NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Puing di Tengah Arus

Dinginnya air laut yang asin menusuk pori-pori Rian seperti ribuan jarum es. Suara tembakan Niko masih berdenging di telinganya, bercampur dengan dentuman mesin kapal polisi yang semakin mendekat. Di dalam kegelapan bawah air, Rian merasakan perih yang membakar di bahu kirinya. Peluru Niko tidak tepat mengenai jantung, tapi cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan dan terlempar ke pelukan arus dermaga yang deras.

Rian mencoba menggerakkan tangannya, namun tubuhnya terasa seberat timah. Pandangannya mulai mengabur. Gia... hanya nama itu yang berputar di kepalanya sebelum kegelapan benar-benar menyedot kesadarannya.

Di Jakarta, cahaya fajar mulai mengintip di balik gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Gia masih terduduk di depan monitor komputer Pak Jaka yang berdengung panas. Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena ketegangan yang nyaris meledakkan sarafnya.

"Selesai, Neng," bisik Pak Jaka sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang reot. "Semua file sudah masuk ke surel pribadi Jaksa Agung Muda dan lima pemimpin redaksi media nasional. Dalam satu jam, Jakarta tidak akan sama lagi."

Gia tidak merasa menang. Hatinya justru terasa kosong. Ia segera merogoh ponselnya, mencoba menghubungi nomor Rian untuk keseribu kalinya.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...

"Rian, tolong... angkat," bisik Gia, suaranya parau.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan telepon, melainkan sebuah notifikasi berita singkat dari aplikasi portal berita lokal di kabupaten mereka:

"Baku Tembak di Dermaga Tua: Kapal Milik Konglomerat Disita, Satu Orang Dilaporkan Hilang di Laut."

Gia merasa jantungnya seolah diremas oleh tangan raksasa. Ponsel di genggamannya jatuh ke lantai semen yang dingin. Ia tahu betul siapa "satu orang" yang dimaksud.

"Pak Jaka... kita harus balik ke sana. Sekarang," suara Gia bergetar hebat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah.

"Sabar, Neng. Kalau kita balik sekarang tanpa pengawalan, kita cuma nyerahin nyawa ke Mahendra," ujar Pak Jaka tegas sambil memegang bahu Gia. "Tunggu reaksi dari data yang kita kirim. Kalau Jakarta bergerak, polisi di daerah juga akan berbalik melawan Mahendra."

Dua jam kemudian, ramalan Pak Jaka terbukti.

Televisi tua di pojokan ruko itu menyiarkan konferensi pers darurat dari Kejaksaan Agung. Wajah Tuan Mahendra terpampang di layar dengan label "Tersangka Utama Kasus Korupsi Infrastruktur Strategis". Tak lama setelah itu, berita berlanjut ke penangkapan Niko Mahendra di dermaga atas tuduhan percobaan pembunuhan.

Gia melihat Niko diseret polisi dengan tangan diborgol, wajahnya yang sombong kini digantikan oleh ekspresi ketakutan yang pengecut. Namun, mata Gia terus mencari-cari di latar belakang video itu. Ia mencari sosok pria berjaket flanel, pria yang selalu jail namun kokoh seperti karang.

Ia tidak melihat Rian. Hanya tim SAR yang mulai menurunkan perahu karet ke perairan yang keruh.

"Saya nggak bisa nunggu lagi, Pak Jaka," Gia menyambar tasnya. "Bapak saya di sel, dan Rian... Rian ada di sana sendirian. Saya harus pulang."

Perjalanan pulang ke desa terasa seperti ribuan tahun. Gia tidak lagi peduli pada penyamaran. Di dalam bus, semua mata tertuju pada layar televisi yang terus membahas kejatuhan dinasti Mahendra. Gia hanya menatap jendela dengan kosong, tangannya terus menggenggam foto Rian yang ia ambil dari buku catatan kemarin.

Begitu sampai di kantor polisi kabupaten, suasana sudah berubah total. Garis polisi di Kedai Harapan sudah dilepas. Para petugas yang kemarin membentaknya kini menunduk hormat saat Gia masuk.

"Di mana bapak saya?" tanya Gia dingin kepada petugas piket.

"Pak Jaya sudah dibebaskan setengah jam yang lalu, Nona. Semua dakwaan ditarik karena ditemukan bukti manipulasi dokumen oleh pihak pelapor," jawab petugas itu dengan gugup.

Gia berlari ke ruang tunggu dan menemukan ayahnya sedang duduk lemas sambil memegang segelas teh hangat. "Bapak!"

"Gia... kamu nggak apa-apa, Nak?" Pak Jaya memeluk putrinya erat. "Rian, Gia... Rian di mana? Tadi polisi bilang ada kejadian di dermaga..."

Gia menggeleng pelan, isak tangisnya kembali pecah. "Rian hilang, Pak. Dia jatuh ke laut."

Sore merayap menjadi malam yang sunyi di desa. Kedai Harapan tetap gelap. Gia duduk di teras kedai, menatap kursi pojok tempat Rian biasanya duduk menagih utang kopi. Warga desa datang silih berganti, membawakan makanan dan memberikan kata-kata penghiburan, namun Gia seolah berada di dunia lain.

Ia menatap laut di kejauhan. Tim SAR sudah menghentikan pencarian untuk malam ini karena cuaca buruk.

"Kamu janji nggak bakal mati sebelum minum kopi bareng lagi, Rian," bisik Gia pada kegelapan. "Kamu tukang utang paling nggak tahu diri kalau kamu pergi tanpa bayar janji itu."

Tiba-tiba, suara gesekan langkah kaki di atas kerikil terdengar. Bukan langkah kaki yang berat seperti polisi, melainkan langkah yang menyeret, lambat, dan penuh perjuangan.

Tak... tek... tak...

Gia membeku. Suara itu. Suara sandal jepit yang selalu ia benci karena berisik, namun kini terdengar seperti melodi paling indah di dunia.

Gia berdiri dengan gemetar. Di ujung jalan yang remang-remang, seorang pria berjalan tertatih-tatih. Jaket flanelnya compang-camping dan basah kuyup, bahu kirinya dibalut sobekan kain yang sudah berubah warna menjadi merah tua. Wajahnya pucat, penuh luka gores, tapi matanya... mata itu masih menyimpan kilat jenaka yang sama.

Pria itu berhenti beberapa meter di depan kedai, menopang tubuhnya pada tiang pagar yang masih berbau cat baru.

"Neng..." suara itu parau, hampir hilang. "Kopi jahenya satu... masukin catatan utang ya."

Gia berlari sekuat tenaga, menabrak tubuh pria itu dengan pelukan yang nyaris membuatnya terjungkal. Ia menangis sesenggukan di dada Rian yang dingin dan basah, tak peduli pada bau amis laut atau noda darah yang mengotori bajunya.

"Kamu bodoh! Kamu jahat! Kenapa baru pulang?!" jerit Gia di sela tangisnya.

Rian tertawa lemah, tangannya yang tidak terluka mengusap rambut Gia dengan lembut. "Maaf, Neng. Tadi arusnya agak kencang, aku harus mampir dulu ke gubuk nelayan buat 'minjam' kain perban ini. Lagian... aku ingat, catatan utangku belum lunas."

Rian melepaskan pelukannya sedikit, menatap Gia dengan senyum miringnya yang khas. "Jadi, Mahendra sudah tamat?"

"Sudah, Rian. Semuanya sudah selesai," jawab Gia sambil menghapus air matanya.

"Bagus," Rian menghela napas lega, lalu tubuhnya limbung. Gia dengan sigap menangkapnya. "Kalau gitu... sekarang boleh pingsan nggak? Capek banget ini..."

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!