Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Memungkiri rasa
Zahra
take a link gsyendmam/xvsfwjem
Mama Anye, weekend besok abang---Ryu ultah loh, ngga lupa kan? 🤗
Anye menatap layar ponselnya haru, ahhh! Iya. Si kembar bang Ucel--adek Ryu. Bahkan sampai di detik ini, mereka masih memanggilnya mama, panggilan sayang dan mesra untuknya.
Kembali, Anye mencermati isi link undangan itu. Yang katanya hanya private party keluarga Dewa saja, sebab party dari keluarga Zahra sudah dilakukan.
Namun jangan salah, se-private apapun acara, anggota keluarga Ganesha itu banyaknya kaya umat nabi. Jumlah personelnya mampu ngabisin stok nasi sebatalyon, saking banyaknya.
Sore itu, Anye merapikan pekerjaannya bersiap untuk pulang. Namun, baru ia bersiap beranjak sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
**Mas Ibas**
*Nye, jalan yuk*.
/
Jadinya sore ini, Anye menyetujui ajakan Ibas, sekalian...ia ingin mencari hadiah untuk si kembar nanti.
Ada beberapa pilihan yang Ibas tawarkan, menonton, makan sambil sekedar menikmati live music demi merehatkan raga yang telah lelah bekerja. Namun, yang dipilih Anye justru meminta Ibas menemaninya berbelanja kado lalu makan.
Katakan Anye kaku, apa yang Ibas harapkan, lengannya digandeng si Independent women ini? Anye akan bermanja-manja selayaknya sepasang kekasih, atau wanita ganjen tak tau diri dengan menggelayuti tangannya? Atau suster ngesot menggantung di kakinya?
Bahkan Anye memberinya jarak beberapa mili diantara lengan kemejanya dan blazer.
"Aku lagi pengen makan resto all you can it, mas...mas Ibas mau apa?" tanya nya. Tapi ahhh....benar, air mukanya, gesturnya berbicara dan nada ramah nan manja Anye itu, membuat Ibas merasa *cukup*! Dengan begitu saja ia merasa *akrab dan dekat sekali* dengan Anye. Merasa seperti, ia lah lelaki paling beruntung dan berpeluang mendapatkan hati Anye.
"Boleh. Apa aja. Aku sih bebas, ngikut kamu..." jawabnya memborong seluruh jawaban tipe lelaki penurut di muka bumi---*my pleasure*---seperti itu, mau makan nasi meong di emperan toko asal bareng kamu, hayukkk! Mau makan sampe kolestolol juga hayukk!
Ada steamboat pot yang menjadi jarak Anye dan Ibas bersama dengan asap beraroma yang mengepul memenuhi udara diantara mereka.
"Mau pedes ngga mas?" Anye mulai meracik kuah disana, dengan sumpit yang telah mencapit setiap bahan campuran makanan berkuah itu untuk kemudian ia ceburkan.
"Jangan terlalu pedes." Tangan Ibas sedikit mencubit udara, ia tersenyum penuh arti melihat Anye menyingkapkan lengan blazernya, bayangan wanita rumahan menunggunya di rumah sambil mengolah bahan masakan di rumah sudah terbayang di pikiran Ibas, damn! Sudah sejauh itu Ibas sampai menggeleng.
"Oke," Anye mengangguk dan asik meracik itu, mulutnya sudah komat-kamit bicara, bercerita santai dan seru yang membuat Ibas merasa jika Anye sosok yang asik. Ia hanya tak habis pikir, apa kurangnya wanita sempurna macam Anye? Atau justru kesalahan memang ada di Ganesha? Oh, kapan-kapan ia harus berterimakasih pada Ganesha sudah melepaskan Anyelir untuknya.
/
"Cari kado buat siapa sih?" tanya Ibas yang kini sudah berjalan membersamai Anye diantara rak-rak berisi mainan.
"Emh, anak temen." Angguk Anye menjawabnya singkat hingga tak harus ada drama Ibas yang iri atau sakit hati.
"Anaknya cowok?" tanya nya lagi kini sudah berusaha membantu memilihkan mobil remote yang ada di rak depan mereka.
Kembali, Anye mengangguk membenarkan, "anaknya kembar sih. Bingung, soalnya udah segala punya juga..." Anye kembali menaruh mobil hitam yang sempat ia ambil dan cermati.
"No idea .." geleng Anye terlihat mulai menyerah.
Lantas Ibas melihat celah untuknya, jika tadi Anye yang selalu memiliki peran dominan, kini ia ingin mengambil perannya, "anaknya suka apa, misal sesuatu yang berbau edukasi, atau olahraga?"
Pertanyaan itu membuat Anye memutar bola matanya, "kayanya emang anak-anaknya aktif sih...seneng hal-hal yang menguras tenaga. Kaya olahraga semacamnya," benar olahraga, olahraga ekstrem, bangunin singa tidur!
Anya baru ingat, sebelum ia memutuskan berpisah dengan Ganesha jika Russel merengek motor trail mini pada sang ayah, dan mungkin saja...Dewa---Zahra sudah memberikannya sekarang.
"Ah, aku tau mas..." Anye mengangguk mantap. Tak jauh dari tempatnya berada, ia menemukan store yang menjual peralatan safety rider.
"Helm mini?" tanya Ibas diangguki Anye, "waktu itu anaknya sempet ngerengek pengen beli motor mini sama orangtuanya."
Ibas mengangguk-angguk, "kalau ternyata ngga punya motor mininya, nanti sia-sia beliinnya?" Ibas hanya memastikan Anye tak salah membeli barang. Namun Anye menggeleng, "ya ngga apa-apa kalau belum beli, biar nanti ayah ibunya beliin..." kekeh Anye.
"Emangnya berapa tahun anaknya?"
"6." Jawab Anye membuat Ibas menarik alisnya, "6, udah dibiarin naik motor, bahaya Nye..."
Tapi Anye justru menggeleng, ia sangat mengenal keluarga itu.
Dan dua buah helm berwarna hitam hijau stabilo dan hitam kuning stabilo Anye pilih termasuk satu set perlengkapan safety ride lainnya.
Berada di penghujung hari, Ibas membawa sekotak roti bakar untuk ibu, sempat duduk sejenak dan minum teh hangat akhirnya ia pamit undur diri setelah mengantarkan Anye, tepatnya membersamai laju mobil Anye.
"Makasih ya mas..."
"Sip. Aku pulang ya..." pamit Ibas pada Anye di gawang pintu sementara ia baru saja memasukan kakinya ke dalam sepatu, "iya, hati-hati salam buat tante Isti."
"Salam buat mamamu, Bas..." ada ibu pula yang berdiri di samping Anye.
Anggukan sopan Ibas mencerminkan pribadi ramah dan ber-attitude darinya, tapi....sepertinya Anye belum merasa tersentuh dengan itu, selain dari ia hanya menganggap Baskoro adalah pria baik, sopan, hangat dan sangat menghargainya. Hatinya seolah masih mati rasa atau justru belum selesai dengan urusan terdahulunya?
Terlebih, bayangan malam itu...
Ibu masuk lebih dulu ke dalam, sementara Anye memilih mengunci pagar terlebih dahulu. Dalam hening dan khusyuknya ia mengunci pintu, ia berpikir....apakah nanti Ganesha ada di acara ultah si kembar? Sudah pasti ada, apakah ia akan membawa Afiqah kesana? Secara...Ganesha telah mengakui kalau wanita itu pacarnya di depan keluarganya kemarin.
Lalu, apa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu, dan belakangan ini...? Hufft! Anye seolah terjebak dalam pusaran masalahnya sendiri sekarang dan harus segera ia sudahi.
Antara aku sama Abang udah ngga ada apa-apa...
Abang udah kenalin Afiqah sama keluarganya kemarin....
Sadar Anyelir....
*Ting*!
**Ganesha**
*Take a link* ***gsyendmam/xvsfwjem***
*Takutnya kamu lupa*.
Anyelir menatap layar ponsel yang tengah ia genggam saat bersiap masuk ke dalam rumah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk sejenak di kursi teras.
**Anyelir**
*Ya. Apa aku boleh bawa mas Ibas*?
**Ganesha**
*Undang sekalian RT rumahmu, RW setempat dan tetanggamu*.
Ganesha menaruh kasar ponsel di meja membaca balasan pesan yang Anye kirimkan. Kenapa wanita itu suka sekali membuatnya kesal dan jengkel? Seolah sedang mempermainkan harga diri dan egonya sebagai lelaki.
.
.
.
.
pera klien nya emang yg tertarik dg gaya marketing imaginary... bukan nya mengubah strategi malah njegal perusahaan lain
sehat2 trus yaa Teh