NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

"Kok? Kamu kok ada di sini?" tanya Vania panik sembari menoleh ke sekitarnya, dia sebenarnya tidak nyaman jika di ganggu di tempat umum seperti ini apalagi diganggu oleh anak kecil.

"Cila lagi makan sama papah, papah sekarang lagi ke toilet terus Cila lihat tante di di sini, jadi Cila samperin aja."

"Wah, anak anak cantik di sini. Duduk sini, gabung sama tante-tante yang cantik ini," seru Laras.

Vania mendelik ke arah Laras." Jangan di tawarin gabung, biarin dia sama bapaknya aja!" Bisik Vania.

"Gak apa-apa mbak, kapan lagi ketemu sama anaknya aktor duda yang keren? Sini nak, sama Tante aja."

Vania mendengus kesel. Waktu yang berkualitas untuk bersantai jadi tergantung dengan kehadiran Cila. Suasana hatimu kembali memburuk karena harus menghadapi anak kecil dari aktor menyebalkan.

'Kemarin ketemu sama mereka, sekarang malah ketemu mereka lagi. Lama-lama aku pindah negara juga.'

"Loh Cila, kok kamu bisa ada di sini nak?"katanya Farel sembari menghampiri Putri kecilnya yang sedang duduk diantara tiga perempuan. Di sisi lain Vania enggan melihat wajah Farel yang berada di belakang nya.

"Cila tadi lihat Tante Vania, jadi Cila samperin deh," ucap Cila.

"Kita pulang ya, nak. Tentu Vania pasti punya kesibukan sendiri, jadi kita gak boleh ganggu. Yuk sini, sama papah aja," bujuk Farel.

Cila mengangguk, dengan sopan ia mengucapkan permisi begitu akan keluar melewati Vania. " Tante Vania, Cila pengen banget Tante jadi mamah barunya Cila," ucap gadis itu.

Ucapan Cila barusan membuat Vania terkesiap. Cila sendiri hanya tertawa kecil karena berhasil mengutarakan isi hatinya. Farel yang berada di belakang dan mendengar semuanya menepuk keningnya, menahan malu dengan ucapan putrinya, segera ia menggendong Cila takut jika putrinya itu berkata hal aneh lagi.

"Maafin Cila ya semuanya, namanya juga anak-anak pasti suka ngomong sembarangan," ucap Farel merasa tak enak hati.

"Ah, pak Farel ini. Mana ada anak yang suka ngomong sembarangan. Biasanya anak-anak itu selalu berkata jujur." Ujar Laras, ia kemudian menatap Cila." Cila mau punya mamah baru kayak Tante Vania kan? Gak apa-apa sayang, mumpung Tante Vanianya jomblo," goda Laras yang jelas membuat Vania semakin kesal

"Sekali lagi maaf ya karena sudah menganggu kalian, kalau begitu saya permisi," pamit Farel, membawa anaknya untuk menjauh dari tiga perempuan itu.

"Laras!" Geram Vania sembari melototi asistennya itu.

"Kenapa toh Mbak? Coba deh mbak pilih. Mending sama Mas Deo, laki-laki single tapi buat mbak Vania sakit hati. Atau sama pak Farel, duda keren yang kaya raya dan baik. Hidup itu harus realistis mbak, selagi ada cowok keren yang mapan dan berpengalaman, kenapa tidak ambil kesempatan?" Ucap Laras yang malah terlihat santai dan tertawa kecil menghadapi Vania yang kesal. Vania sendiri hanya bisa menggerutu kesal. Duda ya? Bukan tipe Vania sekali.

___

"Apa aku berhenti jadi aktor aja ya? Atau mungkin buat usaha sendiri? Tapi, buat usaha sendiri dalam bidang apa?"pikir Farel dengan serius.

Kedua tangannya menopang dagu seolah sedang memutar otak. Sepasang mata tegas bukan sedang melihat objek di depannya, melainkan sedang membayangkan rencana hidupnya ke depan. Farel dilema memilih antara karirnya di dunia hiburan yang sedang bersinar, tapi waktu untuk putrinya terbatas. Atau yang memilih untuk merelakan karirnya dan mencari profesi lain agar waktunya lebih banyak untuk Cila. Ia tahu usia Cila saat ini adalah masa dimana dia sedang membutuhkan kasih sayang, perhatian dan bimbingan dari orang tuanya. Tapi menjadi aktor terbaik, juga tak kalah pentingnya untuk tabungan masa depan putrinya itu.

Cila mendapatkan sosok figur ayah yang ada dalam diri Farel, tapi belum lengkap rasanya, jika gadis kecil itu belum pernah mendapatkan figur seorang ibu. Kesibukan Farel sebagai aktor juga membuat waktunya dengan Cila terbatas, ia cukup merasa bersalah. Ia merasa belum sepenuhnya memberikan seluruh kasih sayang dan waktunya untuk putri semata wayangnya itu.

Farel teringat kembali saat dirinya meminta pendapat soal menikah lagi setelah wafat istrinya, pada seseorang dan dia mengatakan kalau menikah lagi tak akan menjadi masalah. Apalagi jika sang istri sudah meninggal dunia, lagipula anaknya juga masih kecil dan pasti membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Dering telepon membuat lamunan Farel buyar, ada panggilan masuk dari rekan kerjanya. Sejenak Farel mengusap wajahnya kemudian ia mengangkat telepon itu.

"Halo, bang. Ada apa?"

"Halo, Rel. Begini aku mau minta tolong sama kamu."

"Minta tolong apa?"

"Projek mu di serial drama itu sudah selesai kan?"

"Sudah, bang. Aku udah pulang dan ambil cuti untuk sementara, aku mau fokus sama anakku dulu."

"Ah, oke. Begini aku mau minta tolong bisa gak? Jadi begini ada job model dari brand fashion gitu, nah kamu kan pernah jadi brand ambassador tuh sebelumnya, jadi mereka tertarik buat jadiin kamu model produk mereka juga. Gimana, kamu bisa gak?"

"Aduh gimana ya? Emang waktunya kapan?"

"Tiga hari lagi, tempatnya di perusahaan fashion itu. Kalau mau, nanti aku langsung kasih alamatnya."

"Oke, aku pikir-pikir dulunya, nanti aku kabarin lagi."

"Oke, aku tunggu kabar dari kamu, jangan terlalu lama ya."

"Iya bang, makasih informasinya."

Setelah mengakhiri percakapan antara Farel dan rekan kerjanya itu, ia merasakan seseorang menarik bajunya. Farel , menunduk ke bawah, ternyata Cila yang menarik bajunya. Gadis kecil itu tersenyum hingga menampakkan deretan giginya. Farel membalas senyuman itu, kemudian mengangkat Cila dan menaruhnya di pangkuannya.

"Papah mau ke luar kota lagi, ya?" tanya Cila.

Farel terkejut karen pasti Cila mendengarkan percakapan dia di telepon tadi." Eum, iya nak. Ada pekerjaan lagi di sana. Cila, boleh gak kalau papah ke luar kota lagi? Sekali lagi aja, setelah itu papah akan ambil libur panjang buat temenin Cila."

"Kalau Cila ikut papah ke luar kota boleh gak, pah?" Tanya Cila penuh harap.

Farel terdiam. ' Kalau Cila ikut aku ke luar kota, pasti mertuaku juga akan minta ikut. Kalau hanya bapak mertuaku gak masalah, tapi kalau ibu mertuaku. Duh, kalau ke rumah aja aku berharap mereka pulang cepat. Bukannya aku gak sopan tapi selama ibu ada di rumah, dia malah ngatur semuanya. Aku udah berusaha tegasin ibu, tapi malah gak di gubris sama sekali."

"Papah?" tanya Cila manja.

"Eh, iya nak. Lihat nanti aja ya nak." Farel melihat jam susah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. " Cila kita tidur ya, papah bacain dongeng mau?

Cila mengangguk dengan semangat." Iya pah, aku maunya ditemenin tidur sama papah, kalau ditemenin sama nenek gak pernah di bacain dongeng."

Mereka berjalan beriringan menuju kamar Cila. Langkah kaki Farel terasa begitu ringan, seakan beban pekerjaan yang biasanya menekan pundaknya sirna seketika. Cila melompat ke atas tempat tidurnya, menarik selimut hingga dagunya, dan menatap Farel dengan tatapan penuh antisipasi.

Farel duduk di tepi tempat tidur, membuka buku dongeng kesukaan Cila. Suaranya yang dalam dan tenang mengalun membacakan kisah-kisah penuh fantasi yang membuat mata Cila berkilat-kilat, seakan ia sedang berpetualang di negeri dongeng. Sesekali Cila tertawa kecil, merespons adegan lucu yang dibacakan Farel.

Tak lama, tawa Cila mulai berkurang, dan kelopak matanya perlahan terasa berat. Farel melihat wajah damai putrinya yang mulai terlelap, napasnya teratur. Ia menutup buku dengan hati-hati, memandangi wajah Cila yang polos dan damai itu. Ada rasa syukur dan penyesalan yang bercampur menjadi satu dalam dada Farel; syukur karena masih bisa memiliki momen ini, penyesalan karena momen-momen seperti ini terasa begitu jarang.

Dengan perlahan, Farel bangkit dari tempat tidur, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang memberi cahaya lembut di sudut kamar. Ia melangkah keluar, menutup pintu kamar dengan pelan, berharap bahwa malam-malam berikutnya ia bisa lebih sering ada di sisi Cila, membacakan dongeng hingga ia terlelap, menjaga mimpi-mimpinya.

1
Wayan Suryani
sombong smg kamu ilcehjan lzgi
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!