Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di dalam darah dan frekuensi merah
Pelarian itu dimulai di bawah siraman hujan deras yang mengguyur Jakarta. Kendaraan lapis baja hitam itu meluncur membelah jalan tol yang sepi, diikuti oleh dua motor pengawal yang dikendarai oleh orang-orang kepercayaan Raka. Di dalam mobil, suasana begitu tegang hingga suara napas masing-masing terdengar jelas.
Selena duduk di kursi tengah, diapit oleh Bhanu dan Dahayu. Di depannya, Raka terus memantau jalanan melalui jendela kecil yang diperkuat baja. Suhu di dalam kabin mulai naik secara tidak wajar. AC mobil sudah dipasang pada suhu terendah, namun keringat membasahi dahi Selena.
"Bhanu... ada yang salah," Selena merintih. Ia merasa seolah-olah ada jutaan jarum kecil yang menusuk-nusuk sarafnya dari dalam perut. "Janin ini... dia bereaksi pada sesuatu."
Dahayu segera membuka tas medisnya. Ia mengeluarkan sebuah pemindai energi portabel. Angka di layar pemindai itu melonjak drastis, berubah menjadi merah menyala. "Energi biometrik Selena tidak stabil! Janin ini mencoba melakukan 'sinkronisasi' dengan sistem navigasi mobil. Dia menganggap teknologi di sekitarnya sebagai bagian dari tubuhnya!"
Tiba-tiba, Selena mengalami kejang hebat. Tubuhnya melengkung, dan pendaran cahaya ungu yang menyeramkan muncul dari ujung jemarinya, membakar jok kulit mobil hingga mengeluarkan asap hitam yang menyengat. Lampu-lampu di dasbor mobil mulai berkedip liar, dan mesin mobil terdengar seperti akan meledak.
"Dahayu, lakukan sesuatu!" raung Bhanu sambil memegangi tubuh Selena agar tidak jatuh.
Dahayu mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan biru pekat yang berpendar redup. "Ini adalah inhibitor saraf tingkat tinggi, Bhanu! Aku harus menyuntikkannya ke tulang belakangnya sekarang untuk meredam lonjakan energi ini, atau sistem saraf Selena akan terbakar habis!"
Namun, sebelum jarum itu menyentuh kulit Selena, Raka yang duduk di kursi depan memutar tubuhnya dengan kecepatan kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Dahayu dengan kekuatan yang luar biasa hingga terdengar bunyi retakan tulang.
"Tunggu!" bentak Raka, matanya melotot tajam ke arah cairan biru itu. "Bhanu, jangan biarkan dia menyuntikkan itu! Lihat label kecil di bagian bawah tabungnya. Itu bukan inhibitor produksi Vandana. Itu adalah Catalyst-7, formula yang dikembangkan Eleanor di Rusia. Cairan itu bukan untuk menenangkan janin, tapi untuk mempercepat mutasi sarafnya agar frekuensinya bisa dilacak oleh satelit Nephilim bahkan dari bawah tanah!"
Bhanu menatap Dahayu dengan tatapan yang bisa membunuh. "Dahayu... apa ini benar?"
Dahayu gemetar hebat. Air mata mulai mengalir di wajahnya yang pucat. "Ibu... dia menyandera Ibu kandung Selena, Bhanu! Dia masih hidup di sebuah fasilitas di pegunungan Ural! Eleanor mengirimkan video ancaman padaku kemarin. Dia akan meledakkan chip di otak Beliau jika aku tidak memastikan janin ini mencapai fase 'Matang' dalam perjalanan ini. Aku mencoba menyelamatkan semuanya, Bhanu! Aku tidak punya pilihan!"
"KAU MEMPERTARUHKAN NYAWA ISTRIKU DAN ANAKKU?!" Bhanu menerjang Dahayu, mencekik leher saudaranya sendiri di ruang kabin yang sempit.
Di tengah kekacauan itu, suara ledakan terdengar dari atas langit. Kaca belakang mobil pecah berantakan bukan karena peluru, melainkan karena gelombang suara frekuensi tinggi. Puluhan drone hitam berbentuk seperti burung pemangsa mekanis turun dari awan kelabu. Mereka tidak membawa senjata api, melainkan perangkat pengacau saraf yang membuat siapa pun di dalam radiusnya merasa otaknya sedang diremas.
Selena menjerit histeris, menutup telinganya dengan tangan yang masih memancarkan listrik. "Mereka... mereka memanggilku! Anak ini memanggil mereka pulang!"
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...