NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 11

Bandung menyambut mereka dengan udara yang lebih dingin dari biasanya. Aura duduk diam di kursi penumpang, memandangi lampu-lampu kota yang memanjang seperti garis tak berujung. Di sampingnya, Alden terlihat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang dua hari lalu memenuhi ponselnya dengan puluhan panggilan dan pesan.

Mobil berhenti di depan sebuah hotel kecil bernuansa kayu. Bukan hotel mewah, tapi cukup hangat. Tempat yang sengaja Alden pilih, katanya agar “lebih tenang buat ngobrol.”

Aura tidak banyak bicara. Ia hanya mengikuti langkah Alden masuk ke lobi, naik lift, lalu berdiri di depan kamar nomor 317.

Begitu pintu tertutup, suasana mendadak sunyi.

Alden meletakkan tasnya, lalu menoleh pada Aura yang masih berdiri kaku di dekat pintu.

“Kamu masih marah sama aku?” suaranya pelan.

Aura menggeleng pelan. “Aku capek.”

Jawaban jujur. Bukan marah. Bukan benci. Hanya lelah.

Alden mendekat perlahan. Tangannya terulur, menyentuh pipi Aura seperti dulu. Sentuhan yang familiar. Hangat. Aman. Tapi entah kenapa, Aura merasa ada jarak tipis yang tak kasat mata di antara mereka.

“Aku tau aku salah sering ninggalin kamu tanpa kabar,” Alden berbisik. “Aku tau aku egois.”

Aura menatap mata lelaki itu. Mata yang dulu membuatnya jatuh setelah setahun bekerja bersama. Mata yang dulu penuh kesabaran menembus kerasnya dinding hati Aura.

“Aku cuma gak mau kehilangan kamu,” lanjut Alden. “Aku gak peduli orang bilang apa soal kita dulu. Aku cuma peduli kamu.”

Kalimat itu menusuk.

Karena jauh di dalam hatinya, Aura tau… bukan Alden yang berubah. Mereka yang berubah.

Alden memeluknya.

Pelukan itu erat. Hangat. Seperti tempat pulang.

Aura memejamkan mata.

Dan di detik itu, yang ia dengar bukan suara Alden.

Bukan napas Alden.

Bukan detak jantung Alden.

Melainkan detak jantung lain.

Cepat. Berat. Dekat sekali.

Refleks, memori tubuhnya mengingat malam di villa itu.

Saat jarak mereka hanya lima inci.

Saat tangan Harry melingkar di pinggangnya.

Saat dunia seperti berhenti beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Aura membuka mata perlahan.

“Aku mau kita mulai lagi dari awal,” Alden berkata di sela pelukan.

Mulai lagi.

Kata itu terdengar sederhana. Tapi memulai ulang bukan berarti menghapus yang sempat tumbuh di tengah-tengah.

“Aku bakal berubah,” Alden menambahkan. “Aku janji.”

Aura tidak langsung menjawab. Tangannya perlahan membalas pelukan itu. Tidak seerat dulu, tapi cukup untuk membuat Alden merasa diampuni.

“Coba,” jawabnya akhirnya.

Satu kata yang membuat Alden tersenyum lega.

Malam itu mereka duduk di balkon kamar hotel. Bandung mulai diselimuti kabut tipis. Alden memesan makanan favorit Aura—sushi dan teh hangat. Ia mengingat semuanya. Selera, kebiasaan, bahkan cara Aura meniup makanan sebelum makan.

“Kamu masih ngerokok?” tanya Alden tiba-tiba.

Aura terdiam sesaat.

“Kadang.”

“Kurangin ya.”

Biasanya Aura akan menjawab dengan nada defensif. Tapi kali ini ia hanya mengangguk.

Angin malam menyentuh wajahnya. Aura memeluk lututnya sendiri sambil menatap jalanan di bawah. Ia merasa seperti sedang berdiri di dua garis waktu.

Yang satu adalah Alden—masa lalu yang penuh usaha, penuh cerita panjang, penuh janji.

Yang satu lagi adalah Harry—sesuatu yang tidak direncanakan, tumbuh tanpa izin, tanpa label, tapi nyata.

“Aura.”

“Hmm?”

“Aku sayang kamu.”

Kalimat itu lembut. Tulus. Tanpa paksaan.

Dan Aura tau Alden tidak berbohong.

“Aku juga,” jawabnya pelan.

Tapi untuk pertama kalinya sejak bersama Alden… kalimat itu tidak sepenuhnya bulat.

Malam semakin larut. Alden masuk ke dalam kamar lebih dulu, membiarkan Aura sebentar sendiri di balkon.

Aura mengeluarkan ponselnya.

Tidak ada pesan dari siapa pun.

Entah kenapa, ia membuka Instagram.

Melihat story satu per satu.

Berharap tidak menemukan sesuatu.

Dan benar. Tidak ada apa-apa.

Ia menarik napas panjang.

“Ini pilihan kamu,” gumamnya pada diri sendiri.

Ia masuk ke kamar. Alden sudah berbaring, menepuk sisi kasur di sampingnya.

Aura berbaring di sana.

Alden menariknya ke dalam pelukan. Kali ini lebih lembut. Tidak tergesa. Seperti takut ia akan pergi lagi.

“Jangan kemana-mana ya,” bisik Alden.

Aura menutup mata.

Di dalam gelap, pikirannya kembali ke taman kampus.

Bangku belakang.

Rokok yang direbut tiba-tiba.

Buku lusuh berjudul *Sejarah Dunia yang Disembunyikan*.

Dan suara berat berlogat Sulawesi yang berkata,

“Jangan terlalu banyak ngerokok.”

Dadanya terasa sesak.

Ia sadar satu hal malam itu.

Alden adalah cinta yang ia perjuangkan.

Tapi Harry adalah perasaan yang tidak pernah ia rencanakan.

Dan mungkin…

inilah awal dari semuanya menjadi semakin rumit.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!