Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pak Kepala
Di sebuah restoran khas Italia, ada Annie--rekan kerja Naya--tengah menyantap makan siangnya dengan raut wajah yang terlihat lesu, seperti tak bersemangat. Ponsel yang ada di genggamannya terus ia tatap dengan sendu.
Pada momen itu, Annie rupanya tengah membaca pesan yang ia terima dari Naya.
Naya || Ann.. Sorry bangeeetttt, kalau bukan karena urusan keluarga, aku juga gak bakalan mendadak gini jauh-jauh ke Wonosobo..... :’(
Lalu tanpa diduga, sebuah notifikasi pesan muncul di bagian atas layar ponselnya. Annie sangat terkejut melihat nama kontak yang baru saja mengirimnya pesan itu.
“Pak Alden?” Annie menatap layar ponselnya. “Tumben?”
Pak Alden || Ann.. Temen kamu yang namanya Naya itu, emang bener ya dia hilang kontak sama salah satu penulisnya?
Annie tampak sangat keheranan ketika membaca pesan yang Alden kirim. “Naya? Menangnya kenapa, Pak?” ucap Annie sambil mengetik pesan balasan.
Pak Alden || Gak apa-apa. Si Mas Eko yang ngasih tahu saya. Emang penulisnya itu kenapa ya, Ann? Kamu tahu?
Annie || Betul, Pak. Namanya Astrid. Beberapa hari lalu kita memang sempet dapet kabar kurang baik soal dia..
Pak Alden || Kenapa sama penulisnya, Ann?
Annie || Saya kurang tahu detail jelasnya, Pak. Intinya Astrid tiba-tiba menghilang dan gak bisa dihubungin...
Pak Alden || Kasihan juga ya
Ketika itu Annie memang merasa heran karena pertanyaan Alden terasa sangat mendadak. Tapi ia tak mau terlalu memikirkannya dan lanjut melahap pasta carbonara di hadapannya.
#
Seperti yang pernah Mahesa katakan padanya, Addam segera memberi tahu Mahesa apa saja informasi yang mereka dapatkan. Semuanya. Termasuk informasi besar tentang keluarga Irvan di Dusun Q.
Mengetahui hal sebesar itu, Mahesa jelas merasa sangat gusar karena merasa dirinya terlalu bodoh sampai dengan sengaja mengesampingkan peluang itu.
Untungnya, emosi negatif itu hanya muncul sekelebat dan tak membuat Mahesa menumbuhkan perasaan menyalahkan dirinya sendiri.
Saat itu Mahesa masih berdiri di depan vending machine dan meneguk habis minuman soda di tangannya. Setelahnya, barulah ia bergegas kembali menuju ruang kerjanya yang ramai karena kebetulan semua timnya sedang berkumpul.
“Jadi, kita cuma dapet rekaman kamera pengawas dari Jalan Damai Permai saja?” Bagus menyilangkan tangan di dada.
“Betul, Pak.” Arya mengangguk.
“Hmm...” Bagus menghela nafas.
Suasana di ruangan itu menjadi hening selama beberapa waktu. Tapi tiba-tiba saja keheningan itu berubah menjadi ketegangan setelah seseorang dari luar sana membuka pintu dengan kencang, bahkan daun pintu itu sampai terbanting dan menghantam dinding.
‘Pak Kepala...’ batin Mahesa. Raut wajahnya tampak sangat tegang.
Semua orang yang ada di sana tampak sangat terkejut dan saling bertanya-tanya mengapa Pak Kepala bersikap demikian. Terlebih lagi ketika mereka melihat Panji yang berjalan dengan lesu di belakang Pak Kepala.
Tiba di hadapan semua anggota tim, Pak Kepala langsung menatap wajah mereka satu persatu dengan kedua mata melotot--seperti siap menerkam semua yang ada di sana.
“SIAPA YANG BILANG KALIAN BISA BUKA LAGI KEDUA KASUS ITU?!!” Pak Kepala menyilangkan tangan di dada. Wajahnya merah padam seolah terbakar api amarah dalam dirinya.
“Pak Kepala-” Panji mencoba berbicara tapi usahanya itu keburu dihentikan.
“DIAM!!! SAYA KECEWA SAMA KAMU, PANJI!”
Melihat kegaduhan diantara kedua pemimpin mereka, Bagus berani maju dan mengatakan apa yang ingin didengar Pak Kepala.
“Maaf, Pak. Saya yang mendesak Pak Panji untuk kembali membuka kasus itu,” Bagus lalu menunduk hormat.
Amarah Pak Kepala tampak semakin meledak-ledak seperti api yang disiram berliter-liter bensin sesaat setelah Bagus mengatakan hal itu. Ia bahkan terlihat mengangkat tangan kanannya dan mengambil ancang-ancang untuk menampar Bagus.
Untungnya Mahesa sigap menahan aksi Pak Kepala dengan menahan ayunan tangannya. Bagus yang tadi memejamkan mata--seolah siap menerima serangan--kini terlihat telah membuka kembali kedua matanya.
Kini tatapan seram Pak Kepala mengarah tepat pada kedua netra Mahesa.
”Kurang ajar...!” nada suaranya pelan namun pengucapannya sangat jelas. Lengan Mahesa lalu dihempasnya dengan kasar.
“Maaf, Pak. Tapi penyelidikan yang kita lakukan memang membawa kita kembali pada kedua kasus itu,” kata Mahesa tanpa ragu.
“PANJI! Kasih tahu anak buah kamu yang gak tahu diri ini,” Pak Kepala melirik Mahesa dengan ekor matanya, “kalau sampai minggu ini penyelidikannya gak selesai, dia bakal didisiplinkan saat itu juga!”
Semua orang yang ada di sana tentu terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, Pak Kepala berbalik dari sana dan melangkah dengan hentakan kaki yang cukup kencang.
“Pak Kepala... Tunggu, Pak!” Panji tampak sangat was-was dan segera berjalan menyusul Pak Kepala.
Lagi-lagi daun pintu itu dibanting dengan keras seolah ia yang menjadi sasaran kemarahan Pak Kepala. Dan hal itu juga lah yang mengurungkan Panji mengikuti langkah pria yang terbakar amarah itu hingga akhirnya Panji hanya terdiam di dekat pintu.
“Pak...!” Bagus bergegas menghampiri Panji disusul Mahesa dan rekannya yang lain.
Saat itu Panji terlihat memijat keningnya. Perlahan ia berjalan mendekat ke sebuah kursi dan terduduk dengan lesu.
“Gus. Pokoknya kalian beresin kasus itu, gimanapun caranya,” kata Panji.
Bagus menatap Panji sebentar lalu menatap seluruh anggota timnya penuh arti. Dan seperti sedang bertelepati, mereka lalu terlihat kompak mengangguk perlahan seolah setuju dengan makna dibalik tatapan mata Bagus, Si Ketua Tim.
#
Hujan deras di luar sana masih belum juga terlihat akan berhenti.
Saat itu, Addam dan Naya tengah berada di ruang tunggu sebuah Rumah Sakit setelah selesai melanjutkan rencana mereka.
RS Mitra, lokasi yang mereka datangi setelah kediaman Pak Risman. Sesuai informasi yang mereka dapat, dikatakan bahwa Irvan menghembuskan nafas terakhirnya di sana.
Meski Mahesa tak turut serta hadir dalam perjalanan mereka, tapi bantuannya tetap sampai dan sangat memudahkan Addam dan Naya menuntaskan rencana yang telah mereka susun
Awalnya, Addam ragu akan menggunakan surat yang disiapkan Mahesa. Tapi siapa sangka, selembar surat keterangan yang dilengkapi KOP Surat itu sukses membuat pihak RS Mitra memberi informasi yang Addam dan Naya butuhkan.
Kini, Addam dan Naya hanya tinggal menunggu hujan reda sebelum keduanya kembali ke Jakarta karena misi mereka di sana telah selesai.
Pada momen yang entah kenapa terasa syahdu itu, ponsel Addam mendadak bergetar karena sebuah panggilan masuk.
“Mahesa?” gumam Addam sesaat sebelum ia menjawab panggilan itu. “Ya? Ada apa, Sa?”
Di lain tempat, Mahesa terlihat sedang duduk di kursi besi, di sebuah lorong yang terlihat sepi. Ia tampak sangat gelisah. Kakinya terus bergetar seperti tak bisa ia hentikan.
“Dam. Kalo gue bilang ke tim lagi bantu lo cari Astrid, oke gak?” tanya Mahesa dengan terbaru-buru.
“Ya kalau itu gak jadi masalah buat lo, gue oke aja, Sa. Emang kenapa?” Addam penasaran.
“Gini, Dam. Dari kasus yang kita lagi selidikin, kalo versi tim gue, itu semuanya buntu. Kita gak nemu jejak lagi. Dan gue baru sadar, kasus ini punya sedikit pencerahan kalau kita libatin temuan kita soal menghilangnya Astrid…”
“Oh ya udah, Sa. Kalau itu bisa ngebantu temuin adek gue, gue bakal terus dukung lo…”
Addam bisa mendengar di sebrang sana Mahesa tengah bernafas lega.
“Thank you, Dam. Eh, ngomong-ngomong lo berdua udah beres di sana?”
“Udah. Tapi di sini masih ujan deres banget. Jadi kita belum bisa lanjut jalan.”
“Oh, oke. Hati-hati aja lo berdua…”
“Aman…” pungkas Addam singkat.
Kemudian setelah itu Addam mengakhiri perbincangannya dengan Mahesa.
“Kenapa, Kak?” tanya Naya yang sejak tadi memperhatikan perubahan raut wajah Addam.
“Ini… Si Mahesa… Dia bilang dia mau ungkap rencana dia buat bantuin kita….”
Naya menganggukkan kepalanya. “Hmm... Semoga kita bisa makin cepet nemuin Astrid…”
“Iya, Nay. Mudah-mudahan…”
Hingga sekitar satu jam lamanya mereka menunggu, hujan deras itu akhirnya reda dan keduanya kini bisa kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tiba di terminal, Addam dan Naya menepi di sebuah warung sambil menunggu kedatangan bus yang akan mereka tumpangi.
“Kak. Dari tadi aku pengen banget ngomongin ini,” Naya merogoh ponselnya dan menggulirnya dengan cepat. Layar benda pipih itu lalu ia tunjukkan pada Addam.
“Apa itu, Nay?” Addam menyipitkan matanya, menatap layar ponsel Naya selama beberapa detik.
“Kak Addam, ini tanda tangannya Astrid, Kak...”
Mendengar jawaban Naya, sontak saja Addam merasa sangat terkejut. Kedua matanya melotot, mulutnya menganga. “Lah, iya, Nay! Ini tanda tangannya dek Astrid, kok bisa jadi wali pasien?!”
“Ini pasti ada yang salah, Kak...” kata Naya lirih.
“Iya, Nay. Emang ada yang gak bener. Pokoknya kita harus jelasin semuanya ke si Mahesa...”