Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Redaksi Di TPU Jeruk Purut
Slamet tidak pernah menyangka bahwa perjalanan dinas pertamanya akan dilakukan di atas motor gede yang tidak memiliki suara mesin, melainkan suara rintihan pelan setiap kali digas. Pria jaket kulit itu yang kemudian memperkenalkan diri sebagai 'Adit', sang Auditor Ghaib membawa Slamet membelah kemacetan Jakarta dengan cara yang ilegal bagi hukum fisika: menembus badan bus TransJakarta.
"Pak! Tolong lah, jantung saya masih ori, jangan diajak tembus-tembusan begini!" teriak Slamet sambil merem melek.
"Diam kamu. Kita sudah telat. Nyi Blorong kalau nunggu kelamaan suka makan meja, harfiah," jawab Adit dingin.
Mereka berhenti di depan gerbang TPU Jeruk Purut. Alih-alih masuk ke area makam yang gelap, Adit menempelkan kartu ID-nya ke sebuah pohon kamboja tua. Seketika, batang pohon itu bergeser, menampakkan lift kaca super mewah yang turun jauh ke bawah tanah.
Slamet melongo. Di bawah sana, bukan liat kubur, melainkan sebuah kantor open-space yang sangat modern. Ada meja-meja ergonomis, pantry dengan kopi mahal, dan bean bag. Bedanya, yang duduk di bean bag adalah sesosok Wewe Gombel yang sedang asyik membalas email di MacBook Pro.
"Selamat datang di Kantor Pusat K.MN Regional Barat," kata Adit sambil menggiring Slamet menuju sebuah ruangan bertuliskan 'DIRECTOR ROOM'.
Di dalam ruangan, aroma melati menyeruak kuat, mengalahkan wangi pengharum ruangan elektrik. Di balik meja marmer hitam, duduklah seorang wanita cantik dengan kebaya hijau zamrud yang berkilau. Bagian bawahnya memang tertutup meja, tapi Slamet bisa mendengar suara sisik yang bergesekan. Itulah Nyi Blorong, sang Direktur Utama.
"Jadi, ini manusia yang bikin Kunti Sari viral?" suara Nyi Blorong halus tapi berwibawa, seperti suara GPS yang kalau kamu salah jalan, dia bisa mengutukmu jadi batu.
Slamet mengangguk kaku. "Iya, Bu... eh, Nyai. Saya Slamet, Konsultan Estetika dadakan."
Nyi Blorong melemparkan sebuah file hologram ke udara. Isinya adalah data statistik ketakutan manusia tahun 2026. Grafiknya merosot tajam, hampir menyentuh tanah.
"Liat ini, Met. Manusia zaman sekarang sudah terlalu berani. Mereka masuk ke bangunan angker bukan untuk takut, tapi untuk uji nyali demi konten YouTube. Kemarin, ada tim pemburu hantu yang malah berani-beraninya pasang iklan judi online di dahi Genderuwo kami yang lagi tidur. Ini krisis identitas!" Nyi Blorong memukul meja dengan pelan, tapi getarannya membuat Slamet hampir jatuh dari kursi.
"Saya butuh strategi besar," lanjut Nyai. "Bulan depan ada pemilihan Ketua Umum Alam Baka. Saya harus menang melawan kandidat dari sekte 'Hantu Modernist' yang mau mengganti semua hantu lokal dengan hantu impor kayak Pennywise atau Valak. Saya mau kamu bikin kampanye: 'Hantu Lokal, Takutnya Internasional'."
Slamet menelan ludah. "Tugas saya persisnya apa, Nyai?"
"Rebranding total. Saya mau semua hantu di bawah naungan K.MN punya akun media sosial yang terverifikasi. Saya mau mereka punya pengaruh. Dan yang paling penting... saya mau kamu bikin 'Aksi Menakuti Serentak' yang bisa bikin satu Jakarta nggak bisa tidur semalaman, tapi dengan cara yang elegan, bukan cara kampungan yang cuma lempar-lempar panci di dapur."
Slamet berpikir sejenak. Otaknya yang biasa dipakai buat menghitung bunga pinjol mulai bekerja. "Nyai, masalahnya bukan di hantunya. Masalahnya di target pasarnya. Manusia sekarang itu takutnya cuma dua: Takut miskin sama takut ketinggalan tren (FOMO). Kalau kita mau mereka takut lagi, kita jangan nakutin fisiknya. Kita takut tin psikologisnya."
Nyi Blorong mencondongkan tubuh, tertarik. "Contohnya?"
"Misal, kita bikin Pocong yang muncul bukan di pohon pisang, tapi muncul di filter Instagram. Pas orang lagi selfie cantik, tiba-tiba di belakangnya ada Pocong yang ikutan pose. Terus, Pocongnya kirim pesan DM: 'Filter kamu kurang smooth, mau saya ajarin pake kafan?' Itu bakal bikin mereka parno seumur hidup setiap kali pegang HP."
Ruangan hening sejenak. Adit sang auditor menaikkan kacamatanya. Nyi Blorong kemudian tersenyum tipis sebuah senyuman yang cantik sekaligus mengerikan.
"Brilian. Kamu memang licik seperti manusia pada umumnya," puji Nyai. "Adit, berikan Slamet akses ke 'Gudang Pusaka Digital'. Biarkan dia pilih alat yang dia butuhin."
Slamet baru saja mau bernapas lega, sampai Nyi Blorong menambahkan, "Tapi ingat, Met. Kalau dalam satu minggu grafik ketakutan nggak naik, kontrak kamu berubah. Bukan lagi jadi Admin, tapi jadi pengganti ayam cemani buat makan siang saya. Paham?"
Slamet mengangguk cepat seolah kepalanya punya pegas. "Paham, Nyai! Paham banget!"
Saat keluar dari ruangan, Slamet hampir menabrak seorang tuyul yang sedang membawa tumpukan dokumen. Tuyul itu memakai hoodie branded dan sneaker mini.
"Woi, liat-liat dong, Manusia!" sentak si Tuyul.
"Eh, maaf, Dek," jawab Slamet. "Kamu tuyul angkatan berapa?"
"Gue 'Financial Advisor' di sini, ya! Jangan panggil dek-dek, gue udah hidup dari zaman kompeni!" tuyul itu berlalu sambil sibuk main saham di HP-nya.
Slamet bersandar di dinding lift. Dia sadar, dunianya sudah berubah total. Dia kini terjebak di antara bos yang bisa menelannya bulat-bulat, rekan kerja hantu yang lebih tech-savvy darinya, dan utang pinjol yang masih menghantui.
"Gue rasa," gumam Slamet sambil melihat logo biru di tangannya, "Mending dikejar debt collector manusia daripada dikejar deadline dari Nyi Blorong."
Slamet pun mulai menyusun rencana. Project pertama: 'Pocong Goes to Metaverse'. Dia harus membuktikan bahwa hantu lokal masih punya taring di dunia digital, atau dia akan berakhir menjadi menu prasmanan di pesta alam ghaib.