Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.
Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.
Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 225
Kuburan Bintang Kuno.
Di wilayah pinggiran alam semesta yang sunyi, terdapat sabuk asteroid raksasa yang dipenuhi bangkai kapal perang kuno dan pecahan planet mati. Kabut yang pekat menyelimuti area ini, mengacaukan Indera Dewa siapa pun yang mencoba memindai dari jarak jauh.
Di balik bangkai tulang rusuk seekor Binatang Void raksasa yang mengambang, sebuah kapal merah tua bersembunyi.
Bahtera Teratai Merah.
Di dalam ruang meditasi utama kapal, Shi Hao duduk bersila. Napasnya teratur, namun setiap hembusan napasnya mengeluarkan uap panas yang mampu melelehkan besi.
Satu bulan telah berlalu sejak pelarian dramatis mereka dari Planet Arena. Luka fisik Shi Hao telah sembuh, namun fondasi kultivasinya yang melonjak paksa ke Dewa Sejati Tahap Menengah masih perlu distabilkan.
Di hadapannya, melayang sebuah cincin penyimpanan berwarna emas murni dengan ukiran matahari.
Cincin milik Pangeran Jin.
"Segel Jiwa Raja Dewa..." gumam Shi Hao, menatap lapisan energi emas yang melindungi cincin itu.
Meskipun pemiliknya sudah mati, sisa kehendak ayahnya Kaisar Gagak Emas masih melekat di sana, mencegah siapa pun membukanya. Jika kultivator biasa mencoba memaksanya, cincin ini akan meledak dan menghancurkan isinya.
"Wuming," panggil Shi Hao tanpa menoleh.
Di sudut ruangan, Wuming (Sang Pendekar Dewa Sejati) membuka matanya. Pedang meteorit di pangkuannya bergetar pelan.
"Saya di sini, Tuan."
"Pinjamkan Niat Pedang-mu. Kita akan membedah segel ini bersama."
Wuming mengangguk. Dia mengarahkan dua jari ke depan. Sebilah Qi Pedang yang sangat tipis dan tajam melesat, menekan titik lemah pada segel emas itu.
Di saat yang sama, Shi Hao melepaskan Api Nirwana dan Aura Naga-nya.
"Hancur!"
KRAK!
Terdengar jeritan samar seekor gagak yang sekarat saat segel itu pecah. Sisa kehendak Kaisar Gagak Emas lenyap ditelan oleh dominasi aura Shi Hao.
Cincin itu terbuka.
Gunungan harta karun tumpah keluar, memenuhi ruangan meditasi yang luas itu. Cahaya menyilaukan dari ribuan artefak dan batu roh membuat ruangan itu terang benderang seperti siang hari.
Shi Hao menyapu pandangannya dengan Indera Dewa, memilah sampah dari emas.
"Kaya raya," komentar Shi Hao datar, meski sudut bibirnya sedikit terangkat.
Isi cincin itu setara dengan kekayaan sebuah sekte tingkat menengah selama seribu tahun:
50 Juta Kristal Dewa Murni: Mata uang kultivasi tingkat tinggi. Cukup untuk membiayai perjalanan Bahtera Teratai Merah selama sepuluh tahun tanpa henti.
Ribuan Botol Pil Roh: Mulai dari Pil Penyembuh Surga, Pil Pembersih Sumsum, hingga Pil Penenang Jiwa.
Koleksi Artefak: Puluhan senjata tingkat Kesengsaraan Besar dan beberapa bahan tempa tingkat Dewa.
Namun, mata Shi Hao tidak tergoda oleh tumpukan itu. Dia mencari sesuatu yang spesifik. Sesuatu yang menjadi sumber kekuatan Pangeran Jin.
Tangannya bergerak, menarik sebuah kotak giok merah dari tumpukan harta itu.
Kotak itu panas sekali. Bahkan sebelum dibuka, suhu ruangan naik drastis.
Shi Hao membuka tutupnya.
Di dalamnya, tidak ada pil atau senjata. Hanya ada sebutir bola api kecil seukuran kelereng yang berdenyut seperti jantung. Warnanya bukan emas, melainkan Putih Kebiruan.
Benih Api Sembilan Yang (Nine Yang True Fire Seed).
"Ini dia..." mata Shi Hao berbinar.
Ini adalah esensi murni dari Matahari Inti yang dipadatkan. Benda inilah yang memungkinkan Pangeran Jin memanggil wujud Gagak Emas dan memanipulasi api setingkat Dewa.
"Tuan," kata Wuming dengan nada khawatir. "Energi Yang di dalam benda itu terlalu ekstrem. Tubuh Tuan memiliki basis Naga Kekacauan dan teknik pedang Asura yang cenderung bersifat Yin dan Dingin. Jika Tuan menelannya, keseimbangan tubuh Tuan bisa hancur."
Shi Hao tersenyum tipis. Dia mengambil bola api itu dengan tangan kosong. Kulitnya mendesis.
"Kau benar, Wuming. Yin dan Yang saling bertolak belakang."
"Tapi dalam Dao Sejati... Yin dan Yang adalah satu kesatuan."
Shi Hao menatap bola api itu.
"Asura adalah Kematian (Yin). Naga adalah Kehidupan (Yang). Tapi Naga-ku belum sempurna. Aku membutuhkan api ini untuk menempa Tubuh Naga Matahari."
"Dengan ini, aku tidak hanya akan menstabilkan kultivasiku... tapi aku akan melangkah lebih jauh."
Shi Hao memasukkan Benih Api itu langsung ke dalam mulutnya dan menelannya.
GLUK.
Seketika, tubuh Shi Hao berubah menjadi merah membara. Pakaian bagian atasnya terbakar habis menjadi abu.
"ARGHHH!" Shi Hao menggeram menahan sakit. Rasanya seperti menelan matahari hidup-hidup.
Wuming segera bangkit, menciptakan formasi pedang di sekitar Shi Hao untuk mencegah energinya bocor dan menghancurkan kapal.
"Kalian bertiga! Masuk!" teriak Wuming lewat transmisi suara.
Tie Shan, Shu Ling, dan Luo Tian bergegas masuk ke ruangan.
"Duduk di tiga sudut! Bantu tekan aura Tuan Feng! Jangan biarkan apinya meledakkan kapal ini!" perintah Wuming.
Ketiganya segera duduk bersila. Tie Shan menyalurkan Qi Tanah yang berat, Shu Ling menggunakan Qi Bayangan untuk meredam cahaya, dan Luo Tian menggunakan Qi Mental untuk menjaga kesadaran Shi Hao.
Selama tiga hari tiga malam, Bahtera Teratai Merah bergetar hebat di tengah tumpukan sampah antariksa itu.
Tiga Hari Kemudian.
Getaran berhenti. Suhu ruangan kembali normal.
Shi Hao membuka matanya.
Tidak ada lagi aura yang meledak-ledak. Aura Shi Hao kini menjadi sangat tenang, seperti lautan dalam.
Namun, jika dilihat lebih dekat, di dalam pupil mata emasnya, kini terdapat cincin api putih yang berputar pelan. Dan di kulitnya, samar-samar terlihat pola sisik naga yang memiliki urat-urat emas menyala.
Dia telah berhasil. Dia menyatukan Api Matahari ke dalam fondasi Naganya.
Dewa Sejati (Tahap Menengah) - Puncak.
Shi Hao menghembuskan napas, dan sepercik api putih keluar dari hidungnya, membakar lantai logam di depannya hingga berlubang.
"Kekuatan yang mengerikan," puji Wuming, mengusap keringat di dahinya. "Selamat, Tuan."
Shi Hao berdiri, meregangkan ototnya. Tulang-tulangnya berbunyi seperti letusan petir.
"Terima kasih atas bantuannya."
Shi Hao kemudian melihat sisa harta di lantai.
"Tie Shan," panggil Shi Hao.
"Ya, Tuan!"
"Ambil Zirah Gunung Bintang itu. Itu terbuat dari inti planet. Cocok untuk pertahananmu. Mulai sekarang, kau adalah benteng berjalan kami."
Tie Shan mengambil zirah berat berwarna hitam itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Tuan!"
"Shu Ling, ambil Jubah Kabut Hampa dan sepasang Belati Taring Naga itu. Jubah itu bisa membuatmu tak terlihat bahkan oleh Dewa Sejati, dan belati itu mengandung racun korosif."
Shu Ling bersorak kegirangan, langsung mengenakan jubah itu dan menghilang dari pandangan.
"Luo Tian," Shi Hao melempar sebuah gulungan kitab kuno dan sebotol pil berwarna ungu.
"Kitab Mata Surga dan Pil Pemurni Jiwa. Perkuat pondasi mentalmu. Panah Pembunuh Dewa itu memakan banyak energi jiwa, kau harus lebih efisien."
Luo Tian menangkapnya dengan hormat. "Saya tidak akan mengecewakan Tuan."
"Dan untukmu, Wuming..." Shi Hao menendang sebuah kotak panjang ke arah pendekar tua itu.
Wuming menangkapnya. Dia membukanya sedikit, dan matanya melebar.
Sebilah pedang. Bukan logam, tapi kristal transparan yang memancarkan hawa dingin.
"Pedang Jiwa Es. Itu peninggalan seorang Raja Dewa kuno dari sektor utara. Sifat dinginnya akan menyeimbangkan api di tubuh barumu."
Wuming membungkuk dalam-dalam. "Pedang yang luar biasa."
Shi Hao berjalan menuju jendela kapal, menatap kegelapan luar angkasa.
"Nana di mana?" tanya Shi Hao.
"Nona Kecil sedang di ruang kemudi, mempelajari Peta Bintang Kuno yang Tuan dapatkan," jawab Shu Ling (suaranya terdengar dari udara kosong). "Dia bilang ada di rute depan."
Shi Hao mengangguk.
"Ayo kita lihat. Sudah waktunya kita bergerak. Tempat sampah ini mulai membosankan."
Namun, baru saja Shi Hao melangkah keluar pintu...
Sebuah lempengan giok komunikasi (Jade Slip) yang tergeletak di antara sisa harta Pangeran Jin tiba-tiba bergetar dan menyala merah.
Suara dingin dan penuh wibawa suara Kaisar Gagak Emas keluar dari lempengan itu, seolah-olah dia sedang berbicara langsung di ruangan itu.
"Aku merasakan apiku..."
"Kau memakan warisan anakku, Pencuri."
"Nikmatilah kekuatan itu selagi bisa. Karena itu akan menjadi suar yang menuntunku padamu."
PRANG!
Lempengan giok itu meledak.
Shi Hao menepis debu ledakan itu dari wajahnya. Wajahnya tidak takut, justru menantang.
"Dia melacak apinya," kata Wuming tegang. "Tuan, dengan menyerap api itu, Tuan baru saja memberinya lokasi kita."
"Aku tahu," Shi Hao menyeringai.
"Kalau dia tidak tahu di mana kita, pengejaran ini tidak akan seru, kan?"
Shi Hao berjalan cepat menuju ruang kemudi.
"Kita akan bermain kejar-kejaran dengan Dewa Raja!"
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛