik taksi, aku akan menggunakan mobilmu," titah William tanpa basa-basi.
"Baik, Pak," jawab David patuh sembari menyerahkan kunci mobilnya.
"Aku akan mengurus jalang itu. Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Vira lagi," desis William tajam sebelum melesat pergi meninggalkan area rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
David hanya mampu mengembuskan napas panjang. Ia menyadari bahwa sahabatnya itu tengah dikuasai amarah yang meluap. William bisa saja melakukan hal nekat, mulai dari sekadar menggertak hingga benar-benar melenyapkan Cyntia, dan pada akhirnya David-lah yang akan membereskan kekacauan itu.
Setelah memesan taksi David segera mengantar Chika sesuai perintah. Kemudian, berniat menyusul William ke apartemen Cyntia. Ia harus mencegah William mengambil langkah fatal. Pasalnya, Cyntia bukan berasal dari keluarga sembarangan. Kehancuran karier dan hidup William menjadi taruhan jika ia sampai salah langkah malam ini.
.
.
Kini William berdiri tegak di depan pintu unit apartemen Cyntia. Ia menekan bel berulang kali tanpa jeda, namun tak kunjung ada jawaban dari dalam. Ia yakin kedatangannya sudah terendus dan Cyntia menyadari maksud kehadirannya yang tiba-tiba.
Tanpa banyak bicara, William meraih ponselnya. Ia mengirimkan pesan singkat berisi umpan yang sangat menggoda—sebuah janji palsu tentang kesediaannya menerima Cyntia sebagai istri kedua.
William: Keluarlah, aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Aku terima keinginanmu untuk menjadi orang ketiga dalam pernikahanku dan Vira. Kita selesaikan ini baik-baik agar tidak ada lagi yang tersakiti.
Pesan itu terkirim. Tak butuh waktu lama, umpan itu termakan. Suara kunci pintu terdengar berputar, dan sosok Cyntia muncul di balik pintu yang terbuka perlahan.
Pemandangan di depannya sungguh gila. Cyntia hanya mengenakan bathrobe dengan bagian dada yang sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan lekuk tubuhnya demi menggoda William. William menyeringai dingin, menatap wanita yang ia anggap sudah kehilangan akal sehat itu.
"Kau benar-benar mau menerimaku?" tanya Cyntia tanpa basa-basi. Ia menuntut kejelasan atas pesan yang baru saja diterimanya. Tanpa rasa malu, ia melingkarkan kedua tangannya di leher William dengan gerakan mesra.
William mengikuti permainan itu sejenak. Ia membiarkan Cyntia membimbingnya masuk hingga pintu apartemen tertutup rapat dan terkunci.
"Kau tidak keberatan menjadi yang kedua?" tanya William dengan suara rendah. Ia mengikis jarak di antara mereka hingga embusan napasnya terasa di wajah Cyntia.
Cyntia tersenyum penuh kemenangan. "Aku sangat mencintaimu. Tidak masalah meski hanya pernikahan di atas kertas. Yang penting, kau membagi waktumu dengan adil antara aku dan Vira," ujarnya dengan nada manja.
William terkekeh pelan, namun suara tawa itu terdengar mengerikan. Jarak yang ia kikis bukan untuk mencurahkan debaran cinta, melainkan untuk melancarkan serangan maut.
Krek!
Cyntia tersentak hebat. Kedua matanya membulat sempurna dan napasnya seketika tercekat saat William mencengkeram lehernya dengan kekuatan penuh. Lengan yang semula melingkar mesra di leher pria itu kini beralih menepuk bahu William dengan gerakan meronta yang putus asa. Wajah Cyntia mulai memerah, ia berjuang mencari oksigen di tengah cengkeraman tangan William yang kekar.
Bersambung...
Cynthia mending lu oplas di korea aj sana biar balik muka lu🤣🤣
Tapii thor avah iya ineke sma monic lu kgk kasi shok terapi karma gt
itu, bapanya pun prnh lenyap si tangannya🥲
disiksa trs pemeran utamanya 🔪🔪🔪🔪
BTW.. Wil, lebih kenceng lagi c*kek nya.. sini aku bantuin...