Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan Hidup Senja
Senja buru-buru masuk ke dalam toilet. Dia membasuh wajahnya berharap perasaanya dingin. Rasa sakit itu begitu menyeruak di dalam dadanya, melihat Sean sudah bahagia dengan wanita lain, tanpa tau penderitaan yang ia alami selama enam tahun terakhir.
Masih jelas dalam ingatannya, perhatian Sean terhadapnya. Bahkan dia berjanji kala itu akan terus bersama-sama dengan dirinya. Dia kira mamanya Sean benar-benar tulus saat melihat kedekatan dirinya dan Sean, namun ternyata itu bohong. Ternyata mengirim Sean ke luar negeri adalah cara ampuh menjauhkan dirinya dari Sean.
Setelah perasaannya cukup lega, Senja kemudian keluar dari toilet. Tiba-tiba lengannya di pegang Sean.
"Sean?"
"Senja.. Kemana saja kamu selama ini? mengapa kamu gak kasih kabar aku? Aku seperti orang gila mencari mu selama ini!"
"Bukan urusan kamu!" Tegas Senja membuang muka.
"Kamu tau, betapa aku mencintaimu saat itu. Kamu begitu berarti buat aku! Dan kamu seolah menganggap remeh perasaan ku?" lanjut Sean dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan bahas masa lalu lagi! Terpenting kamu sudah mempunyai orang lain yang kamu cintai saat ini!" Senja melepaskan tangannya Sean dan hendak pergi.
Sean tetap menahannya dan mendorong pelan tubuh Senja ke dinding. Bahkan jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Senja bisa merasakan ekspresi Sean tak pernah berubah menatap dirinya.
"Siapa pria yang menikahi kamu? Apa aku mengenalnya?"
"Dia sudah mati dan kamu gak mengenalnya!"
"Setelah aku fikir, ini gak masuk logika. Kata Dina usia anak kamu enam tahun dan mirip aku. Jika di hitung, bukankah itu selama aku pergi London? Gak mungkin dalam waktu itu kamu menikah dengan pria lain! "
Senja terdiam , matanya memanas. Dia tak menyangka Sean bisa berfikir seperti itu. Apalagi selama ini tak ada yang tau siapa ayah dari anaknya.
" Kalau dia anak kamu, kamu mau apa? " ucapan Senja membuat Sean terbungkam.
"Mau mengulang kisah lama dengan aku? Ingin bertanggung jawab dan meninggalkan kekasih kamu?"
" Jangan gila kamu! Bagi aku, kamu hanya masa lalu yang sudah aku hapus. Jadi jangan terlalu penasaran dengan hidupku saat ini! " Ucap Senja berkata tegas mendorong tubuh Sean dan kembali bergabung dengan yang lainnya.
Sean berdiri mematung mendengar semua ucapannya Senja.
"Jadi itu benar anakku?" lirihnya pelan.
_
_
" Senja..kok lama kali ke toiletnya?" Dina menyenggol lengan Senja.
"Owh itu..toiletnya penuh." Senja berusaha bersikap biasa saja untuk menutupi perasaannya yang campur aduk saat ini.
Sean akhirnya kembali dan duduk di samping kekasihnya,Rea.
"Beb..kamu kok keringatan gini?" Rea mengelap dahi Sean dengan tisu.
Senja berusaha mengalihkan tatapannya dari Sean. Luka yang ia rasakan tiba-tiba kembali. Saat dirinya mengingat dimana hari itu dia di usir mamanya Sean dari rumah dalam keadaan hamil muda. Bahkan buk de-nya juga tak menerimanya.
Dalam keadaan hujan,dia berjalan sendirian tanpa arah dan tujuan. Malam tiba, dia akan tidur di emperan toko atau di masjid-masjid. Bahkan sering kali dia menahan lapar. Bahkan pernah sekali dia tak punya uang sepersen pun,dia hanya meminum air kran di masjid untuk melepaskan dahaganya.
Begitulah hidup yang ia jalani dalam masa kehamilan. Pernah di saat dia menyerah dan ingin mengakhiri hidupnya,namun dia sadar anak dalam kandungannya tak bersalah. Dia berhak hidup,dia berhak tumbuh.
Tak punya siapapun sebagai tumpuan hidup membuat Senja mengerti,kalau dia harus kuat dan bisa bertahan demi anak yang dikandungnya.
Untungnya saat dia memasuki kehamilan tujuh bulan,ada orang baik membawanya ke panti sosial tempat penampungan orang-orang terlantar. Dan di sanalah dia tinggal sampai melahirkan.
Ketika malam itu dia merasakan kontraksi yang luar biasa,tak ada yang menemaninya di bidan. Hanya dirinya yang berjuang untuk bisa melahirkan anak dalam kandungannya.
Dan di saat itu dia bersyukur anaknya lahir sehat dan sempurna. Dia menatap bayi mungil dan suci itu. Sekarang dia tau mengapa Tuhan menghadirkan anak itu,yaitu untuk menemani dirinya yang selama ini hanya sendirian menanggung luka.
Ketika bayinya berusia tiga bulan,dia terpaksa harus pergi dari yayasan. Kala itu yayasan mengalami kesulitan dan tak ada donatur. Senja memilih pergi membawa anaknya dan kembali hidup luntang-lantung di jalan.
Dan di saat itu dia bertemu dengan ibu-ibu bernama Asni. Ibu itu akhirnya mengizinkan Senja bekerja di rumah makannya. Bahkan memberikan gudang di belakang rumah makannya untuk tempat tinggal Senja dan anaknya.
Sampai saat ini Senja masih tinggal di sana dan membantu Bu Asni di rumah makan bahkan sekarang enam tahun pun berlalu begitu cepat.
-
-
"Senja..Senja.." Panggil Dina cemas.
Di saat Senja mengingat perjuangan hidupnya, tiba-tiba dia limbung dan tak sadarkan diri.
Sean yang melihat itu spontan melompat dari kursinya dan menghampiri Senja yang pingsan.
"Kita bawa Senja ke rumah sakit saja!" Ucap Riana panik.
Sean mengangkat tubuh Senja keluar restoran dan memasukkannya ke dalam mobil Dina.
"Beb.." Ucap Rea memegang lengan Sean bingung,karena ekspresi kekasihnya itu yang terlalu amat khawatir dengan sosok Senja bahkan hendak ingin masuk ke dalam mobil nya Dina.
Sean langsung menoleh,nafasnya masih terburu. Dan dia sadar kalau saat ini sedang bersama Rea.
"Biar kami yang bawa Senja ke rumah sakit!" Riana menepuk pelan bahunya Sean.
"Kita pulang yuk! Udah malam."
Sean mengangguk dan merangkul Rea berjalan menuju mobilnya. Rea menghela nafas lega,sempat Rea berfikiran yang aneh-aneh degan kekasihnya itu.
Namun ekspresi Sean tak bisa dibohongi. Selama di dalam mobil dia tak banyak bicara seperti biasa. Rea terus menatapnya bingung.
"Kamu mengkhawatirkan teman sekolah kamu tadi?" Rea memegang lembut tangannya Sean.
"Enggak kok!" elak Sean tersenyum menatap gadis cantik di sebelahnya.
"Kamu ada hubungan apa dengan dia dulu?" Rea sedikit penasaran.
" Sayang..jangan bicarakan orang lain di saat kita lagi bersama!"Sean mengecup lembut keningnya Rea.
Sean akhirnya mengantarkan Rea pulang ke rumahnya dan setelah itu kembali ke rumahnya. Baru saja dirinya masuk rumah,Tamara langsung menyambut putranya itu.
"Sean..Rea nya sudah kamu antar pulang?"
"Udah ma." Jawab Sean ingin langsung masuk kamar.
"Kamu ke sini sebentar,ada yang mau mama bahas."
Sean mengangguk dan duduk di samping Tamara.
"Mama udah tentukan,nanti di hotel Qris saja acara pertunangan kamu dan Rea di laksanakan. Aulanya cukup besar,sehingga kamu bisa mengundang semua teman-teman kamu!"
" Sean terserah mama saja."
" Oh ya ma, mbok Siroh itu udah setahun yang lalu meninggal kan?" tanya Sean tiba-tiba.
"iya,kenapa emangnya?" jawab Tamara masih sibuk dengan ponselnya.
"Apa mama pergi melayat ke kampungnya?"
" Iya,pergi kok."
"Apa mama ada ketemu Senja saat itu?"
Tamara langsung diam saat mendengar nama itu. Ekspresinya bahkan langsung berubah.
" Mama gak jumpa dia. Bahkan kabarnya dia tak pernah kembali ke kampungnya." Jawab Tamara buru-buru.
" Owh begitu.."Sean menghela nafasnya,namun dia masih penasaran.
" Sean..kamu jangan bahas Senja lagi! Ini sudah enam tahun berlalu. Hubungan kamu dan Senja itu hanya cinta monyet! Ingat sekarang kamu ada Rea!" Tamara memegang tangan anaknya pelan.
"Iya ma..Sean tau kok!" Jawab Sean tersenyum. Namun baginya kisahnya dengan Senja bukanlah cinta monyet yang seperti di pikirkan mamanya. Baginya perasaanya pada Senja saat itu nyata dan Senja begitu berarti untuknya.