Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak-anak tapi...
Mulyono yang di tahan oleh Altezza tak bisa melakukan apapun lagi untuk memperingatkan istri dan anaknya tentang apa yang mereka rencanakan agar tak menyulitkan mereka nantinya.
"Bagaimana kalau lo juga nyaksiin pertunjukan itu, kayaknya bakal seru karena gue sebenarnya juga nggak tahu apa yang bakal mereka lakukan di sana!" tawar Altezza pada Mulyono.
Mulyono yang saat ini sedang di buat berlutut di depan Altezza dan Mahessa menggelengkan kepalanya cepat. Dia tak ingin mereka melanjutkan apa yang menjadi rencana mereka pada Arlo karena sudah jelas ini akan menghancurkan mereka sendiri nantinya.
"Tidak, aku tidak akan mengganggu kalian lagi setelah ini, jadi biarkan aku pergi!" mohon Mulyono lagi.
Mahesaa melirik ke arah Mulyono dan menertawakannya.
"Hahah, dimana keberanian lo tadi yang bisa mengejek dan mengatai orang seenaknya? Dan apa ini sekarang? Lo memohon seolah lo bisa di ampuni begitu saja? Awalnya gue nggak ingin nanggepin apa yang lo mau, tapi karena istri dan anak lo ngrencanain sesuatu yang nggak gue duga serta nggak bisa di maafkan jadi dengan berat hati gue juga akan ikutan bermain," kata Mahessa santai.
Di sana Mulyono sadar jika dia tak akan bisa melampaui kekuasaan dan langkah dari Altezza serta Mahessa dalam merencanakan semuanya. Dan sekarang demi menuruti ambisi istri dan anaknya dia melakukan banyak kejahatan yang sebenarnya bisa menghancurkan dirinya sendiri. Mulyono mulai berpikir selama ini dia memang sudah terbuai dengan apa yang dia dapat dari hasil bermain curang ini dan sekarang karena sudah waktunya lah dia menuai semuanya. Bukan karena Altezza atau Mahessa tapi karena kesekarahanya sendiri.
Saat ini dia hanya bisa diam dan merenungi semua kesalahannya tanpa bisa melakukan apa apa bahkan melawan saja dia sudah tak bisa.
Sementara itu, di ruangan para wanita sedang terjadi kehebohan yang membuat semua bersorak sorai karena Nana yang biasanya lambat mendapatkan Arisan hari ini dia bisa mendapatkannya. Selain itu karena tiba tiba Mischa dan Zurra memberikan hadiah untuknya berupa berlian dengan permata yang langka.
"Ah, kenapa nyonya Zurra dan Nyonya Mischa memberikan hadiah ini? Aku sedang tak berulang tahun hari ini," ucap Nana dengan wajah tak enak.
"Bukan karena lo ulang tahun tapi karena itu sebagai ucapan selamat atas restauran dan resort yang baru kamu bangun itu. Semoga ramai seperti yang lainnya, dan lain kali gue bakal ke sana bareng si kembar dan Altezza serta para tunangan mereka," ucap Zurra mewakili Mischa juga.
"Terima kasih, aku akan menunggu kedatangan kalian di sana nanti," balas Nana dengan ramah.
Sementara Savitri melihat itu dengan mencebikkan bibir bawahnya.
"Apa nanti nyonya Mischa juga akan mengajak gadis itu ke sana?" celetuk Savitri tiba tiba.
Mischa menaikkan sebelah alisnya tak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Savitri.
"Maksudnya? Gadis siapa? Tunangan Arlo?" tanya Mischa pura pura masih tak mengerti.
"Iya, apa nyonya akan mengajaknya? Apa nanti nyonya tak akan malu jika mengajak orang biasa seperti nya??" tambah Savitri lagi.
Mischa hanya tersenyum sementara Rubi sudah memandang Ale dengan wajah penuh permusuhan dan juga ejekan. Dia menunggu seseorang menghubunginya yang dia perintahkan untuk melaksanakan rencananya. Dan tak lama ada notif masuk ke dalam ponselnya yang memberi tahukan jika rencana mereka sudah siap sepenuhnya.
"Biarkanlah saja ma, lagian kalau aku nggak bisa sama Arlo juga nggak apa-apa. Dan tadi niatnya aku ikut kemari kan hanya ingin kenal bukan ingin yang lain. Dan ternyata dia sudah ada tunangan kan jadi aku tidak akan mengganggunya lagi," ucap Rubi dengan wajah penuh senyum yang tercetak di sana.
Savitri ingin membantah tapi Rubi memberinya kode agar Savitri mengikuti rencananya dan tak banyak protes dan akhirnya dia langsung terdiam menuruti putrinya itu.
"Lihatlah putriku, meskipun tadi tunangan Arlo bersikap kasar dia masih bersikap baik kepadanya dan merelakan Arlo untuk gadis seperti dia!" sindir Savitri pada Ale.
Ale yang ada di dekat Arlo tak menggubrisnya sama sekali dan malah asik bermain ponsel serta berbalas pesan dengan Valen yang saat ini sedang mencari mereka. Dan itu membuat Savitri merasa di hina karena Ale tak menggubrisnya sama sekali.
"Ck, lihatlah dia bahkan tak punya sopan santun saat ada orang tua yang bicara dia tak mendengarkan dan malah sibuk dengan ponselnya. Apa itu ajaran ibunya kepadanya? Atau ibunya juga sama seperti dia yang tak tahu tata krama sama sekali?" serang Savitri lagi.
Ale menghentikan berbalas pesan dengan kakaknya dan tanpa sadar meremas ponselnya dengan kuat.
Dan... Kreek, suara ponsel Ale yang retak yang terlihat oleh sudut mata Arlo.
Ale tiba tiba berdiri dari duduknya dan tanpa mengatakan apapun Ale pergi dari sana. Tapi saat dia berada di sebelah Savitri, Ale menghentikan langkahnya lalu membisikkan sesuatu di sebelah telinga Savitri.
"Gue bakal kembalikan semua hinaan lo saat ini, awalnya gue mau lepasin lo dan juga anak lo yang seperti ragunan betina itu. Tapi lo udah berani bawa bawa mami gue di sini, jadi lihat apa yang bakal gue lakuin sama lo setelah ini!!!"
Tubuh Savitri menegang dan merinding seolah akan ada badai besar yang akan menimpanya serta Rubi anaknya. Ucapan Ale seolah semua akan benar terjadi.
Zurra yang melihat kepergian Ale hanya menatap datar Savitri bergantian dengan Rubi yang juga ternyata ikut keluar menyusul Ale.
"Savitri kan nama lo? Istri pemilik perusahaan berlian dan permata. gue kira lo yang orang berada omongan lo bisa lebih berbobot tapi ternyata omongan lo tak lebih rendah dari seekor anjing yang menggonggong. Dan Mischa, apa nggak lo seleksi dulu orang orang yang akan masuk circle lo sampai lo bisa masukin orang rendah etika seperti dia?"
Jleb....
Ucapan Zurra membuat mata Savitri melotot marah, dia tak terima di samakan dengan hewan berkaki empat itu.
"Nyonya Zurra, jaga bicara anda!!!"
"Jangan karena anda lebih kaya anda bisa seenaknya menghina saya!!!"
"Dan lagi kenapa anda sepertinya membela sekali pada gadis itu padahal dia bukan siapa siapa anda. Dan lagi anda sudah keterlaluan menghina saya. Apa saya tak berhak ikut kumpulan seperti ini? Ini bukan acara nyonya jadi lebih baik nyonya diam saja!" teriak Savitri menggebu gebu.
"Wah, daebak... Dia berani bentak kak Zurra," bisik Mischa pada Nana.
Nana yang sudah ketar ketir di buatnya malah mendengar perkataan absurd dari Mischa langsung menahan napasnya takut.
Zurra masih nampak diam di tempatnya dan tak ingin menyahut tapi dia tersenyum tipis menanggapinya.
Zurra sudah menggeleng pelan melihat kesombongan Savitri saat ini. Dia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan pelan ke arah Savitri. Semua yang ada di sana menahan napas mereka karena takut tiba tiba Zurra menghabisi Savitri saat itu juga/
"Tentu saja gue berhak buat balikin omongan lo, dan juga gue berhak buat mengatur siapa saja yang bisa masuk ke dalam kumpulan arisan ini yang isinya hanya orang berkelas dan punya etika. Sepertinya assisten gue udah kecolongan sampai bisa masukin orang kayak lo. Dan perlukah gue hukum dia agar dia lebih berhati hati lagi dalam merekrut orang?"
Yoko asisten Zurra yang mengurusi arisan ini langsung meneguk ludahnya kasar karena tak menyangka akan seperti ini jadinya.
"A-apa maksud nyonya? Arisan ini milik nyonya Mischa bukan milik anda,"
Zurra tersenyum tipis mendengar itu, "Arisan ini milik gue, perkumpulan ini milik gue dan para wanita di sini semua adalah istri dari anggota milik gue dan juga Altezza kecuali Mischa tentu saja. Jadi menurut lo, gue berhak apa nggak buat nentuin siapa yang masuk jadi anggota di sini?" tanya Zurra lagi.
Savitri langsung terdiam, dia tak menyangka jika Zurra lah yang memiliki perkumpulan ini.
"Ah, dan satu lagi, gadis sederhana yang lo hina sejak tadi juga berhak sekali menyeleksi siapa yang bisa masuk ke sini karena dia putri bungsu ke sayangan gue!" ucap Zurra pelan.
Tapi perkataan Zurra yang pelan mampu membuat badan Savitri lemas tak bertenaga dan seolah nyawanya langsung hilang begitu saja dari badan Savitri.
"A-anak?" tanya Savitri tergagap.
Badannya sudah mundur ke belakang karena mendapat kejutan yang bertubi tubi dari Zurra. Dan saat ini Savitri menjadi bahan tontonan banyak orang yang ada di sana.
Dia menoleh ke arah Mischa tapi Mischa juga menatapnya datar dan menatap semua orang yang ada di sana menatapnya kasihan kepada dirinya.
"Itu nggak mungkin," kata Savitri lirih.
"Apa lo nggak bisa lihat jika wajah kami mirip dan cara bicara kami mirip? Ah, mungkin lo nggak merhatiin karena dari awal lo datang ke sini niat lo udah langsung menginginkan Arlo agar dia mau jadi menantu lo. Sayangnya lo salah ambil langkah, dan gue apresiasi buat keberanian lo ini sampai suami lo juga mengajak bertemu Mahessa hanya untuk melamar Arlo tanpa kalian mencari tahu dulu siapa target kalian kali ini!"
Bruk....
Tubuh Savitri luruh ke lantai dan nampak wajahnya semakin memucat mendengar semua penuturan Zurra kepadanya.
"Lo nggak penasaran gimana nasib suami lo yang saat ini bersama Mahessa dan juga Altezza?" tanya Zurra lagi.
"A-appaa?"
Jantung Savitri berdegup semakin kencang saat ini membayangkan apa yang terjadi pada suaminya. Dia ingin berdiri dan menubruk Zurra untuk memberi tahu keadaan suaminya tapi kakinya terasa lemas dan tak bisa bangun sama sekali. Dia terus menunduk tanpa berani menatap Zurra lebih lama lagi.
"Kenapa kalian melakukan ini semua? Apa salahku kepada kalian?" tanya Savitri yang bersikap seolah dia adalah korban.
"Salah lo banyak terutama anak lo yang berusaha menjebak anak gue saat ini. Apa lo pikir lo bisa dengan mudah melakukan kejahatan yang sama pada semua orang? Lo pikir apa Mischa yang terlihat polos dan lugu ini bisa lo tipu sama kayak korban korban lo yang lainnya? Heh, kocak banget lo!"
Zurra terus mengejek Savitri dan juga memojokkanya.
"Dan sekarang, bukan gue yang akan bermain, tapi anak kesayangan gue yang akan bermain dengan jebakan yang udah kalian bikin. Bukannya itu lebih menarik?"
Savitri mengangkat kepalanya dan menatap tak percaya pada Zurra, seketika tubuhnya menegang mengingat jika Rubi sedang berada di luar menyusul Ale yang pergi terlebih dahulu.
"Tidak, tidak jangan lakukan itu. Aku mohon tolong hentikan anak anda, Rubi masih anak anak dan dia tidak tahu apa apa jika apa yang di lakukannya adalah kesalahan. Tolong hentikan itu," mohon Savitri pada Zurra.
"Anak anak tapi doyan banget sama om om. Apa itu yang namanya anak anak?" sindir Mischa.
Savitri tertegun mendengar perkataan Mischa, dia tak menyangka jika semua kelakuannya sudah di ketahui oleh Zurra dan Mischa.
"Apa yang akan di lakukannya pada Ruby?"
to be continued...