Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan sikap Elgard
Brakk...
Bianca menutup pintu apartemennya dengan keras setelah mendorong Elgard keluar dari sana.
"Bee!!"
Bianca tidak mempedulikan suara Elgard yang malah memanggilnya di luar sana. Dia juga tidak peduli dengan memar di wajah pria itu karena menurutnya, Elgard juga seorang dokter dan pastinya bisa mengobati dirinya sendiri.
Dia mulai muak karena terus berhubungan dengan Elgard semenjak mereka bertemu untuk pertama kalinya waktu itu.
Sebenarnya untuk apa juga Elgard terus menghantuinya seperti itu. Semua sikap Elgard saat ini justru membingungkannya karena dulu pria itu sendiri yang memilih pergi dan meninggalkan dirinya. Elgard sendiri yang memutuskan untuk menjauh meski sebenarnya ada kesempatan untuk bertahan dan membantu Bianca saat itu.
Jadi selain Bianca memang enggan berhubungan kembali dengan Elgard, dia juga dibuat bingung dengan sikap Elgard sekarang ini.
"Sayang, apa yang terjadi pada wajahmu?" Meriana menyentuh ujung bibir Elgard yang lebam karena kejadian tadi malam.
"Tidak papa, masalah lelaki!" Elgard memalingkan wajahnya menjauh dari tangan kekasihnya itu.
Mereka saat ini ada di ruangannya, Elgard tak ingin ada yang mengura dirinya dan Meriana sedang bermesraan karena kebetulan pintu ruangan Elgard terbuka dengan lebar.
"Kau berkelahi?"
"Hanya salah paham!" Jawab Elgard seadanya agar Meriana tidak bertanya lebih jauh.
"Kau tidak ada pemotretan hari ini?"
"Tidak, makanya aku datang ke sini. Aku ingin kau menemaniku makan siang!"
Elgard tampak melihat jam ditangannya, kemudian memeriksa jadwalnya hari ini.
"Biarlah, tapi aku senggang hanya sampai jam dua nanti. Jadi aku tidak bisa menemanimu lama-lama!"
Wajah Meriana tampak kecewa, dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama Elgard seharian penuh kalau sedang senggang seperti saat ini.
"Baiklah tapi nanti malam kau datang ke apartemenku kan?"
"Iya, tapi kalau tidak ada operasi darurat!"
"Ck!" Meriana berdecak kesal. Dia tau kekasihnya itu seorang dokter yang mempunyai tanggung jawab besar, tapi dia kesal karena selalu menjadi nomor dua setelah pasien-pasien Elgard itu.
"Jangan marah. Bulan depan aku akan menemanimu liburan kemanapun kau mau!"
"Benarkah?" Meriana tentu saja terkejut sekaligus senang karena Elgard biasanya sangat susah untuk diajak liburan.
"Hmm, sesuaikan saja jadwalmu!"
"Aaaa thank youu Babe!" Meriana memeluk Elgard dan memberikan kecupan singkat di bibir Elgard.
"Sudah ayo pergi, tidak enak dilihat orang di sini!" Elgard mengajak Meriana untuk keluar dari ruangannya menuju ke restoran tempat mereka akan makan siang berdua.
"Lihatlah, gaun ini sangat cocok ditubuhku kan?" Meriana menujukkan hasil pemotretannya kemarin pada Elgard di saat mereka sedang menunggu makan siangnya datang.
"Seluruh tubuhmu hampir terlihat, seperti tidak memakai apa-apa!" Terang Elgard yang sebenarnya risih melihat Meriana memamerkan tubunya di depan kamera.
"Ayolah El, kau tau profesiku sebagai apa!"
"Semua itu tergantung padamu. Kalau kau tidak mau memakai dan sejak awal kontrak menekankan hal itu, tentu saja mereka tidak akan memaksa!"
"Jangan mulai El!" Meriana tau arah pembicaraan mereka akan berakhir seperti apa.
"Hmm, terserah padamu!" Elgard memilih diam dan memalingkan wajahnya ke arah jalanan yang cukup ramai saat jam makan siang seperti saat ini.
Ada sesuatu yang menarik perhatian Elgard sampai membuat tatapannya terpaku pada satu titik agak jauh di seberang jalan sana.
Sejak tadi Elgard memang melihat boneka icon berdiri di pinggir jalan yang berjoget-joget menawarkan produknya. Tapi Elgard tidak menyangka kalau orang di dalam boneka itu adalah Bianca. Elgard baru melihatnya ssat Bianca melepas bagian kepala boneka itu sehingga memperlihatkan wajahnya.
Dari kejauhan Elgard bisa melihat Bianca begitu kelelahan. Tangannya yang masih memakai sarung tangan boneka itu ia gunakan untuk mengsap peluh di dahi dan dagunya.
Ada perasaan tak nyaman yang menggelitik hati Elgard ketika melihat Bianca saat ini. Dia sendiri tak tau kenapa perasaan itu sering kali muncul akhir-akhir ini.
"Babe!"
"EL!!" Meriana agak berseru karena Elgard sama sekali tidak mendengarkannya.
"Ada apa?"
"Apa yang kau lihat sebenarnya sampai kau tidak mendengarkanku sejak tadi?" Meriana mengikuti arah pandangan Elgard sejak tadi.
Tapi sepertinya Meriana tidak menyadari tentang Bianca yang ada di seberang jalan sana. Lagipula penampilan Bianca saat ini sudah berubah banyak, pasti Meriana juga tidak akan mengenalinya.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan pasien ku yang akan operasi besok pagi!"
"Ck, bisa tidak kalau kau sedang bersamaku, tidak usah memikirkan pasienmu!" Kesal Meriana.
"Kau tau profesiku Mer!"
Meriana tampak kesal karena Elgard mengulang kata-katanya tadi.
"Silahkan Tuan, Nona!"
Makanan mereka satu per satu tiba di meja mereka. Melihat begitu banyaknya makanan di depa matanya, Elgard kembali teringat tentang Bianca yang hanya memakan nasi dengan kuah saja.
"Ayo dimakan dong El!" Pinta Meriana karena sejak tadi Elgard hanya diam saja.
"Aku ke toilet dulu!" Elgard meninggalkan Meriana dan makanannya yang banyak tadi. Dia rasanya sudah tidak bisa menelan makanan karena mengingat bagaimana susahnya Bianca mencari uang untuk sesuap nasi.
"Permisi Nona!"
Bianca yang sedang beristirahat di bangku yang ada di pinggir jalan mendongak menatap pria di sampingnya.
"Ya?"
"Restoran kami sedang mengadakan berbagi makanan gratis khusus hari ini dan ini untuk Nona!"
Bianca melihat tulisan pada bag yang diberikan oleh pria muda di sampingnya. Itu adalah restoran yang ada di seberang jalan sana. Yang Bianca tau, restoran itu termasuk restoran mahal dan menjadi langganan para sosialita dan juga public figure.
"Silahkan Nona!" Pria itu terlihat memaksa meski Blanca terkihat enggan menerimanya.
"Terima kasih banyak!"
"Sama-sama Nona, saya permisi!" Pria itu langsung berlari menyeberangi jalan dan masuk ke dalam restoran tadi.
Sementara Bianca, dia mulai mencium wangi masakan yang ada di dalam bag tadi. Bianca ragu, namun dia perutnya terasa begitu lapar karena tadi pagi dia hanya memakan sepotong roti untuk sarapan.
Bianca memutuskan untuk mulai memakan makanan yang ternyata tidak hanya satu jenis saja. Tapi ada beberapa dan itu semua makanan kesukaan Bianca sejak dulu.
Dia terlihat menikmati makanannya itu. Sepertinya Bianca sudah tak peduli lagi tentang makanan itu dari siapa atau benar tidaknya yang dikatakan pelayan restoran tadi.
Tapi yang jelas saat ini Bianca lapar. Sudah lama sekali dia tidak makan makanan seperti itu. Bianca bahkan sampai menitikkan air mata karena merasa begitu terharu hanya dengan sebuah makanan.
Bianca mengusap air mata dengan punggung tangannya, dia menangis bukan karena pedas atau karena lada yang masuk ke dalam saluran pernapasannya, tapi karena dia merasa miris pada hidupnya sendiri.
Ditengah menyantap makanannya, bahkan makanan di dalam mulutnya masih ia kunyah, mata Bianca tak sengaja menangkap dua orang yang ia kenal dari restoran di depan sana. Mereka terlihat begitu mesra dengan tangan yang saling menggenggam.
Bianca sadar kalau matanya sempat bersitatap dengan mata pria di seberang sana. Tapi Bianca langsung memutusnya, memilih menundukkan kepalanya.
Sekarang, Bianca justru berpikir jika makanan yang ia dapatkan itu dari Elgard. Pria itu yang membelinya dan meminta pelayanan untuk mengantarkan kepadanya. Mungkin Bianca memang terlalu percaya diri. Tapi nyatanya, kalau memang ada makanan gratis di restoran itu, kenapa orang-orang di sekitar sana tampak begitu tenang dan hanya dia saja yang diberi makanan itu.
Bianca menutup kembali kotak makan tadi dan memasukkannya ke dalam bag, kemudian langsung membuangnya begitu saja ke tempat sampah.
Apa yang Bianca lakukan itu tak luput dari tatapan Elgard. Dia yang sempat senang karena melihat Bianca malan dengan lahap, kini justru berubah kecewa.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur