Di Universitas Negeri Moskow, kekuasaan tidak hanya diukur dari nilai, tapi dari sirkel pergaulan. Sky Remington adalah puncaknya, putra konglomerat Rusia yang sempurna, dingin, dan tak tersentuh. Selama empat bulan terakhir, ia menjalin hubungan yang tampak ideal dengan Anastasia Romanov, gadis tercantik di kampus yang sangat membanggakan statusnya sebagai kekasih Sky.
Di dalam sirkel elit yang sama, ada Ozora Bellvania. Meskipun ia adalah pewaris kekaisaran bisnis perkapalan yang legendaris, Ozora memilih menjadi bayangan. Di balik kasmir mahal dan sikap diamnya, ia menyimpan rasa tidak percaya diri yang dalam, merasa kecantikannya tak akan pernah menandingi aura tajam Anastasia, Stevani, atau Beatrix.
Selama ini, Sky dan Ozora hanyalah dua orang yang duduk di meja makan yang sama tanpa pernah bertukar kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Yang Nyata
Pertemuan di sebuah kafe kelas atas yang menghadap langsung ke arah Sungai Moskva. Sky awalnya hanya ingin mengajak Ozora minum kopi setelah kelas yang melelahkan, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita duduk di kursi VIP dengan anggun, menyesap espresso nya sambil membaca majalah mode.
Wanita itu adalah Cristine von Heist. Berbeda dengan Anastasia yang sombong secara terang-terangan, Cristine memiliki aura yang jauh lebih tenang, matanya yang berwarna hijau zamrud selalu tampak bersahabat, namun ada sesuatu yang tajam di baliknya.
"Sky? Oh Tuhan, apa itu benar-benar kau?" ucap Cristine dengan suara yang lembut dan merdu. Ia berdiri, meletakkan cangkirnya, dan segera menghampiri mereka dengan senyum yang sangat lebar.
Sky tampak terkejut, namun kali ini tubuhnya tidak menegang kaku. Ia justru membalas senyuman itu, meski ada keraguan di matanya. "Cristine? Sejak kapan kau kembali dari Berlin?" tanyanya.
Cristine langsung memeluk Sky dengan sangat akrab, pelukan pertemanan masa kecil yang terasa begitu tulus. "Baru dua hari yang lalu. Aku ingin memberi kejutan, tapi sepertinya takdir mempertemukan kita di sini," katanya riang.
Pandangan Cristine kemudian beralih ke arah Ozora yang berdiri di samping Sky. Senyumnya semakin lebar, namun Ozora bisa merasakan kilatan dingin yang melintas sekejap di mata hijau itu sebelum kembali menjadi ramah.
"Dan siapa gadis cantik ini? Sky, kau tidak mengenalkannya padaku?" ucap Cristine sambil mengulurkan tangannya dengan sangat sopan.
"Ini Ozora. Ozora, ini Cristine, teman masa kecilku di Jerman. Keluarga kami sangat dekat dulu," jelas Sky dengan nada yang lebih santai.
"Halo, aku Ozora," bisik Ozora sambil menyambut tangan Cristine. Tangan Cristine terasa sangat dingin, kontras dengan senyum hangat di wajahnya.
"Senang bertemu denganmu, Ozora. Wah, Sky, seleramu benar-benar berubah ya? Dia tampak begitu... murni dan lembut. Jauh sekali dibandingkan dengan gadis-gadis yang biasanya mengejar mu di Berlin dulu," ucap Cristine dengan tawa kecil yang terdengar sangat tulus, namun entah kenapa terasa seperti sindiran halus di telinga Ozora.
Cristine menarik kursi dan mempersilakan mereka duduk. Sepanjang pembicaraan, Cristine bersikap sangat manis. Ia menceritakan kenangan masa kecil mereka, tentang bagaimana Sky pernah menangis karena kehilangan mainan, atau bagaimana mereka sering bersembunyi di gudang anggur milik kakek Sky.
"Kau tahu, Ozora, Sky itu sebenarnya pria yang sangat emosional. Dia hanya suka memakai topeng es itu untuk menakuti orang-orang bisnis ayahnya," katanya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Ozora.
"Begitukah?" ucap Ozora mencoba ikut tersenyum, meski hatinya merasa tidak nyaman melihat betapa banyak rahasia masa kecil yang dibagikan Cristine.
"Tentu saja. Ah, Sky, aku hampir lupa! Ayahmu mengundangku ke acara peresmian yayasan barunya lusa. Dia bilang aku harus datang karena ada sesuatu yang ingin dia diskusikan tentang proyek kita di Munich," ucap Cristine dengan nada yang sangat kasual, seolah-olah hubungannya dengan ayah Sky adalah hal yang paling biasa di dunia.
Sky mengangguk pelan. "Aku sudah dengar soal itu."
"Baguslah. Ozora, kau harus datang juga ya? Aku ingin kita mengobrol lebih banyak. Rasanya menyenangkan melihat Sky akhirnya menemukan seseorang yang bisa menjinakkannya," katanya sambil menyentuh lengan Ozora dengan lembut.
Namun, saat Sky sedikit teralih karena pelayan yang membawakan pesanan, Cristine mencondongkan tubuh sedikit ke arah Ozora. Wajahnya tetap tersenyum, namun suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat tipis dan dingin.
"Nikmati waktumu selagi bisa, Sayang. Mainan lama Sky biasanya kembali ke tempat yang seharusnya saat dia mulai bosan dengan yang baru," gumam Cristine dengan kilatan mata yang sangat tajam, hanya dalam hitungan detik.
Saat Sky kembali menatap mereka, wajah Cristine sudah kembali ceria seolah tidak terjadi apa-apa. "Oh, lihat kopinya! Tampaknya enak sekali!" ucapnya riang.
Setelah pertemuan itu berakhir dan mereka berjalan menuju mobil, Sky tampak sangat tenang. Ia tidak menyadari ada yang salah.
"Dia teman yang baik, bukan? Aku senang kau bisa bertemu dengannya. Cristine selalu menjadi orang yang paling pengertian sejak kami kecil," ucap Sky sambil menggandeng tangan Ozora.
Ozora hanya mengangguk lemah. Ia ingin mengatakan pada Sky tentang bisikan tajam Cristine tadi, tapi ia takut Sky akan menganggapnya cemburu atau berlebihan. Topeng ramah Cristine terlalu sempurna untuk dirusak hanya dengan sebuah pengaduan.
"Ya, dia... sangat ramah," gumam Ozora pelan.
"Dia akan tinggal di Moskow untuk waktu yang lama. Mungkin kalian bisa menjadi teman dekat," lanjut Sky tanpa rasa curiga sedikit pun.
Ozora menatap keluar jendela mobil, melihat butiran salju yang mulai turun. Ia menyadari bahwa Anastasia hanyalah musuh yang terlihat, namun Cristine von Heist adalah predator yang bersembunyi di balik jubah malaikat. Dan yang paling menakutkan adalah, Sky sama sekali tidak menyadarinya.
Apa yang sebenarnya dia inginkan? ucap Ozora dalam hati dengan rasa cemas yang mulai menggerogoti ketenangannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰