"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asumsi Yang Salah
Seminggu berlalu dalam suasana yang menyesakkan sekaligus menenangkan bagi Ameera. Ayahnya, Pak Bramantyo, berangsur pulih. Yang membuat Ameera terheran-heran adalah sikap kedua orang tuanya. Mereka yang dulu begitu membenci apa pun yang berbau pesantren, kini tampak sangat hormat dan ramah kepada Liam.
Mungkin nyawa yang terselamatkan telah meruntuhkan ego sang ayah, atau mungkin wibawa Liam sebagai dokter bedah telah memenangkan hati mereka.
Namun, bagi Ameera, seminggu ini adalah perjuangan batin yang melelahkan. Ia tidak lagi seceria saat pertama kali mereka bertemu di koridor. Kini, setiap kali Liam masuk ke ruang rawat untuk memeriksa tensi atau luka pasca-operasi ayahnya, Ameera memilih untuk berdiri jauh di dekat jendela atau menyibukkan diri dengan memotong buah.
Ia menjaga ucapannya sesingkat mungkin. Ia takut. Takut jika satu kalimat puitis lagi keluar dari bibir Liam, hatinya akan semakin sulit untuk lepas dari pria yang ia yakini sudah menjadi milik orang lain itu.
Malam terakhir sebelum sang ayah diperbolehkan pulang, suasana ruang VIP itu cukup tenang. Ibu Ameera sedang turun ke kantin, sementara ayahnya tertidur lelap setelah meminum obat. Liam masuk untuk kunjungan terakhir malam itu.
"Besok jam sembilan pagi, semua administrasi sudah bisa diselesaikan," ucap Liam lembut sambil mencatat sesuatu di papan medis. "Ayahmu adalah pejuang yang kuat, Ameera. Tapi pastikan dia tidak menyentuh pekerjaan kantor dulu selama sebulan."
Ameera mengangguk tanpa menatap Liam. "Terima kasih, Dokter. Kami akan mengingatnya."
Liam terdiam sejenak merasakan dinginnya sikap Ameera. Ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas tepat di samping Ameera berdiri, sementara ia membungkuk untuk memeriksa selang infus Pak Bramantyo.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Liam. Layarnya menyala terang di tengah remang lampu kamar. Mata Ameera tak sengaja jatuh pada layar tersebut.
Di sana, terpampang sebuah foto wallpaper yang sangat jelas. Sosok bayi laki-laki mungil yang ia lihat tempo hari. Bayi itu sedang tertawa lebar, mengenakan topi rajut kecil, dengan binar mata yang sangat mirip dengan... Liam.
Dada Ameera berdenyut nyeri. Sangat mirip. Pantas saja, pikirnya getir.
"Bayinya... ganteng," ucap Ameera tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun ada nada luka yang terselip di sana.
Liam selesai dengan pemeriksaannya dan tegak berdiri. Ia melirik ponselnya, lalu menatap Ameera. Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, mereka berada dalam jarak yang cukup dekat dalam kesunyian.
"Namanya Arshad," jawab Liam pelan. Ia mengambil ponselnya, namun tidak segera mematikannya. Ia justru memandangi foto itu dengan tatapan yang sangat hangat, tatapan yang membuat Ameera merasa cemburu pada seorang bayi.
"Dia memang anugerah terbesar dalam keluarga kami tahun ini," lanjut Liam.
Ameera meremas jemarinya. "Dia beruntung punya ayah sehebat kau, Liam. Dan istrimu... dia pasti wanita yang sangat sabar menghadapi kesibukanmu di rumah sakit dan pesantren."
Ameera mengucapkan itu dengan keberanian yang tersisa, berharap Liam akan mengonfirmasi segalanya agar ia bisa benar-benar menyerah malam ini.
Liam tertegun. Ia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jas putihnya. Ia menatap Ameera sedikit lebih lama dari biasanya. Ada kilat jenaka sekaligus haru di matanya, namun ia tetap menjaga jarak yang syar’i di antara mereka.
"Istri?" Liam mengulang kata itu dengan nada bertanya.
Ameera memalingkan wajah ke arah jendela. "Wanita cantik yang membawakan bayi itu tempo hari. Aku melihat bagaimana kau tidak menjaga pandangan padanya. Aku mengerti, Liam. Dia istrimu, kau berhak menatapnya sesukamu. Aku hanya... aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menghargai kejujuranmu lewat tindakan itu."
Liam tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan menuju pintu, namun sebelum memutar gagang pintu, ia berhenti.
"Ameera," panggilnya.
Ameera tidak menoleh, namun telinganya tajam mendengar.
"Setiap orang punya rahasia yang ia simpan di balik punggungnya. Ada yang menyimpan dendam, ada yang menyimpan rindu, dan ada yang menyimpan kebenaran yang sengaja tidak diucapkan karena ingin melihat sejauh mana sebuah hati bisa bersabar."
Liam menoleh sedikit, menatap punggung Ameera yang tampak rapuh.
"Besok pagi, saat kau membawa ayahmu pulang, jangan lupa membawa serta Al-Qur'an beludru itu. Teruslah membacanya. Karena di sana dikatakan bahwa prasangka terkadang adalah dosa yang paling halus."
Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Liam keluar dari ruangan, meninggalkan aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau antiseptik yang khas. Ameera terpaku. Prasangka? Apa maksudnya?
Ia menatap tempat tidur ayahnya, lalu menatap layar ponselnya sendiri yang gelap. Misteri tentang bayi itu dan wanita berjilbab modern itu masih menggantung di udara, namun kata-kata Liam barusan memberikan sebuah getaran aneh.
Getaran yang membuatnya bertanya-tanya, Apakah selama seminggu ini aku hanya sedang menghukum diriku sendiri atas sebuah asumsi yang salah?
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰