Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Di balik Badai
Kehidupan memiliki cara yang unik untuk memberikan kejutan, tepat di saat kita merasa sudah menguasai seluruh peta jalannya. Setelah kepergian Bayu dan Sari, rumah terasa lebih luas namun sekaligus lebih sunyi. Aku dan Mas Aris mulai terbiasa dengan ritme baru: bekerja, pulang, merawat orang tua, dan memastikan cicilan bank tetap aman di jalurnya. Namun, suatu pagi di bulan ketiga setelah kepindahan Bayu, dunia yang sudah kupetakan dengan rapi itu mendadak berguncang oleh sebuah garis merah ganda di atas alat tes kecil.
Aku terduduk di lantai kamar mandi, menatap benda itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara bahagia yang membuncah dan ketakutan yang mencekik. Aku hamil. Di dalam rahimku, ada sebuah kehidupan baru yang sedang tumbuh benih dari cintaku dan Mas Aris. Namun, bagi seorang Maya yang tumbuh dalam trauma, berita kehamilan bukan sekadar tentang baju bayi dan dekorasi kamar. Ini adalah tentang tanggung jawab, keamanan finansial, dan ketakutan terbesar dalam hidupku: Bisakah aku menjadi ibu yang baik sementara aku sendiri adalah produk dari masa kecil yang hancur?
Mas Aris sangat bahagia. Ia memelukku erat, mencium keningku berulang kali, dan matanya berkaca-kaca saat aku memberitahunya. "Terima kasih, Maya. Terima kasih sudah memberikan kado terindah ini," bisiknya.
Namun, di dalam kepalaku, aku justru sedang menghitung angka-angka. Kehamilan berarti biaya dokter, biaya persalinan, dan nantinya biaya pendidikan. Sementara itu, cicilan rumah kami masih berjalan panjang. Aku mulai merasa panik. Apakah tabunganku cukup? Bagaimana jika aku harus mengambil cuti panjang dan pendapatanku berkurang?
"Mas, kita harus lebih hemat lagi," kataku tiba-tiba di tengah momen romantis itu.
Aris melepaskan pelukannya dan menatapku dengan lembut namun penuh pengertian. "Maya, nikmati dulu bahagianya. Jangan langsung lari ke hitungan bank. Kita akan baik-baik saja. Aku ada di sini."
Seiring bertambahnya usia kehamilan, hormon di tubuhku membuat pertahanan mentalku sedikit melemah. Trauma masa kecil yang biasanya bisa kutekan dengan kesibukan kerja, kini mulai muncul kembali lewat mimpi-mimpi buruk. Aku takut jika anakku nanti adalah seorang perempuan, ia akan mengalami apa yang kualami. Aku takut aku tidak bisa melindunginya.
Setiap kali aku melewati rumah panggung Nenek saat harus menjenguk kerabat, perutku terasa mulas. Aku melihat anak-anak kecil bermain di halaman, dan aku ingin sekali berteriak pada mereka untuk masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Rasa protektif yang berlebihan mulai tumbuh dalam diriku, sebuah manifestasi dari rasa tidak amanku sendiri.
Ibu, yang sejak kepergian Bayu menjadi sedikit dingin, perlahan mulai mencair mendengar kabar kehamilanku. Ia mulai sering membuatkan jamu atau masakan kesukaanku. Namun, kedekatan ini justru memicu konflik baru dalam batinku. Aku melihat Ibu dan aku bertanya-tanya: Kenapa dulu Ibu tidak melindungiku? Kenapa Ibu membiarkan aku tumbuh dalam ketakutan sementara sekarang Ibu begitu peduli pada janin di perutku?.
Memasuki trimester kedua, tubuhku mulai tidak bisa diajak kompromi. Mual yang hebat dan kelelahan luar biasa membuat kinerjaku di kantor sedikit menurun. Bosku, yang selama ini memujiku karena kegilaanku dalam bekerja, mulai memberikan teguran halus karena aku beberapa kali izin pulang lebih awal.
"Maya, saya tahu kamu sedang hamil, tapi proyek ini butuh perhatian penuh. Kamu masih sanggup, kan?" tanyanya dalam sebuah rapat.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Saya sanggup, Pak."
Aku tidak boleh terlihat lemah. Aku tidak boleh kehilangan posisiku. Di kepalaku, setiap rupiah dari gajiku adalah pilar yang menjaga rumah kami agar tidak roboh. Aku mulai memaksakan diri, mengabaikan rasa pening dan nyeri punggung demi tetap menjadi "si baja" di kantor.
Mas Aris mulai menyadari obsesiku yang tidak sehat ini. "Maya, berhenti memaksakan diri. Uang bisa dicari, tapi kesehatanmu dan bayi kita itu taruhannya. Kalau kamu terus begini, aku yang akan memintamu berhenti kerja."
"Jangan pernah suruh aku berhenti!" teriakku histeris. Pertengkaran hebat pun pecah. Bagiku, berhenti kerja adalah kehilangan harga diri. Aku tidak ingin menjadi wanita yang hanya menanti uang dari suami, meskipun suamiku adalah pria sebaik Aris. Aku ingin anakku nanti tahu bahwa ibunya adalah wanita yang membangun dunianya dengan kekuatannya sendiri.
Suatu malam, setelah pertengkaran itu, aku duduk sendirian di teras depan. Aku mengelus perutku yang mulai membuncit. Tiba-tiba, aku merasakan sebuah gerakan halus dari dalam. Sebuah tendangan kecil yang sangat nyata.
Seketika, air mataku jatuh. Gerakan itu seolah bicara padaku: "Ibu, aku di sini. Aku tidak butuh rumah yang paling megah, aku hanya butuh Ibu yang tenang."
Aku menyadari bahwa selama ini aku sedang membangun rumah fisik untuk anakku, tapi aku lupa membangun rumah emosional di dalam diriku. Aku terus-menerus merasa kekurangan, merasa tidak aman, padahal di sampingku ada suami yang setia dan di dalam diriku ada kehidupan yang suci.
Aku mulai kembali ke terapisku. Aku bercerita tentang ketakutanku menjadi ibu. "Saya takut saya tidak punya kasih sayang yang cukup karena saya tidak merasakannya secara utuh dulu," ungkapku.
"Maya," ujar terapisku, "Fakta bahwa kamu begitu khawatir adalah bukti bahwa kamu akan menjadi ibu yang hebat. Kamu tahu rasa sakitnya tidak dilindungi, maka kamu akan menjadi pelindung yang paling kuat. Tapi ingat, kamu tidak bisa melindungi anakmu jika kamu sendiri terus-menerus terluka."
Aku mulai belajar untuk melepaskan kendali. Aku mulai menerima bantuan Mas Aris dengan lebih ikhlas. Aku mulai mengurangi jam kerjaku secara sadar, bukan karena aku lemah, tapi karena aku tahu ada prioritas baru yang lebih penting daripada saldo bank.
Cicilan rumah tetap berjalan, namun kini aku tidak lagi melihatnya sebagai beban yang harus kupikul sendiri sampai berdarah-darah. Aku mulai melihatnya sebagai investasi untuk tempat anakku tumbuh nanti tempat yang akan penuh dengan tawa, bukan dengan bau bawang dan rasa takut.
Malam itu, saat aku berbaring di samping Mas Aris, aku membisikkan sesuatu ke perutku. "Kamu akan aman di sini, Sayang. Rumah ini sudah lunas dari rasa takut. Ibu sudah membayarnya dengan seluruh perjuangan Ibu."
Aku adalah Maya. Wanita yang sedang belajar bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak beban yang bisa kita pikul, tapi tentang keberanian untuk meletakkan beban itu sejenak demi memeluk kebahagiaan yang baru. Cicilan rumah kami masih panjang, tapi harapan yang tumbuh di rahimku membuat setiap langkah terasa lebih ringan.