Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.
Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.
Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan harinya, Arthur melangkah menuruni tangga menuju ruang makan. Seragam sekolah sudah melekat di tubuh pemuda itu, akan tetapi Arthur tak memakai dasi mau pun mengancingkan bajunya.
Dia membiarkan baju seragamnya begitu saja, dan memakai kaos oblong berwarna gelap sebagai dalaman. Pemuda itu berjalan menuju meja makan, yang berada di ruang tengah.
Dari kejauhan Arthur sudah melihat ayahnya, Gio dan juga Rahel duduk mengitari meja makan.
Arthur tersenyum getir saat melihat keluarganya tampak begitu bahagia tanpa kehadirannya, pemuda itu menarik kursi dari bawah meja dan duduk di kursi makan yang berada di sebelah Rahel, ibu tirinya.
"Papa bangga sama kamu, Gi. Selain jago di bidang akademik, kamu juga pandai di bidang non akademik." Puji Jeremi, ayah Arthur.
Tatapan pria paruh baya itu beralih ke arah putra sulungnya, "Kamu lihat adik kamu, Ar. Dia sangat berprestasi di sekolah, sedangkan kamu? apa yang bisa Papa banggakan dari diri kamu? seharusnya kamu bisa mencontoh adik mu, dia bisa melakukan semua hal baik di bidang akademik atau pun non akademik. Sedangkan kamu? cuma bisa keluyuran nggak jelas, Papa kecewa sama kamu, Ar."
"Bukannya Papa udah tau, nggak ada yang bisa Papa banggain dari aku, perasaan iba aja Papa nggak bisa ngasih sedikit pun sama aku, kenapa Papa masih berharap aku berubah?" balas Arthur sambil melempar senyum pahit ke arah sang ayah.
Dia sudah terbiasa di bandingkan dengan Gio, baginya itu bukan masalah. Dia tidak peduli mau ayahnya membandingkan dia sehari seribu kali, juga Arthur tak memperdulikannya.
Arthur bukanlah pemuda yang bodoh seperti sebutan yang sering Jeremi berikan pada putra sulungnya, pemuda itu merupakan siswa terpandai melebihi Gio di Akademi Edevane. Hanya saja, ayahnya tak mengetahui hal itu karena sibuk dengan prestasi dari Gio.
Bahkan, Jeremi tidak tahu jika Arthur sering mengharumkan nama sekolahnya di bidang olimpiade tingkat nasional. Arthur sendiri sudah malas mencari perhatian dari ayahnya, bertahun-tahun dia berusaha merebut kasih sayang ayahnya dari Gio namun yang dia dapat hanya pukulan dan bentakan yang tiada henti.
Arthur menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang hampir tumpah. Dia tahu betul bahwa semua usaha dan pencapaian yang dia raih selama ini akan selalu terabaikan.
Di mata ayahnya, Gio adalah bintang yang selalu bersinar, sementara dia hanyalah bayangan yang tak pernah di anggap kehadirannya.
Rahel, yang duduk di sebelahnya, merasakan ketegangan di udara. Dia menatap Arthur dengan penuh empati, tetapi dia memilih untuk tetap diam.
Dia tahu setiap kali suaminya membuka mulut itu hanya akan memperburuk keadaan keluarga mereka. Rahel berusaha menciptakan suasana yang lebih hangat dengan mengalihkan perhatian kepada Gio.
"Gio, bagaimana persiapanmu untuk lomba seni minggu depan?" tanya Rahel dengan senyum tulus.
Gio yang tampaknya tak menyadari ketegangan di antara mereka, menjawab dengan ceria. "Aku sudah latihan setiap hari, Ma! aku yakin bisa menang!"
Mendengar itu Jeremi tersenyum bangga, tetapi senyuman itu tampak semakin menyakitkan bagi Arthur. Dia merasa seperti seorang penonton dalam drama yang tidak pernah ingin dia ikuti, tetapi dia tak bisa menghindarinya.
"Bagus, nak! Papa yakin kamu bisa!" Jeremi menambahkan, tatapannya kembali beralih ke Arthur. "Ar, kamu seharusnya bisa belajar dari adikmu. Jangan terus-menerus terjebak dalam dunia yang nggak jelas. Cobalah untuk menemukan passion-mu."
Arthur menghela napas dalam-dalam. "Passion? apa yang bisa aku lakukan supaya Papa bangga, huh? apa aku harus berhenti jadi diri sendiri dan jadi seperti Gio?" suaranya bergetar, tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan di hadapan keluarganya.
Jeremi mendengus, terlihat jengkel. "Kalau kamu nggak mau berusaha, kamu akan terus berada di tempat ini selamanya. Jangan salahkan Papa kalau kamu nggak mendapatkan apa-apa."
Arthur merasa hatinya terbelah. Dia tahu, di dalam dirinya, ada potensi yang belum tergali. Namun, semua itu terasa sia-sia ketika dia terus-menerus dibandingkan dengan Gio.
Dia ingin berteriak, ingin melepaskan semua beban yang selama ini dia pikul. Namun, dalam situasi seperti ini, dia hanya bisa menutup mulutnya dan menahan segala rasa sakit yang ada.
Setelah beberapa saat hening, Arthur bangkit dari kursi. "Aku pergi," katanya pelan, sebelum melangkah pergi dari meja makan, meninggalkan tawa dan kebahagiaan keluarganya di belakang.
Dia tidak tahu ke mana arah langkahnya, tetapi satu hal yang pasti, dia butuh gadisnya saat ini. Dia merindukan gadis bar-bar, yang belakangan ini selalu mengusik pikiran dan hatinya.
"Gue butuh Seyra," gumamnya tanpa sadar.