Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
PENGALAMAN OSPEK YANG PENUH KESERUAN
Hari pertama Orientasi Pengenalan Kampus (OSPEK) di Universitas Hasanuddin tiba dengan penuh semangat. Khatulistiwa mengenakan kaos OSPEK berwarna merah muda dengan logo kampus yang mencolok, berdiri bersama ratusan mahasiswa baru di halaman utama fakultas Sejarah. Hatinya berdebar kencang – campuran antara kegembiraan dan sedikit rasa gugup menghadapi masa-masa baru sebagai mahasiswa.
"Tul! Di sini!" panggil suara yang akrab dari kejauhan. Khatulistiwa melihat Tenggara bersama teman-temannya – Andi, Siti, dan Rio – yang sudah menjadi panitia OSPEK. Mereka mengenakan rompi kuning yang mencolok dan wajah penuh senyum menyambut mahasiswa baru.
"Kamu sudah siap belum untuk hari pertama OSPEK?" tanya Tenggara dengan suara ceria sambil memberikan sebuah tas kecil berisi perlengkapan OSPEK – buku catatan, pulpen, dan makanan ringan.
"Siap saja!" jawab Khatulistiwa dengan semangat yang sama. "Aku sudah tidak sabar untuk mengenal teman-teman baru dan belajar lebih banyak tentang kampus ini."
Kegiatan OSPEK dimulai dengan sambutan dari Dekan Fakultas Sejarah, yang menyampaikan harapan besar kepada mahasiswa baru untuk menjadi agen perubahan dalam melestarikan budaya dan sejarah bangsa. Setelah itu, panitia membagi mahasiswa baru ke dalam kelompok kecil yang akan diawasi oleh seorang pembimbing OSPEK.
Khatulistiwa masuk ke dalam Kelompok 7, yang dipimpin oleh Siti. "Selamat datang di Kelompok 7, teman-teman!" ucap Siti dengan antusias. "Kita akan menjalani OSPEK selama seminggu dengan berbagai kegiatan seru – mulai dari pemaparan profil kampus, permainan kelompok, hingga kunjungan ke berbagai fasilitas kampus."
Selama hari pertama, mereka diajak mengenal berbagai fasilitas di fakultas – perpustakaan yang luas dengan koleksi buku sejarah lengkap, laboratorium arkeologi, dan ruang temu tamu yang sering digunakan untuk diskusi akademik. Khatulistiwa merasa sangat kagum melihat perpustakaan yang memiliki ribuan buku tentang sejarah dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia.
"Sekarang kamu bisa membaca buku-buku ini kapan saja setelah OSPEK selesai," ucap Tenggara yang datang menemani kelompoknya. "Kita juga sering mengadakan diskusi buku di sini setiap akhir pekan – kamu bisa bergabung jika mau."
Hari kedua hingga keempat diisi dengan berbagai kegiatan yang menguji kebersamaan dan kerja sama antar mahasiswa baru. Ada permainan balap karung dengan tema sejarah, di mana setiap kelompok harus menyampaikan fakta sejarah sebelum bisa melanjutkan balapan. Ada juga lomba membuat maket kerajaan tradisional menggunakan bahan bekas, yang membuat Khatulistiwa bisa menunjukkan kreativitasnya setelah belajar banyak tentang kerajaan di Sulawesi Selatan.
Pada hari kelima, panitia mengadakan kunjungan studi ke Museum Negeri Makassar. Di sana, mahasiswa baru diajak belajar tentang benda-benda pusaka kerajaan Gowa-Tallo dan sejarah perkembangan kota Makassar. Tenggara yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah daerah menjadi pemandu khusus untuk kelompoknya, menjelaskan setiap benda dengan cara yang menarik dan mudah dimengerti.
"Kamu benar-benar ahli dalam sejarah daerah ya, Tenggara," puji salah satu mahasiswa baru bernama Budi. "Ceritamu sangat menarik dan membuat aku semakin menyukai sejarah."
Pada malam terakhir OSPEK, panitia mengadakan acara penutupan dengan pertunjukan seni dari berbagai klub kampus. Klub Tari Tradisional menampilkan tarian Gandrung Bulo dan Pacar Cina, sementara Klub Musik Klasik memainkan lagu-lagu daerah dengan alat musik tradisional. Khatulistiwa bahkan mendapatkan kesempatan untuk tampil bersama klub budaya, menunjukkan sedikit gerakan tari yang dia pelajari dari nenek Tenggara.
Setelah acara pertunjukan selesai, panitia memberikan piagam penghargaan kepada setiap mahasiswa baru yang telah berhasil menyelesaikan OSPEK. Siti memberikan piagam kepada Khatulistiwa dengan senyum bangga. "Kamu telah menunjukkan semangat yang luar biasa selama OSPEK, Tul. Kamu aktif berpartisipasi dan selalu membantu teman-temanmu. Selamat atas kelulusan OSPEK-mu!"
Tenggara datang mendekat setelah upacara selesai, membawa sebuah bunga mawar putih sebagai hadiah. "Selamat ya, Khatulistiwa. Kamu telah melewati masa OSPEK dengan sangat baik. Aku tahu kamu akan menjadi mahasiswa yang luar biasa di fakultas ini."
"Terima kasih banyak, Tenggara," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. "Tanpa dukunganmu dan teman-teman panitia, aku tidak akan bisa menikmati OSPEK dengan begitu menyenangkan. Aku sudah tidak sabar untuk memulai perkuliahan sungguhan bersama kalian."
Mereka bersama teman-teman lainnya berfoto bersama sebagai kenang-kenangan dari pengalaman OSPEK yang penuh makna. Khatulistiwa merasa sangat bersyukur telah memilih Universitas Hasanuddin – dia tidak hanya mendapatkan pendidikan yang baik, namun juga menemukan keluarga baru yang hangat dan mendukung. Saat malam semakin larut dan mereka mulai pulang, dia tahu bahwa babak baru dalam hidupnya telah dimulai dengan cara yang indah.