NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 seribu benang di ujung jurang

Matahari di atas Sekte Awan Merah kini bersinar terik, seolah ingin menelanjangi setiap kesalahan yang terjadi di Arena Dapur Agung. Panasnya tidak hanya membakar kulit, tapi juga memanggang mental dua puluh peserta yang tersisa dari babak pertama.

Han Shuo berdiri di stasiun masaknya dengan wajah pucat yang kontras dengan seragam pelayan abu-abunya yang kusam. Lengan kirinya tergantung lemas di samping tubuhnya, disembunyikan di balik lengan baju yang panjang dan longgar. Meski Li Mei telah membalutnya dengan rapi dan memberikan obat penahan rasa sakit terbaik, denyut nyeri dari otot yang robek itu masih merambat naik ke bahu hingga ke lehernya, seperti detak jam kematian yang konstan.

Di seberang arena, Wang He menatapnya dengan mata menyipit. Ada kilatan kebingungan di sana. Ia yakin anak buahnya telah menyelesaikan tugas mereka semalam. Apakah Han Shuo meninggalkan adiknya mati begitu saja demi turnamen? Atau... apakah preman-preman itu gagal?

Ketidakpastian itu membuat Wang He gelisah, dan kegelisahan itu berubah menjadi niat membunuh yang lebih pekat.

"Selamat bagi kalian yang bertahan!" Suara Penatua Tie menggelegar, memecah ketegangan. "Babak kedua ini bukan tentang rasa. Rasa adalah subjektif. Tapi Teknik adalah mutlak."

Penatua Tie menepuk tangannya. Para pelayan panitia masuk membawa nampan berisi sebuah balok putih yang sangat lembut, bergoyang-goyang rapuh di atas piring porselen.

"Tahu Sutra Awan," gumam para peserta dengan wajah ngeri.

"Tema babak ini adalah: Bunga di Dalam Air," lanjut Penatua Tie. "Kalian harus memotong Tahu Sutra ini menjadi 1000 benang yang tidak putus, setipis rambut, dan menyajikannya dalam kuah kaldu bening. Jika ada satu benang pun yang putus, atau ketebalannya tidak rata, kalian pulang."

Han Shuo menatap tahu di depannya. Tahu Sutra Awan adalah bahan yang terkenal "jahat". Disentuh sedikit saja ia bisa hancur. Untuk memotongnya menjadi benang, seorang koki biasanya meletakkan tahu itu di dalam mangkuk air. Tangan kiri harus masuk ke dalam air untuk menahan tahu agar tidak bergeser oleh arus pisau, sementara tangan kanan melakukan pemotongan buta dengan kecepatan tinggi.

Tangan kiri untuk menahan.

Han Shuo mencoba menggerakkan jari tangan kirinya. Tidak ada respon. Hanya rasa sakit yang menusuk. Tangannya mati rasa total akibat efek samping Pil Pembakar Darah dan luka tebasan semalam. Jika ia memaksa memasukkan tangan kirinya ke dalam air, getaran dari rasa sakit itu akan menghancurkan tahu menjadi bubur dalam sekejap.

"Waktu kalian... setengah batang hio! Mulai!"

DONG!

Suara pisau beradu dengan talenan dan air segera memenuhi arena.

Wang He bergerak dengan kecepatan setan. Ia menggunakan pisau perak tipis yang didesain khusus. Tangan kirinya yang kokoh mencengkeram pinggiran tahu di dalam air dengan kelembutan yang mengerikan, sementara tangan kanannya bergerak naik turun seperti mesin jahit.

Tak-tak-tak-tak-tak.

Setiap potongannya presisi. Wang He menyeringai ke arah Han Shuo. "Lihat itu, pelayan? Kau bahkan tidak berani mengangkat pisaumu. Apa tanganmu gemetar ketakutan?"

Han Shuo tidak menjawab. Ia berdiri mematung. Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya.

Di tribun penonton, Zhang dan para pendukung Han Shuo mulai berbisik cemas.

"Kenapa Tuan Han diam saja?"

"Waktunya berjalan cepat! Dia tidak akan sempat!"

Li Mei meremas sapu tangannya hingga robek. "Dia tidak bisa menggunakan tangan kirinya," bisiknya pada diri sendiri. "Han Shuo... apa yang akan kau lakukan?"

Han Shuo menutup matanya. Ia mengisolasi suara ejekan Wang He, suara riuh penonton, dan rasa sakit di lengannya. Ia masuk ke dalam Dunia Rasa di benaknya.

Jika aku tidak bisa memegang tahu itu dengan tangan, maka aku harus memegangnya dengan sesuatu yang lain.

Ia mengingat kembali bab tentang "Aliran Tanpa Wujud" di Kitab Rasa Semesta.

Air adalah perpanjangan dari darah. Qi adalah perpanjangan dari napas. Kendalikan airnya, maka kau menguasai isinya.

Han Shuo membuka matanya. Ia mengambil sebuah mangkuk besar berisi air jernih. Ia meletakkan balok tahu itu perlahan di tengahnya.

Kemudian, ia melakukan sesuatu yang membuat semua orang tercengang.

Ia menyarungkan tangan kirinya ke belakang punggung. Ia hanya akan menggunakan satu tangan.

"Sombong!" teriak seorang juri pendamping. "Memotong Tahu Sutra dengan satu tangan? Bahkan Koki Istana Kekaisaran pun tidak berani melakukannya!"

Han Shuo tidak peduli. Ia memegang pisau dapur berkaratnya dengan tangan kanan. Ia mulai memutar pisaunya di dalam air, tapi tidak menyentuh tahu. Ia memutar air di sekeliling tahu itu.

Ia menyalurkan Qi-nya ke ujung pisau.

Teknik Pusaran Naga Air.

Air di dalam mangkuk mulai berputar perlahan, menciptakan pusaran sentripetal yang lembut. Gaya putaran itu memaksa balok tahu untuk tetap diam di tengah mangkuk, terkunci oleh tekanan air yang seimbang dari segala arah. Tahu itu melayang, stabil, tanpa perlu dipegang tangan manusia.

"Dia... dia menggunakan air sebagai tangan kirinya?" Penatua Tie mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya melebar tertarik.

Sekarang, saatnya memotong.

Han Shuo mempercepat gerakan pisaunya. Ia harus memotong tahu yang sedang melayang di tengah pusaran air itu. Ini membutuhkan akurasi tingkat dewa. Jika pisaunya meleset satu milimeter, pusaran air akan kacau dan tahu itu akan meledak.

Sret. Sret. Sret.

Pisau berkarat itu menghilang. Yang terlihat hanyalah bayangan perak yang menari di dalam air. Han Shuo tidak melihat dengan matanya; ia "melihat" melalui getaran air yang menyentuh ujung pisaunya. Setiap kali pisaunya turun, ia merasakan tekstur tahu yang lembut, membelahnya tanpa merusaknya.

Wang He melihat ini dan merasa terancam. Teknik Han Shuo jauh lebih tinggi daripada teknik "Potongan Angin" miliknya. Jika ini berlanjut, ia akan kalah.

Wang He melirik ke arah sisa bahan di mejanya. Ada sebuah cermin kecil yang digunakan untuk plating hiasan. Ia menggeser cermin itu sedikit, memantulkan sinar matahari terik tepat ke mata Han Shuo.

Silau!

Cahaya menyilaukan menghantam retina Han Shuo tepat saat pisaunya hendak melakukan potongan vertikal ke-500.

Penonton menahan napas. "Curang!" teriak Li Mei dari tribun, tapi suaranya tenggelam oleh ketegangan.

Kebutaan sesaat itu seharusnya membuat Han Shuo panik dan memotong tangannya sendiri atau menghancurkan tahunya.

Namun, Han Shuo tidak berkedip. Ia bahkan tidak berhenti.

Pengalaman bertarung dalam kegelapan asap lada semalam telah mempertajam instingnya. Ia tidak butuh cahaya. Ia merasakan niat jahat Wang He dalam pantulan cahaya itu.

Han Shuo memiringkan pisaunya sedikit. Bilah pisau yang lebar itu memantulkan kembali cahaya tersebut, bukan ke arah Wang He, tapi ke arah permukaan air di mangkuknya sendiri. Cahaya itu menembus air, menerangi serat-serat tahu sutra itu dengan jelas.

Alih-alih terganggu, Han Shuo justru menggunakan serangan Wang He sebagai "lampu sorot" untuk menyempurnakan potongannya.

Terima kasih atas bantuannya, batin Han Shuo sambil tersenyum tipis.

Kecepatannya meningkat dua kali lipat.

600 benang... 700 benang... 800 benang...

Air di mangkuk Han Shuo mulai mendidih, bukan karena panas, tapi karena gesekan Qi yang intens dari pisaunya.

"Waktu habis! Angkat tangan!"

DONG!

Han Shuo menarik pisaunya tepat saat gema gong berbunyi. Ia mundur selangkah, napasnya sedikit memburu, tapi mangkuk di depannya tenang. Airnya jernih kembali.

Para juri mulai berkeliling.

Banyak peserta yang gagal. Tahu mereka hancur menjadi bubur, atau potongannya terlalu tebal seperti mie.

Tibalah giliran Wang He.

Wang He dengan percaya diri menyajikan mangkuknya. Di dalamnya, tahu sutra itu telah mekar seperti bunga krisan putih yang indah. Benang-benangnya halus, melambai-lambai di dalam kaldu ayam bening.

"Indah," puji Penatua Tie. "Teknik Pisau Angin Keluarga Wang memang tidak mengecewakan. Benangnya konsisten. Jumlahnya... 950 benang. Hampir sempurna."

Wang He tersenyum angkuh. "Terima kasih, Penatua." Ia melirik Han Shuo dengan tatapan meremehkan. "Semoga keberuntungan si pelayan cacat itu masih berlaku."

Penatua Tie beralih ke meja Han Shuo.

Semua orang mengerutkan kening. Mangkuk Han Shuo terlihat... kosong?

Di dalam air jernih itu, hanya terlihat balok tahu utuh. Kotak. Tidak mekar.

"Gagal?" bisik penonton.

"Dia pasti tidak sempat memotongnya karena hanya pakai satu tangan."

Wang He tertawa lepas. "Hahaha! Apa ini? Kau menyajikan tahu mentah utuh? Kau menyerah di tengah jalan?"

Penatua Tie menatap Han Shuo tajam. "Jelaskan, nak. Kenapa tahunya tidak mekar?"

"Bunga sejati tidak mekar karena dipaksa, Penatua," jawab Han Shuo tenang. "Ia mekar saat waktunya tepat. Tolong tuangkan kaldu panasnya."

Penatua Tie mengangkat alisnya. Ia mengambil teko berisi kaldu ayam panas yang mendidih, lalu menuangkannya perlahan ke dalam mangkuk Han Shuo.

Saat kaldu panas itu menyentuh permukaan tahu, keajaiban terjadi.

Balok tahu yang tampak utuh itu tiba-tiba bergerak. Serat-seratnya yang terpotong sangat tipis dan rapat—saking tipisnya hingga menempel kembali seperti semula—mulai terpisah karena panas.

Perlahan tapi pasti, tahu itu mekar. Bukan menjadi bunga krisan biasa.

Bentuknya meluas, meninggi, dan bergelombang.

Itu bukan bunga.

Itu adalah Pemandangan Gunung dan Awan.

Bagian tengah tahu tetap tinggi menyerupai puncak gunung, sementara bagian pinggirnya terurai menjadi ribuan benang super tipis yang menyerupai kabut awan yang mengelilingi gunung.

"Seribu Benang?" Penatua Tie bergumam, suaranya bergetar. "Tidak... ini lebih. Pelayan, hitung!"

Seorang murid juri dengan mata tajam (Mata Roh) mendekat dan mulai menghitung dengan cepat menggunakan persepsi spiritualnya. Wajah murid itu memucat.

"Seribu dua ratus benang... seribu lima ratus... astaga. Totalnya 3.600 benang."

Hening.

Seluruh arena sunyi senyap. Bahkan angin pun seolah berhenti berhembus.

3.600 benang. Itu berarti setiap potongan Han Shuo membelah tahu itu menjadi tiga kali lebih tipis daripada potongan Wang He. Dan ia melakukannya dengan satu tangan, di dalam pusaran air yang bergerak.

"Bagaimana dengan rasanya?" tanya Penatua Tie, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia mengambil sendok dan mencicipi kuah serta benang tahu itu.

Tahu sutra biasanya hambar. Tapi begitu masuk ke mulut Penatua Tie, tahu itu lumer, melepaskan rasa manis kedelai yang murni. Namun, ada tekstur lain. Tekstur kenyal yang aneh.

"Energi pedang?" Penatua Tie menatap Han Shuo. "Kau menanamkan Niat Pisau (Knife Intent) ke dalam setiap helai tahu ini? Itu sebabnya ia tidak hancur saat dipotong setipis ini. Niat pisaumu menjadi tulang bagi tahu yang lunak."

Han Shuo mengangguk. "Tahu adalah daging tanpa tulang. Saya memberinya tulang agar ia bisa berdiri tegak."

Penatua Tie menutup matanya, menikmati sensasi ribuan benang tahu yang memijat lidahnya. "Luar biasa. Wang He memotong bentuk, tapi kau... kau memotong jiwa bahan itu sendiri. Pemenang babak ini, mutlak: Han Shuo!"

Sorakan meledak dari sudut murid luar. Kali ini, bahkan beberapa murid dalam dan penonton netral ikut bertepuk tangan. Kekaguman terhadap skill murni melampaui batasan status.

Wajah Wang He berubah dari merah menjadi ungu, lalu menjadi putih pucat. Ia gemetar karena amarah. Dipermalukan dua kali oleh pelayan yang sama. Dan yang lebih parah, ia melihat Penatua Agung di bayang-bayang tribun tersenyum kecil saat melihat Han Shuo.

Jika Han Shuo menang di babak final besok, Wang He tamat. Keluarga Wang akan kehilangan muka, dan posisi mereka di sekte akan terancam.

Han Shuo membereskan pisaunya. Saat ia berbalik hendak meninggalkan arena, ia merasakan sakit yang luar biasa menghantam dada kirinya.

Darah merembes menembus perban di lengan kirinya, menetes jatuh ke lantai arena.

Ia terhuyung sedikit.

Li Mei, yang sejak tadi mengawasi, melompati pagar pembatas dan berlari menangkap Han Shuo sebelum ia jatuh.

"Kau bodoh! Kau menggunakan Qi berlebihan! Lukamu terbuka lagi!" bentak Li Mei, tapi suaranya penuh kekhawatiran.

Han Shuo tersenyum lemah, wajahnya seputih kertas. "Setidaknya... aku menciptakan gunung, bukan?"

Para petugas medis segera datang membawa tandu. Penonton melihat darah yang menetes dari lengan Han Shuo dan terkesiap. Baru saat itulah mereka sadar bahwa koki jenius itu bertanding sambil menahan luka parah.

Simpati publik seketika berbalik sepenuhnya pada Han Shuo. "Dia bertanding dengan satu tangan yang terluka? Dan masih menang?"

"Dia pahlawan!"

Wang He mendengar bisikan-bisikan itu. Giginya bergemeretuk. "Pahlawan? Nikmati saja saat terakhirmu. Babak final besok adalah Berburu dan Memasak. Di hutan liar, kecelakaan bisa terjadi kapan saja."

Malam harinya, di ruang perawatan Aula Pengobatan.

Han Shuo terbaring dengan infus herbal menancap di lengannya. Li Mei duduk di sampingnya, sedang mengganti perban.

"Adikku..." Han Shuo berbisik, matanya masih terpejam.

"Dia aman," jawab Li Mei lembut. "Aku mengirim dua murid kepercayaanku untuk menjemputnya dari gubuk di hutan. Sekarang dia sedang tidur di kamarku, dijaga oleh formasi pelindung kakekku."

Han Shuo membuka matanya. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dirinya. "Terima kasih, Li Mei. Aku..."

"Jangan bicara dulu. Kau kehilangan banyak darah." Li Mei menatap luka jahitan di lengan Han Shuo yang mengerikan. "Kau tidak bisa ikut babak final besok. Babak final adalah perburuan bebas di Hutan Kabut Hantu. Kau harus memburu bahanmu sendiri lalu memasaknya. Dengan kondisi ini, kau hanya akan menjadi makanan serigala."

"Aku harus ikut," kata Han Shuo keras kepala. "Hadiah utamanya adalah Buah Sumsum Naga. Itu satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan meridianku yang rusak sejak lahir dan memungkinkanku berkultivasi ke tahap yang lebih tinggi."

Li Mei terdiam. Ia tahu tentang kondisi tubuh Han Shuo yang dianggap "sampah" oleh sekte. Fakta bahwa ia bisa mencapai tahap ini adalah keajaiban tekad.

"Baiklah," Li Mei menghela napas pasrah. Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah benda.

Sebuah sarung tangan hitam tipis yang terbuat dari anyaman logam halus.

"Ini adalah Tangan Bayangan. Artefak gagal yang pernah dibuat kakekku. Ini bisa menggerakkan tanganmu menggunakan manipulasi Qi eksternal, seperti boneka. Ini akan membantumu memegang barang, tapi tidak akan bisa merasakan sentuhan. Rasanya akan seperti memakai tangan palsu."

Han Shuo menatap sarung tangan itu. "Itu sudah lebih dari cukup."

Tiba-tiba, jendela kamar terbuka. Angin malam masuk membawa selembar daun hitam.

Han Shuo menangkap daun itu. Ada tulisan emas di atasnya.

"Datanglah ke Puncak Terlarang malam ini. Sendirian. Atau rahasia tentang Kitab Rasa Semesta akan kuumumkan ke seluruh dunia persilatan."

Tidak ada nama pengirim. Tapi Han Shuo tahu siapa itu. Hanya ada satu orang yang mungkin mengenali teknik masaknya yang kuno.

Penatua Agung.

"Siapa itu?" tanya Li Mei curiga.

Han Shuo meremas daun itu hingga hancur. "Undangan makan malam. Sepertinya hidangan utamanya belum dimulai."

Han Shuo bangkit dari tempat tidur, mencabut infusnya.

"Kau mau ke mana lagi?!" Li Mei hendak menahannya.

"Mengambil restu," jawab Han Shuo misterius. "Atau menjemput kematian. Entahlah, yang jelas aku tidak bisa menolak undangan orang tua."

Han Shuo mengenakan sarung tangan Tangan Bayangan itu. Ia mengepalkan tangan kirinya. Logam itu merespon Qi-nya, bergerak kaku tapi kuat.

Ia melompat keluar jendela, menuju puncak tertinggi Sekte Awan Merah yang selalu tertutup awan badai. Di sana, monster tua yang sesungguhnya sedang menunggu. Dan kali ini, pisau dapur mungkin tidak cukup untuk melawannya.

Pojok Informasi Kuliner & Kultivasi

Teknik Baru:

* Pusaran Naga Air (Water Dragon Vortex): Menggunakan Qi untuk memutar air dalam wadah, menciptakan gaya sentripetal yang menahan objek rapuh agar tetap diam di tengah tanpa disentuh fisik. Berguna untuk memotong bahan super lunak.

* Niat Pisau (Knife Intent): Tingkatan tinggi di mana koki menanamkan keinginan/jiwanya ke dalam bahan masakan. Ini bisa mengubah tekstur fisik bahan (membuat tahu menjadi kenyal dan kokoh) tanpa bahan tambahan.

Item Baru:

* Tahu Sutra Awan: Bahan tingkat rendah tapi sangat sulit diolah karena kerapuhannya. Melatih kontrol mikroskopis Qi.

* Tangan Bayangan: Artefak prostetik magis yang digerakkan oleh Qi. Memberikan kekuatan cengkeraman tapi menghilangkan indra peraba.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!