NovelToon NovelToon
Anomali Detik Ke-601

Anomali Detik Ke-601

Status: tamat
Genre:Action / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Di Garis Darah

Setahun telah berlalu sejak jarum detik di Menara Jam Detik ke-603 mulai berdetak. Dunia baru ini telah mapan—sebuah perpaduan antara teknologi futuristik dan alam yang liar. Kala Danuarta kini tidak lagi memperbaiki jam saku; ia menjadi seorang arsitek di kota ini, membangun gedung-gedung yang tidak melawan gravitasi, melainkan berdampingan dengannya.

Namun, ketenangan itu hanyalah kulit ari.

Kala berdiri di teras rumahnya yang menghadap ke lembah, menatap foto bayi yang diberikan sopir taksi misterius setahun lalu. Foto itu kini bukan lagi sekadar kertas. Di dalam kamar, terdengar suara tangisan bayi yang lembut. Putrinya, Naya, baru saja lahir tiga minggu lalu.

Arumi keluar dari kamar dengan wajah lelah namun bahagia, menggendong bayi kecil yang dibungkus kain flanel biru. "Dia baru saja tertidur, Kala. Kenapa kamu masih di luar?"

Kala segera menyembunyikan foto itu ke dalam saku celananya. "Hanya menghirup udara malam, Rum. Kamu tahu, aku masih sering merasa semua ini hanya mimpi."

Arumi mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Kala. "Bukan mimpi. Ini nyata. Kamu bisa merasakan nafasnya, kan?"

Kala menyentuh pipi mungil Naya. Namun, saat jarinya bersentuhan dengan kulit bayinya, Kala merasakan sebuah getaran elektrik yang sangat familiar. Dingin, tajam, dan berdenyut. Ia perlahan membuka bedongan kain di bahu kanan Naya.

Di sana, di kulit bayi yang masih kemerahan itu, terdapat tanda lahir berwarna perak yang membentuk lingkaran sempurna dengan dua belas titik di sekelilingnya. Sebuah jam. Dan yang lebih mengerikan, titik-titik itu tampak berpendar redup mengikuti detak jantung Naya.

"Arumi..." bisik Kala, suaranya tercekat. "Lihat ini."

Arumi terkesiap. Wajahnya mendadak pucat pasi. "Tidak... tidak mungkin. Vera bilang kita sudah menghancurkan sistemnya. Kita sudah melepaskan Chronos-10!"

"Kita melepaskan mesinnya, Rum. Tapi kita tidak pernah menghapus kodenya dari DNA kita," sebuah suara dingin menyambar dari kegelapan taman.

Vera muncul dari balik bayangan pohon ek perak. Ia tidak lagi memakai baju lab, melainkan jubah hitam panjang. Matanya yang abu-abu memancarkan kekhawatiran yang mendalam.

"Vera? Apa yang terjadi?" tuntut Kala.

"Dewan Realitas tidak bodoh, Kala," Vera melangkah mendekat, matanya tertuju pada tanda lahir di bahu Naya. "Mereka membiarkan kalian membuat dunia ini karena mereka butuh 'inkubator'. Naya bukan sekadar bayi. Dia adalah Chronos-11. Versi biologis dari mesin waktu yang dulu kamu curi."

"Apa maksudmu?" Arumi memeluk Naya lebih erat, seolah-olah dunia ingin merebut bayinya saat itu juga.

"Mesin waktu yang dulu kamu pakai adalah benda mati yang mencoba memanipulasi waktu. Tapi Naya... Naya adalah waktu itu sendiri," Vera menjelaskan dengan nada getir. "Dia tidak butuh jam saku. Dia tidak butuh menukar memori. Dia hanya perlu bernapas untuk mengubah kenyataan di sekitarnya. Dan itulah kenapa Dewan membiarkan kalian bahagia sejenak. Mereka menunggu 'senjata' ini lahir."

Tiba-tiba, udara di sekitar mereka menjadi statis. Suara serangga malam berhenti. Daun-daun yang jatuh dari pohon menggantung diam di udara.

Waktu membeku lagi.

Seorang pria mengenakan setelan jas hitam sempurna—bukan lagi sopir taksi, tapi sosok yang tampak seperti agen birokrasi kelas atas—berdiri di gerbang rumah mereka. Ia memegang sebuah koper perak yang memancarkan suara detak jam yang sangat keras.

"Selamat malam, Keluarga Danuarta," ucap pria itu. Suaranya datar tanpa emosi. "Nama saya adalah Kurator. Saya di sini atas nama Dewan Realitas untuk melakukan... penjemputan aset."

Kala melangkah maju, menghalangi Kurator dari anak dan istrinya. "Naya bukan aset. Dia putriku."

"Secara biologis, mungkin iya," Kurator membuka kopernya. Di dalamnya terdapat sebuah jarum suntik berisi cairan emas yang bersinar. "Tapi secara eksistensial, dia adalah hak milik semesta yang kalian rusak. Keberadaannya di dunia 'ilegal' ini akan menyebabkan keruntuhan total dalam lima tahun ke depan. Pilihannya sederhana: Serahkan bayi ini untuk 'diseimbangkan' kembali, atau dunia ini akan kami hapus sekarang juga."

Kala merasakan amarah yang membara di dadanya. Bekas luka di tangannya yang sudah hilang tiba-tiba terasa gatal dan panas, seolah-olah sisa-sisa energi biru di dalam darahnya bereaksi terhadap ancaman itu.

"Arumi, masuk ke dalam. Sekarang!" perintah Kala.

"Tapi Kala—"

"MASUK!"

Arumi berlari masuk ke rumah, sementara Kala menghadapi Kurator sendirian. Di sekeliling mereka, dunia yang membeku mulai retak. Garis-garis hitam seperti tinta mulai muncul di langit, seolah-olah seseorang sedang merobek kanvas lukisan.

"Kamu pikir kamu bisa melawan kami dengan kekuatan sisa?" Kurator mencibir. Ia menjentikkan jarinya, dan seketika sepuluh Pemulih muncul di sekeliling rumah, tangan perak mereka terhunus.

Kala mengepalkan tinjunya. Ia tidak punya jam saku lagi. Ia tidak punya Vera yang bisa meretas sistem. Ia hanya punya satu hal: rasa cinta yang kini sudah memiliki bentuk nyata dalam diri Naya.

"Aku sudah menghancurkan satu dunia untuk menyelamatkan Arumi," ujar Kala, matanya kini mulai bersinar biru pekat. "Jangan paksa aku menghancurkan seluruh penciptaan kalian hanya untuk melindungi putriku."

Kala menghantamkan tangannya ke tanah. Gelombang energi yang keluar kali ini bukan lagi berwarna biru, tapi emas murni—frekuensi yang sama dengan energi yang dimiliki Naya.

Ledakan itu sangat kuat hingga melempar para Pemulih kembali ke dimensi mereka. Kurator terhuyung, matanya terbelalak melihat kekuatan Kala.

"Itu mustahil... kamu manusia biasa!"

"Di dunia ini, aku adalah penciptanya," balas Kala dingin.

Namun, saat Kala hendak menyerang lagi, suara tangisan Naya dari dalam rumah berubah. Bukan tangisan bayi biasa, melainkan suara ribuan lonceng yang berdentang bersamaan.

Kala berlari masuk dan menemukan Arumi jatuh terduduk. Naya tidak lagi berada di pelukannya. Bayi itu melayang di tengah ruangan, dikelilingi oleh pusaran cahaya emas yang sangat terang. Jam di bahunya berputar dengan kecepatan gila.

"Kala! Dia tidak bisa mengontrolnya!" teriak Arumi.

Naya membuka matanya. Matanya tidak lagi hitam, tapi berisi hamparan galaksi yang berputar. Bayi itu tertawa, dan setiap tawanya membuat furnitur di rumah itu menua menjadi debu lalu kembali baru dalam hitungan detik.

Kala menyadari kenyataan pahit: Vera benar. Naya adalah ancaman bagi stabilitas apa pun. Tapi dia juga sadar akan satu hal lagi.

"Kurator!" Kala berteriak ke arah pintu. "Kamu ingin menyeimbangkannya?! Kalau begitu, ambil aku juga! Jadikan aku penjara bagi kekuatannya!"

Vera mencoba menahan Kala. "Kala, jangan! Kalau kamu menyatukan energimu dengan Naya untuk menahan kekuatannya, kamu akan menjadi 'Jantung Waktu'. Kamu tidak akan pernah bisa menyentuh mereka lagi. Kamu akan menjadi entitas yang ada di mana-mana tapi tidak terlihat oleh siapa pun!"

Kala menatap Arumi untuk terakhir kalinya. Arumi tahu apa yang akan dilakukan Kala. Ia menggeleng perlahan, air mata membanjiri wajahnya.

"Jangan lagi, Kala... kumohon jangan tinggalkan kami lagi."

Kala tersenyum sedih. "Aku tidak meninggalkanmu, Arumi. Aku akan menjadi setiap detik yang kamu lalui. Aku akan menjadi waktu yang menjaga kalian agar tetap aman."

Kala melompat ke arah pusaran cahaya emas itu, memeluk bayinya, dan membiarkan energinya sendiri terserap habis untuk membungkus kekuatan Naya.

BLAAAARRRRRR!

Cahaya itu meledak, menelan seluruh rumah.

Saat cahaya itu meredup, rumah itu kembali sunyi. Kurator dan para Pemulih sudah hilang. Vera berdiri di pojok ruangan dengan wajah hancur. Arumi terduduk di lantai, mendekap Naya yang kini tertidur pulas seperti bayi normal. Tanda lahir di bahu Naya kini tertutup oleh segel transparan berbentuk telapak tangan pria dewasa.

Kala Danuarta sudah tidak ada di sana.

Arumi menangis tersedu-sedu, memanggil nama suaminya. Namun, tiba-tiba, ia merasakan sebuah usapan lembut di pipinya. Dingin, tapi penuh kasih. Angin sepoi-sepoi berhembus di dalam ruangan yang tertutup, membisikkan satu kata yang hanya bisa didengar oleh hati Arumi:

"Sekarang."

Di atas meja, sebuah jam saku tua yang sudah mati tiba-tiba berdetak sekali.

1
Marina Bunga
masyaallah, baru baca bagian depan udah kerennnnn😍
Samuel sifatori: Hiii kakk, makasih banget lohh😁☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!