Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
—Inspired by a true story. Some feelings never really leave, they just become stories.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 - Pesan yang Terlambat
...“Ada yang selesai malam itu. Bukan karena tidak cinta, tapi karena sudah cukup.”...
Happy Reading!
...----------------...
Raven baru saja keluar dari rumah ketika langkahnya melambat tanpa ia sadari.
Perjalanan pulang dari Balikpapan bersama keluarganya beberapa saat lalu masih menyisakan lelah yang menempel di tubuhnya.
Raven sebenarnya hanya ingin keluar sebentar—membeli sesuatu di warung dekat kompleks, sekadar mencari udara segar setelah perjalanan panjang. Karena jaraknya tidak jauh, ia bahkan tidak mengenakan helm. Hanya membawa kunci motor dan ponsel di saku.
Namun, beberapa menit lalu, sesuatu membuat pikirannya berhenti di tengah jalan.
Motor yang berpapasan dengannya.
Wajah yang terlalu ia kenal bahkan dalam tatapan sekilas. Rambut yang sedikit keluar dari helmnya. Cara ia duduk kaku di jok belakang.
Shaira.
Raven yakin tidak salah lihat. Ia bahkan sempat melihat mata itu. Mata yang dulu selalu menatapnya lebih lama dari yang diperlukan.
Untuk sepersekian detik, tangannya refleks ingin menarik rem. Tapi motor di belakangnya membunyikan klakson pelan, dan momen itu terlewat begitu saja.
Motor Raven melaju lebih pelan dari biasanya saat kembali memasuki halaman rumah. Pikirannya dipenuhi banyak kemungkinan yang datang bersamaan, membuat dadanya terasa sedikit sesak oleh pertanyaan yang tidak sempat ia tanyakan.
Kenapa Shaira dan Nara ada di sekitar rumahnya?
Ia bahkan tidak sempat memproses kejadian itu dengan benar. Semua berlangsung terlalu cepat. Hanya selisih beberapa detik, lalu mereka sudah menghilang di belakangnya bersama motor yang terus menjauh.
Raven memarkir motornya dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Tangannya sempat terdiam di setang, seolah tubuhnya masih tertinggal di momen singkat itu.
Raven melepaskan sandal dengan gerakan lebih lambat dari biasanya. Ia berdiri sebentar di teras, seperti mencoba meninggalkan sesuatu di luar sebelum benar-benar masuk.
Saat pintu terbuka, kakaknya sudah berdiri di ruang tamu, bersandar santai di sofa sambil memegang sebuah kotak berbungkus kertas kado.
“Baru pulang?” tanya kakaknya ringan, seolah tidak ada hal istimewa yang terjadi.
“Iya,” jawab Raven singkat, masih berusaha menenangkan pikirannya yang belum sepenuhnya kembali.
Kakaknya mengangkat kotak itu sedikit. “Ini ada titipan.”
Raven mengernyit pelan. “Titipan siapa?”
“Tadi Shaira yang nganter,” katanya santai.
Nama itu langsung membuat Raven terdiam.
“Tapi…” kakaknya melanjutkan sambil menyerahkan kotak itu, “dia bilang jangan kasih tau lo kalau ini dari dia.”
Raven menatap kakaknya, kaget tipis. “Kenapa?”
Kakaknya mengangkat bahu. “Dia cuma bilang mau ngucapin ulang tahun aja. Jangan lo pikir aneh-aneh.”
Raven tidak langsung menjawab. Tangannya terasa sedikit kaku saat menerima kotak itu. Jarinya menyentuh permukaan kertas kado yang tidak terlalu rapi.
Sudut lipatannya sedikit miring. Selotipnya terlihat dipasang berulang kali. Ujung jarinya tanpa sadar merapikan salah satu sudut yang terangkat, seperti mencoba memperbaiki sesuatu yang sudah lewat.
Entah kenapa… justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.
“Dia datang bareng temennya,” tambah kakaknya, nadanya masih ringan.
Raven menunduk sebentar.
“Oh ya,” kakaknya menepuk pundaknya pelan sebelum berjalan menjauh, “dia kelihatan gugup… tapi tetap memaksa tersenyum. Baik banget anaknya.”
Langkah kakaknya menghilang ke arah dapur, meninggalkan Raven berdiri sendiri di ruang tamu.
Sunyi.
Raven menatap kado itu lama. Seolah sedang menimbang apakah ia siap membuka sesuatu yang ia tahu akan membawa banyak kenangan kembali.
Ia duduk di sofa. Menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka bungkusnya dengan hati-hati, berusaha menjaga agar kertasnya tidak terlalu sobek.
Di dalamnya, ada baju koko.
Raven menelan ludah pelan sebelum membentangkan baju itu sepenuhnya, napasnya terasa lebih berat dari yang ia sadari.
Ia mengangkatnya sedikit, membiarkan kainnya jatuh mengikuti gravitasi. Sejenak, ia membayangkan dirinya berdiri di depan cermin mengenakannya.
Raven memperhatikan baju koko pemberian Shaira dengan seksama. Kainnya halus. Warnanya lembut. Modelnya sederhana—persis seperti hal-hal yang biasanya ia pilih.
Ia menatap baju itu lama sekali.
Di dalam kotak hanya ada kartu kecil berisi ucapan ulang tahun. Tidak ada nama. Tidak ada tanda siapa pengirimnya.
Tapi Raven tidak butuh itu.
Ia bersandar ke sofa, memegang baju itu di pangkuannya. Ingatannya perlahan bergerak mundur—ke banyak momen kecil bersama Shaira. Tawa yang tiba-tiba. Obrolan yang tidak penting tapi selalu terasa cukup. Cara Shaira sering memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah ia sadari.
Dan tiba-tiba, perasaan bersalah menyelinap tanpa diundang. Ia menunduk, mengusap wajah pelan.
“Sha…” gumamnya hampir tak terdengar.
Ia tahu hadiah ini bukan sekadar kado ulang tahun.
Ada sesuatu yang ingin disampaikan di dalamnya. Sesuatu yang tidak diucapkan langsung, tapi terasa jelas.
Ucapan terima kasih.
Perpisahan yang baik.
Atau mungkin… keduanya sekaligus.
Raven meraih ponselnya. Ia menatap layar cukup lama sebelum membuka ruang chat yang sudah lama tidak ia isi.
Jarinya sempat berhenti beberapa kali di atas keyboard. Banyak kalimat muncul di kepalanya, tapi tidak satu pun terasa benar-benar cukup.
Akhirnya, ia mengetik perlahan.
Raven ingin menjelaskan banyak hal. Tentang kenapa semuanya berakhir seperti ini. Tapi semakin ia pikirkan, semakin ia sadar—tidak ada kalimat yang bisa mengubah apa pun.
Raven mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Hingga akhirnya, tanpa membaca ulang terlalu lama, ia menekan tombol kirim—seolah takut berubah pikiran.
Setelah itu, ia meletakkan ponselnya di samping. Menatap baju koko yang masih ada di pangkuannya. Ia tahu, suatu hari ia akan memakainya. Dan mungkin setiap kali itu terjadi, ia akan teringat pada seseorang yang pernah mendoakannya diam-diam.
Untuk pertama kalinya malam itu, Raven merasa sesuatu benar-benar selesai.
Dan anehnya, justru karena itulah kenangan tentang Shaira terasa semakin hidup—seolah tidak pernah benar-benar pergi.
...----------------...
Malam itu, ketika Shaira sudah berada di rumah, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari Raven.
Tangannya sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membuka layar. Ada rasa gugup yang datang tiba-tiba, seperti perasaan yang selama ini berusaha ia simpan baik-baik, tetapi tetap menemukan jalan untuk muncul kembali.
Pesan pertama terbuka.
“Hai, makasih banyak ya buat kadonya.”
Dada Shaira langsung terasa penuh. Kalimat sederhana itu terasa membawa begitu banyak hal yang tidak diucapkan.
Tak lama, pesan berikutnya muncul.
“Maaf nggak sempat ucapin, happy late birthday, Sha.”
Tatapan Shaira terpaku pada layar ponsel. Ia membaca kalimat itu berulang kali, merasakan kehangatan kecil yang datang bersamaan dengan perih yang sulit dijelaskan.
Beberapa detik kemudian, pesan terakhir muncul.
“I don’t know what to say to you… but i hope you will find someone better than me.”
“Sukses ya, Sha.”
Shaira menatap pesan itu lama. Jarinya sempat mengetik satu kata: “Makasih.”
Lalu dihapus sebelum benar-benar terkirim. Ia membalikkan ponselnya, menaruhnya dengan layar menghadap kasur—seolah dengan begitu pesan itu tidak benar-benar ada.
Shaira menggigit bagian dalam pipinya pelan, menahan sesuatu yang nyaris pecah sebelum akhirnya ia menghembuskan napas panjang.
Tidak ada tangis. Tidak ada amarah yang meluap. Hanya perasaan kosong yang terasa aneh—seperti membaca kalimat penutup dari sebuah cerita yang sebenarnya belum siap ia tamatkan.
Shaira kemudian meletakkan ponselnya di samping bantal. Tatapannya beralih ke langit-langit kamar yang gelap, membiarkan pikirannya berkelana tanpa arah yang jelas.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Shaira benar-benar memahami satu hal.
Kadang, perpisahan tidak datang dengan pertengkaran. Tidak pula dengan kata-kata besar yang dramatis.
Kadang, perpisahan hadir dalam bentuk kado yang dikirim diam-diam… dan ucapan terima kasih yang perlahan berubah menjadi salam terakhir.
...----------------...
...Raven — Tidak semua yang berakhir harus hilang....
hai kak aku mampir lagi...🤗
Senyum" sndiri ak baca nya🙏😍
iya ga si..?
Ngerti brrti ya🙏😍
Cm.. ini masih awal, masih blm kenal lama, Shaira wajar kn bilng takut..🙏
Aku sndiri aja takut🙏😌
Raven?..
masih bingung plih yg mna😭
Dari awal Alden komunikasi sm Shaira, spertinya tipe cwok soft spoken?🙏❤
Btw, Cieee doi akhirnya muncull😌
tapi sangat cukup nyesek buatku,
serius.. bener" nyesek in dada..?
kenapa ya😭
huaa sakit ini dada😭
serius sumpah😭
ak nangis.. hha.. nyesek😭
Ngebayangin shaira pegang fto nya, trus bilng gitu..🙏😭
Doi baru shaira masih mistery/Slight/