NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7:Hancur Lagi

Suasana di dalam kelas Sains 2 sore itu terasa sangat gerah. Kipas angin gantung yang berputar kencang seolah-olah hanya mengaduk udara panas tanpa memberikan sedikit pun kesejukan bagi para siswa yang masih tersisa di kelas. Bau keringat dan debu buku bercampur aduk, menciptakan aroma pengap yang menyesakkan dada. Aku baru saja selesai mengantarkan tumpukan buku latihan ke meja Pak Zainal di depan kelas ketika aku mendengar namaku disebut-sebut. Suara itu datang dari sudut belakang kelas, tempat di mana 'vibe' kelas biasanya ditentukan.

"Dia itu sejak akrab dengan Kak Qasrina, sudah berani melawan omonganku, tahu tidak? Sudah berani unjuk gigi," suara Syasya terdengar tajam, membelah keheningan sore yang malas itu.

Langkahku terhenti seketika. Aku terpaku di balik lemari buku yang besar dan usang. Jantungku mulai berdegup kencang, seolah-olah sedang berlari sprint. Aku menahan napas, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin aku salah dengar. Namun, kalimat selanjutnya menghancurkan harapan itu.

"Dulu waktu pertama kali masuk kelas ini, mukanya seperti kucing hilang induk. Pendiam, ketakutan, mau menyapa orang saja gemetar. Sekarang... berlagak seolah dia itu 'adik emas' asrama. Mentang-mentang Kak Qasrina itu Ketua Pengawas," sambung Syasya lagi, nadanya penuh dengan sinisme yang kental.

Tiba-tiba, terdengar tawa kecil Hilya menyertai ucapan Syasya. Syasya, yang selama ini aku anggap sebagai teman pendengar yang baik, dengan mudah berubah. "Betul itu. Dia pikir dengan pengaruh Kak Qasrina, dia bisa jadi 'ratu' di sini. Padahal kalau bukan karena kita, dia itu tidak akan ada yang melirik."kata Hilya membalasnya.

Dadaku terasa sesak, seolah-olah oksigen di dalam kelas itu telah tersedot habis. Ada rasa perih yang menusuk-nusuk di hulu hati. Kepercayaan yang aku bangun selama ini hancur dalam sekejap mata. Aku menguatkan hati. Aku tidak ingin terus menjadi pengintai di balik lemari ini. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku melangkah keluar dari celah lemari itu, tepat di hadapan mereka berdua.

Syasya tersentak sejenak. Matanya terbelalak kecil, namun hanya untuk sesaat. Dengan kecepatan seorang aktor profesional, dia mengubah raut wajahnya. Senyuman manis,senyuman yang selama ini aku sangka adalah tanda persahabatan yang tulus—terukir di bibirnya.

"Eh Hanie! Baru selesai antar buku ya? Kasihan kamu sampai berkeringat begitu. Sini duduk bareng kami," kata Syasya dengan nada yang begitu ramah, seolah-olah dia tidak baru saja mengiris harga diriku beberapa saat lalu.

Aku tidak duduk. Aku tetap berdiri tegak, meskipun lututku terasa lemas. Aku menatap tepat ke dalam manik mata Syasya, mencari sisa kejujuran yang mungkin masih ada. "Syasya, aku dengar apa yang kamu bicarakan tadi. Kenapa kamu harus bicara seperti itu di belakangku? Aku rasa aku tidak pernah berbuat salah padamu, malah aku selalu mencoba jadi teman yang baik untukmu."tanyaku dengan suara serak yang menahan sesak di dada.

Seketika, topeng manis Syasya jatuh ke lantai kelas yang berdebu itu. Wajahnya berubah keras. Matanya menyempit, penuh dengan kilatan amarah yang tertahan. Dia menyandarkan badan ke kursi dengan gaya angkuh, menyilangkan tangan di dada. Inilah red flag yang selama ini aku tutupi dengan alasan 'dia hanya tegas'.

"Oh, sudah pintar menjawab sekarang? Sudah berani menuduhku macam-macam?" Suara Syasya naik satu oktaf, bergema di ruang kelas yang kosong. "Hanie, kamu sadar tidak kalau bukan karena aku dan Hilya yang memungutmu saat Amani membuangmu dulu, kamu sendirian tahu tidak di kelas ini? Kamu itu ibarat sampah yang tidak ada yang mau melihat waktu itu. Kamu seharusnya berterima kasih, bukannya malah cari ribut soal hal sepele seperti ini."

"Tapi kamu memburukkanku, Syasya... Kamu menghinaku di belakang. Itu bukan hal sepele," suaraku mulai bergetar, menahan sesak yang kian menghimpit.

"Aku bicara kenyataan! Kamu saja yang terlalu sensitif, seperti tisu!" Syasya berdiri mendadak, menyebabkan kursinya berderit nyaring di atas lantai semen. Dia mendekatiku hingga jarak kami hanya satu inci. "Sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit mengadu ke Kak Qasrina. Kamu pikir Kak Qasrina akan ada selamanya untukmu? Dia akan lulus sekolah, Hanie. Dan kamu? Kamu tetap akan tinggal di sini bersama kami."

Dia menyambung lagi dengan bisikan yang lebih berbisa. "Kamu harus ingat satu hal Hanie, di kelas ini, hanya kami teman yang kamu punya. Tidak ada orang lain yang sudi duduk satu meja dengan orang 'aneh' sepertimu. Kalau kamu mau cari masalah denganku, silakan. Tapi jangan menyesal kalau nanti kamu harus menghadapi gangguan Arif sendirian. Kamu ingat siapa yang membelamu saat Arif mengganggumu dulu? Aku, Hanie. Aku!"

Aku terdiam seribu bahasa. Lidahku kelu. Syasya memang pakar dalam seni memutarbalikkan keadaan. Dalam hitungan menit, dia berhasil mengubah narasi sehingga aku terlihat seperti orang yang tidak tahu terima kasih, sementara dia adalah pahlawan yang teraniaya. Dia menggunakan segala bantuan masa lalunya sebagai senjata untuk menjerat leherku. Dia ingin aku merasa 'berutang' nyawa dan harga diri kepadanya.

Hilya di sebelah hanya mendiamkan diri. Dia tidak membela, namun senyum sinis yang tersungging di bibirnya sudah cukup untuk menyatakan keberpihakannya. Dia adalah penonton setia dalam drama manipulasi Syasya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik. Aku tahu jika aku terus di sana, aku akan kalah dalam permainan kata-katanya. Aku melangkah keluar dari kelas dengan langkah yang lunglai, membawa beban perasaan yang sangat berat. Lorong sekolah yang sunyi terasa begitu panjang.

Aku berhenti di depan toilet dan mengeluarkan cermin kecil dari saku baju kurungku. Tanganku sedikit gemetar saat memegang bingkai cermin itu. Di dalam pantulan kaca yang sedikit retak di ujungnya, aku melihat wajahku sendiri. Mata yang merah, hidung yang kembang kempis menahan tangis, dan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipi.

"Kenapa semua orang ingin aku merasa bersalah untuk hal yang tidak aku lakukan?" bisikku pelan, suaraku pecah ditelan angin sore.

Pada saat itu, satu kebenaran pahit menghantam kesadaranku. Syasya bukanlah penyelamat yang datang ketika aku dikucilkan Amani. Dia bukannya teman sejati yang menarikku keluar dari kesunyian. Dia hanyalah seorang pemangsa yang cerdik memilih mangsa yang sedang lemah. Dia 'memungutku' bukan karena simpati, tapi karena dia butuh pengikut yang mudah tunduk. Dia cuma menunggu waktu untuk memangsa harga diriku begitu aku mulai memiliki pendirian sendiri.

Aku menutup cermin itu dengan bunyi yang keras. Air mata aku seka dengan kasar. Kak Qasrina pernah berkata, persahabatan tidak seharusnya terasa seperti penjara. Dan hari ini, aku sadar aku baru saja melangkah keluar dari jeruji besi yang bernama Syasya.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!