NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Genetik memang tidak pernah berbohong. Alexander Lambert Telford , atau yang akrab dipanggil Alex, tumbuh menjadi cerminan sempurna dari Danesha versi muda, rahang yang tegas, tatapan mata yang dalam dan mengintimidasi, serta karisma yang membuat orang-orang menoleh dua kali.

Namun, di balik wajah tampannya, Alex menyimpan kutukan yang sama dengan ayahnya, gairah yang meluap-luap dan sulit dikendalikan.

Memasuki usia 17 tahun, Alex mulai merasakan ada yang salah dengan dirinya. Di tengah kemewahan mansionnya, seringkali ia harus mengunci diri di kamar mandi atau di balik selimutnya tengah malam.

Napasnya akan memburu, tangannya bergerak sendiri mencoba meredam gejolak yang seolah membakar pembuluh darahnya. Ia adalah bom waktu yang siap meledak, persis seperti Danesha saat pertama kali mencicipi gairah bersama Pricillia.

Tepat di samping mansion keluarga Lambert, berdiri mansion megah milik keluarga Marius. Hubungan kedua keluarga ini sangat harmonis, Danesha dan Tuan Marius sering bermain golf bersama, sementara Pricillia sering mengadakan acara minum teh dengan Nyonya Marius.

Namun, fokus Alex bukan pada persahabatan orang tua mereka. Fokusnya adalah Amelie Roosevelt Marius, putri tunggal keluarga Marius yang seumur dengannya.

Amelie adalah antitesis dari kegelapan Alex. Dia cantik dengan cara yang elegan, cerdas, dan memiliki aura ketenangan yang persis seperti Pricillia di masa muda.

Sejak kecil mereka tumbuh bersama, bermain di taman yang hanya dibatasi oleh pagar tanaman tinggi. Namun kini, setiap kali Alex melihat Amelie mengenakan gaun musim panasnya atau saat gadis itu berkeringat setelah latihan balet, gairah di tubuh Alex bergejolak hingga ke titik yang menyakitkan.

Sore itu, Alex berdiri di balkon kamarnya, memandangi Amelie yang sedang duduk di ayunan taman keluarga Marius sambil membaca buku.

Dari kejauhan, Amelie tampak begitu murni.

Tangan Alex mencengkeram besi balkon hingga buku jarinya memutih. Ia bisa merasakan dadanya sesak.

Bayangan-bayangan liar mulai menari di kepalanya, bayangan tentang bagaimana rasanya menyentuh kulit Amelie, atau bagaimana reaksi gadis itu jika Alex menciumnya dengan kasar seperti yang sering ayahnya ceritakan tentang menjinakkan wanita.

Alex berbalik masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan bersandar di sana dengan napas tersengal. Ia kembali melakukan rutinitas solonya, namun kali ini berbeda.

Setiap gerakan tangannya disertai dengan bisikan nama yang seharusnya tidak ia sebut.

"Amelie... El..." gumamnya parau.

Suatu malam, keluarga Marius diundang makan malam di mansion Lambert. Saat kedua orang tua mereka sibuk tertawa di meja makan, Alex mengajak Amelie ke area kolam renang yang sepi.

"Lo makin tinggi ya, Lex," ujar Amelie sambil tersenyum manis, tidak menyadari bahwa pria di depannya sedang menahan badai gairah yang dahsyat.

Alex menatap Amelie dengan intensitas yang membuat gadis itu sedikit merinding. Tatapan Alex bukan lagi tatapan seorang teman masa kecil, itu adalah tatapan seorang predator yang telah menemukan mangsanya.

"El," suara Alex terdengar lebih berat dari biasanya.

"Lo tau nggak kenapa ayah gue selalu bilang kalau keluarga Lambert itu cuma butuh satu wanita seumur hidup?"

Amelie mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"

Alex melangkah mundur, dan beranjak pergi dari sana.

Amelie terpaku, jantungnya berdegup kencang melihat sisi gelap Alex yang baru saja muncul.

Tanpa mereka sadari, dari jendela lantai dua, Danesha dan Pricillia memperhatikan mereka. Danesha tersenyum tipis, melihat sejarah mulai terulang kembali pada putranya.

Sejarah keluarga Telford memang tidak pernah main-main soal garis keturunan. Alexander Lambert Telford lahir dari rahim seorang wanita jenius yang penuh strategi, Pricillia Carolyna Hutapea, dan mewarisi darah panas dari sang ayah, Danesha Vallois Telford.

Nama "Telford" kini bukan sekadar nama keluarga terpandang di kalangan elite, nama itu adalah simbol dari obsesi, kepemilikan, dan gairah yang tidak terpadamkan.

Danesha Vallois Telford sering memperhatikan putranya dari kejauhan. Ia melihat bagaimana Alex menatap Amelie Roosevelt Marius, dan Danesha tahu betul apa yang sedang bergejolak di dalam dada putranya itu.

Itu adalah Darah yang membuat seorang pria tidak akan bisa tenang sebelum ia mengunci wanita pilihannya di bawah kekuasaannya.

"Dia persis sepertimu, Dan," bisik Pricillia Carolyna Hutapea suatu sore, sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya saat mereka memperhatikan Alex yang sedang berlatih tinju dengan samsak di pusat kebugaran pribadi mereka.

Danesha merangkul pinggang Pricillia, mencium pelipis istrinya yang masih secantik dulu. "Ya. Tapi dia punya ketenanganmu, Pris. Itu yang membuatnya lebih berbahaya. Kalau aku dulu meledak-ledak, Alex... dia merencanakan."

Bagi Alex, menjadi putra seorang Danesha Vallois berarti memiliki standar yang sangat tinggi tentang kejantanan, namun menjadi putra Pricillia Carolyna berarti memiliki otak yang selalu selangkah lebih maju.

Namun, di usianya yang ke-17, hormonnya seringkali mengalahkan logikanya. Di kamarnya yang luas, Alex seringkali terbangun tengah malam dengan tubuh yang banjir keringat.

Bayangan Amelie yang sedang tertawa, atau sekadar aroma parfum vanila Amelie yang tertinggal di jaketnya saat mereka belajar bersama, cukup untuk membuat monster di dalam dirinya bangkit.

Setiap kali ia melakukan solo dengan tangannya sendiri, Alex selalu membayangkan satu hal, Malam saat ia akhirnya bisa mengklaim Amelie sepenuhnya. Sama seperti ayahnya mengklaim ibunya.

Malam itu, keluarga Marius berkunjung. Amelie Roosevelt Marius tampak sangat menawan dengan gaun sutra berwarna emerald. Saat makan malam berlangsung, Alex duduk tepat di hadapan Amelie.

Pricillia Carolyna, dengan ketajaman insting seorang ibu, menyadari bagaimana tangan Alex mencengkeram garpu hingga buku jarinya memutih setiap kali Tuan Marius menceritakan tentang Amelie yang didekati oleh teman sekolahnya di sekolah internasional.

"Oh, Alex, kamu kenapa? Wajahmu merah sekali," tanya Nyonya Marius dengan ramah.

"Hanya gerah, Tante," jawab Alex pendek.

Suaranya berat dan serak, menahan gairah yang meledak-ledak karena tepat di bawah meja, secara tidak sengaja kaki El bersentuhan dengan kakinya.

Setelah makan malam, saat keluarga Marius sudah berpamitan, Danesha memanggil Alex ke ruang kerjanya.

Ruangan itu berbau cerutu mahal dan kayu ek.

"Alex," Danesha menatap putranya dengan tatapan mata-ke-mata. "Ayah tahu apa yang kamu rasakan terhadap Amelie."

Alex terdiam, tidak membantah.

"Keluarga Telford tidak pernah berbagi apa yang sudah mereka pilih," lanjut Danesha dengan suara rendah yang mengintimidasi.

"Tapi ingat pesan Mommy-mu, jangan sampai kamu kehilangan kendali sebelum waktunya. Kalau kamu menginginkannya, pastikan dia tidak punya jalan lain selain memilihmu.

Jangan jadi bodoh karena obat atau emosi sesaat."

Alex mendongak, matanya berkilat dengan kegelapan yang sama dengan Danesha saat menjebak Pricillia dulu.

"Aku tahu, Dad. Aku nggak akan membiarkan cowok mana pun menyentuhnya. El adalah milikku, bahkan sebelum dia menyadarinya."

Malam itu, Alex memanjat pagar tanaman yang memisahkan mansion mereka. Ia melihat Amelie sedang berdiri di balkon kamarnya, memandangi bulan.

"El," panggil Alex dari bawah.

Amelie menunduk, terkejut melihat Alex di sana. "Alex? Kamu ngapain?"

"Gue cuma mau bilang... besok jangan berangkat bareng sopir lo. Gue yang jemput," perintah Alex, nadanya tidak menerima bantahan. Posesif. Dominan.

El terpaku. Ia merasakan getaran aneh yang menakutkan sekaligus mendebarkan. Di bawah sinar bulan, Alex tampak seperti predator tampan yang siap menerkamnya.

"Tapi, Lex..."

"Gue nggak suka diulang, El. Gue yang jemput. Tidur sana."

Alex berbalik pergi dengan langkah angkuh. Di dalam dadanya, gairah itu masih membara, namun kini ia merasa lebih tenang. Ia telah memulai langkah pertamanya untuk menjadikan Amelie Roosevelt Marius sebagai Nyonya Telford berikutnya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading 🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!