Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retaknya Pondasi Kesetiaan
Matahari sore itu terik, namun pendingin udara di dalam mobil mewah sewaan Reno memberikan kesejukan yang palsu bagi Andini. Di sampingnya, Reno mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Andini yang halus. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Resto Mewah, meninggalkan ke pengapan gang sempit dan aroma minyak kayu putih yang selalu melekat di baju Hilman.
Andini menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang berjejer. Di dalam tasnya, masih tersimpan amplop cokelat berisi uang lima ratus ribu dari Hilman—uang yang diberikan suaminya dengan penuh kasih, namun kini justru digunakan Andini untuk membiayai pelariannya bersama pria lain.
"Kamu melamunkan apa, Sayang?" tanya Reno dengan suara berat yang di manis-manis kan.
Andini menghela napas. "Hanya memikirkan rumah, Ren. Rasanya seperti mimpi bisa keluar dari sana sejenak."
Reno tertawa kecil, suara yang terdengar begitu percaya diri. "Sejenak? Din, kalau kamu mau, kamu tidak perlu kembali ke sana selamanya. Aku sudah bilang padamu, proyek apartemenku di Jakarta Selatan sudah hampir selesai. Komisi yang akan kuterima cukup untuk membelikan mu satu unit apartemen di sana, lengkap dengan perabot impor dan asisten rumah tangga."
Mata Andini membulat. "Kamu serius, Ren?"
"Kapan aku pernah berbohong padamu?" Reno menoleh sejenak, memberikan senyum yang meluluhkan pertahanan Andini. "Lihat dirimu. Kamu cantik, kulitmu halus, seleramu tinggi. Kamu tidak pantas bangun setiap pagi hanya untuk mencuci baju buruh atau memasak nasi goreng murah. Kamu pantas bangun di tempat tidur berukuran king size, menghirup aroma kopi dari mesin otomatis, dan menghabiskan harimu di pusat perbelanjaan tanpa perlu melihat saldo rekening."
Andini terdiam. Bayangan hidup mewah yang ditawarkan Reno sangat menggoda. Ia membayangkan dirinya mengenakan gaun sutra, berjalan di atas karpet merah, dan dijunjung tinggi oleh teman-teman sosialitanya. Sangat kontras dengan kenyataan hidupnya bersama Hilman: mandi dengan air keran yang kadang mati, makan dengan lauk seadanya, dan harus mendengarkan suara batuk suaminya yang tak kunjung henti di malam hari.
"Tapi... bagaimana dengan Syifa?" bisik Andini lirih. Bagaimanapun, ada secercah naluri ibu yang masih tersisa di hatinya.
Reno mendengus tipis, ekspresinya berubah sedikit dingin namun segera ia tutupi dengan keramahan palsu. "Syifa bisa ikut dengan kita jika kamu mau. Kita bisa sekolahkan dia di sekolah internasional. Atau, biarkan dia bersama ayahnya untuk sementara sampai hidup kita benar-benar stabil. Hilman pasti tidak akan keberatan, dia kan pria yang 'sangat pengertian', bukan?"
Reno menekankan kata 'pengertian' dengan nada mengejek, merujuk pada telepon Hilman tempo hari. Andini tidak tahu tentang telepon itu, namun ia merasa Hilman memang terlalu lemah untuk melarangnya.
"Hilman itu pria baik, Ren. Tapi... dia sangat membosankan. Hidup bersamanya seperti hidup dalam film hitam-putih yang terus berulang," ucap Andini, seolah mencari pembenaran atas pengkhianatan nya.
"Dan aku adalah warna dalam hidupmu, Andini," balas Reno cepat. "Tinggalkan dia. Gugat cerai segera setelah akhir pekan ini. Aku sudah menyiapkan pengacara untukmu jika perlu. Kamu tidak butuh pria yang hanya bisa memberimu kado perak murahan. Kamu butuh pria yang bisa memberimu dunia."
Sepanjang sisa perjalanan, Reno terus membombardir Andini dengan janji-janji manis. Ia bercerita tentang liburan ke Paris, tentang mobil baru yang akan ia belikan untuk Andini, dan tentang kehidupan sosial yang berkilauan. Andini benar-benar terbuai. Ia merasa pintu menuju surga dunia telah terbuka di depannya, dan Hilman adalah palang pintu tua yang harus ia singkirkan.
Sementara itu, di rumah yang Andini sebut "pengap", Hilman sedang duduk di lantai dapur. Tubuhnya gemetar hebat. Syifa, yang sejak tadi pagi merasa badannya tidak enak, kini benar-benar tumbang. Gadis kecil itu terbaring di sofa ruang tamu dengan handuk kecil di keningnya.
"Ayah... Mama mana?" tanya Syifa dengan suara parau.
Hilman memaksakan diri untuk berdiri, meski setiap sendinya terasa seperti ditusuk jarum. Ia mengompres kening putrinya dengan telaten. "Mama sedang ada urusan penting, Nak. Sabar ya, ada Ayah di sini."
Hilman sebenarnya sangat ingin menelepon Andini, memberi tahu bahwa anak mereka sakit. Namun, ia teringat suara Andini yang begitu riang saat berpamitan tadi pagi. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan istrinya—kebahagiaan yang mungkin menjadi yang terakhir yang bisa ia rasakan sebelum badai kehancuran datang.
Tiba-tiba, Hilman merasakan dorongan hebat dari dalam dadanya. Ia segera berlari menuju wastafel dapur, namun tak sempat sampai ke sana. Ia terbatuk hebat, dan kali ini, darah yang keluar bukan lagi sekadar bercak. Cairan merah pekat itu membanjiri telapak tangannya, menetes ke lantai keramik yang baru saja ia pel tadi pagi.
"Ayah!" Syifa berteriak lemah melihat ayahnya tersungkur di lantai.
"Nggak apa-apa, Sayang... Ayah cuma... cuma lelah," bisik Hilman. Ia mencoba membersihkan noda darah itu dengan bajunya sendiri, tidak ingin membuat Syifa semakin takut.
Dalam kesakitannya, Hilman teringat akan kotak rahasianya. Ia menyeret tubuhnya menuju kamar belakang. Dengan tangan yang masih berlumuran darah yang mulai mengering, ia membuka buku tabungan depositonya.
Rp995.000.000.
Tinggal lima juta lagi. Satu langkah lagi menuju angka satu miliar.
Hilman mengambil ponsel lamanya, jarinya gemetar saat mengetik pesan untuk mandor pabriknya. "Pak, tolong beri saya shift malam tambahan hari ini. Saya butuh uang segera. Ini sangat penting."
Pak Gatot membalas dengan nada cemas, "Man, kamu gila? Kamu baru saja pingsan dua hari lalu. Istirahatlah!"
Hilman membalas, "Hanya malam ini, Pak. Setelah ini saya janji akan istirahat panjang."
Istirahat panjang. Hilman tersenyum getir membaca kalimatnya sendiri. Ia tahu maksud dari kalimat itu jauh lebih dalam dari sekadar tidur malam.
Di Resto mewah, Andini sedang menikmati makan malam romantis bersama Reno. Meja mereka dipenuhi dengan hidangan laut mahal dan lilin-lilin kecil yang menari ditiup angin pegunungan. Reno terus menceritakan tentang kejayaannya, tentang bagaimana ia akan membawa Andini ke puncak dunia.
"Din, aku serius soal perceraian itu. Minggu depan, aku ingin kamu sudah mulai mengurus surat-suratnya. Aku tidak ingin melihatmu di rumah kumuh itu lagi," ucap Reno sambil mengangkat gelas minumannya.
Andini terdiam sejenak, menatap kilauan cairan di gelasnya. "Aku akan melakukannya, Ren. Aku ingin hidup seperti ini. Aku ingin bahagia."
"Bagus. Itulah Andini-ku yang pintar," Reno tersenyum penuh kemenangan. Di dalam kepalanya, ia sudah menghitung-hitung bagaimana ia akan membujuk Andini untuk menjaminkan emas atau harta apa pun yang ia miliki demi "investasi" proyek fiktif nya. Reno tahu Andini memiliki beberapa perhiasan dan barang mewah hasil pemberian Hilman yang bisa ia uangkan.
Andini tidak sadar bahwa di saat ia sedang merencanakan masa depan mewah bersama Reno, suaminya sedang berdiri di tengah debu pabrik, memanggul beban yang melampaui batas kekuatannya demi menggenapkan tabungan yang nantinya akan menjadi satu-satunya pelindung Andini saat Reno menghilang dengan segala kebohongannya.
Malam itu, di pabrik, Hilman ambruk untuk kedua kalinya. Namun kali ini,
"Man! Hilman!" teriak rekan-rekan kerjanya.
Saat mereka melarikan Hilman ke rumah sakit, dalam keadaan setengah sadar, Hilman terus meraba sakunya. Ia mencari buku tabungan itu. Di dalam pikirannya yang mulai kabur, ia hanya ingin memastikan bahwa angka satu miliar itu tercapai.
Dan di Resto, kepala Andini bersandar di bahu Reno, memimpikan kehidupan indah dan mewah.
"Tuhan... sedikit lagi... tolong beri aku sedikit waktu lagi untuk Andini..."
Pengkhianatan Andini telah lengkap. Ia telah menjual kesetiaannya demi janji palsu, sementara suaminya sedang memberikan napas terakhirnya demi janji yang nyata.