Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema diantara Uang dan Perasaan
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Syren. Langit masih remang-remang, memberikan kesan sepi yang mendukung aksi "pulang diam-diam" mereka.
Syren segera turun dari mobil dengan langkah gesit. "Makasih Pak Bosss! Emmm, nanti nggak usah dijemput ya. Saya berangkat sama Gaby aja," seru Syren sambil merapikan cardigannya.
Syren memutuskan bareng Gaby karena motor Scoopy kesayangannya masih "ditahan" kantor alias masih di bengkel untuk perbaikan setelah insiden sebelumnya. Lagipula, ia tidak mau tetangga atau Ardi curiga kalau setiap pagi mobil mewah Julian parkir terus di depan rumahnya.
Julian hanya menatapnya datar dari kursi kemudi. "Terserah. Yang penting kamu jangan terlambat," jawabnya mutlak sebelum melajukan mobilnya pergi dari sana.
Syren menghela napas lega dan langsung menyelinap masuk ke rumah. Baru saja ia membuka pintu, sosok Ardi sudah berdiri di sana dengan mata mengantuk tapi bibir yang siap menggoda.
"Wih, jam segini baru pulang, Mbak? Gaby jemputnya pake mobil mewah yang suaranya mirip mobil Om Julian ya?" sindir Ardi sambil menengadahkan tangan, menagih janji uang tutup mulut lima ratus ribu rupiah.
Syren mendelik. "Diem lo! Mandi sana, bentar lagi gue transfer!"
Syren bener-bener harus sedia saldo buat nyumpel mulut Ardi! Sekarang ia punya waktu singkat buat mandi dan siap-siap sebelum Gaby datang menjemput.
"Gue mau mandi. Oh ya, nanti bilang Lea, mau Mbak ajak jalan-jalan sama lo juga," seru Syren sebelum masuk ke kamar mandi.
"Wihhh siapppp laksanakan! Gitu dong, Mbak, dapet rezeki harus bagi-bagi!" jawab Ardi semangat sembari membayangkan traktiran kakaknya nanti malam.
Syren pun bergegas ke kamarnya dan mandi secepat kilat. Lima belas menit kemudian, Syren selesai mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, tiba-tiba pikiran konyol melintas di otaknya.
"Astaga... gue ini udah nggak perawan ya berarti? Gila, masak gue udah dilihatin Pak Bos tanpa apa-apa!" gumam Syren panik sendiri. Ia mengingat kembali insiden "unboxing" tidak sengaja di kamar mandi kantor itu. Syren pun bergidik ngeri, membayangkan tatapan Julian yang sulit diartikan tempo hari. "Duh, hancur sudah harga diri gue di depan si Bos Peot!"
Syren segera membuka lemari pakaiannya, berusaha mengalihkan pikiran mesumnya itu. Ia memilih baju putih yang dipadukan dengan cardigan berwarna oranye cerah agar suasana hatinya ikut segar, serta celana coklat yang serasi. Hari ini ia ingin tampil ceria, apalagi uang 15 juta sudah aman di kantong.
Telolet!
Suara klakson motor Gaby terdengar dari depan rumah. Syren buru-buru menyambar tasnya dan memakai parfum dengan barbar.
"Mbak, mana duitnya!" tagih Ardi saat Syren melewati ruang tamu.
"Sabar! Gue transfer pas di kantor!" teriak Syren sambil berlari keluar rumah. Di sana, Gaby sudah menunggu dengan helm yang masih terpasang, siap melakukan interogasi besar-besaran soal "permainan" semalam.
Gaby sudah siap interogasi! Syren harus menyiapkan jawaban yang masuk akal biar Gaby nggak mikir macem-macem soal lembur "bermain" bareng Julian
di kantor semalam.
"Halo By, makasih udah mau jemput gue," sapa Syren sembari memakai helmnya.
"Udah naik, Ren!" sahut Gaby singkat, fokus memanaskan mesin motornya.
"Iya, iya," jawab Syren. Ia merasa lega dirinya tidak langsung diinterogasi Gaby saat baru bertemu. Syren pikir sahabatnya itu sudah melupakan ucapan "bermain" Julian semalam. Namun, dugaannya salah besar.
Begitu motor melaju membelah jalanan, Gaby langsung membuka suara dengan lantang. "We Ren! Lo beneran main sama Pak Julian? Lo main ranjang, ya?"
"Uhukkk!" Syren tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk-batuk. "Anjir lo peol apa gimana sih? Ya kagak lah, Gaby! Gue... gue itu cuma lembur!" serunya sembari memukul pundak Gaby karena kesal ditanya hal sevulgar itu di atas motor.
"Halah, tapi suara Pak Bos semalam itu mencurigakan banget tahu nggak! 'Jangan coba mengganggu' katanya. Kayak lagi ada adegan panas aja!" goda Gaby lagi, membuat wajah Syren yang dibalut cardigan oranye itu semakin merah padam.
"Diem lo, By! Pak Bos emang mulutnya perlu disekolahin. Dia cuma mau ngerjain gue biar nggak bisa main bareng lo sama Ardi!" bela Syren habis-habisan.
Gaby tertawa kencang, suaranya bersaing dengan deru mesin motor. "Ya udah, tapi awas ya kalau nanti tiba-tiba lo jadi Nyonya Aldrin tanpa kabar-kabar ke gue!"
Syren benar-benar harus bersabar menghadapi otak Gaby yang sudah terkontaminasi ucapan ambigu Julian semalam.
Akhirnya mereka sampai di kantor. Tak lama kemudian, Leo pun datang dengan setelan rapinya yang biasa.
"Pagi, Nona-nona," sapa Leo ramah sembari merapikan jam tangannya.
"Pagi, Pak Leo," jawab Syren dengan nada sopan. Berbeda jauh dengan Syren, Gaby malah nyelonong masuk begitu saja tanpa menjawab salam sedikit pun, seolah-olah Leo itu makhluk halus yang tidak kasat mata.
Syren meringis tidak enak hati melihat kelakuan sahabatnya. "Hehe... maaf ya Pak Leo, tuh bocah emang kayak gitu dari lahir kali," ucap Syren berusaha membela Gaby.
"Nggak apa-apa, Syren. Sebelum kamu bekerja di sini, memang Gaby seperti itu. Nyebelin jadi orang," sahut Leo sembari menghela napas panjang, tampak sudah kebal dengan sikap ketus Gaby.
"Ya ampun Pak Leo... ya sudah, mari Pak," ucap Syren hendak melangkah menuju mejanya.
"Eh, eh, tunggu dulu!" sela Leo cepat, menghentikan langkah Syren.
"Kenapa, Pak?" tanya Syren bingung.
"Emm... tadi Pak Julian bilang hari ini nggak masuk. Badannya drop, katanya nggak enak badan," ucap Leo dengan raut wajah sedikit khawatir.
Syren seketika mematung. Nggak enak badan? Gara-gara tidur di kursi semalam demi jagain gue di kamar? batin Syren merasa bersalah sekaligus cemas. Bayangan Julian yang tertidur kaku di kursi kayu semalam langsung terlintas di pikirannya.
"Ya ampun, semoga cepat sembuh ya Pak Leo. Permisi," ucap Syren sembari melangkah lemas menuju mejanya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba mampir di dadanya.
Syren pun akhirnya duduk di bangkunya dengan wajah yang tidak lagi ceria seperti saat berangkat tadi. Ia menaruh tasnya perlahan, lalu menoleh ke arah sahabatnya.
"By... Pak Bos gue sakit," bisik Syren dengan nada bersalah.
Gaby yang tadinya sibuk menyalakan komputer langsung menoleh cepat. "Hah? Sakit apaan? Perasaan semalem masih segar bugar bisa nelfon gue pake suara berat gitu!"
"Kayaknya gara-gara semalem, By," Syren menunduk, memainkan ujung cardigannya. "Dia tidur di kursi kayu semalaman gara-gara gue pake kasurnya. Pasti badannya pegel-pegel terus masuk angin."
Gaby melongo, lalu menyeringai jahil. "Cieee... yang ngerasa bersalah! Tadi katanya benci sama Bos Peot, sekarang kok mukanya kayak ayam sayur denger dia sakit?"
"Bukan gitu, By! Gue kan jadi nggak enak. Mana dia udah transfer lima belas juta lagi," gumam Syren. Pikirannya sekarang terbagi antara rencana belanja mewah atau pergi menjenguk si Bos Peot yang sedang terkapar.
Syren dilanda dilema! Uang di tangan, tapi hati di rumah Julian.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui