NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 8

Suasana di ruang tamu yang megah itu terasa sangat menyesakkan bagi Sasha. Di atas meja kaca yang mahal, buku-buku cetak Matematika dan Fisika berserakan,

bersanding dengan tumpukan kertas latihan yang dibawa oleh Aria. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar seolah menyoroti perbedaan kontras di antara kedua gadis itu.

Aria yang duduk tegak dengan pena siap di tangan, dan Sasha yang merosot di sofa dengan wajah yang sangat bosan.

Aria mulai menjelaskan konsep kalkulus. Suaranya yang jernih dan teratur mengisi ruangan tersebut. "Jadi, untuk menentukan turunan pertama dari fungsi ini, kau harus menggunakan rumus ini dulu, Sasha. Perhatikan pangkatnya, kau harus menurunkannya dan menguranginya dengan satu. Kau mengerti?"

Hening. Tidak ada jawaban.

Aria mendongak dan mendapati kepala Sasha sudah miring ke samping, matanya terpejam, dan napasnya mulai teratur.

Sasha hampir saja terlelap di tengah penjelasan yang menurut Aria sangat krusial.

*BRAK!*

Aria memukul meja dengan telapak tangannya, membuat gelas air mineral di atas meja bergetar. Sasha tersentak bangun, matanya membelalak kaget.

"Apa-apaan kau?!" teriak Sasha sambil mengusap wajahnya yang masih mengantuk.

"Jangan tidur saat aku bicara!" sahut Aria dengan nada tinggi, matanya berkilat marah. "Ayahmu memintaku ke sini bukan untuk menontonmu tidur siang. Kita punya banyak materi yang harus dikejar!"

"Suaramu itu seperti nina bobo, tahu tidak? Membosankan!" Sasha mendengus, mencoba duduk tegak meski punggungnya terlihat malas.

Aria menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ia menutup buku Matematika dan menggantinya dengan buku Fisika. "Baik, kalau kau mengantuk dengan hitungan, kita pindah ke Fisika. Perhatikan ini, ini adalah Hukum Newton tentang gerak. Jika sebuah benda diam, ia akan tetap diam kecuali ada gaya luar yang bekerja padanya. Seperti kau sekarang, kau tidak akan bergerak maju kalau tidak kupaksa."

Aria menjelaskan dengan sangat detail, memberikan analogi-analogi yang menurutnya mudah dimengerti.

Namun, sepanjang penjelasan itu, Sasha hanya bengong. Matanya menatap ke arah buku, tapi pikirannya entah terbang ke mana. Ia memutar-mutar pena di jarinya dengan tatapan kosong yang menyebalkan.

"Sasha? Kau dengar?"

"Iya, iya, gaya, benda, diam. Aku dengar," jawab Sasha malas tanpa sedikit pun minat di wajahnya.

Aria benar-benar berada di ambang batas kesabarannya.

Ia menyobek selembar kertas dan menuliskan satu soal Matematika tentang persamaan kuadrat yang cukup rumit. Ia menyodorkan kertas itu tepat ke depan hidung Sasha.

"Kerjakan ini. Jangan bicara, jangan tidur, jangan bengong. Selesaikan sekarang!" perintah Aria tegas.

Sasha menatap kertas itu sebentar, lalu menatap Aria dengan senyum remeh. Ia menyambar pena dan mulai menggoreskan tinta di atas kertas.

Belum sampai lima menit—bahkan mungkin baru dua menit—Sasha meletakkan penanya dengan bunyi *trak* yang keras.

"Selesai. Puas?" Sasha menyodorkan kertas itu kembali.

Aria mengernyitkan dahi. *Cepat sekali? Apa dia sebenarnya jenius yang tersembunyi?* pikir Aria skeptis.

Namun, saat ia melihat isi kertas tersebut, wajah Aria berubah memerah karena amarah yang memuncak.

Di lembar jawaban itu, tidak ada angka atau jalan pengerjaan sama sekali.

Sasha hanya menggambar sebuah lingkaran besar dengan tanda silang di tengahnya, dan menuliskan kata: *"MALAS"* dengan huruf kapital yang besar di bawahnya. Sisanya hanyalah coretan-coretan abstrak yang tidak jelas.

"Sasha Arka! Apa-apaan ini?!" bentak Aria sambil berdiri dari kursinya.

"Ini soal serius! Kau pikir ini main-main? Kau benar-benar tidak punya rasa hormat pada waktu dan usahaku?!"

Sasha hanya mengangkat bahu dengan wajah masa bodoh, ia menyandarkan kepalanya di bantalan sofa dan menatap Aria dengan tatapan menantang.

"Aku sudah bilang sejak awal, aku tidak minta kau datang ke sini. Kau yang datang sendiri membawa drama sekolahmu ini ke rumahku. Jadi jangan salahkan aku kalau aku tidak peduli."

Aria terdiam, tangannya yang memegang kertas gemetar hebat. Ia menatap Sasha yang kembali memejamkan mata, seolah-olah semua amarah Aria hanyalah angin lalu yang tidak berarti.

---

Sesi belajar privat yang melelahkan itu akhirnya berakhir saat matahari sudah mencapai puncaknya.

Aria menutup buku-bukunya dengan helaan napas berat, menatap tumpukan kertas yang penuh dengan coretan asal-asalan milik Sasha.

Usahanya sejak pagi tadi terasa sia-sia; tak satu pun rumus yang masuk ke kepala gadis keras kepala itu.

"Waktuku sudah habis," ucap Aria sambil membereskan tasnya. Suaranya terdengar letih dan sarat akan kekecewaan.

"Kita lanjutkan besok di sekolah. Kuharap kau punya sedikit niat untuk lulus, Sasha."

Aria melangkah pergi dari rumah megah itu tanpa menunggu jawaban.

Sementara itu, Sasha yang masih bersandar di sofa hanya bergumam tidak jelas sebelum akhirnya benar-benar jatuh terlelap.

Dua jam berlalu. Sasha terbangun karena silau matahari yang menembus jendela ruang tamu. Ia mengerang, merasakan lehernya kaku karena posisi tidur yang salah.

Rasa bosan yang mencekik mulai merayap kembali. Dengan malas, ia menyeret langkahnya ke kamar mandi, membiarkan air dingin membasuh sisa kantuk dan kekesalannya.

Setelah selesai, ia mengenakan pakaian santai namun berkelas—sebuah kaos hitam *oversized* dari *brand* ternama dan celana pendek kargo.

Ia melangkah ke garasi raksasa di samping rumah. Di antara deretan mobil mewah koleksi ayahnya, pilihan Sasha jatuh pada sebuah **Porsche 911 Carrera S** berwarna abu-abu metalik. Raungan mesin *flat-six* yang bertenaga itu sejenak memberikan kepuasan di hatinya.

Ia memacu mobil tersebut keluar dari gerbang 15 hektar itu, membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang untuk mencari makan siang.

Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit, ia berhenti di depan sebuah restoran kelas menengah yang terlihat cukup nyaman, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

Sasha masuk ke dalam, memilih meja di sudut yang agak tersembunyi, dan segera memesan makanan.

"Aku pesan **Grilled Salmon dengan Creamy Lemon Sauce dan segelas Iced Lychee Tea**," ucapnya tanpa melihat menu.

Sasha duduk menyandarkan punggungnya, memainkan ponsel sambil menunggu. Sepuluh menit kemudian, aroma harum ikan panggang mulai tercium.

Seorang pelayan dengan seragam apron cokelat dan rambut yang diikat rapi mendekat ke mejanya sambil membawa nampan.

"Ini pesanannya, Nasi Salmon Panggang dan—"

Suara pelayan itu mendadak terhenti. Nampan di tangannya sedikit bergetar. Sasha yang baru saja hendak memasukkan ponsel ke saku, mendongak untuk melihat siapa yang datang.

Detik itu juga, waktu seolah berhenti. Mata Sasha membelalak sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya.

Di hadapannya, berdiri Aria Putri—Ketua OSIS yang sempurna, gadis yang beberapa jam lalu mengajarinya di rumah mewahnya—kini mengenakan seragam pelayan restoran dengan label nama di dadanya.

Aria terpaku diam, wajahnya memucat seketika. Rona merah karena malu dan terkejut perlahan muncul di pipinya. "Sa-Sasha?" bisiknya dengan nada yang hampir tidak terdengar.

Sasha menatap Aria dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu beralih ke nampan makanan di depannya. "Aria? Kau... pelayan di sini?"

Keduanya membeku dalam keheningan yang menyesakkan di tengah keramaian restoran.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!