Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. DPR (di bawah pohon rindang)
"Cukup!" Ia benar-benar merasa malu dan merasa harga dirinya jatuh karena baru saja bercinta di bawah pohon rindang.
Mahesa merapikan pakaiannya dan kembali ke kursi kemudi. "Ayo, pindah ke sini, Bianca. Jangan duduk di belakang, aku bukan sopirmu."
"Iya, sebentar. Ayo cepat pergi dari sini sebelum ada warga lokal yang memergoki kita."
"Tenang saja, Lora sedang bekerja menutup keberadaan kita dengan ilusi kabut. Tapi itu memang tidak bisa bertahan terlalu lama. Sekarang, aku akan mengajakmu ke galeri seni."
Di perjalanan, Bianca menatap jalanan yang lengang. Suasananya benar-benar damai, jauh berbeda dari hiruk pikuk Canggu yang biasanya selalu macet dan bising.
"Apa Lora juga mencarikan wanita sebagai partner ranjangmu?" tanya Bianca.
"Hanya jika dia setangguh dirimu," jawab Mahesa singkat.
Mobil SUV itu berbelok memasuki sebuah pelataran sunyi yang dikelilingi tembok batu tinggi. Sebuah galeri seni tersembunyi dengan arsitektur modern minimalis berdiri kokoh di sana, sangat kontras dengan alam liar di sekitarnya.
Ia menoleh ke arah Bianca, "Di dalam sana, jangan sentuh apa pun tanpa izin dariku. Seni yang kau lihat di sini bukan untuk mata orang awam."
Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan yang dingin dan beraroma kayu cendana. Cahaya lampu sorot hanya mengarah pada lukisan-lukisan besar yang tampak... hidup. Gambar-gambar itu tidak menampilkan pemandangan indah, melainkan emosi manusia yang mentah: rasa sakit, gairah, dan kehampaan.
Bianca berhenti di depan sebuah kanvas besar. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang terjebak di dalam air yang membeku, sementara di permukaan air, sosok yang sama tampak menari dengan bebas.
"Itu kau," Mahesa berdiri tepat di belakang Bianca, napasnya terasa hangat di tengkuk wanita itu. "Satu sisi terjebak dalam aturan Simon dan etika sosialmu, sisi lain ingin bebas dan liar bersamaku."
Bianca ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Ia menyadari satu hal: di tempat ini, tidak ada cermin. Namun, ia bisa merasakan kehadiran Lora melalui tatapan Mahesa.
"Pilih satu. Satu emosi yang paling kau rasakan sekarang. Aku akan membelikannya untukmu sebagai tanda kepemilikan."
Bianca menunjuk sebuah lukisan kecil di sudut remang-remang, sebuah potret mata yang sedang menangis darah namun berkilau seperti permata. "Itu. Rasa sakit yang terlihat mewah."
"Not bad. Sangat menggambarkan dirimu saat ini."
Ponsel di saku Mahesa bergetar, namun ia justru menyerahkannya pada Bianca. Layar menampilkan panggilan video dari Simon. Bianca gemetar, merapikan rambutnya yang berantakan sebelum menekan ikon hijau.
"Bianca, syukurlah kau mengangkatnya. Audit ini benar-benar gila, aku hampir tidak bisa tidur," suara Simon terdengar serak di seberang sana. Wajahnya tampak kusam di layar. "Kau di mana? Pencahayaannya sangat gelap. Apa kau sedang di kamar?"
Bianca melirik Mahesa yang kini berdiri sangat dekat di belakangnya, tangan pria itu mulai merayap di pinggangnya, sengaja menggoda.
"Aku... aku sedang di salah satu galeri seni lokal, Simon. Sunyi dan hening," menahan napas agar desahannya tidak tertangkap mikrofone saat jari Mahesa menekan kulitnya.
"Baguslah. Aku merindukanmu. Segera setelah kekacauan ini selesai, aku akan menyusulmu ke Bali. Ti amo, sayang."
Setelah panggilan video itu berakhir, Bianca menyandarkan tubuhnya pada dinding galeri yang dingin. Dadanya naik-turun karena adrenalin yang memuncak. Mahesa tidak menjauh; ia justru semakin mengunci pergerakan Bianca.
"Dia tidak akan datang, Bianca," bisik Mahesa, "Lora tidak akan membuatnya sibuk dalam waktu yang lama. Kau akan menghabiskan sisa liburanmu di sini... bersamaku."
"Kau sengaja melakukan ini, kan? Kau dan Lora... kalian ingin mengisolasiku."
"Sesuai keinginanmu, bukan? Kebebasan tanpa pengawasan. Ayo, Aku ingin menunjukkan tempat tinggalku. Di sana tidak ada cermin, tidak ada gangguan, hanya ada kau dan aku."
Mereka meninggalkan galeri dan berkendara naik menuju bukit di kawasan terpencil. Villa milik Mahesa tersembunyi di balik rimbunnya hutan tropis, dengan desain yang maskulin dan terbuka langsung ke arah jurang yang dalam.
Setibanya di sana, Mahesa tidak membukakan pintu mobil untuk Bianca. Ia membiarkan Bianca turun sendiri dan meraba jalannya di bawah remang lampu taman.
"Tuangkan aku minuman," Ia melemparkan kunci mobil ke meja kayu, membuka kemejanya dan merebahkan tubuhnya di sofa kulit, menatap Bianca dengan tatapan mata menuntut kepatuhan.
Bianca sempat ragu, namun ia melangkah menuju bar mini. Saat menuangkan cairan amber ke dalam gelas, ia sadar bahwa perasaannya mulai berubah. Rasa takut yang tadinya mendominasi, kini berganti menjadi rasa penasaran yang candu terhadap dominasi pria ini.
Ia menghampiri Mahesa dan menyodorkan gelas tersebut. Bukannya mengambil gelas, Mahesa justru menarik pergelangan tangan Bianca hingga wanita itu jatuh berlutut di antara kedua kakinya.
"Mulai sekarang, jangan pernah sebut nama Simon di rumah ini," ucapnya sambil menyesap minuman dari gelas yang masih dipegang Bianca, matanya tidak pernah lepas dari bibir Bianca.
Mahesa menyesap minumannya lagi, matanya yang gelap menjelajahi wajah Bianca yang kini berlutut di hadapannya.
"Kau ingin tahu tentangku sebelum Lora?" Bianca ragu untuk mengangguk, meski akhirnya dia melakukannya.
"Sebelum Lora... aku seorang laki-laki biasa. Laki-laki yang sangat mencintai laut, ombak, dan kebebasan."
Ia menarik Bianca mendekat, meletakkan gelasnya di meja kopi dengan denting pelan. Tangannya yang kekar kini memegang erat pinggang Bianca. "Aku seorang nelayan, Bianca. Bukan pria berjas mewah yang kau temui di Paris atau Milan. Tanganku ini terbiasa memegang jaring, bukan stik golf."
"Lalu... bagaimana kau bertemu Lora?" bisik Bianca ingin tahu.
"Laut adalah saksi bisu segalanya. Aku bertemu Lora saat aku hampir mati tenggelam dalam badai terbesar yang pernah kualami. Dia menyelamatkanku, memberiku napas, tapi sebagai gantinya... dia mengambil jiwaku. Mengikatku dalam keabadian yang sama denganmu."
Ia mencengkeram pinggang Bianca lebih erat, menarik tubuh wanita itu hingga dada telanjangnya bersentuhan dengan gaun tipis Bianca. "Jadi, jangan berpikir aku adalah pria yang bisa kau kendalikan, Bianca. Kita berdua adalah budak abadi Lora. Hanya saja, aku tahu bagaimana cara menari dengan rantai itu, dan kau... kau masih harus belajar."
"Jadi maksudmu, aku harus menerima takdir menjadi budak seumur hidupnya, begitu?"
Matanya yang gelap menatap dalam ke mata Bianca, penuh peringatan sekaligus gairah. " Bisa dibilang begitu. Malam ini, aku akan mengajarimu. Bukan tentang bagaimana kau bisa mengambil energi orang lain, tapi tentang bagaimana kau bisa bertahan dalam permainan keabadian ini."
"Tapi kata Lora kau tetap bisa mati dan menua. Dia membuatmu kaya melalui karya arsitekturmu dan kepemilikan beach club. Apa itu benar?" tanya Bianca.
...****************...