NovelToon NovelToon
Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad girl / One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Konflik etika
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.

Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.

Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.

Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta yang Gagal

Malam di Aeryon City selalu tentang gemerlap yang menipu. Di balik dinding kaca penthouse kediaman Aeru, Seraphina berdiri di depan cermin raksasa, menatap pantulan dirinya yang tampak seperti mahakarya pemberontakan. Dia mengenakan gaun slip-dress sutra berwarna hitam pekat yang nyaris transparan di bawah cahaya tertentu, dengan belahan setinggi paha yang memamerkan kaki jenjangnya.

"Kau tidak akan mengatakan sesuatu tentang ini, Dareen?" tantang Seraphina, memutar tubuhnya perlahan. Matanya melirik ke arah pantulan Dareen yang berdiri di sudut kamar, menjaga jarak profesional seperti biasa. "Gaun ini ... apakah menurutmu ini terlalu 'murahan' untuk standar Aeruland?"

Dareen menatapnya, matanya menyisir penampilan Seraphina dengan tatapan yang sulit dibaca. Punggung tangannya yang masih membiru akibat injakan sepatu kemarin terkepal erat di samping paha. "Tugas saya adalah memastikan Anda selamat, Nona. Bukan menjadi kritikus mode."

"Munafik," bisik Seraphina, bibirnya yang dipulas lipstik merah darah membentuk senyum tipis. Dia tahu Dareen terganggu, dia bisa melihat jakun pria itu bergerak naik turun.

Tepat saat Seraphina hendak mengambil tas tangannya, pintu kamar terbuka lebar. Seldin Aeru melangkah masuk dengan aura otoriter yang mampu membekukan udara di sekitarnya. Namun kali ini, dia tidak sendirian. Di lengannya, melingkar tangan seorang wanita cantik dengan gaun konservatif yang anggun—kekasih Seldin, seorang putri diplomat yang selalu diagung-agungkan sebagai standar "wanita terhormat".

Seldin berhenti, matanya menatap tajam pada gaun Seraphina yang minim. "Kau akan pergi ke pesta ulang tahun itu dengan pakaian seperti itu, Sera? Kau terlihat seperti sedang mencari perhatian di trotoar West-Uptown."

Wanita di samping Seldin menutup mulutnya dengan tangan, menunjukkan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Oh, Seldin, mungkin Seraphina hanya sedang ingin berekspresi. Meski ... mungkin memang agak terlalu terbuka untuk acara formal."

Darah Seraphina mendidih. Dia benci wanita itu—wanita yang selalu berpura-pura baik padahal hanya menginginkan saham di Aeru Group. "Tutup mulutmu, jalang diplomat," maki Seraphina tajam. "Jangan berani-berani mengomentari caraku berpakaian saat kau sendiri memakai gaun yang harganya setara dengan uang tutup mulut untuk perselingkuhan ayahmu."

"Seraphina!" bentak Seldin, suaranya menggelegar.

Wanita itu tersentak, matanya berkaca-kaca secara dramatis, bersembunyi di balik bahu Seldin. Seldin tidak lagi menatap adiknya; dia menoleh pada Dareen yang berdiri membeku.

"Dareen Christ," suara Seldin rendah dan mengancam. "Bawa dia ke pesta itu. Pastikan matamu tidak lepas darinya. Dan ingat ini: jika dia meminum lebih dari dua gelas, bawa dia pulang dengan paksa. Gunakan cara apa pun—ikat dia, panggul dia, aku tidak peduli. Jangan biarkan dia mempermalukan nama Aeru lagi."

Dareen membungkuk dalam. "Dimengerti, Tuan."

Seraphina menyambar tasnya, menabrak bahu Seldin dan kekasihnya saat dia keluar ruangan. "Ayo, Robot. Mari kita lihat seberapa kuat kau memegang perintah tuanmu."

Pesta di Sky-Lounge District itu penuh dengan asap elektrik dan dentuman musik techno yang memekakkan telinga. Seraphina adalah pusat perhatian sejak detik pertama dia melangkah masuk. Sebagai adik dari CEO paling berpengaruh di Aeruland, kehadirannya selalu dinantikan, namun malam ini dia tampil lebih liar dari biasanya.

Seraphina berdiri di tengah kerumunan pria-pria kaya yang haus perhatian. Dia tertawa keras, membiarkan tangan-tangan pria itu menyentuh pinggangnya atau membisikkan rayuan murah di telinganya. Baginya, ini bukan tentang nafsu; ini tentang mengisi lubang hampa di hatinya yang selalu kekurangan kasih sayang. Dia mencintai perhatian ini—rasa dibutuhkan, meski hanya untuk satu malam.

Di sudut ruangan, di bawah bayangan pilar beton, Dareen berdiri seperti malaikat maut. Matanya memindai setiap tangan yang menyentuh kulit Seraphina. Dia bergerak seperti predator, beberapa kali memotong langkah pria-pria yang mencoba menggiring Seraphina ke area yang lebih gelap.

"Kau terlihat tegang, Dareen!" seru Seraphina dari kejauhan, mengangkat gelas keduanya yang berisi martini. Dia menenggaknya dalam sekali teguk, lalu menatap Dareen dengan pandangan menantang.

Dareen melangkah mendekat, memecah kerumunan pria yang mengelilingi Seraphina. Kehadirannya yang mengintimidasi membuat pria-pria itu mundur secara naluriah. "Sudah dua gelas, Nona. Kita pulang sekarang."

Seraphina tertawa, suaranya terdengar parau. "Pulang? Pesta baru saja dimulai, Sayang."

Dia berbalik ke arah bartender dan menjentikkan jarinya. "Satu lagi. Double shot."

Bartender itu melirik Dareen yang berdiri di belakang Seraphina dengan tatapan membunuh, namun Seraphina membanting kartu kredit hitamnya ke meja. Gelas ketiga pun disajikan. Cairan bening itu berkilau di bawah lampu disko yang berputar.

Seraphina mengambil gelas itu, perlahan memutar tubuhnya hingga dia berhadapan langsung dengan Dareen. Jarak mereka hanya beberapa senti. Seraphina bisa mencium aroma sabun cendana Dareen di tengah bau alkohol yang menyengat. Dia mengangkat gelasnya tepat di depan wajah Dareen, matanya yang mulai sayu menatap dalam ke mata gelap sang pengawal.

"Gelas ketiga, Dareen," bisik Seraphina, bibirnya hampir menyentuh dagu Dareen. "Kau dengar perintah Seldin, kan? Paksa aku. Tunjukkan pada semua orang bagaimana kau memperlakukanku seperti tawanan."

Seraphina mulai mendekatkan gelas itu ke bibirnya, siap menelan isinya sebagai bentuk pengkhianatan terakhir pada aturan kakaknya—dan ujian terakhir untuk kesabaran Dareen.

Tepat sebelum cairan itu menyentuh lidah Seraphina, sebuah tangan yang kokoh dan besar menyambar pergelangan tangannya. Gerakannya begitu cepat hingga tidak ada yang sempat melihatnya.

Dareen merebut gelas itu dari tangan Seraphina dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Dia tidak meletakkan gelas itu kembali; dia justru membuang isinya ke lantai, membuat suara pecah saat gelas itu terlepas dari genggamannya.

Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Musik seolah menjauh. Para pria yang tadi menggoda Seraphina kini hanya bisa menonton dengan ngeri.

Dareen menarik tubuh Seraphina hingga menempel erat pada dadanya. Dia menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya ke telinga Seraphina. Napasnya yang hangat terasa kontras dengan kulit Seraphina yang dingin.

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona Seraphina," bisik Dareen. Suaranya tidak lagi datar. Ada nada posesif yang sangat gelap dan dalam, sebuah emosi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar tugas dari Seldin.

Seraphina terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena alkohol, tapi karena nada bicara Dareen. Dia bisa merasakan tangan Dareen di pinggangnya mencengkeram sedikit terlalu kuat—bukan pegangan seorang pengawal, melainkan pegangan seorang pria yang hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Kau ... kau menyakitiku," bisik Seraphina, mencoba mencari kembali suaranya yang hilang.

"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang akan saya lakukan jika Anda tetap keras kepala," balas Dareen pelan. Dia melepaskan pinggang Seraphina, lalu meraih pergelangan tangan gadis itu, menariknya keluar dari kerumunan tanpa menoleh lagi.

Seraphina tidak melawan. Dia membiarkan dirinya ditarik melewati lorong-lorong kelab yang bising. Di dalam hatinya, ada rasa takut yang aneh, namun bercampur dengan kepuasan yang ganjil. Dia telah memicu sesuatu di dalam diri Dareen—sesuatu yang lebih besar dari perintah Seldin, sesuatu yang selama ini disembunyikan di balik jas hitam dan wajah porselen itu.

Begitu mereka sampai di parkiran yang sunyi, Dareen membanting pintu mobil setelah memastikan Seraphina masuk ke dalam. Dareen berdiri di luar sejenak, menatap langit malam Aeryon City sambil mengatur napasnya yang berantakan. Dia tahu, malam ini, dia tidak hanya melanggar batas profesionalnya; dia baru saja menyerahkan dirinya pada kehancuran yang bernama Seraphina Aeru.

Di dalam mobil, Seraphina menyentuh bibirnya, masih bisa merasakan getaran suara Dareen yang berbisik tadi. Dia tersenyum kecil di tengah kegelapan. Pesta itu memang gagal, tapi baginya, ini adalah awal dari kemenangan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!