NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHLIGAI TANPA NYAWA.

Arumi menyunggingkan senyum kecut yang sarat akan kepedihan. Di balik riasan wajahnya yang sempurna, ia merasa seperti sebuah komoditas yang baru saja ditukar untuk menyelamatkan harga diri dua keluarga besar. Ia memang menjadi pengantin Ariya, persis seperti janji masa kecil mereka, namun alasannya sungguh jauh dari romansa. Ia hanyalah ban serep, seorang pengganti yang datang saat pemeran utama memilih melarikan diri.

"Hei! Kok kalian berdua malah bengong? Masih terjebak di masa lalu ya?" Suara Bisma memecah keheningan, mengejutkan Ariya dan Arumi yang sempat terhanyut dalam memori delapan belas tahun silam.

Ariya tersentak, wajahnya seketika berubah masam. "Apaan sih? Pergi sana! Aku muak melihat wajahmu lama-lama di sini!"

Bisma tidak bergeming. Ia justru menarik sebuah kursi yang biasanya diperuntukkan bagi orang tua mempelai dan duduk dengan santai di sana. "Aku sih sebenarnya ingin pergi mencari makan. Tapi aku tidak tega meninggalkan Arumi dalam keadaan seperti ini. Apalagi melihat suaminya menatapnya seperti melihat musuh bebuyutan. Terpaksa aku harus berjaga di sini."

"Ah, banyak bicara kamu! Minggat tidak dari sini? Atau aku akan..." Ariya menggantung kalimatnya, tangannya mencengkeram lengan kursi roda dengan buku-buku jari yang memutih.

"Akan apa, Ar? Kamu lupa ya kalau aku ini dokter penanggung jawabmu?" Bisma memotong dengan nada tegas namun tetap santai. "Secara medis, statusmu masih pasien rawat jalan. Jadi, wajar kalau aku memantau kondisi fisik dan emosionalmu. Berhentilah protes dan duduk manis saja."

Arumi memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Berisik sekali kalian berdua! Bisa diam tidak? Kepalaku tambah pusing mendengar debat tidak bermutu ini."

Ariya menoleh ke arah Arumi dengan tatapan sedingin es. "Kalau tidak mau berisik, pergi saja ke pemakaman. Kalau perlu sekalian masuk ke dalamnya agar suasana benar-benar hening."

"Boleh, siapa takut? Aku rasa tidur di dalam sana jauh lebih tenang daripada harus duduk di sebelah pria yang mulutnya lebih beracun dari limbah medis," balas Arumi tanpa gentar.

Bisma menepuk dahinya keras-keras. "Astaghfirullah! Amit-amit, Rumi! Jangan bicara sembarangan, pamali tahu! Kita ini sedang di pesta pernikahan, bukan di rumah duka."

Ia kemudian menatap keduanya bergantian dengan tatapan serius. "Dengar ya, Arya, Arumi. Kalian berdua itu sudah ditakdirkan untuk berjodoh. Sejauh apa pun kalian berusaha menghindar, tetap saja Allah menyatukan kalian hari ini dengan cara yang tidak terduga. Belajarlah untuk ikhlas menjalani takdir ini. Hanya rencana-Nya yang terbaik. Kalau kalian terus bertengkar, kalian sendiri yang akan lelah."

Kata-kata Bisma menghujam tepat di ulu hati. Arumi maupun Ariya terdiam seribu bahasa. Ada kebenaran pahit dalam ucapan itu yang membuat mereka memilih untuk mengunci mulut masing-masing. Selama sisa acara, mereka hanya bersikap formal saat para tamu silih berganti memberikan ucapan doa yang terasa kosong di telinga mereka.

Satu jam kemudian, kondisi fisik Ariya yang belum pulih benar mulai menurun. Fardiansyah meminta mereka untuk segera pulang ke rumah baru yang sudah disiapkan. Sebagai istri, Arumi tidak punya pilihan selain mengikuti. Mereka menaiki mobil pengantin yang telah dihiasi rangkaian bunga mawar putih dan pita sutra.

Di dalam mobil, Arumi menatap rangkaian bunga itu dengan pandangan nanar. "Mungkin bagi sepasang pengantin yang saling mencintai, diperlakukan seperti ini adalah kebahagiaan luar biasa. Tapi bagiku? Aku hanya pemeran pengganti dalam naskah yang salah. Miris sekali hidupmu, Arumi," batinnya pahit.

Mobil melaju membelah jalanan kota. Suasana di dalam kabin begitu sunyi, hanya suara putaran mesin yang terdengar. Keduanya membuang muka ke arah jendela masing-masing, seolah pemandangan di luar sana jauh lebih menarik daripada keberadaan orang di samping mereka. Hingga akhirnya, mobil memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang menuju ke sebuah mansion megah.

Setelah mobil terparkir sempurna di depan pintu utama, sang sopir bergegas turun untuk mengambil kursi roda dari bagasi. Ia membantu Ariya berpindah dari kursi mobil. Saat sopir hendak mendorong kursi tersebut menuju teras, Arumi maju selangkah.

"Sini Pak, biar saya saja yang mendorong Dokter Ariya masuk," ujar Arumi dengan suara lembut namun tegas.

Ariya mendengus sinis. "Sebaiknya kamu tidak usah berpura-pura baik di depanku. Citra istri shalihah tidak akan mempan untuk membuatku tersentuh."

Arumi menghentikan langkahnya sejenak, lalu menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan telinga Ariya. "Anda terlalu percaya diri, Dokter Ariya. Saya melakukan ini murni untuk memenuhi kewajiban saya sebagai tenaga medis. Saya tidak mungkin membiarkan pasien dengan cedera saraf tulang belakang ditangani secara sembarangan oleh orang awam, bukan?"

Raut wajah Ariya berubah seketika. Ia merasa harga dirinya terinjak-injak. Diposisikan sebagai "pasien" oleh istrinya sendiri terasa lebih menyakitkan daripada kenyataan bahwa ia lumpuh.

"Berhenti!" bentak Ariya saat Arumi mulai mendorong kursi rodanya dengan kuat. "Berhenti, aku bilang! Apa telingamu sudah tuli?"

Arumi tetap melangkah, mengabaikan teriakan suaminya seolah itu hanyalah angin lalu. Ia terus mendorong kursi roda itu melewati pintu besar rumah mewah tersebut.

"He! Berhenti! Kamu tidak punya hak untuk memaksaku!" Teriakkan Ariya kembali menggema di aula rumah yang luas itu. Namun, teriakannya terputus secara mendadak saat sebuah suara bariton yang lebih berat menggelegar dari arah tangga.

"Ariya! Jaga mulutmu!"

Keduanya menoleh serentak. Fardiansyah berdiri di sana dengan wajah merah padam, menatap putranya dengan pandangan penuh amarah.

"Papa!" gumam Ariya lirih.

Fardiansyah melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer. "Dasar anak tidak tahu diuntung! Beginikah sikapmu pada wanita yang sudah menyelamatkan mukamu hari ini? Bukannya berterima kasih karena dia bersedia menggantikan pengantinmu yang tidak beretika itu, kamu malah membentak-bentaknya!"

"Untuk apa Arya harus berterima kasih padanya, Pah? Dia juga punya kepentingan sendiri dalam pernikahan ini!" balas Ariya, mencoba membela diri meski suaranya bergetar.

"Kepentingan apa? Dia mengorbankan masa depannya untuk menambal lubang yang dibuat oleh pilihanmu sendiri!" Fardiansyah menunjuk tepat ke wajah Ariya. "Dengar ya, kalau hari ini Arumi tidak bersedia berdiri di pelaminan itu, mau ditaruh di mana muka Papa? Kamu mau seluruh kolega kita menertawakan pengantin pria yang ditinggal kabur karena cacat?"

Ariya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kata "cacat" yang keluar dari mulut ayahnya sendiri terasa seperti belati yang menghujam jantungnya.

"Mulai hari ini, kalau Papa mendengar kamu membentak atau merendahkan Arumi lagi, kamu harus berhadapan langsung dengan Papa. Aku tidak segan-segan mencabut semua fasilitasmu dan membiarkanmu mengurus dirimu sendiri dalam keadaan begitu! Kamu mengerti?" ancam Fardiansyah dengan nada final.

Ariya hanya bisa diam mematung di atas kursi rodanya. Ia tidak berkutik. Di sudut matanya, ia bisa melihat Arumi yang masih memegang gagang kursi rodanya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di rumah megah ini, drama yang sesungguhnya baru saja dimulai

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!