Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Tersesat —
Cinta. Satu kata yang mulai memiliki banyak arti.
Manusia cenderung melakukan apa pun demi yang namanya cinta. Namun, cinta membuat orang buta dan tuli.
Masalahnya tidak lagi benar atau salah, tapi apakah cinta itu bisa dipaksakan? Maka kurikulum baru ini akan menjawabnya.
Krisis populasi menjadi masalah serius akhir-akhir ini, dan pemerintah Jepang memutuskan ide gila. Sistem Dua Kekasih namanya.
Ketika para remaja lulus SMP, mereka bersiap untuk masuk SMA berbasis asrama dan tinggal bersama dengan lawan jenis. Tidak hanya itu, mereka akan menghadapi banyak ujian yang mengharuskan mereka untuk berpasangan.
Semua itu dilakukan agar minat para remaja tidak hanya fokus pada karier, tapi juga pasangannya sendiri di masa depan. Singkatnya, pemerintah butuh anak sebagai generasi penerus.
Ah, sial. Sepertinya aku tersesat.
Kakiku melangkah tanpa tahu arah. Ada begitu banyak gedung, dan aku lupa di mana aula tempat para murid baru berkumpul tadi.
Aku berada di halaman sekolah yang memberikan kesan mewah nan elegan. Pohon-pohon besar berdiri kokoh, dengan simbol dua cincin tertaut yang menjadi hiasan di tiap gedung.
Entah berapa banyak anggaran yang dihabiskan untuk membangun semua ini. Perlu diakui, sekolahnya luas. Udaranya juga lumayan enak dihirup, tapi anehnya tidak ada penanda jalan sama sekali.
Karena itulah aku tersesat. Dengan niat awal mencari toilet dan ingin buang air kecil, aku malah berakhir mengasingkan diri.
Ada banyak orang asing berlalu-lalang, menatapku seperti orang aneh. Semuanya berjalan dengan pasangan mereka masing-masing, sementara aku malah sendirian.
Setelah upacara penerimaan murid baru, sebenarnya kami diberi kesempatan untuk berbincang dan memilih pasangan sendiri untuk didaftarkan.
Waktunya 72 jam. Jika tidak kunjung mendaftar atau menemukan pasangan sendiri, maka sistem akan mengacak dan memilihkan pasangannya masing-masing.
Tidak ada yang bisa menolak keputusan sistem. Artinya kami akan terus terikat selama tiga tahun ke depan, apalagi sampai tinggal bersama.
Bagaimanapun juga, aku harus kembali ke aula dan mencari seorang gadis yang bisa menjadi pasanganku. Aku ingin memilih, bukan dipilihkan.
TING!
Secara tiba-tiba, suara notifikasi muncul dari jam tangan yang baru kupasang tak lama ini. Sejak kapan ini menyala?
Begitu menjadi murid baru, kami dipaksa memakainya dan anehnya kami juga harus memahami fungsinya sendiri.
Aku pun mengangkat tangan kananku, memperlihatkan layar hologram yang tertampil.
[Silakan manfaatkan waktu interaksi selama 72 Jam ke depan!]
[Pasangan yang belum mendaftarkan diri akan ditempatkan di Zona Transisi (Aula Tidur) hingga mereka mendapatkan pasangan.]
Mataku menyipit. Zona Transisi? Kupencet tab selanjutnya.
[Zona Transisi adalah area tidur sementara bagi murid yang belum memiliki pasangan.]
[Fasilitas:
Tidak ada tempat tidur pribadi.
Tidak ada sekat.
Suhu dikontrol pada 16°C.
Pencahayaan tidak dimatikan penuh.]
[Total Kapasitas: 150 Murid]
Dengan kata lain, tidur dalam gudang dingin bersama puluhan... atau bahkan ratusan orang asing?
Tidak. Itu tidak akan terjadi padaku.
Aku memang ingin mempertanyakan ini sebelumnya, apakah kami akan tidur sendiri-sendiri sementara menunggu waktu mencari pasangan? Dan pertanyaannya terjawab sekarang.
Kupikir aku masih agak penasaran dengan jam tangan ini. Maksudku, kemungkinan ada sebuah petunjuk kecil yang bisa membantu.
Kemudian, aku menekan tombol kembali di layar.
[Nama: Naruse Takashi]
[Nomor Registrasi: 094-A]
[Poin Pribadi: 300 Poin]
[Poin Pasangan: 0 Poin]
[Status: Belum Berpasangan]
[Peringkat Individu: S]
[Peringkat Pasangan: —]
[Menu:
Aturan
Belanja Teknis
Misi
Terkunci.
Terkunci.]
Oh, apa ini? Sesuatu yang baru tertampil.
Aku baru tahu. Seandainya notifikasi tidak muncul tadi, aku tidak akan pernah mengotak-atik ini.
Ada banyak hal yang belum bisa kupahami, seperti perbedaan antara poin pribadi dengan poin pasangan, dan kenapa poin pribadiku ada 300? Bahkan ada juga Peringkat Individu dengan Peringkat Pasangan.
Lalu di bagian Menu, hanya ada tiga opsi yang terbuka sementara sisanya masih terkunci.
Demi menjawab rasa penasaranku, aku memilih opsi Aturan di bagian Menu.
[Aturan Dasar Sekolah:
Melepas jam tangan selama lebih dari 10 menit akan mendapat pengurangan poin pribadi.
Selama jumlahnya mencukupi, poin bisa digunakan untuk membeli apa pun.
Persaingan peringkat keseluruhan (Rank S - Rank E) diperbolehkan menggunakan cara apa pun selama legal dan sesuai aturan.]
Selesai membacanya, aku menghela napas panjang.
Jadi, hanya ada tiga aturan dasar? Akan kuingat baik-baik untuk berjaga-jaga.
Selanjutnya, aku beralih ke Belanja Teknis.
[Belanja Teknis:
Peta — 50 Poin Pribadi
Penyamar Peringkat — 100 Poin Pribadi
Terkunci.
Terkunci.
Terkunci.
Catatan: Selesaikan misi lebih banyak untuk membuka!]
Mulutku perlahan menyeringai begitu sadar ada pilihan peta yang bisa kubeli. Walau masih agak bingung dengan pilihan yang satunya, jariku tetap menekan bagian Peta.
[Beli Peta?]
[Ya / Tidak]
[Harga: 50 Poin Pribadi]
Dengan penuh keyakinan, aku membelinya. Ini satu-satunya solusi.
[Selamat, Peta telah dibeli!]
[Sisa Poin Pribadi: 250 Poin]
[Peta ditambahkan di bagian Menu, berguna menunjukkan jalan yang pernah dilewati pengguna!]
Bagus sekali, ini tanda bahwa keberuntungan berpihak padaku. Seringaiku makin lebar.
Kini aku kembali ke Menu.
[Menu:
Aturan
Belanja Teknis
Misi
Peta
Terkunci.]
Tanpa pikir panjang, aku menekan opsi Peta. Dan layar hologram benar-benar menampilkan peta keseluruhan sekolah ini dari sudut pandang langit.
Beberapa tempat memang terlihat buram, tapi beberapa terlihat sangat jelas. Ada juga titik berwarna hitam, sepertinya itu adalah posisiku atau posisi jam tangannya berada.
Dengan skala 1:100 meter, rupanya aku berjalan cukup jauh dari aula utama yang menyambut para murid baru.
Jariku kini menekan aula utama, lalu panah kecil muncul memberiku arah. Akhirnya aku tahu jalan, dan yang lebih penting tidak dianggap sebagai orang aneh lagi.
"Oke, saatnya kembali."
Puas bergumam dengan diri sendiri, kakiku mulai bergerak mengikuti panah yang sudah ditampilkan layar hologram.
Satu-satunya hal yang kusadari di sekolah ini adalah fakta bahwa kami bergantung pada jam tangan yang disediakan. Pantas saja membawa ponsel dan alat elektronik sejenisnya tidak diperbolehkan, semuanya bisa dilakukan melalui ini.
Mulai sekarang, aku harus menentukan jalan hidupku sendiri. Semuanya kembali lagi ke satu pertanyaan, bisakah cinta itu dipaksakan?
Aku memang butuh jawaban, tapi aku tidak ingin terburu-buru.
Namun entah kenapa, seiring langkahku bergerak menuju aula, ada perasaan aneh yang muncul.
Napasku sempat tertahan. Tubuhku menghangat.
Dengan keadaan sedikit berkeringat, aku memaksakan diri untuk kembali ke rombongan murid baru. Mungkin aku bisa istirahat setelah itu.
Kenapa jadi begini?
Padahal, aku tidak merasakan apa-apa saat tersesat. Dan aku hanya merasakannya sekarang, saat tahu bahwa aku akan kembali.
"Hah... hah..."
Astaga, tidak. Jangan sekarang!
Bayangan mengerikan malam itu kembali muncul di pikiranku. Aku semakin sulit bernapas. Tangan kananku refleks memegangi dadaku.
Langkahku terhenti. Aku terdiam di tempat. Kepalaku menunduk sepenuhnya, dan tubuhku seperti bisa tumbang kapan saja.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
Di tengah keadaanku yang tidak begitu baik ini, ada seseorang yang menahanku. Mataku tidak bisa melihat siapa orang itu, tapi dari nada bicaranya... sepertinya dia seorang gadis.