NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Kaisar menghentikan mobilnya di dekat halte, cukup jauh dari area kampus. Mesin masih menyala ketika ia menoleh ke arah Shelina dengan senyum usil yang sudah sangat dikenalnya.

“Turun?” tanya Kaisar, tapi tatapannya justru nakal.

Shelina membuka sabuk pengamannya, lalu melirik curiga.

“Iya, jangan aneh-aneh. Ini dekat kampus.”

Kaisar mendekat sedikit. “Kecup dulu.”

Shelina langsung menggeleng cepat. “Nggak! Nanti ada mahasiswa lihat, kamu tuh—”

Belum sempat kalimatnya selesai, Kaisar sudah lebih dulu mencium pipi Shelina dengan cepat. Tapi cukup membuat Shelina membeku sepersekian detik sebelum refleks berteriak kecil.

“Kai!”

Kaisar sudah tertawa lepas. Ia buru-buru membuka pintu, turun dari mobil, lalu menutupnya kembali. Dari luar, ia mundur dua langkah, menghadap Shelina yang masih duduk di kursinya, wajahnya merah antara kaget dan malu.

Dengan santainya, Kaisar mengangkat kedua tangan, membentuk simbol love dengan jari-jarinya. Senyumnya lebar, puas, khas pria yang merasa menang.

Shelina hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecil. Ada rasa geli, gemas, tapi juga bahagia. Matanya mengikuti Kaisar yang berjalan menjauh, masih sempat melirik ke belakang dan melambaikan tangan sebelum akhirnya berbaur dengan keramaian.

Shelina menghela napas pelan, lalu tersenyum sendiri sebelum menyalakan mobil.

“Dasar,” gumamnya lirih, tapi senyumnya tak hilang sampai mobil kembali melaju.

Namun, langkah Shelina terhenti sesaat ketika firasat aneh menyentuhnya. Saat ia memutar tubuh melingkari mobil, untuk kembali ke sisi kemudi, dari kejauhan sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari sana. Di balik kemudinya, Rangga memperhatikan dengan sorot mata tajam.

Tangannya mengepal kuat di setir, rahangnya mengeras. Adegan singkat barusan dan seseorang turun dari mobil Shelina, senyum yang masih tersisa di wajahnya dan terus terulang di kepala Rangga. Amarah bercampur cemburu menyusup tanpa izin.

“Jadi selama ini…” gumamnya dingin. Dalam benaknya, kesimpulan terbentuk sepihak, Kaisar yang kurang ajar itu, mahasiswa yang kerap menantangnya, ternyata berani mendekati perempuan yang ia incar. Perempuan yang selama ini ia kejar dengan sabar, dengan cara yang menurutnya pantas untuk Shelina yang dingin kadang cuek.

Mesin mobil Rangga kembali menyala. Ketika mobil Shelina bergerak memasuki halaman kampus, Rangga mengikutinya dari belakang dengan jarak aman. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk memastikan ia tak kehilangan jejak.

Di area parkiran dosen, Shelina menghentikan mobil. Ia menarik napas sejenak sebelum membuka pintu. Dengan gerakan refleks, tangannya membenarkan jas yang dikenakan, lalu sedikit menarik inner di lehernya, menutupi bekas samar yang tadi pagi belum sepenuhnya hilang. Gerakannya tenang, tapi penuh kehati-hatian.

Baru saja kakinya menginjak aspal, suara yang dikenalnya terdengar.

“Pagi, Miss Shelina.”

Shelina menoleh, Rangga berdiri tak jauh darinya, ekspresinya tampak biasa, terlalu biasa untuk seseorang yang hatinya sedang bergejolak. Shelina membalas dengan senyum tipis, sopan, dan profesional.

“Pagi, Pak Rangga.”

Nada suaranya datar, menjaga jarak yang kini sengaja ia ciptakan. Dalam hati, Shelina mengingat janjinya sendiri dan tidak lagi memberi celah, tidak lagi bersikap terlalu dekat. Namun, ia juga tahu, perubahan sikap yang terlalu drastis justru akan memancing kecurigaan.

Rangga melangkah mendekat satu langkah. “Tadi … saya lihat Miss datang cukup pagi.”

Shelina mengangguk kecil. “Ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum kelas.”

Rangga mengamatinya sejenak, mencoba membaca sesuatu dari wajah Shelina, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang rapi, seolah tak ada apa pun yang perlu dicurigai.

“Baik,” ujar Rangga akhirnya. “Kalau begitu, saya ke ruangan dulu.”

Shelina kembali tersenyum tipis. “Silakan, Pak.”

Saat Rangga berlalu, Shelina mengembuskan napas pelan yang sejak tadi ia tahan. Langkahnya kemudian beralih menuju gedung fakultas, wajahnya kembali tenang, meski dadanya berdegup sedikit lebih cepat.

Begitu sampai di depan kelas, langkah Shelina sempat melambat. Tangannya yang menggenggam map terasa sedikit berkeringat dan perasaan yang jarang sekali ia alami sebelum mengajar. Biasanya ia selalu tenang, profesional, tak pernah membiarkan urusan pribadi menyelinap ke ruang kelas. Namun, pagi itu berbeda. Ada rasa canggung yang tak bisa ia jelaskan, berdesir halus di dada sejak ia tahu kini statusnya bukan sekadar dosen, melainkan istri dari salah satu mahasiswa di dalam kelas ini.

Shelina menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu.

Begitu pintu terbuka, beberapa mahasiswa yang sedang berbincang langsung terdiam. Suasana kelas mendadak hening, seperti biasa setiap kali Shelina masuk. Beberapa mahasiswa buru-buru duduk rapi, ada yang langsung menutup ponsel, ada pula yang refleks menegakkan punggung.

Namun, satu hal terasa berbeda. Di bangku tengah, Kaisar duduk dengan sikap santai, tubuhnya bersandar ringan ke kursi. Begitu mata mereka bertemu, sudut bibir Kaisar terangkat. Bukan senyum mengejek, bukan senyum malas seperti biasanya tetapi melainkan senyum hangat, dan lembut.

Shelina refleks mengalihkan pandangan, berdeham pelan sebelum melangkah ke meja dosen. Ia pura-pura sibuk menyusun map dan menyalakan laptop, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak seirama.

Di sisi lain kelas, bisik-bisik mulai terdengar.

“Eh, lihat Kaisar deh…”

“Iya, kok beda?”

“Biasanya dia masang muka kayak mau ribut tiap Miss Shelina masuk.”

“Ini malah senyum-senyum, kayak orang jatuh cinta.”

Beberapa pasang mata melirik ke arah Kaisar, yang sama sekali tak peduli. Tatapannya masih mengikuti Shelina, seolah dunia pagi itu hanya berisi satu orang saja. Bahkan, ketika Shelina berdiri menghadap kelas, Kaisar masih duduk tegak, ekspresinya penuh perhatian dan bukan perhatian seorang mahasiswa pada dosen, melainkan seorang pria pada wanita yang dicintainya.

Shelina akhirnya mengangkat wajah, menatap seluruh kelas dengan ekspresi profesional yang ia kenal betul.

“Selamat pagi,” ucapnya tenang.

“Pagi, Miss,” jawab mahasiswa hampir serempak.

Pandangan Shelina tanpa sengaja kembali bertemu dengan mata Kaisar. Kali ini, Kaisar menahan senyumnya, tapi matanya tetap berbinar. Shelina cepat-cepat memalingkan wajah, berusaha fokus.

“Baik,” lanjutnya, suaranya tetap stabil meski hatinya tak sepenuhnya demikian, “hari ini kita akan melanjutkan materi kemarin yang tertunda.”

Di bangkunya, Kaisar menyandarkan punggung sambil tersenyum kecil. Dalam hati, ia merasa lucu, dan istri sendiri berdiri di depan kelas, bersikap seolah mereka tak punya apa-apa. Tapi justru di situlah letak manisnya.

Pria itu tak lagi duduk diam seperti biasanya. Setiap kali Shelina membalik badan menulis di papan, Kaisar sengaja menjatuhkan pulpen. Bukan sekali, tapi dua kali. Lalu saat Shelina menjelaskan materi, Kaisar menyela dengan pertanyaan-pertanyaan sepele yang nadanya dibuat santai, bahkan nyaris menggoda.

“Miss,” ucapnya suatu kali, dagu ditopangkan ke punggung tangan, “kalau contoh kasusnya diganti biar lebih gampang dipahami, boleh?”

Beberapa mahasiswa menoleh dan yang lain saling pandang, dan bingung pada perubahan sikap Kaisar.

Shelina berhenti menulis, perlahan ia menoleh, menatap Kaisar dengan wajah datar.

“Contoh yang saya berikan sudah cukup jelas,” jawabnya dingin.

“Silakan dicatat.”

Biasanya, Kaisar akan mendengus atau memalingkan wajah. Tapi kali ini tidak, dia justru tersenyum kecil, lalu mengangguk patuh dengan gaya berlebihan.

“Iya, Miss.”

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Anjir … Kaisar kenapa sih?”

“Kayak nyari perhatian banget.” “Biasanya juga dia males nanggepin.”

Shelina melanjutkan mengajar, tapi gangguan belum selesai. Beberapa menit kemudian, saat ia bertanya ke kelas, Kaisar kembali mengangkat tangan dan itu terlalu cepat, terlalu antusias.

“Miss, kalau saya jawab, dapet nilai plus nggak?” katanya ringan.

Beberapa mahasiswa tertawa kecil. Namun, tawa itu langsung mati ketika Shelina menutup spidol dengan bunyi pelan yang terdengar sangat tegas.

“Kaisar.”

Satu kata, tapi nadanya cukup membuat seluruh ruangan hening.

“Kamu sejak dari tadi menganggu pelajaran saya,” lanjut Shelina, matanya menatap lurus tanpa emosi.

“Silakan keluar dari kelas.”

Kaisar sedikit terkejut, senyum di wajahnya memudar, digantikan ekspresi kaget dan lalu pelan-pelan berubah jadi serius. Ia berdiri tanpa membantah, mengangkat tasnya.

“Selesai jam istirahat,” kata Shelina sebelum Kaisar melangkah pergi, “kamu ke ruang saya.”

Nada suaranya tetap dingin. Profesional dan tak memberi celah sedikit pun.

“Iya, Miss,” jawab Kaisar singkat, lalu berjalan keluar.

Pintu kelas tertutup, meninggalkan keheningan yang terasa berat.

Tak ada satu pun mahasiswa berani berkomentar. Bahkan mereka yang biasanya berisik kini duduk tegak, menatap buku masing-masing. Aura Shelina berubah dan bukan marah yang meledak-ledak, tapi dingin dan tegas, seperti garis batas yang tak boleh dilanggar.

Shelina melanjutkan materi seolah tak terjadi apa-apa. Namun, di balik wajah tenangnya, dadanya berdenyut pelan.

Shelina tahu, Kaisar pasti akan ngambek saat menemuinya nanti. Tetapi, Shelina tak peduli, dia tahu apa yang harus dia ajari suaminya itu.

Ting!

Pesan masuk ke ponsel Shelina, sehingga layar ponsel yang ada di atas meja itu layarnya menyala.

[Berani mengusir suami sendiri dari kelas? Siap-siap nanti malam dapat hukuman!]

Shelina menelan ludahnya, bergumam, "Ya ampun Kai..."

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!