Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta dan Lipstik
Setelah melewati hari yang melelahkan karena kejaran Sonia, markas The Ravens kembali menjadi tempat perlindungan. Jax duduk di depan deretan monitornya, tapi jemarinya tidak menari di atas keyboard. Ia hanya menatap layar kosong dengan pandangan kosong, sementara teman-temannya sedang bersantai di sofa.
"Dia hampir melakukannya lagi," gumam Jax tiba-tiba, memecah kesunyian.
Leo, yang sedang mengangkat barbel, menoleh. "Melakukan apa? Memborgolmu lagi?"
"Bukan," Jax menghela napas berat, memutar kursi kerjanya menghadap teman-temannya. "Dia mencoba mengukur lingkar pinggangku dengan ikat rambutnya di kantin. Katanya, dia ingin membuatkan aku kostum pasangan untuk festival musim gugur. Dia ingin jadi Barbie, dan aku harus jadi... Ken versi montir."
Ethan langsung meledak dalam tawa hingga tersedak teh minnya. "Ken versi montir? Sial, itu sangat akurat untukmu, Jax!"
"Ini tidak lucu, Ethan!" Jax menjambak rambutnya sendiri. "Aku ini ahli IT. Aku hidup dalam logika, kode biner, dan sistem keamanan yang ketat. Sedangkan Sonia? Dia hidup dalam palet warna eyeshadow, gliter, dan aroma parfum yang bisa membuat hidungku mati rasa."
William, yang sedari tadi asyik mengelap piston motornya, menaruh lapnya dan menatap Jax dengan seringai bijak.
"Kau tahu, Jax? Dalam sistem komputer, kode yang paling kuat adalah kode yang menggabungkan dua elemen yang berbeda."
"Benar!" timpal Leo sambil menaruh barbelnya. "Pikirkan saja, Jax. Kau ahli IT, kau tahu cara meretas sistem. Sonia ahli kecantikan, dia tahu cara meretas penampilan orang. Kalian adalah pasangan paling berbahaya di London. Kau menghancurkan musuh, dia menghancurkan kepercayaan diri musuh dengan eyeliner tajamnya."
"Hahaha! Bayangkan," Ethan menyambung, matanya berbinar membayangkan skenario konyol.
"Suatu hari kita ada misi rahasia. Jax meretas satelit, dan Sonia mengalihkan perhatian penjaga dengan memberikan makeover gratis. Itu efisien!"
Jax mendengus, tapi rona merah tipis muncul di telinganya. "Kalian semua tidak membantu. Tadi di sekolah, dia bahkan mencoba mengoleskan lip balm rasa stroberi ke bibirku karena katanya bibirku pecah-pecah akibat terlalu banyak begadang didepan layar."
"Lalu? Kau menolaknya?" tanya William provokatif.
Jax terdiam sejenak, lalu memalingkan wajah kembali ke monitornya. "Aku... aku membiarkannya. Hanya karena aku tidak mau dia terus berteriak di koridor."
Sontak, seisi markas ramai dengan sorakan "Cieeee!" yang menggema.
"Lihat! Sang Hacker kita sudah tertembus sistem pertahanannya!" seru Ethan sambil melempar bantal ke arah Jax.
"Sudahlah, Jax," William berdiri, menepuk bahu sahabatnya itu. "Sonia itu hangat. Dia punya apa yang tidak kita punya, keberanian untuk jadi konyol tanpa peduli apa kata orang. Dan jujur saja, markas ini butuh sedikit sentuhan kecantikan. Setidaknya agar baunya tidak seperti kaus kaki basah dan bensin terus-menerus."
"Diam kau, Will," gerutu Jax, tapi ia diam-diam menyentuh bibirnya yang sekarang memang terasa lebih lembut dan beraroma stroberi.
Di sudut ruangan, William tersenyum. Ia melihat persahabatan mereka yang solid, mendukung satu sama lain dalam kekacauan asmara mereka masing-masing. Namun, pikirannya kembali melayang ke arah Juliatte. Jika Jax punya Sonia yang begitu terbuka, ia punya Juliatte yang begitu tertutup.
"Jika Sonia bisa menembus dinding pertahanan Jax yang sedingin es, Batin William, Maka aku pasti bisa merobek gaun beludru penuh aturan milik Juliatte."
Sore itu, matahari London yang mulai tenggelam menyisakan semburat jingga yang pucat, namun suasana di ruang ganti luas milik Juliatte terasa sangat dingin.
Di lantai marmer yang mengilap, sebuah timbangan digital berwarna perak berdiri dengan angkuh. Madame Vivienne berdiri di sampingnya dengan tangan bersedekap, matanya tajam seperti elang yang siap menerkam.
"Naik, Juliatte," perintah ibunya dingin.
Juliatte melepas sepatu flatnya dengan tangan gemetar. Ia melangkah naik. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia dikurung William di toilet tadi pagi.
Angka di layar berkedip sejenak sebelum berhenti di angka: 45,6 kg.
Hening. Sunyi yang mematikan.
"Nol koma enam," suara Vivienne rendah, namun penuh dengan racun. "Juliatte, apa yang kau makan di sekolah? Apa kau mulai menyentuh sampah kantin seperti orang-orang kelas bawah?"
"Maman, itu hanya nol koma enam... mungkin karena aku banyak minum air..."
Prak!
Vivienne memukulkan penggaris kayu yang ia pegang ke meja rias. "Tidak ada alasan! Tubuhmu adalah aset. Gaun beludru pesanan khusus dari Paris untuk Gala minggu depan tidak akan mentoleransi lemak sekecil apa pun di pinggangmu. Kau ingin mempermalukan Ibu di depan para istri diplomat?"
Belum sempat Juliatte menjawab, pintu kamar terbuka. Monsieur Andre masuk dengan wibawa yang menyesakkan. Ia tidak melihat wajah putrinya yang mulai berkaca-kaca, ia hanya melihat angka di timbangan.
"Ada masalah?" tanya Andre.
"Putrimu kehilangan kendali dirinya, Andre. Beratnya naik," adu Vivienne.
Andre menatap Juliatte dengan pandangan yang lebih menyakitkan daripada kemarahan, pandangan kecewa.
"Gala tahunan minggu depan adalah malam terpenting bagi karier Papa. Semua mata akan tertuju pada keluarga Fontaine. Aku tidak butuh putri yang cerdas saja, aku butuh putri yang sempurna secara visual."
Andre melangkah mendekat, mencengkeram bahu Juliatte dengan kuat. "Tidak ada makan malam untukmu sampai beratmu kembali ke 45 pas. Dan kau harus berlatih pidato bahasa Prancis-mu sampai larut malam. Jika kau gagal sedikit saja di panggung Gala itu, Juliatte... kau tahu betapa mahalnya konsekuensi yang harus kau bayar."
Setelah kedua orang tuanya keluar dan mengunci pintu dari luar, metode disiplin yang biasa mereka lakukan, Juliatte jatuh terduduk di lantai. Air matanya jatuh mengenai timbangan dingin itu.
Ia merasa seperti pajangan museum yang sedang retak. Di kepalanya, suara Sonia yang berisik tentang lipstik dan suara berat William tentang kebebasan mendadak berputar.
Ia meraih ponselnya yang tersembunyi di bawah bantal. Ada satu pesan masuk yang belum ia baca dari William.
"Jangan biarkan porselen itu pecah karena tekanan yang tidak masuk akal, Fontaine. Kalau kau butuh udara segar, kau tahu di mana harus mencari asap bensin."
Juliatte terisak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang tertib, ia merasa ingin menghancurkan timbangan itu, merobek gaun mahalnya, dan melompat ke belakang motor hitam William Wilson untuk pergi sejauh mungkin dari angka-angka yang membunuhnya pelan-pelan.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍