Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wawan yang sebenarnya
Di jalan yang ramai namun tidak begitu macet, tempat ada seorang pria sedang berkendara santai di sana.
Ia memakai pakaian Ojol dan mengendarai motor yang tidak biasa di gunakan di jaman sekarang karena sudah agak ketinggalan jaman.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Wawan.
Pada saat ini ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya yang berada di sebuah komplek perumahan yang tidak begitu baik.
Itu karena di jalan masuk kompleknya saja sudah ada beberapa tetangga yang ribut dan hampir baku hantam.
Entah apa alasan mereka bertengkar seperti itu, tapi dari raut wajah Wawan yang datar itu seakan memberitahukan kalau hal itu sudah biasa di kompleknya....
Meskipun memang wajah Wawan selalu datar dan nyaris tak pernah berubah sama sekali.
Tibalah Wawan di rumahnya yang sederhana.
Meskipun sederhana tapi halaman yang Wawan punya lumayan luas hingga bisa di tanami beberapa sayuran untuk ia konsumsi.
Setibanya di dalam rumah Wawan langsung beristirahat karena ia sangat lelah setelah melakukan pekerjaan yang berat.
Dalam kesendirian Wawan duduk di kursi goyang sambil menatap keluar jendela.
Di jendela itu samar-samar Wawan dapat melihat pantulan dirinya sendiri yang masih datar.
"Haahh... Syukurlah aku masih hidup setelah berurusan dengan seorang kriminal kelas berat seperti bule Rusia itu!" Ekspresinya memang tak berubah.
Tapi nada bicaranya terdengar kalau ia benar-benar sangat senang karena tidak terjadi apa-apa.
Tidak seperti yang orang-orang lihat dan pikirkan ketika melihat Wawan.
Di balik ekspresinya yang datar seakan selalu serius dalam setiap pekerjaannya, Wawan sebenarnya tidak seperti itu.
Alih-alih seorang pria yang pemberani dan selalu fokus pada tujuannya, Wawan sebenarnya adalah orang yang pengecut.
Ia takut mati dan sempat beberapa kali kau kabur dari pekerjaannya sebagai seorang agen rahasia.
Tapi, karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan Wawan tak punya banyak pilihan.
Meskipun berbahaya tapi akan ia kerjakan.
Dan untuk ekspresinya yang selalu terlihat dingin dan tenang, itu karena.... Wawan memiliki suatu penyakit.
Yaitu syaraf wajahnya lumpuh dan membuat wajah Wawan tak bisa mengeluarkan ekspresi seperti orang normal.
Jadi, wajah dinginnya itu bukan karena Wawan adalah orang pemberani yang selalu tenang, melainkan karena penyakitnya sejak lahir.
Setelah duduk dan mengatur nafas sejenak, Wawan kemudian menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu jam 4 sore.
"Walah... Ternyata sudah waktunya sholat ashar!" Segera Wawan mandi dan bersiap-siap untuk menjalankan ibadah wajibkan.
Setelah selesai, Wawan kemudian berjalan-jalan di halaman rumahnya untuk merawat sayuran-sayuran yang ia tanam sendiri.
Ketika Wawan sedang sangat fokus pada sayurannya, tiba-tiba saja seorang bapak-bapak berkumis tebal muncul.
Ia tersenyum pada Wawan sebelum akhirnya mengucapakan salam. "Asalamualaikum!"
"Lagi berkebun, Wawan!?" Tanyanya dengan sopan dan ramah pada Wawan yang sedang mencabuti beberapa rumput liar.
Wawan segera membalas dengan ekspresinya yang biasa. "Cuma sedang mencabuti rumput liar kok, pak RT!"
Terungkap lah kalau bapak-bapak berkumis tebal itu adalah pak RT di komplek ini.
Berbeda dengan warganya, pak RT ini adalah orang yang sangat tenang dan tidak suka ribut dengan tetangga lain...
Yah, kalau dia suka ribut dengan warganya sendiri mana mungkin juga dia akan di pilih sebagai RT di komplek itu.
"Pak RT mau kemana sore-sore begini!?" Tanya Wawan sambil berjalan dan menghampiri pak RT yang tak jauh darinya.
"Cuma sedang jalan-jalan biasa sambil memeriksa keadaan warga!" Pak RT menjawab sambil mengelus-elus kumisnya.
"Jadi gimana!?" Tanya Wawan.
"Apanya yang gimana? Kamu sendiri tahu seperti apa warga komplek kita bukan!?"
"Tiap hari ada aja yang di ributkan sama mereka. Bahkan ayam berkokok pun bisa jadi perkara yang di bawa ke kantor polisi!" Pak RT hanya bisa menghela nafas.
Ia sendiri sebenarnya sangat lelah mengurusi warga yang suka cari ribut yang tinggal di komplek ini.
Ingin sekali ia pensiun dan istirahat saja di rumahnya.
Tapi, karena sekarang ia sudah menjabat mana mungkin ia buang begitu saja jabatannya selayaknya orang yang tidak bertanggung jawab.
Pak RT sudah punya komitmen kalau ia akan bertanggung jawab sampai masa jabatannya berakhir.
Atau sampai ia menemukan orang yang bisa menggantikannya menjadi seorang RT.
"Ngomong-ngomong, Wawan. Akhir-akhir ini kamu jarang sekali kelihatan di rumahmu, bahkan kadang-kadang ketika malam hari lampu rumah kamu masih belum menyala!"
"Apa karena kamu sibuk dan akhir-akhir ini jarang pulang!?" Wawan sejenak terdiam.
Dalam hati Wawan bergumam. 'Gak sepenuhnya benar sih, karena... Belakangan ini aku gak punya uang untuk beli token.'
'Tapi memang. Belakangan ini aku juga agak sibuk karena tugas pengintaian pada malam hari.'
Wawan pun menjawab tapi tidak menyingkap semuanya, hanya yang penting saja yang Wawan ucapakan. "Ya. Belakangan ada beberapa malam dimana saya harus lembur karena pekerjaan!"
"Seperti yang saya duga....!"
"Ngomong-ngomong, Kamu kerja apa sebenarnya hingga jam kerjanya tidak menentu seperti itu?!" Wawan terdiam lagi.
Mana mungkin ia akan mengungkapkan pekerjaannya pada sembarangan orang.
Selain dari menyalahi aturan markas, Wawan juga bisa dalam bahaya kalau orang yang punya niat buruk tahu kalau ia adalah seorang agen.
"Saya kerja di tempat fotokopi, pak!"
"Karena karyawannya sangat sedikit makanya kadang-kadang saya harus lembur!" Tidak sepenuhnya salah.
Markas itu memang tersembunyi di balik kedok tempat fotokopi dan pekerja di sana sangat sedikit.
Kalau komandan mereka di hitung, total agen yang ada di markas itu ada tujuh orang.
Pada awalnya Wawan mau mengajak pak RT masuk karena merasa kalau pak RT hanya mau mengobrol dengannya.
Apalagi pak RT memang kerap mengobrol dengan Wawan karena menurut pak RT cuma Wawan saja warganya yang tidak pernah berulah.
Namun baru juga mau di ajak masuk, tiba-tiba...
Duarr!!
"Astagfirullah!!" Keduanya berucap secara serentak ketika suara ledakan tiba-tiba terdengar dari arah salah satu rumah.
"Apa itu!?" Kata pak RT sambil melihat ke arah rumah kini sudah mulai terbakar dan mengeluarkan asap hitam.
"Apa ada tabung meledak di sana!?" Ucap Wawan dengan ekspresinya yang masih datar.
"Apapun itu kita kesampingkan dulu. Ayo pergi ke sana dan bantu padamkan apinya dulu!" Segera Wawan dan pak RT pergi untuk memadamkan apinya.
Tidak seperti warga di tempat-tempat lain yang mana kalau ada kebakaran akan spontan bergotong royong untuk memadamkan apinya.
Di komplek ini tidak ada hal yang seperti itu.
Para warganya malah acuh meskipun mereka telah melihat apa yang terjadi pada tetangga mereka.
"Bodo amat lah, bukan rumah gua juga yang kebakaran!" Ucap salah satu warga yang melihat kejadian itu dari jendela.
Ia lanjut duduk di depan televisi dan menonton tanpa terlihat peduli pada apa yang terjadi pada tetangganya.
Setengah jam kemudian, apinya padam...
Dan alasan padamnya api itu adalah karena pihak damkar yang sudah datang dan menyiram api itu.
Di sini, pihak damkar agak heran karena tak menemukan banyak orang di sini.
Sejak mereka tiba, yang ada di sekitar lokasi hanya ada Wawan dan pak RT kalau pihak yang punya rumah tidak di hitung.
"Mohon maaf pak. Kenapa di sini tidak ada banyak orang, ya!?"