Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: GERHANA
Udara malam Surabaya yang biasanya gerah terasa dingin menusuk tulang bagi Bintang Rigel. Di hadapannya, Vanya Clarissa berdiri dengan gaun biru dongker—warna yang sama persis dengan kode yang disepakati dalam surat terakhir Cassiopeia. Musik dari panggung utama Cakrawala Fest di lapangan bawah terdengar samar, tertutup oleh detak jantung Bintang yang tidak beraturan.
"Lo... Cassiopeia?" tanya Bintang sekali lagi, suaranya parau. Ada nada ketidakpercayaan yang kental di sana. Logikanya berbenturan keras. Cassiopeia yang ia kenal lewat tulisan adalah jiwa yang rapuh, puitis, dan mengerti tentang kesunyian alam semesta. Vanya adalah... Vanya. Definisi dari kebisingan sosial dan sorot lampu sorot.
"Kenapa mukanya gitu?" Vanya terkekeh pelan, sebuah tawa yang terlatih sempurna. Ia melangkah maju, mempersempit jarak. "Kecewa karena ternyata 'pengagum rahasia' lo adalah cewek yang selama ini ada di depan mata lo?"
"Bukan," potong Bintang cepat. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak aman. "Cuma... nggak masuk akal. Lo nggak suka astronomi, Nya. Lo bahkan pernah bilang pelajaran Fisika itu buang-buang waktu pas kita sekelas di kelas sepuluh."
Vanya tidak goyah. Ia sudah mengantisipasi ini. "Orang berubah, Bin. Atau mungkin, gue cuma pura-pura nggak suka biar bisa merhatiin lo dari jauh tanpa dicurigai. Surat-surat itu... cara gue jadi diri sendiri."
Sementara itu, di tangga lantai dua, situasi jauh lebih kaotis. Keyla Aluna, dengan gaun *midnight blue* sederhananya, masih terhalang oleh tiga anggota geng Vanya yang berdiri bak tembok beton.
"Minggir!" Keyla memohon, suaranya bergetar menahan tangis. "Aku harus ke atas!"
"Eits, buru-buru amat. Di atas lagi ada *private moment*, Key. Jangan ganggu," ujar salah satu dari mereka sambil bersedekap, senyum sinis terukir di bibirnya.
Keyla hendak menyerah, tubuhnya lemas. Namun, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang berat dan cepat dari arah koridor bawah, diikuti teriakan yang memekakkan telinga.
"WOI! MINGGIR GAK KON KABEH?!"
Dinda Pertiwi muncul seperti badai, napasnya memburu, matanya menyala marah. Ia baru saja selesai dari toilet dan menyadari Keyla tidak ada di *venue*. Tanpa basa-basi, Dinda menerobos barikade manusia itu dengan bahunya.
"Heh, kasar banget sih lo!" protes salah satu antek Vanya.
"Lambemu!" balas Dinda garang dengan logat Surabaya yang kental. "Kalian ngapain nahan Keyla? Mau tak laporin Pak Suryo lek kalian *bullying* di acara sekolah? Minggir atau tak teriak sekarang biar satu sekolahan denger!"
Ancaman itu efektif. Mereka tahu Dinda cukup gila untuk benar-benar berteriak. Barikade itu terbuka. Dinda langsung menarik tangan Keyla. "Ayo, Key! Lari!"
Mereka berlari menaiki sisa anak tangga menuju rooftop. Jantung Keyla berpacu lebih cepat dari kakinya. *Tunggu aku, Bintang. Tolong jangan pergi dulu.* Konjungsi belum berakhir. Langit masih memberikan kesempatan.
Keyla sampai di depan pintu besi rooftop yang sedikit terbuka. Napasnya tersengal. Ia hendak mendorong pintu itu lebar-lebar, untuk mengklaim tempatnya, untuk mengatakan "Aku di sini".
Namun, tangannya membeku di udara.
Melalui celah pintu, ia melihat pemandangan yang menghancurkan dunianya dalam sekejap. Di bawah pendar lampu sorot panggung yang memantul ke atas gedung, Vanya sedang memegang lengan Bintang. Sangat dekat. Dan Bintang... Bintang tidak menepisnya.
"Gue tahu soal *Spectroscopy*, Bin," suara Vanya terdengar sayup-sayup, namun cukup jelas di telinga Keyla. Vanya menggunakan istilah yang ia curi dari surat terakhir Keyla yang disita antek-anteknya tadi pagi di tas Keyla secara diam-diam—sebuah fakta yang baru Keyla sadari sekarang. "Tentang melihat warna asli di balik cahaya putih. Gue mau lo lihat warna asli gue."
Keyla merasa seolah gravitasi di kakinya hilang. Itu kalimatnya. Itu perasaannya. Dan sekarang, kalimat itu keluar dari mulut orang lain, ditujukan pada orang yang ia cintai.
"Key..." bisik Dinda di belakangnya, melihat apa yang dilihat Keyla.
Keyla menggeleng lemah. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, merusak sedikit bedak tipis yang dipakaikan Dinda. "Sudah selesai, Din. Gerhana total. Cahayaku udah ketutup."
"Jangan goblok! Labrak sekarang! Itu Vanya nipu!" desak Dinda gemas.
"Nggak," suara Keyla terdengar mati. "Bintang nggak nolak dia. Kalau aku masuk sekarang, aku cuma bakal jadi orang gila yang ngerusak momen mereka. Ayo turun."
Tanpa menunggu jawaban Dinda, Keyla berbalik dan berlari turun, meninggalkan rooftop, meninggalkan Bintang, dan meninggalkan harapan yang sempat tumbuh selama lima belas bab kehidupannya.
Di rooftop, Bintang melepaskan tangan Vanya perlahan tapi tegas. Keningnya berkerut. Ada sesuatu yang salah. Kalimat Vanya tentang *Spectroscopy* memang benar, itu isi surat terakhir. Tapi nadanya... kosong. Tidak ada getaran emosi yang biasanya ia rasakan saat membaca tulisan Cassiopeia. Rasanya seperti mendengar seseorang membaca naskah drama yang buruk.
"Oke, kalau lo beneran Cassiopeia," ujar Bintang tajam, matanya menatap tajam ke manik mata Vanya. "Di surat ke-19, gue nulis *sticky note* balasan di buku apa?"
Vanya terdiam. Senyumnya membeku sesaat. Dia tahu isi surat-surat itu karena mencurinya, tapi dia tidak tahu detail interaksi fisik atau lokasi persembunyian yang spesifik karena dia tidak selalu mengawasi 24 jam. "Buku... Astronomi?"
Bintang menggeleng pelan. Kekecewaan—atau mungkin kelegaan—mulai merambat di dadanya. "Salah. Gue nggak nempel di buku. Gue nempel di balik meja."
"Maksud gue itu!" Vanya mencoba mengoreksi panik. "Gue lupa detail kecil, Bin. Gue gugup!"
Bintang mundur lagi. Ia menoleh ke arah pintu rooftop. Ia bersumpah tadi mendengar suara langkah kaki dan bisikan. "Lo bukan Cassiopeia, Nya. Atau seenggaknya, lo belum bisa buktiin itu ke gue."
"Bin!" seru Vanya saat Bintang berbalik badan.
"Gue mau turun. Gue butuh udara," Bintang berjalan cepat meninggalkan Vanya yang mengepalkan tangan menahan amarah di rooftop sendirian. Bintang membuka pintu besi dan melihat sesuatu di lantai. Sebuah jepit rambut kecil berbentuk bintang berwarna perak.
Benda itu sederhana, murah, dan jelas bukan gaya Vanya yang selalu memakai barang *branded*. Bintang memungutnya. Benda ini terasa lebih *nyata* daripada pengakuan Vanya barusan. Hatinya berdesir aneh. Seseorang lain pernah ada di sini tadi.
Sementara itu, di parkiran sekolah, Keyla sudah duduk di atas motor *beat* Dinda, menghapus air matanya dengan kasar. Malam ini, Surabaya tidak romantis. Malam ini, Surabaya hanyalah kota panas yang membakar perasaannya menjadi abu.
"Kita ke Zangrandi?" tawar Dinda pelan, tidak berani membentak sahabatnya yang sedang hancur.
"Pulang, Din. Aku mau tidur. Besok aku mau pura-pura hari ini nggak pernah ada," jawab Keyla lirih, memandang langit yang gelap tanpa bintang.