Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 LUKA YANG TAK TERLIHAT DAN JARING PENYAMARAN
Selasa, 31 Maret 2025, Musim Semi
Langit London pagi ini tampak abu-abu, seolah merefleksikan suasana hati Olivia Elenora Aurevyn yang kian berat. Setelah malam yang penuh dengan isak tangis Alex, Olive hampir tidak memejamkan matanya. Ia terus terjaga, menatap wajah putranya yang tertidur dengan napas yang sesekali tersengal. Mimpi buruk itu bukan lagi sekadar bunga tidur; itu telah menjadi parasit yang menggerogoti keceriaan Alex.
"Mama... Alex takut tidur," bisik suara kecil itu saat matahari mulai mengintip dari balik tirai.
Olive merasakan hatinya hancur berkeping-keping. "Sayang, hari ini kita tidak akan takut lagi. Mama janji. Karena Alex sudah menjadi anak yang hebat, hari ini kita akan merayakan ulang tahun Alex yang keempat! Kemarin kan Mama sangat sibuk, jadi hari ini adalah hari khusus untuk Alex," ujar Olive dengan nada riang yang dipaksakan.
Mata Alex yang tadinya sayu perlahan berbinar. "Benarkah, Ma? Alex boleh beli mainan robot yang ada di TV?"
"Tentu saja! Apapun yang Alex mau," jawab Olive sambil mencium pipi gembul putranya.
Olive segera memanggil Pak Darma, supir pribadinya yang setia. Pak Darma adalah orang Indonesia yang sudah lama tinggal di London dan menjadi salah satu dari sedikit orang yang dipercayai Olive untuk menjaga privasinya. Dengan mobil sedan hitam yang elegan namun tidak terlalu mencolok, mereka berangkat menuju pusat kota.
Namun, sebelum ke toko mainan, Olive mengarahkan Pak Darma ke sebuah rumah sakit spesialis yang memiliki departemen psikologi anak terbaik di London. Ia tahu, kebahagiaan sesaat dari mainan tidak akan menyembuhkan luka batin Alex.
Sesampainya di rumah sakit, Alex tampak agak tegang. "Kenapa kita ke sini, Ma? Alex tidak sakit."
"Hanya cek kesehatan sebentar, Sayang. Agar Alex kuat seperti pahlawan di TV," rayu Olive lembut.
Proses observasi berlangsung selama satu jam. Alex diajak bermain dan berbicara oleh asisten dokter, sementara Olive menunggu dengan perasaan cemas yang luar biasa. Setelah selesai, Alex keluar ditemani oleh Pak Darma untuk menunggu di ruang tunggu yang dipenuhi buku cerita.
Olive menarik napas panjang dan melangkah masuk ke ruangan Dokter Sarah, seorang psikolog anak senior. Di atas meja, sudah tersedia data-data hasil observasi singkat terhadap Alex.
"Nyonya Aurel, saya harus berbicara jujur mengenai kondisi putra Anda," ujar Dokter Sarah dengan raut wajah serius. "Berdasarkan observasi dan cerita yang Alex sampaikan melalui media gambar, Alex mengalami apa yang kami sebut sebagai Paternal Deprivation Syndrome yang cukup akut."
Olive mengerutkan dahi, tangannya meremas tas tangannya kuat-kuat. "Apa artinya itu, Dok?"
"Alex merasa ada kekosongan identitas yang sangat besar. Mimpi buruknya tentang 'dunia yang tidak menerimanya' adalah manifestasi dari rasa tidak aman karena ia tidak memiliki figur pelindung sekunder, yaitu seorang ayah. Di usianya yang keempat, anak laki-laki mulai mencari cerminan diri pada sosok pria. Tanpa itu, ia merasa dirinya 'cacat' atau tidak diinginkan oleh sosok yang seharusnya ada di sana."
Dokter Sarah menghela napas pendek. "Saran saya, jika Anda ingin mimpi buruk ini berhenti dan Alex tidak mengalami trauma berkepanjangan hingga dewasa, Anda harus segera menghadirkan figur sosok ayah untuknya. Ia membutuhkan kehadiran pria yang bisa ia jadikan panutan dan pelindung. Jika tidak, kondisi psikologisnya akan semakin memburuk."
Air mata yang sejak tadi ditahan Olive akhirnya jatuh membasahi pipi porselennya. Rasa pedih menjalar di dadanya. Ayah? Bagaimana aku bisa memberikan ayah padanya jika ayahnya sendiri adalah pria yang bahkan tidak tahu bahwa ia ada? batin Olive merana.
Namun, teringat wajah Alex, Olive segera menghapus air matanya. Sebagai seorang ibu, ia harus menjadi benteng terkuat. "Terima kasih, Dok. Saya akan mengusahakannya," ucapnya dengan suara bergetar namun tegas.
Keluar dari ruangan, Olive disambut oleh pelukan hangat Alex. "Mama, sudah selesai? Ayo beli robot!"
Olive tersenyum, menyembunyikan luka hatinya. "Ayo, Sayang!"
Sisa hari itu dihabiskan untuk membahagiakan Alex. Mereka pergi ke toko mainan terbesar di London. Alex berlarian di antara rak-rak, akhirnya memilih sebuah robot besar yang bisa mengeluarkan suara dan cahaya. Wajahnya begitu puas dan bahagia, seolah beban semalam telah menguap. Olive membelikan semua yang diinginkan Alex, termasuk es krim spageti kesukaan anak itu.
Dalam perjalanan pulang, kelelahan setelah seharian bermain, Alex tertidur pulas di pangkuan Olive di kursi belakang mobil. Olive mengusap lembut rambut Alex, menatap wajah anaknya yang begitu damai saat tidur. Aku akan melindungimu, Alex. Walau dunia harus menentangku, aku akan mencarikan kebahagiaan untukmu, janjinya dalam hati.
Monte Carlo, Monako
Di dimensi yang berbeda, Liam Maximilian Valerius baru saja mendarat dengan jet pribadinya. Urusan pekerjaan di Monako sudah menumpuk, mendesaknya untuk kembali ke kursi kekuasaan Valerius Defense. Namun, pikirannya tetap tertinggal di London, pada wanita bernama Aurel dan anak kecil bernama Alex.
"Marcus, masuk ke ruanganku sekarang," perintah Liam sesaat setelah sampai di kantornya.
Marcus masuk dengan membawa sebuah map tebal. "Laporan yang Anda minta mengenai desainer 'Aurel Natasha Clarissa' sudah lengkap, Tuan."
Liam menyambar map itu dan membukanya dengan tidak sabar. Matanya menyisir setiap baris informasi.
Nama Lengkap: Aurel Natasha Clarissa
Tempat Lahir: Paris, Perancis
Latar Belakang: Keluarga sederhana, yatim piatu sejak usia 19 tahun.
Pendidikan: Beasiswa penuh di University of the Arts London.
Status: Ibu tunggal. Memiliki anak bernama Leon Alexander Clarissa dari hubungan masa lalu dengan mantan kekasih yang tidak bertanggung jawab dan melarikan diri saat kehamilan diketahui.
Catatan Tambahan: Julukan "Butterfly-E" dipilih atas permintaan sang putra yang menyukai kupu-kupu, dan huruf 'E' merujuk pada julukan "Elegant-Edgy" dari kritikus mode London karena gaya bicaranya yang tajam (mulut belati).
Liam melemparkan map itu ke atas meja dengan perasaan kesal yang luar biasa. "Lagi-lagi nihil!" geramnya. "Data ini sangat rapi. Terlalu rapi."
Ia berdiri dan menatap keluar jendela, ke arah laut Mediterania yang biru. "Tapi anak itu... bagaimana mungkin seorang anak dari pria asing di London memiliki gerakan dan aura yang sangat mirip denganku? Dan wajah ibunya... aku bisa bersumpah itu adalah Olivia Aurevyn."
Marcus berdehem kecil. "Tuan Liam, dengan segala hormat, jika dia adalah Olivia Aurevyn, tidak mungkin dia memiliki catatan sipil yang sedetail ini di Paris sebagai Aurel Natasha. Selain itu, keluarga Aurevyn adalah konglomerat. Tidak mungkin putri mereka hidup menderita sebagai pelayan restoran selama bertahun-tahun di London hanya untuk menyembunyikan identitas."
Liam terdiam. Logika Marcus ada benarnya. Namun, Liam tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan kecerdasan Olivia Elenora yang telah diasah oleh rasa sakit. Olive telah menyiapkan identitas "Aurel Natasha Clarissa" dengan sangat teliti. Ia menggunakan jaringan teman-teman lamanya di Paris yang berhutang budi pada keluarga Aurevyn untuk memalsukan riwayat hidupnya. Nama "Butterfly-E" yang sebenarnya merujuk pada The Golden Butterfly dan Elenora, ia samarkan penjelasannya melalui media sebagai gaya desain yang "Elegant" dan "Edgy".
"Mungkin aku memang sudah gila karena dihantui rasa bersalah pada gadis lima tahun lalu," gumam Liam pelan. "Tapi anak itu... Alex... dia membuatku merasa aneh."
Liam kembali duduk di kursinya, mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen keamanan global. Namun, bayangan Alex yang berkata "Aku tidak punya papa sejak lahir" terus terngiang di telinganya. Ada rasa iba yang tidak seharusnya ada di hati seorang pria berdarah dingin seperti Liam.
Di London, malam kembali menyapa.
Olive duduk di ruang tamu apartemennya setelah meletakkan robot Alex di samping tempat tidur putranya. Ia mematikan lampu dan hanya menyisakan satu lampu kecil di pojok ruangan.
Ia mengambil sebuah bingkai foto tua yang ia simpan di laci terdalam. Foto dirinya saat masih di Monako, bersama Zee, Vera, Brian, dan kedua orang tuanya. Ia meraba wajah ibunya di foto itu.
"Bunda... Ayah... maafkan aku," bisiknya lirih.
Olive tahu, ia tidak bisa terus bersembunyi selamanya. Kondisi Alex menuntut sebuah perubahan besar. Jika Alex membutuhkan sosok ayah, Olive harus menemukannya. Tapi siapa? Ia tidak mungkin mencari pria sembarangan.
Di tengah keheningan, Olive teringat pria tinggi di koridor hotel kemarin. Pria yang menggandeng tangan Alex. Ada sesuatu dari pria itu yang membuat Alex tampak tenang, sesuatu yang tidak pernah Olive lihat saat Alex bersama pria lain.
"Siapa sebenarnya dia? Dan kenapa dia mengenali namaku?" tanya Olive pada kegelapan.
Tanpa disadari oleh keduanya, benang merah takdir sedang ditarik kencang. Meskipun Liam mencoba meyakinkan diri bahwa Aurel bukan Olive melalui data-data palsu, dan Olive mencoba menjauhkan Alex dari bayang-bayang ayahnya, semesta punya cara lain untuk mempertemukan mereka kembali.
Luka psikologis Alex adalah kunci yang akan membuka pintu rahasia yang telah terkunci selama lima tahun. Dan saat pintu itu terbuka, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi, baik bagi sang Kupu-Kupu Emas maupun sang Monarch Besi.