Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan Sang Penguasa dan Dilema Tinta Kehidupan
Lereng curam Puncak Meru berubah menjadi jalur maut saat getaran dari pertempuran Sang Naga Langit di atas sana meruntuhkan bongkahan es dan bebatuan raksasa. Ranu, Nara, Lingga, dan Sastro meluncur turun dengan kecepatan tinggi, menerobos kabut yang kini mulai tercemar oleh serpihan bulu hitam burung gagak kehampaan.
"Den Ranu! Botolnya aman di tangan hamba! Tapi jantung hamba rasanya mau copot!" teriak Sastro sambil memeluk botol kristal Tinta Kehidupan seolah-olah itu adalah nyawanya sendiri.
"Tetaplah berlari, Sastro! Jangan menoleh ke belakang!" sahut Ranu.
Namun, tepat saat mereka mencapai sebuah dataran datar yang dikenal sebagai Pelataran Cermin Jiwa, langkah mereka terhenti secara paksa. Udara di depan mereka membeku, membentuk sesosok pria yang sangat identik dengan rupa asli Wira Candra di masa jayanya. Pria itu mengenakan zirah perang langit yang sempurna, berkilauan dengan cahaya bintang yang dingin dan tanpa emosi.
"Wira Candra yang asli," bisik Lingga dengan tangan gemetar di hulu pedangnya.
Sosok itu menatap Ranu dengan pandangan merendahkan. Ia adalah Candra Kegelapan, sisa-sisa ego dan kesombongan Ranu yang ia buang saat ia memilih untuk bereinkarnasi menjadi manusia.
"Kau terlihat menyedihkan, Ranu," ucap sosok itu, suaranya seperti gema di dalam ruang kosong.
"Kau membuang keagunganmu demi nasi jagung dan teman-teman yang fana. Kau menyerahkan botol itu kepada seorang pelayan yang gemetar ketakutan. Apakah ini caramu menyelamatkan dunia? Dengan menjadi lemah?"
Ranu melangkah maju, menghalangi teman-temannya. Wajahnya yang semula tegang kini perlahan menjadi tenang.
"Kelemahan adalah bagian dari kemanusiaan, Candra. Dan dari kelemahan itulah muncul keberanian untuk saling mengandalkan. Sesuatu yang tidak pernah kau mengerti saat kau duduk sendirian di singgasana langit."
Candra Kegelapan tertawa dingin, ia mengangkat tangannya dan sebuah pedang yang terbuat dari cahaya hitam muncul di genggamannya.
"Keberanian adalah ilusi bagi mereka yang tidak punya kekuatan. Jika kau ingin menggunakan Tinta Kehidupan itu, kau harus membuktikan bahwa kau masih memiliki otoritas sebagai penguasa. Serahkan kemanusiaanmu kembali padaku, atau aku akan membunuh mereka semua di depan matamu."
Seketika, Candra Kegelapan melesat. Serangannya begitu cepat hingga Lingga bahkan tidak sempat menghunus pedangnya. Namun, Ranu menangkis serangan itu bukan dengan senjata, melainkan dengan telapak tangan kosong yang dilapisi aura Bintang Kedelapan.
"Lingga, Nara! Bawa Sastro menjauh dari sini! Menuju Danau Kedamaian!" perintah Ranu tanpa menoleh.
"Tapi Ranu, kau tidak bisa melawannya sendirian dalam kondisi ini!" seru Nara.
"Ini adalah urusan masa laluku. Jika aku tidak bisa menaklukkan bayanganku sendiri, aku tidak akan pernah pantas menuliskan segel akhir dengan tinta itu. Pergilah!"
Nara melihat tekad yang tak tergoyahkan di mata Ranu. Dengan berat hati, ia menarik tangan Sastro dan Lingga untuk melanjutkan perjalanan. Candra Kegelapan mencoba mengejar mereka, namun Ranu menciptakan dinding api perak yang memisahkan area tersebut.
Pertempuran antara Sang Penguasa dan Bayangannya pun pecah. Setiap benturan energi mereka menciptakan lubang-lubang dimensi di udara. Ranu bertarung dengan teknik yang lebih luwes dan tak terduga, sementara Candra Kegelapan bertarung dengan kekuatan murni yang menghancurkan.
"Kenapa kau tidak menggunakan kekuatan bintangmu yang sebenarnya?!" teriak Candra Kegelapan sambil menebaskan pedang hitamnya.
"Kau menahan diri karena kau takut menyakiti tanah fana ini? Kau pengecut!"
Ranu terlempar menghantam dinding tebing, darah emas mengalir dari sudut bibirnya. Ia berdiri perlahan, matanya menatap botol tinta yang kini sudah menjauh di tangan Sastro.
"Aku tidak menahan diri karena takut, Candra. Aku menahan diri karena aku tidak perlu menghancurkan untuk menang. Menjadi manusia mengajariku bahwa kekuatan sejati adalah kendali, bukan ledakan tanpa arah."
Ranu memejamkan matanya. Ia tidak lagi membalas serangan Candra Kegelapan dengan kekerasan. Ia justru membuka pertahanannya, membiarkan bayangannya itu menusukkan pedang cahaya hitam tepat ke dadanya.
"Ranu!" teriak suara-suara di dalam pikirannya.
Candra Kegelapan tertegun. Pedangnya menembus dada Ranu, namun tidak ada darah yang keluar. Sebaliknya, cahaya perak dari Bintang Kedelapan mengalir dari luka itu dan mulai menyelimuti tubuh Candra Kegelapan.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku menerimamu kembali," bisik Ranu lembut.
"Kau adalah bagian dari perjalananku. Kau adalah ambisiku, kesombonganku, dan rasa sakitku. Tanpa kau, aku tidak akan tahu artinya menjadi rendah hati. Mari kita akhiri perpecahan ini."
Candra Kegelapan mencoba meronta, namun kehangatan dari cinta Ranu terhadap kehidupan fananya terlalu kuat. Bayangan itu perlahan mencair dan menyatu kembali ke dalam sukma Ranu. Kekuatan Ranu mendadak meluap, bukan lagi sebagai dewa yang jauh, tapi sebagai entitas yang menyatu dengan alam semesta.
Di sisi lain, Sastro, Lingga, dan Nara telah sampai di tepi Danau Kedamaian. Air danau itu begitu tenang hingga memantulkan langit seperti cermin sempurna. Namun, di tengah danau, pusaran kegelapan mulai muncul—tanda bahwa Nadir sudah mulai menembus batas dimensi.
"Sastro, botolnya!" seru Nara.
Sastro hendak menyerahkan botol itu, namun tiba-tiba tanah di bawah mereka meledak. Sosok gagak raksasa tadi mendarat, berubah menjadi bentuk manusia setengah burung yang sangat mengerikan.
"Serahkan tintanya, manusia rendah! Atau aku akan mencabik-cabik jiwamu!" ancam sang utusan kehampaan.
Sastro gemetar hebat. Botol di tangannya hampir jatuh. Lingga sudah terluka parah dan Nara kehabisan energi. Di saat kritis itu, Sastro melihat bayangan Ranu di permukaan danau.
"Tidak akan!" teriak Sastro dengan keberanian yang muncul dari rasa putus asa.
"Den Ranu sudah mempertaruhkan segalanya! Hamba tidak akan membiarkan ikan goreng hamba dimakan olehmu!"
Sastro berlari menuju tengah danau, melompat ke atas air yang secara ajaib mengeras di bawah kakinya karena sisa energi Ranu. Utusan kehampaan itu mengejar dengan sayapnya yang membentang luas.
Tepat sebelum cakar sang monster menyentuh Sastro, sebilah bambu kuning melesat dari langit dan menancap tepat di depan Sastro, menciptakan kubah pelindung hijau yang megah.
Ranu mendarat di atas permukaan air dengan anggun. Rambutnya kini perak panjang dengan ujung-ujung emas, dan auranya begitu damai hingga burung-burung di sekitar danau mulai bernyanyi di tengah badai.
"Terima kasih sudah menjaganya, Sastro. Sekarang, biarkan aku menuliskan bab penutup untuk kegelapan ini," ucap Ranu.
Ranu mengambil botol Tinta Kehidupan. Ia membukanya, dan bukannya menggunakan kuas, ia mencelupkan jari telunjuknya ke dalam tinta tersebut. Di udara yang kosong di atas danau, Ranu mulai menuliskan aksara kuno yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di dunia fana.
Setiap coretan tinta itu mengeluarkan suara nyanyian alam. Nadir yang mencoba keluar dari pusaran danau menjerit kesakitan saat aksara itu mulai mengelilinginya seperti rantai emas.
"Kau tidak bisa mengurungku selamanya, Wira Candra!" raung Nadir.
"Aku tidak mengurungmu, Nadir," sahut Ranu sambil menyelesaikan coretan terakhirnya.
"Aku mengembalikanmu ke dalam siklus kehidupan. Kehampaanmu akan menjadi pupuk bagi bintang-bintang baru yang akan lahir."
Ranu menghantamkan telapak tangannya ke arah aksara tersebut. Sebuah ledakan cahaya yang tidak menyakitkan menyapu seluruh danau, seluruh Benua Barat, dan seluruh dunia. Nadir menghilang, bukan dihancurkan, tapi dilarutkan kembali menjadi energi murni yang netral.
Setelah cahaya memudar, Danau Kedamaian kembali sunyi. Ranu berdiri di atas air, wajahnya tampak sangat lelah namun damai. Bintang-bintang di punggungnya menghilang satu per satu, kembali ke langit di mana mereka berasal. Kini, ia benar-benar hanya menjadi manusia biasa.
"Ranu?" panggil Nara pelan.
Ranu berbalik dan tersenyum.
"Semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi dewa jatuh, tidak ada lagi kehampaan. Dan yang paling penting..."
Ranu menoleh ke arah Sastro yang masih memegang erat tas perbekalannya.
"Sastro, apakah kau masih menyimpan sambal terinya? Aku benar-benar merasa lapar sekarang."
Mereka berempat tertawa di bawah sinar matahari yang hangat. Di kejauhan, Gunung Meru tampak berdiri kokoh, dan bayangan naga putih terbang melintasi awan, memberi tanda penghormatan terakhir bagi muridnya yang telah melampaui sang guru.
......................
Dunia telah selamat, namun perjalanan Ranu sebagai manusia baru saja benar-benar dimulai. Tanpa kekuatan dewa, mampukah ia menjalani hidup sederhana di desa bersama orang tuanya? Dan rahasia apa yang sebenarnya tersimpan di dalam botol Tinta Kehidupan yang kini telah kosong?
......................