Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: SIMFONI GERHANA CAHAYA DAN DARAH
Langit di atas atap dunia, Himalaya, tidak lagi tampak seperti bagian dari planet bumi. Jutaan lubang hitam kecil terbuka di seluruh cakrawala, menciptakan pemandangan yang menyerupai ribuan mata gelap yang sedang mengawasi dari dimensi lain. Dari setiap lubang tersebut, merangkak keluar 'Abyssal Swarm'—makhluk-makhluk berbentuk serangga mekanis raksasa dengan sayap yang terbuat dari bayangan padat. Mereka adalah pemakan energi, parasit dimensi yang dikirim oleh 'The Great One' untuk melahap setiap inci cahaya yang baru saja bangkit dari tubuh Liora.
Di puncak tertinggi The Blood Fortress, Arkan berdiri dengan tangan terlipat di dada. Di belakangnya, lima bawahannya sudah berada dalam posisi tempur penuh. Bastian memegang dua pilar gravitasi, Hana menghilang dalam lipatan ruang, Rehan menyebarkan kabut pemurni, dan Elara menarik tali busur yang kini berpendar emas karena pengaruh aura Liora.
"Ayah, Swarm ini tidak memiliki inti darah biasa. Mereka digerakkan oleh frekuensi kehampaan," lapor Julian, matanya berpendar biru saat mengolah data taktis. "Serangan fisik biasa hanya akan membuat mereka membelah diri."
Arkan menoleh ke sampingnya. Liora berdiri di sana, rambut emas putihnya berkilau cemerlang menembus kegelapan malam. Tangannya yang tadinya gemetar kini stabil, memegang busur cahaya yang diciptakan Arkan dari esensi darah Sovereign dan api matahari miliknya.
"Siap, Liora?" tanya Arkan lembut.
Liora menarik napas panjang, matanya yang berwarna emas murni menatap lurus ke arah jutaan monster yang mulai menukik turun. "Jika mereka ingin memakan cahayaku, aku akan memberi mereka makan sampai mereka meledak."
"Lakukan," perintah Arkan.
Liora melompat ke udara, sepasang sayap cahaya yang megah mekar dari punggungnya. Ia melesat ke tengah-tengah gerombolan Swarm seperti komet emas. Setiap kali ia melepaskan anak panah cahaya, ledakan energi matahari tercipta, membakar bayangan monster-monster tersebut hingga ke tingkat atom.
"Sanguine Art: Solar Flare!" teriak Liora.
Ledakan emas raksasa menyapu langit Himalaya. Monster-monster yang biasanya membelah diri saat dipukul, kini langsung menguap karena cahaya Liora membawa sifat "Pemurnian Absolut".
Bastian tertawa keras sambil menghantamkan pilar gravitasinya ke arah monster yang tersisa. "Lihat itu! Ratu kita benar-benar tidak main-main! Aku jadi merasa seperti amatir di sini!"
Arkan tidak hanya diam. Ia melayang di pusat pertempuran, menjadi konduktor bagi energi Liora. Setiap kali Liora melepaskan energi matahari yang terlalu besar, Arkan menangkap sisa-sisa energi itu dengan benang-benang darahnya, mengubahnya menjadi jaring-jaring energi yang mengunci pergerakan Swarm.
'Julian, buka saluran global sekarang,' perintah Arkan.
'Saluran terbuka, Ayah. Seluruh dunia sedang menonton melalui satelit.'
Di seluruh dunia, layar televisi dan gedung-gedung pencakar langit menampilkan pemandangan yang melampaui imajinasi manusia. Mereka melihat Arkan—sang Sovereign yang mereka takuti—dan seorang gadis bercahaya emas bertarung bahu-membahu di atas awan. Pemandangan itu bukan lagi sebuah pertempuran; itu adalah tarian dua kekuatan kosmik yang saling melengkapi.
"Itu... Liora!" teriak salah satu teman kelas mereka yang sedang menonton di Seoul. "Gadis pendiam itu... dia adalah malaikat?!"
Choi Ha-neul di markas KHA menjatuhkan cangkir kopinya. Ia melihat bagaimana Arkan melindungi Liora dengan tubuhnya sendiri setiap kali ada serangan kejutan, dan bagaimana Liora memurnikan luka-luka di zirah Arkan dengan sentuhan cahayanya.
"Mereka bukan sekadar tim," bisik Ha-neul. "Mereka adalah tatanan baru alam semesta."
Pertempuran mencapai puncaknya saat pemimpin Swarm, sesosok monster berukuran sebesar gunung bernama 'Void Devourer', keluar dari portal terbesar. Makhluk ini tidak menyerang dengan fisik, melainkan mencoba menghisap seluruh atmosfer bumi masuk ke dalam mulutnya yang menyerupai lubang hitam.
"Liora, berikan aku tanganmu!" seru Arkan.
Liora melesat ke arah Arkan, menggenggam tangannya dengan erat. Arkan menggabungkan esensi darah Sovereign-nya yang paling murni dengan energi inti matahari Liora. Di antara telapak tangan mereka, sebuah bola energi berwarna merah-emas terbentuk, bergetar dengan kekuatan yang mampu menciptakan bintang baru.
"Sanguine Arts: Eternal Eclipse – Zero Point Burst!"
Mereka melepaskan serangan gabungan tersebut. Sebuah pilar cahaya merah keemasan melesat menembus mulut Void Devourer, meledakkan monster itu dari dalam secara instan. Cahaya ledakannya begitu terang hingga orang-orang di belahan bumi lain mengira matahari telah terbit lebih awal.
Seketika, seluruh portal Abyss di langit tertutup. Jutaan monster Swarm hancur menjadi debu emas yang jatuh dengan lembut di atas salju Himalaya seperti hujan bintang.
The Blood Fortress – Pukul 04.00 Pagi.
Keheningan kembali menyelimuti benteng. Arkan dan Liora mendarat di aula utama, tubuh mereka masih memancarkan sisa-sisa energi yang memudar. Lima bawahan mereka berlutut dalam posisi hormat yang paling dalam—kali ini, mereka juga menundukkan kepala kepada Liora.
"Segala kemuliaan bagi Sang Sovereign dan Sang Permaisuri Cahaya!" suara Bastian menggelegar di aula.
Liora menatap Arkan, lalu menatap tangannya yang kini perlahan kembali normal. "Kita... kita berhasil, Arkan?"
Arkan memegang bahu Liora, menatapnya dengan penuh rasa bangga. "Kita baru saja memenangkan pertempuran pertama, Liora. Tapi yang lebih penting, kau telah membuktikan bahwa cahaya tidak harus takut pada kegelapan."
Julian muncul dengan laporan akhir. "Ayah, WHA baru saja merilis pernyataan. Mereka secara resmi menarik seluruh status buron terhadap Anda dan Nona Liora. Mereka menyebut Crimson Eclipse sebagai 'Pelindung Bumi yang Sah'. Mereka tahu bahwa tanpa kita, bumi sudah hancur tadi malam."
Arkan hanya mendengus dingin. "Aku tidak butuh pengakuan mereka. Tapi setidaknya, mereka tahu tempat mereka sekarang."
Arkan menatap ke luar jendela benteng, ke arah matahari yang sebenarnya yang mulai terbit di cakrawala.
"Istirahatlah, Liora. Besok adalah hari baru," ucap Arkan lembut.
Liora tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada zirah Arkan. "Besok... apa kita masih punya ujian sejarah?"
Arkan tertawa kecil, suara tawa yang paling tulus yang pernah didengar oleh para bawahannya. "Kurasa sejarah kita baru saja dimulai, dan kitalah yang akan menulisnya sendiri."
Malam merah dan emas telah berlalu, namun legenda tentang Sovereign dan permaisurinya baru saja mengukir babak pertamanya di hati umat manusia. Sang ayah yang dulunya hanya ingin pensiun dalam bayangan, kini telah menemukan cahaya yang membuat takhtanya tidak lagi terasa dingin dan sepi.