Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Di Balik Jas Putih, Ada Hati yang Terlupa”
Yoga mengecup leher Anindya dengan lembut, lalu beralih ke bahunya. Sebuah kecupan yang penuh dengan pemujaan dan rasa syukur.
"Terima kasih untuk hari ini, Sayang. Terima kasih sudah memberikan ksatria kecil untukku," bisik Yoga dengan suara rendah yang menggetarkan.
Anindya mengelus lengan Yoga yang melingkar di perutnya. "Aku juga berterima kasih, Mas. Aku tidak menyangka hidupku akan sebahagia ini setelah semua yang terjadi."
Yoga membalikkan tubuh Anindya agar mereka saling berhadapan. Ia menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangan yang hangat. "Sekarang, tugasmu adalah istirahat total. Kamu sudah berdiri seharian menyapa tamu. Mas tidak mau kamu jatuh sakit."
"Tapi Arya biasanya bangun jam dua pagi untuk menyusu, Mas..."
Yoga menggeleng perlahan, ia mengecup kening Anindya dengan lama. "Biarkan malam ini menjadi urusanku. Aku sudah menyiapkan ASIP di botol kalau dia terbangun. Kamu harus tidur nyenyak tanpa gangguan. Mas yang akan menjaga Arya."
"Mas juga capek, kan?"
"Melihatmu sehat dan bahagia adalah caraku beristirahat, Anin," Yoga tersenyum nakal, lalu dengan sigap ia menggendong Anindya ala bridal style menuju tempat tidur besar mereka, mengabaikan protes kecil istrinya yang berakhir dengan tawa renyah.
Malam itu, di bawah cahaya lampu tidur yang redup, Yoga benar-benar membuktikan ucapannya. Ia duduk di kursi samping box bayi, sesekali membaca dokumen rumah sakit, namun pandangannya tak pernah lepas dari dua harta berharganya: sang putra yang sedang bermimpi dan sang istri yang tertidur pulas dengan wajah damai.
Yoga merasa hidupnya sudah sempurna. Namun, ia tak menyadari bahwa waktu adalah pencuri yang licik. Kesuksesan yang kian memuncak di rumah sakit dan perusahaan perlahan-lahan mulai membangun tembok tipis yang tak terlihat, yang suatu saat akan menguji keteguhan hati Anindya dalam kesepiannya.
Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga bulan telah berlalu sejak gema doa aqiqah memenuhi rumah itu. Arya Satria Prayoga tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan; pipinya kian gembul dan tawanya mulai renyah terdengar memenuhi sudut ruangan.
Namun, seiring dengan pertumbuhan sang putra, bayang-bayang kesibukan mulai menelan sosok sang ayah.
Jabatan Yoga sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Sehati sekaligus CEO dari Aditama Group menuntut loyalitas waktu yang luar biasa. Ekspansi besar-besaran perusahaan medis mereka membuat jadwal Yoga berubah menjadi rangkaian rapat yang tidak berujung.
****
Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Semburat fajar bahkan belum sempurna menyapa Surabaya. Di dalam kamar utama, Anindya terbangun karena mendengar suara gemerisik pakaian.
Dengan mata yang masih berat, ia melihat Yoga sudah berdiri di depan cermin, merapikan dasi sutranya dengan gerakan cekatan namun terburu-buru.
"Mas... sudah mau berangkat?" suara Anindya serak, khas orang yang baru bangun tidur.
Yoga menoleh sejenak, wajahnya tampak lelah meski ia baru saja bangun. "Iya, Sayang. Mas ada rapat sarapan dengan investor dari Singapura jam tujuh nanti. Dilanjut kunjungan lapangan ke lokasi rumah sakit baru."
Anindya duduk di tepi ranjang, mencoba mengusir kantuknya. "Aku sudah siapkan menu sarapan sehat di dapur. Tunggu sepuluh menit ya, Mas, aku hangatkan dulu."
Yoga menghampiri Anindya, lalu mengecup kening istrinya dengan singkat—terlalu singkat jika dibandingkan dengan kecupan penuh pemujaan tiga bulan yang lalu.
"Tidak sempat, Anin. Mas sarapan di jalan saja. Kasihan Arya kalau kamu harus ke dapur sekarang, dia tadi malam agak rewel, kan?"
"Tapi, Mas..."
"Sudah, kamu istirahat saja. Mas berangkat ya," potong Yoga lembut namun tegas. Ia menyambar tas kerjanya dan keluar dari kamar tanpa sempat menoleh lagi untuk melihat gurat kekecewaan di wajah istrinya.
Kejadian itu bukan lagi pengecualian, melainkan sudah menjadi rutinitas. Yoga berangkat saat fajar dan pulang saat bulan sudah tinggi di langit—sering kali saat Anindya sudah terlelap karena kelelahan mengurus bayi sendirian. Komunikasi mereka yang dulu hangat, kini hanya terbatas pada pesan singkat: "Mas pulang telat" atau "Sudah makan?".
****
Di sisi lain, kehidupan Yoga di rumah sakit kini diramaikan oleh kehadiran Dokter Riana. Sebagai dokter spesialis muda yang baru bergabung sekaligus mengepalai proyek pengembangan laboratorium digital, Riana adalah sosok yang sangat ambisius, cerdas, dan memiliki paras yang menawan.
Riana tidak hanya sekadar rekan sejawat; ia adalah tipe wanita yang mengerti bahasa bisnis Yoga. Ia selalu ada di setiap rapat penting, di setiap kunjungan lapangan, dan di setiap diskusi larut malam di kantor.
"Dokter Yoga, ini laporan analisis efisiensi untuk proyek di Jakarta. Saya sudah menambahkan beberapa poin penting," ujar Riana suatu sore di ruang kerja Yoga. Ia berdiri cukup dekat dengan meja Yoga, aroma parfumnya yang elegan mengisi ruangan.
Yoga menerima berkas itu tanpa rasa curiga. "Terima kasih, Riana. Kamu memang sangat membantu. Tanpamu, proyek ini mungkin akan melambat."
Riana tersenyum, senyum yang memiliki arti lebih dari sekadar profesionalisme. "Senang bisa membantu Anda, Dokter Yoga. Saya rasa kita memang tim yang sangat serasi dalam urusan pekerjaan."
Yoga hanya mengangguk sopan, pikirannya kembali tertuju pada angka-angka di layar monitor. Ia tidak menyadari bahwa keakraban profesional ini perlahan-lahan mulai melewati batas privasi, sementara di rumah, Anindya mulai merasa seperti orang asing di dalam hidup suaminya sendiri.
Setiap kali Anindya mencoba menelepon untuk sekadar bertanya kapan Yoga pulang, sering kali suara asisten atau suara Riana yang terdengar di latar belakang, memberikan kesan bahwa Yoga memang benar-benar "sibuk" dengan dunianya yang baru. Jarak itu kian nyata, membangun tembok es yang siap meretakkan kebahagiaan yang selama ini mereka perjuangkan.
Siang itu, Surabaya terasa sangat terik, namun hati Anindya justru dipenuhi hawa sejuk yang menyegarkan. Semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak, bukan karena Arya rewel, melainkan karena ia merindukan Yoga. Sudah berhari-hari suaminya itu hanya menyentuh keningnya saat ia terlelap, dan pergi saat ia masih terbuai mimpi.
"Ibu Sekar, Diandra, aku titip Arya sebentar ya. Aku mau ke rumah sakit antar makan siang untuk Mas Yoga," ucap Anindya dengan senyum ceria.
Ibu Sekar tersenyum mengerti. "Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya."
Anindya memanggang ayam bumbu rujak kesukaan Yoga dan membuat sambal terasi favorit suaminya. Ia mengemasnya rapi dalam kotak bekal tupperware yang cantik.
Dengan hati yang berdebar-debar penuh antusiasme, ia berangkat menuju Rumah Sakit Sehati. Ia membayangkan bagaimana wajah Yoga akan terkejut dan senang melihatnya.
****
Setibanya di Rumah Sakit Sehati, Anindya langsung menuju lantai paling atas, tempat ruang kerja Direktur Utama berada. Aroma antiseptik rumah sakit yang dulu sering membuatnya mual kini terasa biasa saja. Di tangannya, kotak bekal itu terasa ringan, penuh dengan harapan akan kebersamaan singkat di tengah padatnya jadwal Yoga.
Ia berjalan di koridor yang sepi, lalu berhenti tepat di depan pintu ruang kerja Yoga. Pintu itu sedikit terbuka, memperlihatkan celah kecil ke dalam. Anindya tersenyum, berencana untuk masuk diam-diam dan menepuk bahu suaminya.
Namun, senyum di wajah Anindya perlahan memudar, lalu menguap begitu saja.
Dari celah pintu itu, ia melihat Yoga sedang duduk di balik meja kerjanya. Bukan sendirian, melainkan ditemani oleh Dokter Riana. Riana berdiri di sisi meja Yoga, memegang beberapa dokumen. Mereka terlihat sangat akrab, bahkan ada tawa renyah dari Riana yang terdengar jelas sampai ke telinga Anindya.
"Hahaha... Dokter Yoga lucu sekali. Saya tidak menyangka Anda bisa melawak juga," kata Riana sambil menutupi mulutnya dengan tangan, senyumnya tampak sangat menawan di mata Anindya.
"Saya melawak hanya kalau ada lawan bicara yang sefrekuensi, Riana," jawab Yoga, raut wajahnya terlihat lebih santai dan ceria dibandingkan saat Anindya melihatnya di rumah.
Jantung Anindya mendadak berdebar kencang, bukan karena rindu, melainkan karena rasa sakit yang tiba-tiba menyergap.
Ia merasakan gelombang cemburu yang perih. Ini adalah sisi Yoga yang tidak pernah ia lihat lagi sejak kelahiran Arya. Yoga yang bisa tertawa lepas, yang bisa bercanda, yang bisa menunjukkan sisi santainya. Sisi itu kini dinikmati oleh wanita lain.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Dokter Yoga. Terima kasih untuk diskusinya hari ini," Riana berucap seraya memutar tubuh untuk berjalan keluar.
Tiba-tiba, saat Riana melangkah, kakinya terlihat tersandung sesuatu—entah sengaja atau tidak, Anindya tidak tahu. Tubuh Riana oleng ke depan, tepat ke arah meja Yoga.
Deg!
Dengan sigap dan refleks seorang dokter bedah, Yoga langsung bergerak. Ia merentangkan tangan, menangkap tubuh Riana agar wanita itu tidak terjatuh. Kedua tangan Yoga menahan pinggang Riana, dan sejenak, tubuh mereka begitu dekat, wajah mereka berhadapan dalam jarak yang sangat intim. Riana sempat menahan napas, menatap mata Yoga yang terkejut.
Pemandangan itu bagaikan sayatan pisau tumpul yang mengoyak hati Anindya. Kotak bekal di tangannya terasa berat, seberat beban yang tiba-tiba menghantam dadanya. Ia tidak membutuhkan penjelasan, ia tidak membutuhkan klarifikasi. Pemandangan itu sudah cukup.
Anindya merasa napasnya tercekat. Air mata panas menggenang di pelupuk matanya. Yoga, suaminya, ayah dari putranya, kini terlihat begitu peduli pada wanita lain. Sosok yang seharusnya hanya melihat Anindya sebagai dunianya, kini berbagi tawa dan sentuhan refleks dengan wanita itu.
Tanpa suara, Anindya memutar tubuhnya. Ia tidak jadi mengetuk pintu, tidak jadi masuk, dan tidak jadi memberikan bekal spesial itu. Dada Anindya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Ia bergegas pergi, meninggalkan koridor itu dengan langkah tergesa-gesa.
Rencana kejutan yang penuh cinta itu kini berubah menjadi luka yang menganga. Anindya pulang dengan hati yang hancur, bekal yang tidak tersampaikan, dan sebuah kesimpulan menyakitkan: ia sudah tidak penting lagi.
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera