NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Komandan Crops ke 7.

Chika berlari di atas jalur benteng yang retak.

Api menyala di kanan-kirinya, menjilat dinding batu yang sudah menghitam. Asap tebal membuat matanya perih. Nafasnya memburu. Setiap langkah menghasilkan bunyi logam berat.

CLINK—CLINK—CLINK

Pedang Lumina di tangan kanannya berdenyut halus. Petir kecil merayap di sepanjang bilahnya—bzzzt—seolah ikut merasakan detak jantungnya. Perisai emas-putih di tangan kirinya terasa panas karena pantulan api.

“Panas banget… panas banget…” gumam Chika sambil terengah. “Hari kelulusan tuh harusnya makan kue, bukan lari di neraka…”

Tiba-tiba—

VRRRT—

Udara di depannya terbelah.

Dua siluet hitam muncul dari pusaran cahaya merah.

Dua Invader.

Armor mereka hitam berurat merah menyala. Yang satu membawa tombak bergerigi seperti tulang patah, yang lain memegang pedang besar melengkung seperti rahang binatang buas.

Chika menginjak rem mendadak.

Kakinya bergeser di atas puing batu.

“Eh…?”

Matanya membesar.

“Ada… dua musuh…”

Tangannya mengencang di gagang pedang. Bahunya naik turun cepat.

“…aku harus melawan mereka.”

Kedua Invader itu melangkah maju bersamaan.

Tak… tak…

Lalu—

Mereka meloncat.

“WAH—!”

Tombak melesat ke arah dadanya. Pedang besar menyapu dari samping.

Chika refleks mengangkat Lumina.

CLANG!!!

Tombak menghantam bilah pedangnya. Ledakan petir meletup di udara.

BZZZTT!!

Rambut Chika tersibak ke belakang. Tubuhnya terdorong setengah langkah.

“A-aku… nahan?!”

Belum sempat bernapas—

Invader kedua sudah mengayunkan pedangnya.

Chika memutar tubuhnya, mengikuti ayunan Lumina tanpa sadar.

“HYAA—!!”

Tebasannya meluncur seperti kilat.

SHRRAAAKK—

Invader pertama terbelah oleh cahaya putih-kuning. Tubuhnya terhempas ke dinding benteng.

BOOM!

Invader kedua meraung dan menyerang lagi.

Chika tersentak.

“Eh—belum mati?!”

Ia mengangkat perisai Lumina.

DUM!!!

Pedang raksasa menghantam perisai. Dentuman berat mengguncang lengannya sampai mati rasa.

“Ugh—berat banget!”

Ia menggeram kecil, menahan dorongan musuh.

Lalu—

“HUAAAH!!”

Chika mendorong maju sekuat tenaga.

BOOOM!

Invader itu terlempar mundur, terguling di atas puing, lalu jatuh melewati tepi benteng.

SRAAAASHHH—

Tubuh hitam itu lenyap ditelan api di bawah.

Sunyi sekejap.

Hanya suara api yang membakar.

Chika berdiri terpaku, dadanya naik turun keras.

“Hah… hah…”

Ia menatap pedang di tangannya.

“…menang?”

Ia mengangkat Lumina sedikit, memutarnya kikuk.

“Wah… senjatanya kuat banget…”

Ia mengetuk perisainya pelan.

“Tapi… kenapa aku bisa pakai senjata knight tingkat tinggi ya…?”

Alisnya berkerut.

“…yah, lupakan.”

Matanya melebar tiba-tiba.

“Oh iya—Emila!”

Ia melihat ke depan.

Di halaman kastil utama, Minotaur raksasa masih mengamuk. Kapaknya menghantam tanah—

DOOOM—

Emila melompat menghindar, tapi tubuhnya jelas melambat. Nafasnya berat.

“Dia… udah ngos-ngosan…”

Chika menggigit bibirnya.

“Aku harus cepat…”

Ia mulai berlari lagi.

Namun—

“AAAARRGH!!”

Teriakan terdengar dari samping.

Chika menoleh.

Di jalur samping benteng, dua knight bertarung mati-matian melawan gerombolan Invader.

Seorang pria berambut hitam dengan bekas luka di pipi menebas tanpa henti. Darah hitam muncrat di udara.

Di belakangnya, seorang wanita berambut cokelat mengangkat tongkat sihir.

Lingkaran cahaya biru muncul.

“FROST BIND!!”

KRRAAAKK—

Beberapa Invader membeku di tempat.

Chika membelalak.

“Itu—!”

Wajahnya bersinar.

“GURU KRIS!! GURU NIKO!!”

Ia melambaikan tangan sambil tetap berlari.

Kris menoleh sekilas sambil menebas satu Invader sampai terbelah dua.

“Chika?!” teriaknya. “Kau masih hidup?!”

“Aku hidup!” teriak Chika. “Sedikit gosong, tapi hidup!”

Satu Invader meloncat ke arah Kris.

SWISH—

Pedang Kris memotongnya di udara.

Tanpa menoleh lagi, ia berteriak:

“Kau—knight!!”

Chika berhenti.

Kris menunjuk ke arah halaman utama dengan pedangnya.

“SELAMATKAN KAPTEN EMILA!!”

“T-tapi…” suara Chika goyah. “Kalian—”

“Jangan pikirkan kami, nak!!”

Niko mengangkat tongkatnya tinggi.

Cahaya sihir berkumpul di ujungnya.

“GLACIAL BURST!!”

BOOOM!!

Ledakan es menghantam barisan Invader, memukul mereka mundur.

“Kami masih bisa bertarung!” teriak Niko. “Tugasmu sekarang satu!!”

Ia menunjuk lurus ke depan.

“LINDUNGI KAPTENMU!! SEKARANG!!”

Chika berdiri kaku.

Matanya berpindah-pindah: ke Invader… ke wajah kedua gurunya… lalu ke arah Emila yang hampir terkena kapak Minotaur.

Tangannya mengepal di gagang Lumina.

“…tapi…”

Satu Invader lolos dari es dan menyerang Niko.

Kris langsung melompat ke depan, menahan tebasan itu.

“PERGI, CHIKA!!” teriak Kris. “KAU SUDAH KNIGHT SEKARANG!!”

Tubuh Chika bergetar.

“…knight…”

Ia menarik napas panjang.

“Maaf…”

Ia membungkuk cepat.

“Maaf, Guru Kris… Guru Niko…”

Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

“Aku akan balik… setelah Kapten selamat.”

Lalu—

ia berbalik.

Dan berlari.

Langkahnya makin cepat.

CLINK—CLINK—CLINK

Api menyambar di kanan-kiri.

Petir berlari kecil di sepanjang bilah Lumina.

BZZZT—

Di dadanya, sesuatu terasa panas—bukan api.

Tekad.

“Aku bukan murid lagi…”

Chika mengangkat perisainya.

“Aku knight Kerajaan Gurial Tempest.”

Dan di depan sana—

di halaman kastil utama—

kaptennya bertarung sendirian melawan monster raksasa.

...----------------...

Di halaman kastil utama, api masih mengamuk.

Pilar-pilar batu runtuh terbakar. Bendera kerajaan tinggal abu yang beterbangan di udara panas. Tanah retak oleh hentakan sebelumnya, membentuk pola-pola seperti luka raksasa.

Di tengah reruntuhan itu—

Emila melayang di udara.

Rambut biru tuanya berkibar liar oleh gelombang panas. Pedang sihir di tangannya bersinar terang, dan di sekeliling tubuhnya… delapan pedang cahaya keemasan muncul satu per satu, melayang seperti mahkota bilah-bilah tajam.

Udara bergetar.

Emila mengangkat tangannya ke depan.

“Formasi cahaya… hancurkan target.”

Tangannya menghentak maju.

WHOOSH—WHOOSH—WHOOSH—WHOOSH!!

Delapan pedang cahaya melesat bersamaan, membentuk lintasan melingkar menuju tubuh Minotaur raksasa.

BOOOOOOM!!

Ledakan cahaya menyilaukan memenuhi halaman kastil. Gelombang kejut menyapu puing-puing. Batu-batu beterbangan. Api tertekan mundur sejenak.

Emila mendarat di atas bongkahan batu besar.

CLACK.

Ia terengah, dadanya naik turun.

“Apakah… sudah selesai…?”

Kabut putih sisa ledakan menutupi tubuh monster itu.

Emila mengeratkan genggaman pedangnya.

“Ratu Vexana… Princess… masih ada di dalam kastil… aku harus—”

Langkahnya baru satu.

Kabut itu… bergerak.

Perlahan memudar.

Siluet besar masih berdiri.

Minotaur itu tidak tumbang.

Tidak runtuh.

Ia berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa—hanya armor hitamnya yang retak di beberapa bagian, memperlihatkan cahaya merah menyala dari dalam.

Mata merahnya menyala lebih terang.

GRRRRROOOOAAAAARRR!!!

Raungannya mengguncang udara.

Dalam satu gerakan brutal, Minotaur itu mengangkat kapak raksasanya dan menebas ke arah Emila.

WHOOOOOOM!!

“—!”

Emila refleks mengangkat pedangnya.

CLAAANG!!!

Energi emas meledak di antara mereka, membentuk perisai transparan di sekitar tubuh dan bilah pedangnya.

Namun tekanan tebasan itu…

terlalu besar.

CRRRAAAKK—!!

Barrier emas itu retak.

“Ugh—!”

Tubuh Emila terpental ke belakang.

Ia menghantam tanah dan tergelincir di atas batu yang retak, nyaris jatuh ke tepi benteng di mana para Invader masih mengamuk, menghabisi knight-knight yang tersisa.

Emila mencoba bangkit.

Satu lutut menyentuh tanah.

Tangannya gemetar menahan pedang.

“Kakiku…”

Ia berusaha berdiri, tapi kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya.

Ia terengah.

Makhluk ini… keras sekali…

Namun matanya tidak goyah.

Ia menatap Minotaur itu dengan gigi terkatup.

“…tapi aku tidak akan…”

Ia mengangkat pedangnya dengan sisa tenaga.

“MUDAH MENYERAH SEPERTI INI!!”

Suaranya menggema di halaman terbakar.

“AKU ADALAH KAPTEN EMILA!!

KAPTEN KNIGHT KERAJAAN GURIAL TEMPEST!!”

Minotaur itu menjawab dengan lompatan.

BUM—!

Tanah hancur saat tubuh raksasanya melayang ke udara.

Kapak diangkat tinggi-tinggi.

Bayangan monster itu menelan tubuh Emila.

“—!”

Emila mengangkat pedangnya, bersiap menerima kematian.

Namun—

“EMILAAA!!!”

Sebuah kilatan putih melesat dari samping.

Chika.

Ia meloncat, tubuhnya dibalut cahaya petir tipis.

Dengan satu gerakan, ia meraih tubuh Emila dan melemparkan diri mereka berdua ke samping.

WHOOOSH—!!

Mereka berguling di tanah.

BOOOOOOM!!!!

Kapak Minotaur menghantam tempat Emila tadi terkapar.

Tanah meledak.

Batu pecah.

Kawah besar terbentuk di halaman kastil.

Debu dan api menjulang ke udara.

Chika dan Emila terlempar beberapa meter, berhenti di balik puing besar.

Chika terengah.

“Haah… haah…”

Ia masih memeluk Emila.

“…nyaris telat…”

Emila membuka matanya perlahan.

Pandangan pertamanya adalah rambut pirang pucat yang berantakan karena asap.

“C… Chika…?”

Chika buru-buru berdiri dan membantu Emila bangkit.

“Tahan… pelan-pelan… berdiri di sini…”

Emila bertumpu pada bahu Chika.

“Kau… baik-baik saja?” tanya Chika, wajahnya cemas tapi tetap tersenyum tipis.

Emila menatapnya seolah melihat hantu.

“…justru itu pertanyaanku…”

Ia terengah.

“Aku kira kau mati… saat meteor menghantam kastil latihan…”

Chika menggaruk pipinya.

“Hehehe…”

Ia tertawa kecil gugup.

“Keajaiban datang padaku…”

Emila baru sadar.

Matanya turun ke pedang dan perisai di tangan Chika.

Kilatan emas.

Simbol petir.

Matanya melebar.

“…Lumina?”

Wajah Emila mengeras.

“Chika… dari mana kau mendapatkan satu set senjata Lumina?”

Nada suaranya berubah serius.

“Senjata itu sangat berbahaya… jika penggunanya tidak cocok… tubuhnya bisa hancur dari dalam.”

Chika membuka mulut.

“Oh ya… soal itu…”

Ia mengangkat tangan, ingin bercerita.

“Kamu tahu nggak… tadi itu ada wanita aneh dengan—”

“Berarti ceritanya panjang,” potong Emila pelan.

Ia menatap Minotaur yang kembali berdiri dari kawah, debu berjatuhan dari tubuhnya.

“Kalau begitu… ceritakan nanti.”

Ia mengangkat pedangnya lagi.

“Sekarang…”

Ia berdiri lebih tegak meski tubuhnya masih gemetar.

“Kita hadapi monster di depan kita.”

Ia melirik Chika.

“Apakah kau siap… Knight pemula?”

Chika terdiam sepersekian detik.

Lalu—

ia tersenyum.

Senyum polosnya.

Yang terlalu ringan untuk medan perang.

“Selalu siap… Kapten!”

Emila terkekeh kecil.

“Heh… senyum itu lagi…”

Delapan pedang cahaya kembali muncul di sekeliling tubuh Emila, melayang perlahan, bersinar di tengah asap dan api.

Di hadapan mereka—

Minotaur itu mengaum sekali lagi.

ROOOOOAAAAARRR!!!

Angin panas menerpa wajah mereka.

Chika mengangkat perisainya.

Petir berlari di sepanjang bilah Lumina.

Dua knight berdiri berdampingan.

Di tengah neraka yang runtuh.

Siap melawan monster yang seharusnya tidak bisa mereka kalahkan.

Minotaur itu mengangkat kepalanya.

Mata merahnya menyala di balik helm hitam yang retak. Napas panas keluar dari lubang hidungnya seperti asap tungku.

ROOOOOAAAAARRR!!!

Raungannya mengguncang halaman kastil.

Chika refleks mundur setengah langkah.

“U-uh… gede banget dari dekat…”

Emila berdiri di sampingnya, pedang sihirnya terangkat. Delapan pedang cahaya berputar perlahan di udara, membentuk lingkaran pelindung.

“Jangan terpaku pada ukurannya,” ucap Emila tegas. “Perhatikan kakinya.”

“Hah? Kakinya?”

Minotaur itu mengayunkan kapaknya.

WHOOOOOM!!

Angin tebasannya saja sudah cukup untuk menggeser batu.

“CHIKA, KE KANAN!!”

“HAAAH?!”

Chika panik dan melompat… ke kiri.

BOOOOM!!

Kapak menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri tadi. Batu hancur, api menyembur.

Chika terguling di tanah.

“Aduh—salah arah!!”

Emila melompat ke depan.

“Formasi cahaya—tahan!”

Dua pedang emas melesat ke depan dan membentuk perisai di udara.

CLANG!!

Kapak menghantam perisai cahaya. Cahaya bergetar hebat.

“Bangkit, Chika!” teriak Emila. “Jangan lari lurus! Minotaur bergerak lambat saat berputar!”

Chika bangkit tergesa-gesa.

“I-iya!”

Ia berlari… tapi terlalu cepat.

Kakinya terpeleset di batu yang terbakar.

“WAH—?!”

Minotaur mengangkat kakinya.

“CHIKA, LOMPAT SEKARANG!!”

“HAAAA—!!”

Chika meloncat tepat saat kaki raksasa itu menghantam tanah.

DOOOOOM!!!

Gelombang kejut melempar tubuh Chika ke udara.

Ia berputar tak karuan.

“AKU NGGAK BISA MENDARAT CANTIK—!!”

BRUK!!

Ia jatuh telentang.

“Aduh…”

Minotaur mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

Bayangan besar menutup wajah Chika.

“Eh…”

Emila menghentakkan pedangnya ke tanah.

“Pedang cahaya—RANTAI FORMASI!!”

Empat pedang emas melesat dan berubah menjadi rantai cahaya yang melilit kaki Minotaur.

CLINK—CLINK—CLINK!!

“GRRRR?!”

Minotaur kehilangan keseimbangan dan terhuyung.

“Sekarang, Chika!! Serang lututnya!!”

Chika panik berdiri.

“L-lutut?! Yang mana?! Dua-duanya besar!!”

“YANG RETAK!”

“Oh!”

Chika berlari dan mengangkat Lumina.

Petir berkumpul di bilahnya.

BZZZZTTT—!!

Ia mengayun… terlalu tinggi.

Tebasannya hanya memotong udara.

“…eh?”

Minotaur menendangnya.

“UWAH—!!”

Chika terpental dan menghantam tembok setengah runtuh.

Emila mengerang.

“Chika, jangan mengayun pakai bahu! Pakai pinggangmu!”

“Hah?! Pinggang?!”

“PUTAR BADANMU, BUKAN LENGANMU!”

Minotaur meronta dan memutus dua rantai cahaya.

CRACK!!

Emila terhuyung.

“Ugh… waktunya sedikit… Chika, dengar baik-baik!”

Chika berdiri goyah.

“Y-ya!”

“Lumina bereaksi pada niatmu. Jangan takut… arahkan ke satu titik!”

Chika menggenggam pedangnya erat.

“…satu titik…”

Minotaur kembali menyerang Emila.

Kapak menghantam.

CLAAAANG!!

Barrier Emila retak lagi.

Emila terdorong mundur.

“EMILA!!”

Chika berteriak.

Dadanya panas.

“Aku… nggak mau dia mati…”

Petir di Lumina menyala lebih terang.

BZZZZZZT!!

Chika menarik napas dalam.

“Tenang… satu titik… satu titik…”

Ia menatap lutut Minotaur yang retak.

“…di situ.”

Ia berlari.

Minotaur mengayunkan kapaknya ke arahnya.

“CHIKA, JANGAN BERHENTI!!” teriak Emila.

Chika menutup mata sesaat.

“AKU PERCAYA KAMU, EMILA!!”

Ia meloncat.

Kapak lewat tepat di bawah kakinya.

Ia berputar di udara, mengingat kata-kata Emila.

—pakai pinggang.

Ia memutar tubuhnya.

“HAAAAAA!!”

Lumina menghantam lutut Minotaur.

BZZZZZZZZRAAAAK!!!

Petir meledak.

CRRRAAACK!!!

Armor hitam pecah. Lutut monster itu ambruk.

“GRAAAAAAAARGH!!”

Minotaur jatuh berlutut.

Emila langsung mengangkat pedangnya.

“SEKARANG AKU!!”

Delapan pedang cahaya berkumpul menjadi satu lingkaran besar.

“Judgement of Light!”

Lingkaran itu menyusut menjadi satu tombak cahaya raksasa.

WHOOM!!

Tombak itu menembus dada Minotaur.

BOOOOOOM!!!!

Ledakan cahaya memenuhi halaman kastil.

Api tersapu angin.

Debu beterbangan.

Saat cahaya mereda…

Tubuh Minotaur runtuh.

Armor hitamnya retak dan hancur menjadi serpihan cahaya merah yang menguap.

Sunyi.

Hanya suara api.

Chika terengah-engah.

“Hah… hah… hah…”

Ia menjatuhkan diri duduk.

“…aku hidup…”

Emila berjalan tertatih dan berdiri di sampingnya.

“Kau… belajar cepat.”

Chika tersenyum lebar, wajahnya penuh debu.

“Hehehe… tapi aku salah banyak tadi.”

Emila terkekeh kecil.

“Itu karena kau knight pemula.”

Ia menatap bangkai Minotaur yang menghilang.

“Tapi kau tidak lari.”

Chika memandang pedangnya.

“Karena… kalau aku lari… Emila mati.”

Emila terdiam sejenak.

Lalu menepuk kepala Chika pelan.

“Kau sudah layak disebut knight.”

Chika kaget.

“Eh?! Beneran?!”

Emila tersenyum tipis.

“Beneran.”

Di tengah reruntuhan kastil…

dua knight berdiri.

Yang satu veteran.

Yang satu pemula.

Dan mereka baru saja mengalahkan monster yang seharusnya membunuh mereka.

...----------------...

Di Dalam Kastil – Ruang Tahta Gurial Tempest

Pintu besar ruang tahta terbuka dengan bunyi berat.

KREEEET—

Chika dan Emila melangkah masuk sambil terengah-engah. Bau asap masih menggantung di udara, bercampur aroma batu terbakar.

Di ujung ruangan, di atas singgasana emas yang retak…

Seorang wanita berambut ungu tua sedang memeluk seorang gadis kecil.

Mahkota emas kecil dengan sebuah berlian mungil di tengahnya berkilau redup di kepala sang gadis.

Rambutnya pendek kuning keemasan.

Matanya biru muda, gemetar karena ketakutan.

Emila menurunkan pedangnya sedikit.

“…Ratu Vexana… princes…”

Vexana mengangkat wajahnya. Matanya lelah, tapi masih tajam.

“Kapten Emila…”

(pandangannya beralih ke Chika)

“…dan seorang knight muda.”

Princes menoleh.

Begitu melihat Chika, wajahnya langsung berubah.

“KESATRIA!!”

Tap—tap—tap!

Princes berlari kecil, gaunnya hampir terseret, lalu memeluk kaki Chika erat-erat.

“Kesatria… aku takut…”

suaranya gemetar

“Kenapa ada monster menjajah Gurial Tempest…?”

Chika kaku sesaat, lalu tersenyum gugup sambil menggaruk pipinya.

“Mungkin… mereka cuma mau main sama kita?”

Ruangan hening setengah detik.

Emila & Vexana (serempak):

“BERMAIN?! OTAKMU RUSAK YA?!”

Chika meringis.

“Eh… bercanda…”

Emila menghela napas panjang lalu menoleh ke Vexana.

“Yang Mulia… apakah Anda masih bisa berdiri?”

Vexana bangkit perlahan. Bahunya sedikit gemetar, tapi ia tetap tegak.

“Beberapa invader sempat menembus kastil…

aku menahan mereka sebisaku…”

Ia melihat sekeliling.

Melihat pelayan dan penjaga yang tergeletak tak bergerak.

Wajahnya mengeras.

“…maaf.”

Ia menatap Chika dan princes.

“Kita harus pergi sekarang.

Aku masih bisa menggunakan sihir terbang.”

Chika langsung mengangkat princes ke dalam gendongannya.

“Ratu Vexana, ayo kita cari tempat aman.

Keselamatan ratu nomor satu… iya kan, Emila?”

Emila mengangguk.

“Tentu.”

Vexana mengangkat tangannya.

Rune ungu muncul di udara.

“—Mantra Angkat—”

Tiba-tiba…

Lampu kristal di seluruh ruang tahta berubah warna.

PUTIH → UNGU GELAP

Cahaya terasa dingin.

Udara berat.

Vexana terkejut.

“Apa—?!”

Bayangan turun perlahan di singgasana.

Tap.

Tap.

Tap.

Sosok itu duduk santai di atas kursi tahta Gurial Tempest.

Seorang wanita setengah naga.

Sayap merah gelap terlipat di punggungnya.

Pedang raksasa merah dengan bilah bergerigi putih, ternodai lendir hijau.

Ia tersenyum lebar.

“Wah, wah, wah…”

“Mau kabur ya?”

Princes langsung bersembunyi di balik kaki Chika.

“Semudah itu kabur dari penjajahan yang dipimpin oleh aku?”

“Lucu sekali…”

Matanya menyipit ke arah Chika dan princes.

“Oh…”

“Jadi… ini dua orang yang dikatakan Dewa Invader itu…”

Emila dan Vexana refleks maju satu langkah, berdiri di depan Chika dan princes.

Emila mengangkat pedangnya.

“Siapa kau, penjajah?!”

Makhluk itu tertawa kecil.

“Hahaha…

tidak sopan sekali bicara begitu, nona knight.”

“Apa kau mau hancur?”

Vexana membentak.

“KAMI MENANYAKAN SIAPA KAU!!”

Makhluk itu mendecak.

“Eh… ratu sama budaknya sama saja galaknya.”

Ia berdiri. Sayapnya terbuka sedikit.

“Baiklah.”

“Aku Komandan Corps ke-7.”

“Namaku… Sarpia.”

Matanya berkilat hijau.

“Dan sekarang…”

“Aku harus menangkap dua orang di belakang kalian.”

Emila melangkah lebih maju.

“Tidak akan kubiarkan!”

Vexana terdiam sesaat.

Matanya menatap Chika dan princes…

seolah memahami sesuatu yang berat.

“Aku tidak akan memberikan dua adikku padamu.”

“Apa pun konsekuensinya.”

Nada suaranya dingin.

“Kalian takut, bukan…

jika dua orang ini tetap hidup.”

Mata Sarpia membesar.

Urat hijau menyala di wajahnya.

“BERANINYA KAU MENYINGGUNG KAMI!!”

Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Aura hijau membungkus tubuhnya.

MATA HIJAU → MERAH MENYALA

“MATI KALIAN!!”

Ia menghantamkan pedangnya ke lantai.

DOOOOOOM!!!!!

Seluruh ruang tahta retak.

Pilar runtuh.

Semua terlempar.

Chika terpelanting.

Emila terguling.

Vexana menghantam dinding.

Princes terjatuh ke lantai, tapi masih berdiri.

Debu turun seperti hujan.

Princes berjalan tertatih ke Chika.

“Kesatria… bangun…”

Lalu menoleh ke Vexana dan Emila.

“Vexana… Emila… bangun…”

Sarpia turun dari singgasana.

Langkahnya berat.

“Wah… mudah sekali.”

“Sekalian saja aku ambil mereka berdua dan kuasai kerajaan besar dunia ini…”

“Gurial Tempest.”

Princes mengambil batu.

MELEMPIK!

“Menjauh kau monster!!”

Batu-batu menghantam tubuh Sarpia.

“Plak. Plok.”

Sarpia tertawa kecil.

“Aduh… malang sekali.”

Ia mengulurkan tangan.

Namun—

Cahaya biru tiba-tiba keluar dari tubuh princes.

“JANGAN SENTUH AKU DAN KESATRIA!!”

EMPAT RANTAI BIRU keluar dari tubuhnya.

Cahaya membungkus princes dalam lingkaran.

BOOOOOOM!!!

Ledakan biru menghantam Sarpia.

“UGHHH!!”

Tubuh Sarpia terpental kembali ke singgasana.

CRASH!!!

Princes goyah.

“U-uh…”

Ia jatuh.

Chika bangun dan menangkapnya.

“Princes!”

Emila dan Vexana bangkit.

Sarpia tak bergerak.

Vexana mengangkat tangan.

“Kita tidak punya waktu.”

Rune muncul lagi.

“Mantra terbang—selesai!”

Chika memegang kaki Vexana sambil menggendong princes.

Vexana menggenggam tangan Emila.

Angin berputar.

WHOOSH!!

Mereka terangkat ke langit, meninggalkan istana yang runtuh…

…dan Sarpia yang tergeletak di singgasana Gurial Tempest.

---

Di Udara — Siang Hari, di Luar Wilayah Gurial Tempest

Angin siang menghantam wajah mereka tanpa ampun.

Langit biru terbentang luas, tapi di bawahnya—

ladang, hutan, dan puing benteng Gurial Tempest makin mengecil.

Vexana terbang di depan, tubuhnya diselimuti lingkaran sihir ungu pucat.

Chika menggantung di kakinya sambil menggendong princes.

Wajah Chika pucat kehijauan.

“R… Ratu…”

suaranya bergetar

“Aku… aku mau muntah…”

Angin masuk ke mulutnya.

“BLEEERRGH—”

Ia buru-buru memalingkan kepala ke samping.

Princes di pelukannya masih lemas, matanya setengah terbuka, napasnya kecil.

“U… ugh…”

Emila terbang di sisi mereka, dengan delapan pedang cahaya mengitari tubuhnya sebagai penyeimbang.

Wajahnya tegang.

“Yang Mulia…”

suaranya hampir tenggelam oleh angin

“Maaf… tapi kau pasti tahu…”

Ia menoleh ke Chika dan princes.

“…mengapa invader memburu mereka berdua.”

Vexana tidak langsung menjawab.

Ia terdiam, mata ungunya memandang jauh ke depan, ke arah awan.

Ekspresinya lembut… tapi penuh beban.

“Maafkan aku…”

suara Vexana pelan

“Ini rahasia leluhur Gurial Tempest…”

Ia mengatupkan mata sebentar.

“…dan almarhumah ibuku.”

Emila menggertakkan gigi.

“Tapi—”

“keselamatan mereka berdua—”

TIBA-TIBA—

“WOOOOOOOM!!!”

Sebuah tombak energi ungu melesat dari belakang!

“APA—?!”

BLAM!!!

Serangan itu menghantam perisai sihir Vexana.

“UGH!!”

Tubuh Vexana oleng.

Lingkaran sihirnya bergetar hebat.

“RATU VEXANA!!”

Chika dan Emila berteriak bersamaan.

Vexana terhuyung, hampir kehilangan ketinggian, lalu memaksakan diri menstabilkan terbangnya.

“A… aku masih… aman…!”

Ia terengah.

Namun dari belakang—

Sayap merah membelah awan.

Sarpia muncul, tubuhnya dilapisi aura hijau berkilat.

Pedang raksasanya diseret di udara.

“OI, BODOH!!!”

Suaranya menggema seperti petir.

“KALIAN PIKIR BISA KABUR?!”

“ITU DUA MILIK KAMI!!!”

Ia mengayunkan pedangnya.

Beberapa peluru energi ungu muncul di sekelilingnya.

“MATI SAJA!!”

WUUUUUSH!!

Serangan pertama melesat.

Vexana berbelok tajam.

WHOOSH!

Energi itu melintas di samping mereka dan meledak di udara.

BOOM!!

Gelombang kejut mengguncang tubuh Chika.

“WAHHH!!”

Serangan kedua—

Emila mengangkat pedangnya.

“Cahaya pelindung!!”

CLANG!!

Sinar emas menangkis satu tembakan—

TAPI—

Serangan ketiga menghantam langsung ke sisi tubuh Emila.

“UGH!!”

Ledakan kecil membuatnya terpental.

“EMILA!!”

Tubuh Emila terlempar menjauh, pedang cahayanya buyar seperti pecahan kaca.

“Grr…!”

Ia berusaha menstabilkan diri… tapi kehilangan ketinggian.

Angin menderu di telinganya saat ia jatuh menjauh.

“Kapten!!” teriak Chika.

Namun belum sempat mereka bereaksi—

“WOOOOOM!!!”

Serangan berikutnya datang.

Vexana menghindar setengah detik terlambat.

Ledakan menghantam sisi lingkaran sihirnya.

CRACK!!

Mantra terbangnya retak.

“A-Apa—?!”

Kekuatan sihir goyah.

Chika merasa pegangan kakinya meluncur.

“EH?!”

Tangannya terpeleset.

“RATU—!!”

Jari-jarinya gagal meraih.

Chika dan princes terlepas.

“AAAAAAAH!!!”

Tubuh mereka jatuh menembus udara.

Angin meraung keras di telinga.

Chika refleks meraih princes yang terlepas dari lengannya.

“PRINCES!!!”

Tangannya menangkap kain gaun princes.

Ia menariknya ke dada.

“UGH!!”

Mereka berputar di udara.

Chika memeluk princes sekuat tenaga.

“Pegang aku…!”

“Jangan lepaskan…!”

Princes membuka mata sedikit.

“Ke… satria…?”

“Aku di sini…”

suaranya bergetar

“aku nggak akan lepasin kamu…”

Di atas mereka, Sarpia tertawa keras.

“Hahahahaha!!”

“JATUHLAH!!”

Langit biru terasa sangat jauh…

dan tanah di bawah makin mendekat dengan cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!