Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: KEPULANGAN SANG PEJUANG
#
Senin pagi. Gerbang SMA Negeri 7.
Siswa-siswa pada datang kayak biasa. Ada yang naik mobil, ada yang naik motor, ada yang jalan kaki. Pagi yang biasa aja.
Tapi hari ini... ada yang beda.
Ada cowok berjalan masuk gerbang. Pelan. Percaya diri. Tas ransel hitam di punggung. Seragam rapi, bersih, meskipun bukan yang mahal.
Tapi yang bikin orang nengok bukan seragamnya.
Tapi... auranya.
Badannya lebih besar dari enam bulan lalu. Bahu lebih lebar. Lengan lebih berotot, keliatan dari seragam yang agak kekecilan. Kulit lebih gelap, tapi bersih. Rambut dipotong rapi. Wajah lebih tegas, rahang lebih kencang.
Mata... mata yang paling beda. Dulu kosong, takut, selalu nunduk. Sekarang tajam, fokus, menatap lurus ke depan.
Dyon Syahputra.
Dia balik.
"Eh... itu... itu siapa?" bisik seorang siswi kelas sepuluh ke temannya.
"Nggak tau. Baru ya? Ganteng banget sih..."
"Eh tunggu... itu... itu kayak Dyon deh. Tapi... kok beda banget?"
"Dyon? Dyon yang dulu di-bully itu? Nggak mungkin lah! Ini orangnya keliatan... keren."
Dyon jalan terus. Nggak peduli bisikan. Nggak peduli tatapan orang. Dia jalan ke kelasnya dulu, kelas sebelas yang dulu.
Masuk kelas. Semua yang lagi ngobrol langsung diem. Ngeliatin Dyon yang berdiri di depan pintu.
"ASTAGA!" Andra yang pertama teriak. Loncat dari bangku, lari ke Dyon. "DYON! LO BALIK! LO BENERAN BALIK!"
Andra peluk Dyon erat banget. Nangis. "Gue kangen lo, Tolol! Kemana aja lo?!"
Dyon ketawa, peluk balik Andra. "Gue... gue kerja. Di kota sebelah. Sekarang gue balik buat lanjutin sekolah di sini."
"SERIUS?!" Andra lepas pelukan, pegang bahu Dyon. "Lo... lo balik beneran? Nggak pergi lagi?"
"Nggak," Dyon senyum. "Gue nggak pergi lagi. Gue... gue udah mutusin. Gue akan lulus dari sini. Bareng lo."
Andra nangis lagi, kali ini lebih keras. Peluk Dyon lagi.
Terus ada suara dari belakang.
"DYON!"
Leonardo. Lari masuk kelas, mukanya excited parah. "ASTAGA! LO BENERAN BALIK!"
Leonardo langsung angkat Dyon, literally angkat dari tanah, putar-putar kayak angkat piala kemenangan. "DYON IT'S COMEBACK! DYON SYAHPUTRA HAS RETURNED!"
Anak-anak di kelas pada tepuk tangan, ada yang ketawa, ada yang teriak excited.
"LEO! TURUNIN GUE!" Dyon ketawa, meskipun dia juga seneng.
Leonardo turunin Dyon, terus peluk erat. "Bro... gue kangen lo. Serius. Sekolah ini... sekolah ini nggak sama tanpa lo."
Dyon senyum, peluk balik. "Gue juga kangen kalian."
Mereka lepas pelukan. Leonardo ngeliatin Dyon dari atas ke bawah. "Bro... lo... lo berubah banget. Lo keliatan... keliatan kayak superhero atau apa gitu. Berotot, gagah, keren abis!"
"Hasil kerja enam bulan," Dyon ketawa. "Angkat batu bata, aduk semen. Nggak perlu gym."
Andra nyenggol Leonardo. "Eh, dia udah kayak Captain... eh, maksud gue kayak pahlawan gitu deh! Keren kan?"
"Keren banget!" Leonardo nyengir. "Gue bangga, Bro. Lo... lo bertahan. Lo nggak nyerah."
Dyon tersenyum hangat. Dia duduk di bangku lamanya, paling belakang pojok. Andra langsung duduk di sebelah, Leonardo di depan, noleh terus ke belakang.
"Jadi," Leonardo nanya, "lo... lo udah ketemu Ismi?"
Jantung Dyon langsung dag-dig-dug. "Belum. Gue... gue baru sampe tadi pagi. Belum sempet..."
"Lo harus ketemu dia," Andra nyela. "Dia... dia nunggu lo, Yon. Serius. Dia... dia nggak pernah lupa lo."
"Tapi..." Dyon ragu. "Gimana kalau dia... gimana kalau dia udah move on? Gimana kalau..."
"Nggak bakal," Leonardo potong tegas. "Gue liat dia tiap hari. Dia... dia nggak pernah senyum kayak dulu. Dia... dia kayak zombie. Jalan, makan, sekolah, tapi... matanya kosong."
Dyon ngerasa dadanya sesak. "Dia... dia kenapa?"
"Kangen lo lah, Bodoh," Andra bilang. "Makanya lo harus cepet ketemu dia. Sekarang. Sebelum..."
"Sebelum apa?"
Andra sama Leonardo saling pandang. Ada sesuatu yang mereka sembunyiin.
"Sebelum apa?!" Dyon nanya lagi, lebih keras.
"Edward," Leonardo akhirnya ngomong. "Edward... dia terus nguber Ismi. Tiap hari. Dia... dia kayak stalker. Kemana Ismi pergi, dia ikutin."
Darah Dyon mendidih. "APA?!"
"Tenang dulu," Leonardo pegang bahu Dyon. "Ismi selalu nolak dia. Selalu. Tapi... tapi Edward nggak menyerah. Dia... dia obsesif parah."
Bel masuk bunyi. Guru masuk. Pelajaran dimulai.
Tapi Dyon nggak bisa fokus. Pikirannya cuma ke Ismi. Ke Edward. Ke...
*Gue harus ketemu dia. Sekarang.*
Istirahat pertama. Dyon langsung keluar kelas. Cari Ismi. Ke kelasnya dulu, kelas sebelas dua.
Ngintip dari jendela. Ismi ada di sana, duduk sendirian di bangku tengah. Kurus. Pipinya cekung. Mata kosong ngeliatin buku.
Dyon mau masuk, tapi...
Dia liat Edward. Masuk ke kelas Ismi. Jalan ke bangku Ismi. Duduk di sebelahnya, meskipun Ismi geser menjauh.
Edward ngomong sesuatu. Ismi geleng, nggak mau denger. Edward pegang tangan Ismi. Ismi tarik cepat, berdiri, mau pergi.
Tapi Edward pegang lengannya, tahan.
Jantung Dyon berhenti.
Dari luar, keliatan kayak... kayak mereka deket. Kayak Edward ngegombalin Ismi. Kayak...
*Apa... apa gue udah terlambat?*
Dyon mundur dari jendela. Napasnya sesak. Dadanya sakit.
*Nggak... nggak mungkin. Ismi... Ismi nggak mungkin...*
Tapi mata nggak bisa bohong. Dia liat Edward pegang Ismi. Liat mereka... berdua.
Dyon jalan cepat, balik ke kelas. Duduk di bangku. Kepala ditaruh di meja.
Andra nengok. "Yon? Lo udah ketemu Ismi?"
Dyon geleng. "Nggak... nggak jadi."
"Kenapa?"
"Dia... dia lagi sama Edward."
Andra langsung paham. "Yon... itu bukan yang lo pikir. Edward emang selalu ganggu Ismi. Tapi Ismi... Ismi nggak suka sama dia. Percaya gue."
"Tapi gue liat mereka..."
"Lo liat apa?" Andra nanya. "Lo liat Edward maksa Ismi kan? Bukan Ismi yang mau!"
Dyon diam. Pikirannya kacau.
*Iya... iya bener. Ismi... Ismi ditarik sama Edward. Bukan... bukan karena dia mau.*
Leonardo balik ke bangku mereka. "Yon, dengerin gue. Lo harus ketemu Ismi. Sekarang. Jangan biarkan kesalahpahaman ini terus. Lo udah balik. Lo udah kuat. Sekarang... sekarang tunjukin ke dia kalau lo masih... masih mencintai dia."
Dyon nengadah. Tatap Leonardo. "Lo... lo yakin dia masih nunggu gue?"
"Gue jamin," Leonardo senyum. "Dia... dia nungguin lo tiap hari. Percaya gue."
Dyon napas dalam. Berdiri. "Oke. Gue... gue akan ketemu dia."
"Sekarang?" Andra excited.
"Sekarang."
Mereka bertiga keluar kelas. Jalan ke kelas Ismi. Tapi pas sampe...
Ismi udah nggak ada.
Edward juga nggak ada.
"Kemana mereka?" Dyon panik.
"Mungkin ke kantin," Leonardo bilang. "Ayo kita cari."
Mereka lari ke kantin. Rame. Banyak siswa. Tapi...
Dyon liat mereka.
Ismi. Edward.
Di meja pojok.
Edward duduk di depan Ismi, ngomong sesuatu. Ismi nunduk, nggak natap Edward.
Tapi dari jauh...
Keliatan kayak mereka... pacaran.
Dyon berhenti. Jantungnya remuk.
*Apa... apa gue beneran udah terlambat?*
***
BERSAMBUNG
***